
Sinar mentari pagi menyelinap masuk ke dalam sebuah kamar yang terlihat remang remang karena hanya lampu tidur saja yang menyala. Sepasang suami istri yang hampir seminggu menjalani kehidupan berumah tangga mereka, sedang terlelap dalam tidurnya setelah semalam mereka harus bertengkar hebat karena masalah kecurigaan serta ketidakpercayaan diantara mereka.
Namun pertengkaran kecil mereka akhirnya berhasil reda setelah adanya insiden kecil kecelakaan yang menyebabkan kaki sang istri sakit karena terbentur kaki meja. Dan setelah itu mereka saling melempar kata maaf penuh penyesalan dan merasa bersalah hingga pertengkaran.
Dengan pikiran serta hati yang terbuka akhirnya mereka saling memaafkan dan melupakan kejadian yang baru terjadi. Lalu memutuskan untuk tidur bersama di ranjang yang sama, dimana hal itu merupakan pertama kalinya bagi mereka bisa tidur bersama setelah beberapa hari pernikahan mereka resmi menjadi suami istri.
Padahal biasanya pasangan yang telah sah menjadi suami istri akan langsung tidur bersama di ranjang yang sama. Tapi hal itu tidak berlaku bagi mereka karena selain mereka menikah secara mendadak, mereka juga belum mengenal dekat satu sama lain. Bahkan pernikahan mereka juga tidak diketahui oleh keluarga masing masing kecuali ayah dari sang istri yang harus menjadi wali pernikahan mereka.
Ya mereka adalah Rivan dan Tiara yang saat ini sedang tidur bersama dan di ranjang yang sama. Semua ide awal tersebut tercetus atas permintaan Rivan untuk membuktikan keseriusan Tiara. Dan setelah insiden kecelakaan kecil yang terjadi akhirnya Tiara menyetujui untuk mengabulkan permintaan sang suami. Dan disinilah mereka sekarang tidur di rumah suaminya serta di kamar dan di ranjang yang sama.
Saat ini mereka seperti orang yang dibius saja karena masih belum ada yang membuka matanya padahal matahari sudah mengintip dari tadi menampakkan sinarnya. Bahkan posisi mereka tidur masih sama persis dengan awal mereka akan tidur semalam, dan sama sekali tidak ada yang berubah dari posisinya.
Hingga tidak lama kemudian Tiara beberapa kali mengerjakan matanya lalu terbuka lebar namun masih dengan kesadaran yang belum sepenuhnya. Matanya menelisik ruangan kamar yang jauh berbeda dengan kamarnya sendiri Karema kamar yang saat ini dia tempat terlihat sangat mewah.
Tubuhnya yang terbungkus selimut tebal hingga lehernya membuatnya langsung membuka selimut tersebut. Namun dia masih mencoba mengingat ingat dimana dia saat ini, hingga akhirnya dia tersadar bahwa saat ini dia sedang tidur di kamar suaminya.
" Berarti beneran semalam aku tidur di kamar Rivan" gumam Tiara pelan lalu membalikkan tubuhnya untuk melihat ke samping untuk lebih memastikan.
Tiara melihat tubuh Rivan yang masih tertidur pulas di sampingnya. Rivan masih tertidur dengan posisi yang sama seperti tadi malam bahkan terlihat tidak berubah sama sekali atau bergerak mendekati Tiara saat tidur. Secara teknis Rivan sudah tidak sadar saat tertidur, namun dia seakan bisa mengendalikan diri untuk tidak mendekati Tiara yang juga tidur terlelap.
Tiara tersenyum lembut mengingat Rivan telah memenuhi janjinya untuk tidak menyerang atau menyentuhnya saat dia tertidur. Rupanya ide untuk mengabulkan permintaan suaminya tidur bersama adalah ide yang sangat bagus baginya untuk bisa lebih percaya lagi pada sang suami.
Tiara bergerak pelan mendekati Rivan dan mengintip wajah Rivan yang tengah tertidur dengan nyenyak dan polos. Terlihat wajah Rivan yang kelelahan, dan pose tidurnya yang terlihat menggemaskan di mata Rivan. Tubuh Rivan meringkuk dengan tangan dan kaki memeluk guling dengan erat.
Tiara tersenyum lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Rivan dan mengecup tulang pipi Rivan dengan pelan. Ini sebagai hadiah karena Rivan telah memenuhi janjinya. Lalu dia beranjak dan masuk ke kamar mandi dengan pelan untuk mencuci wajahnya. Kemudian dia pergi ke luar menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk suami dan dirinya.
*
Sementara itu di ranjang setelah kepergian Tiara satu jam yang lalu, Rivan juga terbangun dari tidurnya. Dan dia langsung membalikkan tubuhnya, seketika dia mendapati dirinya sendirian tidur di sana dan tidak ada Tiara di sebelahnya. Seakan jantungnya ingin keluar dari tempatnya Rivan langsung beranjak dari tidurnya dengan cepat mencari keberadaan Tiara.
