Suddenly Married

Suddenly Married
Bertemu teman lama



Alvaro berlalu meninggalkan kediaman bunda Anna. Setidaknya, perasaannya kini lebih tenang setelah menumpahkan segala isi hatinya kepada wanita paruh baya itu. Ia merasa bahwa Anna adalah orang yang tepat untuk berbagi cerita, dan malam ini ia pun akan berterus terang kepada Diandra sang ibu yang beberapa hari ini selalu menanyakan keberadaan sang menantu. Selama ini, Varo hanya beralasan kepada Diandra bahwa Ananya berada di Luar kota untuk menghilangkan kepenatannya, namun Varo pun tidak tega jika harus terus menerus membohongi sang ibu. Ia sadar, tidak seharusnya ia bersembunyi dari masalah, semakin ia sembunyi makan masalahnya akan semakin rumit.


"Aku tidak boleh bersembunyi, Masalah yang ada harus di hadapi. Kalah menang urusan belakang, yang penting aku sudah mencobanya." Gumam Varo lirih.


Malam hari, Alvaro menjemput Anna untuk makan malam bersama Diandra di salah satu restoran terkenal di Kota J.


"Lho, katanya Mama kamu ikut nak ?" Tanya Anna saat naik ke mobil Varo dan tak menemukan siapaoun di dalam sana selain Varo.


"Mama diantar supir bunda, dia sudah menunggu kita di restoran." Kata Varo kemudian melajukan mobilnya setelah Bunda Anna memasang seatbeltnya.


Tak butuh waktu lama untuk tiba di restauran tempat mereka janjian, karena jarak dari rumah bunda Anna tidak begitu jauh dari restoran. Lalu lintas malam ini pun sangat bersahabat sehingga mereka bisa tiba di tempat tujuan tanpa hambatan.


Varo memarkirkan mobilnya kemudian masuk ke dalam restaurant diikuti oleh bunda Anna. Varo langsung mendatangi Receptionis untuk menanyakan di mana tempat yang telah di pesan oleh ibunya. Setelah berbicara dengan receptionis, keduanyapun berjalan mengikuti receptuon yang tadi memasuki salah satu ruang VIP yang tertutup. Dari jauh, Varo bisa langsung mengenali punggung sang ibu yang duduk membelakangi pintu masuk.


"Mama... Maaf sudah membuat mama menunggu." Kata Varo saat berdiri tepat di samping Diandra.


"Loh, Ananya mana sayang..?" Kata Diandra yang tidak melihat sosok menantunya.


"Ananya masih di rumah Paman Aiman, perkenalkan ini Bunda Anna, bibinya Ananya adiknya Ibu Lena." Varo memperkenalkan Anna kepada Diandra.


"Anna....!"


"Dian...!"


Sahut keduanya secara bersamaan. Varo nampak heran melihat keduanya yang saling menatap dan mematung. Keduanya nampak mengeluarkan cairan bening di pelupuk mata masing-masing. Tak lama kemudian, Anna menghambur ke pelukan Diandra, begitupun Diandra yang langsung memeluk wanita di hadapannya itu dengan erat.


"Di.... bagaimana kabar kamu ?" Kata Anna.


"Aku baik, sangaattt baik. Aku sangat merindukanmu." Kata Diandra.


"Aku juga sangat merindukanmu. Jadi dia Varo ?? Yaa Ampun... bagaimana bisa aku tidak menyadarinya. Pantas saja selama ini aku merasa bahwa aku seperti sudah lama mengenalnya. Ternyata dia adalah si kecil Varo yang dulu selalu aku jaga." Kata Anna yang tak bisa lagi membendung air matanya menatap lekat secara bergantian kepada Diandra dan Varo.


"Jadi kamu bibinya Ananya ? Benar-benar suatu kebetulan. Aku bahagia Anna, bisa bertemu lagi denganmu. Dan sekarang kita menjadi kerabat." kata Diandra berapi-api.


Melihat kebahagiaan sang ibu, rasanya ia tak kuasa memberitahukan kebenaran tentang hubungannya dengan Ananya kepada Mamanya. Tak pernah ia melihat Diandra sebahagia seperti sekarang ini.


