
Pagi hari menjelang siang. Aluna dan Arjuna sudah berada di rumah sakit untuk memeriksakan kandungan Aluna.
Mereka saat ini di dalam ruangan bernuansa putih, duduk berhadapan dengan Dokter kandungan yang sudah di kenal oleh Arjuna.
"Om Ricky mau memeriksa istriku atau hanya ingin menatap istriku!" kesal Arjuna saat dokter Ricky memandang istrinya tidak berkedip.
"Istrimu cantik ya, Jun." Puji dokter Ricky, tanpa takut sedikit pun terhadap tatapan tajam Arjuna.
"Jangan marah begitu dong. Jika istrimu tidak cantik, mana mungkin kamu jatuh cinta sama dia," lanjut dokter Ricky sembari beranjak dari duduknya. Ia memerintahkan perawat yang bertugas menjadi asissten-nya hari itu untuk membantu Aluna menuju tempat tidur pasien yang ada di sana.
Perawat tersebut mengoleskan Gel dingin ke permukaan perut Aluna yang masih rata.
"Kita akan melihat apakah ada kecambah di dalam perut istrimu atau tidak," ucap dokter Ricky, sembari memegang alat USG di tangan kanannya, lalu menempelkan di perut Aluna.
"Sudah telat datang bulan berapa lama?" tanya dokter Ricky sembari menggerakkan alat USG-nya di permukaan perut Aluna, mencari letak janin yang ada di dalam perut Aluna.
"Sudah hampir dua bulan," jawab Aluna.
"Iya, itu dia. Sudah sebesar biji kacang hijau," ucap dokter Ricky sembari memerintahkan suami istri itu melihat ke layar USG.
Arjuna tertegun saat melihat calon buah hatinya. Rasa bahagia dan haru bercampur menjadi satu, bahkan ia sampai meneteskan air mata, begitu pula Aluna merasakan hal yang sama.
"Usia kandungannya sudah empat minggu, masih rentan harus di jaga dengan baik. Hindari stres dan jangan beraktifitas terlalu lelah. Tunda dulu aktifitas ranjang kalian sampai kandungannya kuat," jelas dokter Ricky kepada suami istri itu.
USG sudah selesai, dokter Ricky kembali ke tempat duduknya, di ikuti oleh Arjuna.
"Jadi harus berapa lama aku harus menahannya?" tanya Arjuna sambil mendesah kesal, yang benar saja dirinya harus menahan gairahnya, berdekatan dengan istrinya saja rasanya ingin nancep terus, pikir Arjuna.
"What! Yang benar saja!" Rasanya Arjuna ingin berteriak, karena tidak percaya dengan ucapan dokter tersebut.
"Bahkan ada yang menahan sampai istrinya melahirkan, mungkin juga kamu nanti seperti itu," jawab dokter Ricky, tertawa puas di dalam hati.
"Oh, NO!" pekik Arjuna sambil menggeleng berulang kali.
"Dengarkan saja ucapan Dokter. Kan ini demi kebaikan calon baby," jawab Aluna yang sudah turun dari atas tempat tidur pasien.
"Tapi, aku mana tahan tidak menyentuhmu," keluh Arjuna tanpa malu sedikit pun, padahal di sana ada perawat dan dokter Ricky yang mendengarnya sambil mesam-mesem.
"Jaga bicaranya, malu!" Wajah Aluna sudah seperti kepiting rebus saat mendengar ucapan suaminya yang tidak berfilter.
"Jangan merasa sungkan. Kami sudah terbiasa menghadapi kegilaan Keluarga Clark dan juga keluarga suamimu ini," ucap dokter Ricky menahan tawanya, tanpa memedulikan Arjuna yang melotot horor ke arahnya.
"Aku berikan resep vitamin." dokter Ricky, menyerahkan selembar kertas kecil kepada Arjuna.
"Baiklah terima kasih." Arjuna menerima resep tersebut dengan kasar.
"Ingat, tahan gairahmu sampai kandungan istrimu kuat, minimal tiga bulan," ucap dokter Ricky dengan suara pelan.
"Ck!" Arjuna berdecak menanggapi ucapan dokter somplak itu.
***
Tahan ya Juned. Iya, Tahan ...🤣🤣