
Sepulangnya Varo dari stasiun kereta, ia langsung menuju ke kediaman Ananya. Seperti rencana awalnya, ia hanya ingin mampir menjenguk Anna.
"Bunda..." Sapa Varo yang baru turun dari mobil.
Kebetulan Anna berada di halaman rumah memberi makan ikan-ikan peliharaannya.
"Varo... ? Itu nak, anu..., Ananya...!"
"Iya bunda, Varo tau kok. Tadi Ananya ke kantor. Barusan keretanya sudah berangkat." Sambung Varo.
"Hm... anak itu benar-benar keras kepala. Bunda tidak tau lagi harus bicara apa padanya. Apa kamu yang mengantarnya ke stasiun ?" Anna menghela nafas panjang.
"Tidak, Bunda. Ananya naik taxi, dia tidak ingin aku mengantarkannya. Aku hanya mengikutinya dari kejauhan. Biarkan saja Ananya menyendiri dan berfikir terlebih dahuku, Mungkin jika berada jauh dariku, maka dia akan merasa merindukanku. Benar kan bunda ?" Tanya Varo sambil tersenyum.
"Benar juga yah.. Eh, apakah kamu menyukai Ananya?" Lidik Anna.
"Bunda ini bicara apa, dia itu istriku." Varo menatap lurus ke depan dengan sedikit menarik sudut bibirnya. Nampak seutas senyum yang indah disana. Senyum yang hemat namu tetap menawan.
"Iya, bunda tau kalian ini suami isteri. Tapi pernikahan kalian kan terjadi begitu saja, tanpa di rencanakan." Anna menambahkan.
"Hhmmm... Entahlah bunda. Perasaan apa namanya aku juga tidak tahu. Yang jelas aku selalu ingin melindungi dan menjaganya. Saat ia sedih, maka hatiku akan turut sakit melihat kesedihannya." Jawab Varo.
"Itu tandanya kamu mulai peduli dan sayang kepada ponakan bunda." Seru Anna sambil menyenggol bahu Varo. Keduanya berjalan beriringan masuk ke dalam rumah.
"Iya, benar. Eh bunda lagi masak banyak. Makan siang sekalian yah nak ?" Ajak Anna.
"Memang itulah tujuan utamaku kesini, Varo rindu masakan bunda. Heehee.." Keduanya terkekeh sembari menuju ruang makan.
Keduanya makan siang di selingi canda tawa. Candaan keduanya tiba-tiba terhenti ketika ponsel Varo bergetar pertanda ada pesan masuk. Varopun mengambil telepon selulernya dari dalam saku celananya dan melihat isi pesan yang ternyata dari Mama Diandra.
"Malam ini mama minta kamu sama Ananya datang buat makan malam. Mama masak special buat anak-anak mama. Sherly juga sudah tiba tadi sore. Okay ? See U son." Begitulah bunyi pesan Diandra kepada si sulung, isi pesannya seperti ajakan namun bagi Varo nampak seperti keharusan.
" Baik, Ma.. Varo akan pulang." Balas Varo. (Send).
"Hmm... Mama minta Varo dan Ananya ke mansion malam ini. Varo harus bilang apa bunda ?" Varo melanjutkan mengunyah makanannya dengan ogah-ogahan.
"Bunda juga bingung harus bagaimana nak. Mungkin sebaiknya kamu tetap bilang kalau Ananya lagi ke luar kota, namun tujuannya hanya untuk menjenguk pamannya. Bagaimana ?" Anna mengemukakakan idenya.
"Baiklah bunda... Eemmm Varo boleh tanya sesuatu bunda ?" Tanya Varo.
"Katakanlah nak..."
"Varo ingin tau alamat paman Aiman. Jika ada waktu luang, Varo ingin kesana menemui Ananya sekalian berkenalan dengan keluarga dari almarhum ayah. Siapa tau saja Ananya mau ikut pulang bersama Varo."
"Baik, bunda akan memberikan alamatnya. Itu ide yang bagus, sebenarnya bunda juga khawatir dengan kalian berdua. Paman Aiman juga pasti sangat cemas dan marah jika mengetahui apa tujuan Ananya kesana. Paman Aiman itu orangnya sangat tegas dan disiplin. Tapi jangan khawatir, terlepas dari semua itu, ia orang yang sangat baik dan bijaksana." Tutur Anna.
"Varo akan berusaha mengambil hati paman bund... Namun saat ini yang terpenting adalah mengambil hati Ananya dulu." Varo terkekeh mendengar pengakuannya sendiri. Ia juga heran, mengapa ia bisa sejujur ini kepada Anna. Mungkin karena dari awal wanita paruh baya itu sudah menampakkan restu kepadanya dan Ananya.
"Jadi.... benar nih, Varo sudah mulai suka sama Ananya ?" Lidik Anna, dan Varo hanya menunduk ragu.