"Sebenarnya apa yang terjadi denganmu, setelah kepergian Mario, aku tidak pernah lagi mendengar kabarmu. Kamu jahat sekali Dian.." kata Anna.


"Bukan begitu, setelah kecelakaan itu aku sangat terpukul dan memutuskan untuk pindah ke kota M. Aku tidak ingin berlarut-,larut dalam kesedihan. Apalagi waktu itu Varo masih kecil dan masih sangat membutihkan peran kedua orang tuanya." Sambung Diandra.


Diandra pun menceritakan semua kisahnya kepada Anna, tanpa satupun yang terlewatkan. Bahkan saat makanpun, keduanya tetap asyik bertukar cerita. Kini bergantian, Anna pun menceritakan kisah hidupnya kepada Diandra. Kerinduan keduanya selama dua puluh lima tahun kini terbayar dalam beberapa jam saja.


Tak terasa waktu menunjukkan pukul 10 malam, tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Diandra pun pamit kepada Anna karena tidak ingin jika suaminya merasa khawatir. Meskipun suaminya tahu bahwa ia akan makan malam dengan putranya, namun Ryan tetaplah Ryan yang sangat over protective terhadap sang isteri.


"Anna, rajin-rajinlah berkunjung ke rumahku. Jika Ananya sudah pindah ke rumahku, kamu ikutlah tinggal bersama kami. Apalagi kamu akan tinggal sendiri." Tawar Diandra.


"Iya, aku akan sering-sering mengunjungi sahabatku yang bawel ini. Dari dulu kamu tidak pernah berubah. Heehee.." keduanya terkekeh.


"Varo, kamu antar Bunda kamu yah sayang, Mama sama supir saja. Kalian hati-hati yah, Mama jalan duluan." Diandra pun pamit.


"Iya, nak.. Mama pergi dulu.. Dagh Anna.." Diandra melenggang pergi sambil melambaikan tangannya


Anna dan Varo pun masuk ke dalam mobil dan berlalu meninggalkan restaurant.


"Bunda, terima kasih yah.." sahut Varo memecah kesunyian di dalam mobil.


"Terima kasih untuk apa, nak ?" Tanya Varo.


"Tadi bunda sudah membuat Mama bahagia dan tidak memberitahukan persoalan Varo dan Ananya."


"Sebenarnya, bunda pun tidak tega memberitahukan kepada Diandra. Apalagi bunda lihat Diandra sangat bersemangat saat bercerita tentang Ananya." Jelas Anna.


"Terima kasih bunda.." Kata Varo yang kemudian menepikan mobilnya tepat di depan rumah Ananya.


"Kamu tidak turun dulu nak..?" Kata Anna.


"Tidak usah bunda, Varo langsung balik ke apartemen saja, masih ada yg harus Varo selesaikan." jawab Varo.


"Baiklah, nak.. kamu hati-hati yah..!"


"Iya, Bund... Varo jalan yah..!" Mobil Alvafo pun melaujj meninggalkan rumah Anna.


Annapun berjalan masuk ke dalam rumahnya, alangkah kagetnya ia melihat beberap lampu yang menyala dan pintu yang tidak di kunci


"Apa ada orang ?" teriak Anna.


"Heran, kenapa lampu menyala ? Gumamnya lirih.


Ia menatap ke antai atas, tepat di kamar Ananya kemudian menuju ke atas.


"Nya.... sejak kapan kamu datang nak ? Nak Varo baru saja pergi..." Kata Anna.


"Bunda...!" Ananya berlari ke arah Anna kemudian menghambur memeluknya sambil menangis. Ia nampaknya sangat merindukan sosok pengganti ibunya itu. Sepertinya begitu banyak beban yang ia pikul, dan berbagi srgala hal dengan sang bunda.


"Bunda... Ananya..." Ananya tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Ia hanya bisa menangis dan tak tau harus berbuat apa lagi.


"Menangislah, jika dengan menangis bisa membuatmu tenang." Kata Anna dengan pelukan hanyatnya.


TO BE CONTINUED


Maaf author cuma bisa update segini, author sudah ngantuk parah. Maklumlah auathor lagi hamidun jadi sangat wajar jika author gampang capek dan ngantuk.


Tolong, bantu author untuk memberikan rate 5 bintang


Tinggalkan jejak anda setelah membaca novel****ku.


Like dan comment please...