Tanpa dia sadari tas milik Tiara masih ada di meja balas lengkap dengan ponselnya. Namun karena merasa khawatir, takut dan bingung dia langsung mencari keberadaan Tiara.
" Sayang..." Rivan membuka kamar mandi untuk memastikan keberadaan Tiara di sana namun tidak ada.
" Sayang..." panggilnya lagi kini membuka walk in closed tapi masih belum menemukan istrinya.
Dia sangat takut tidak mendapati sang istri tidak ada di kamarnya, dengan gerakan cepat dia langsung keluar dari kamarnya. Dia juga membuka kerjanya siapa tau Tiara ada di sana sambil memanggil namanya. Namun sama sekali tidak ada sahutan dan itu membuat Rivan frustasi.
Dan dia berjalan menuruni tangga dengan cepat. " Sayang..." panggil Rivan lagi dan berharap kali ini Tiara menjawab panggilannya.
" Di sini mas..." jawab Tiara akhirnya yang sedang sibuk di dapur.
" Sepertinya enak" kata Rivan sambil duduk dengan manis di balik kitchen bar.
Tiara berbalik dan tersenyum saat melihat Rivan yang sedang duduk manis di belakangnya dengan senyuman lebar sambil menahan dagu dengan kedua tangannya.
Rivan terus memperhatikan wajah Tiara yang terlihat cantik meskipun dia baru bangun tidur dan sepertinya belum mandi pikirnya. Apalagi rambutnya digulung ke atas sehingga menampakkan leher jenjang Tiara yang putih dan mulus.
" Aku bikin roti panggang dan omelette aja yang gampang" meletakan dua piring makanan di di atas meja kitchen bar. " Kamu mau kopi apa teh?" lanjutnya menanyakan minuman yang diinginkan suaminya.
" Kopi aja" jawab Rivan masih melihat wajah cantik istrinya yang berdiri di depannya.
Tiara balik lagi ke dapur untuk membuatkan minuman untuk suaminya. Sebelumnya dia juga sudah membuat kopi untuk dirinya sendiri.
" Kamu bangun dari jam berapa sayang?" tanya Rivan masih mengamati gerak gerik Tiara di depannya.
" Satu jam yang lalu mungkin" jawab Tiara tanpa menoleh ke belakang.
Tidak lama Tiara membawa dua cangkir kopi dan memberikan satu cangkir pada Rivan. Lalu dia langsung duduk berseberangan dengan Rivan.
" Maaf cuma bisa masak ala kadarnya" ucap Tiara merasa belum mahir dalam hal memasak
" Yang penting kita bisa sarapan bersama" jawab Rivan yang langsung berdoa kemudian langsung melahap sarapannya yang sudah disiapkan oleh sang istri.
Tiara yang melihat Rivan memakan dengan lahap akhirnya ikut memakan sarapannya yang tersedia di piringnya dengan pelan setelah dia berdoa dalam hati. " Senang deh lihat kamu makan lahap kayak gini.." kata Tiara dengan tersenyum bahagia melihat Rivan makan dengan lahap.
Rivan balik menatap Tiara yang duduk di depannya, menurutnya kadar manis senyuman Tiara tidak ada habisnya. Dan itu membuat dada Rivan terasa ngilu hanya melihat senyuman Tiara yang terlihat sangat manis.
" Laper, ada makanan enak, ya lahap" ucap Rivan sambil terus makan untuk mengalihkan perhatiannya dari bibir Tiara yang menurutnya sangat manis.
Dalam hati Rivan terus terusik saat melihat Tiara yang sedang mengunyah makanannya. Sesekali dia menyantap sarapannya dengan sesekali melirik Tiara yang tengah asyik mengunyah makanannya. Karena gerakan gerakan bibir Tiara tanpa sadar membuat jantung Rivan bergetar hebat, rasanya dia ingin sekali memakan bibir tersebut saat itu juga.
Namun dia berusaha menahan untuk bisa melakukannya, karena dia tidak ingin merusak kegiatan sarapan bersama mereka. Selain itu dia tidak ingin Tiara berfikiran buruk tentangnya dan menghancurkan kepercayaan yang sudah didapatkan dari Tiara.
Tidak lama kemudian mereka akhirnya telah menyelesaikan kegiatan sarapan mereka. Tiara membawa semua peralatan kotor ke wastafel dan ingin mencucinya. Tanpa dia sadari saat ini Rivan telah berdiri di belakangnya dan dengan gerakan lambat Rivan memeluk tubuh Tiara dari belakang yang langsung membuat Tiara terkejut.
" Mas..." panggil Tiara pelan.
" Sebentar saja" ucap Rivan meletakkan kepalanya di bahu Tiara yang membuat Tiara kesulitan bergerak. " Terima kasih sayang..." lanjutnya sesekali mengendus leher Tiara.
" Ekhemmm.....!!!" suara deheman keras yang dibuat buat sontak langsung membuat Tiara dan Rivan menoleh ke belakang. Terlihat di sana ada seorang wanita paruh baya berdiri dengan kedua tang bersilang di dadanya menatap tajam ke arah mereka berdua.