"Hmmm entahlah bunda, tapi sepertinya sih iya, haahaahaa." Varo tertawa.
"Bunda jadi penasaran, Sebenarnya bagaimana perkembangan hubungan kalian ? apakah kalian sudah....?" Pertanyaan Anna menggantung dan hal itu berhasil menciptakan rona merah di pipi Varo.
"Sudah apa, bunda ?" Varo menunduk malu, dan kedua tangannya saling meremas satu sama lain.
"Ya sudah itu, tuhh...! Pura-pura gak faham lagi." Anna berdecak kesal.
"Loh kok bisa ??" Anna kaget.
"Gini bunda, Varo tau Ananya istri Varo yang sah, dan Varo sudah berhak penuh atas diri Ananya. Namun Varo ingin memberi waktu kepada Ananya, bunda tau sendiri kan sebelumnya hubungan kami hanya sekedar hubungan antara atasan dan bawahan. Kami tidak saling mencintai, tepatnya Ananya tidak mencintai Varo."
"Belum Cinta !" Potong Anna.
"Okay, belum cinta. Varo sudah berjanji kepada Ananya, Varo tidak akan menunutut lebih. Varo akan melakukannya ketika Ananya sudah ikhlas dan siap melakukannya dengan Varo tanpa paksaan. Varo akan berusaha untuk membuat Ananya mencintai Varo. Bunda mengerti kan maksud Varo ?" Jelas Varo.
"Iya, nak. Bunda faham. Kamu memang pria yang baik, semoga saja hubungan kalian bisa segera membaik. Bunda tidak sabar ingin menggendong cucu." Ucapnya sambil mempraktekkan gaya menggendong bayi. Lagi-lagi keduanya terkekeh.
Usai makan siang, Varo pun pamit kembali ke kantor. Sesuai dengan janjinya kepada sang Mama, Varo pulang ke mansion saat hari mulai gelap. Ia memang sengaja pulang agak telat untuk meminimalkan waktu bersama Mamanya. Ia tidak ingin di cerca banyak pertanyaan oleh sang ibu karena kedatangannya tanpa di dampingi sang istri. Bukan hanya itu, ia pun sebenarnya menghindari Sherly, Sebenarnya ia pun tahu sejak dulu Sherly menaruh hati kepadanya. Namun ia pura-pura tidak tahu. Ia menyayangi Sherly, namun rasa sayangnya hanya sebatas rasa sayang seorang kakak kepada adiknya.
****
"Sudah pulang ? Nya mana ?" Tanya Diandra.
"Eh, Ananya lagi di luar kota di rumah pamannya Ma. Mungkin minggu depan baru balik." Jawab Varo sambil melonggarkan dasinya dan menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.
Sherly yang sedari tadi mendengar percakan ibu dan anak itu nampak ke heranan.
"Ananya ? Apa gadis yang waktu itu ? Kenapa Mama Dian sangat akrab dengannya." Batin Sherly.
"Ma,,, apa yang mama maksud gadis yang waktu itu ?" Tanya Sherly penasaran.
"Ah, iya sayang. Sebenarnya Ananya dan Varo sudah menikah, kamipun baru mengetahuinya."
"Apppaaa ??? Mama lagi bercanda kan ?" Sherly histeris tidak percaya akan apa yang baru saja ia dengar. Diandra pun menceritakan semuanya kepada Sherly tanpa satupun yang terlewat. Tanpa Sherly sadari, ada genangan kecil di pelupuk matanya, ia mengalihkan pandangan berniat mnyembunyikan air mata itu dari Mama Dian.
"Tapi, Ma.. mereka tidak saling mencintai. Bagaimana mungkin Kak Varo menikah tanpa cinta ? Mereka seharusnya tidak boleh bersama." Kata Sherly.
"Mana boleh seperti itu. Seiring berjalannya waktu, mereka akan saling mencintai. Mama yakin, Ananya adalah wanita yang pas buat Varo. Oh iya, Bahkan kita sudah mengatur segala sesuatunya, 2 minggu lagi mereka akan melangsungkan resepsi pernikahan mereka. Kamu ikut bantu-bantu mama yah sayang." Diandra.
"Iya, Ma... Sherli pasti bantu kok."!
"Ya Tuhan,,,,, ? Kenapa jadi seperti ini akhirnya ? Apa aku mampu mengatur pesta pernikahan orang yang aku cintai dengan wanita lain ? Kuatkan aku Yaa Tuhan, aku akan berusaha Ikhlas. Mungkin dia memang bukan jodoh yang Kau ciptakan untukku. Aku benar-benar akan berusaha untuk ikhlas Yaa Tuhanku." Pinta Sherly dalam hati.
.
.
.
.
.
.
.
Tolong bantu like dan commentnya dong biar author semangat. Add favorite dan rate 5⭐⭐⭐⭐⭐. Jangan lupa vote seiklasnya.
Bikin novelnya itu susah, jadi harap pengertiannya. Terima kasih