
Sebelum melajukan mobilnya menuju jalan raya, Rivan terlebih dahulu bertanya pada Tiara dan memastikan, apakah Tiara mau makan malam di luar terlebih dahulu. Menurutnya mungkin dengan makan malam di luar bersama, mood Tiara akan kembali menjadi lebih baik. Meskipun dia senang dengan sikap Tiara yang terlihat manja dan lemah seperti ini, namun ada sedikit rasa sakit di hatinya yang juga dirasakan oleh Rivan.
Rupanya Tiara tidak ingin makan malam diluar, dia ingin segera pulang ke rumah mereka dan makan malam bersama di rumah saja. Mungkin dengan berada di rumah dan melakukan kegiatan yang menyenangkan bersama Rivan, semua perasaan kesalnya akan hilang dan bisa melupakan pertemuannya bersama dengan Dika yang membuatnya kesal dan marah.
" Baik nyonya Rivan" goda Rivan dengan senyum merekah sekaligus untuk menghibur hati Tiara yang merasa kesal. Dan usahanya berhasil karena sudah membuat Tiara ikut tersenyum lucu sekaligus malu.
Rivan segera melajukan mobilnya dengan pelan meninggalkan Dika yang masih berdiri mematung di tempatnya dengan mata yang terus menatap ke arah mobil Volkswagen kodok warna hijau.
Rivan mengemudikan mobilnya dengan hanya menggunakan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya dia pakai untuk menggenggam tangan kanan Tiara. Tiara langsung menyandarkan kepalanya di bahu kiri Rivan dan mencium bau parfum yang membuatnya merasa tenang saat hidungnya mencium bau parfum milik suaminya yang tanpa sengaja sudah menjadi candu bagi Tiara.
" Wangi kamu enak deh" kata Tiara yang mencium bau parfum Rivan yang menempel di bajunya dan masih tercium segar dan harum di hidung Tiara, meskipun sudah seharian Rivan memakainya seperti tidak hilang baunya dari tadi pagi.
" Enak ya, aku bau keringet, sayang" ucap Rivan seolah lupa kalau mood Tiara sedang tidak baik, sehingga Tiara langsung mengangkat kepalanya. Rivan mendesis berkali kali merutuki ucapan bodohnya yang membuat momen indahnya berhenti ketika Rivan mengangkat kepalanya.
" Please lah, mas... kamu bilang ini tu bau keringet kamu, sama aja aku bilang kalau skin care aku dan pembersih muka aku cuma pake sabun batangan. Nggak mungkin lah, mas..." gerutu Tiara. Dia tidak terima karena jelas jelas ada aroma musk yang begitu pekat merebak dari baju dan leher Rivan.
" Iya, iya... aku tuh pake parfum" akhirnya menyerah tidak ingin membuat Tiara merasa kesal terhadapnya lagi. " Kamu tuh kenapa sih sensi banget?" kata Rivan hati hati tidak ingin ucapannya menyinggung perasaan Tiara lagi.
" Aku gak sensi" sahut Tiara dengan menahan kesalnya, rasanya tidak adil jika dirinya harus meras kesal dan marah terhadap suaminya padahal dia tau suaminya sama sekali tidak bersalah.
Tiara menghela nafasnya panjang dan mengeluarkannya dengan pelan, dia tiba tiba mengingat kejadian beberapa saat yang lalu. Moodnya langsung jatuh begitu bertemu dengan Dika dan tanpa sengaja dia hampir melampiaskannya pada Rivan.
Melihat istrinya yang justru terdiam membuat Rivan merasa bersalah, Rivan langsung menggenggam dengan erat tangan Tiara dan mencium punggung tangan tersebut. Dia tau saat ini Tiara berusaha agar terlihat tenang di hadapannya dan belum ada niat bagi Tiara untuk mengatakan semuanya pada dirinya.
" Kita makan di luar saja" kata Rivan yang seperti sebuah perintah yang tidak bisa dibantah oleh Tiara. Rivan yakin jika mereka langsung pulang Tiara pasti tidak akan berselera untuk makan makanya lebih baik mereka makan dulu di luar dan langsung beristirahat begitu sampai di rumah.
Tidak ingin membantah ucapan suaminya, Tiara hanya bisa mengangguk ajakan Rivan untuk makan malam di luar. Rivan langsung melajukan mobilnya menuju ke sebuah restoran yang dia rasa dekat dengan perjalanan mereka saat ini.
Rivan terus menggenggam tangan Tiara dengan sangat erat saat mereka sudah sampai di dalam restoran. Mereka duduk berhadapan dengan tangan Rivan masih dengan setia memegang tangan Tiara di atas meja.
" Mas, lepasin" pinta Tiara dengan pelan karena dirinya tidak dapat membuka buku menu makanan hanya dengan satu tangan saja sementara tangan satunya terus di genggam Rivan dengan erat.
Rivan hanya menatap Tiara sekilas tapi dia sama sekali tidak menggubris permintaan istrinya. Dia masih bisa membuka buku besar yang terdapat beberapa menu di restoran tersebut hanya dengan satu tangannya meskipun sedikit kerepotan.
Masih setia menggenggam tangan Tiara di atas meja, Rivan kemudian menyebutkan berbagai menu makanan yang dia pesan pada pelayan restoran yang berdiri di dekat mereka dan langsung mencatat semua pesanan Rivan. Rupanya Rivan juga memesankan makanan untuk Tiara sekaligus, makanya dia sama sekali tidak melepaskan tangan Tiara.
Bukannya nglepasin tangan Tiara, Rivan justru memegang tangan Tiara semakin erat bahkan kini dia memegang tangan itu dengan kedua tangannya.
" Mas... tanganku bukan balon. Gak usah kenceng kenceng megangnya, aku nggak bakalan terbang kok" ucap Tiara kemudian saat dia merasakan genggaman tangan Rivan yang semakin erat.
" Gak suka aku pegangin?" tanya Rivan dengan mata menyipit seolah merajuk.
" Malu sama pelayannya. Tadi dia sampai nahan tawanya, lihat kamu maksa banget buka buka buku menu segede itu pake satu tangan" ucap Tiara tidak ingin suaminya salah paham mengira dirinya tidak ingin dipegang tangannya.
" Biarin!" rajuk Rivan.
Merasa gemas dengan sikap suaminya yang sedang merajuk, Tiara menarik bibirnya dan mengecup singkat tangan yang terus memegangnya erat dari tadi. Karena tindakan Tiara, Rivan yang awalnya pura pura cemberut dan merajuk pun langsung terbahak.
" Ya ampun, kamu tuh anak SMP apa gimana sih?" tanya Rivan yang kini telah menarik tangannya yang sedari tadi menggenggam tangan Tiara karena sibuk menutup mulutnya yang tengah tertawa dengan lebar karena sikap Tiara barusan. Tapi di atas sikap Tiara, yang telah mengecup tangannya sekilas tadi tentu saja menjadi pengalaman yang begitu menarik bagi Rivan.
" Tapi suka kan...?" tanya Tiara dengan mengedipkan sebelah matanya dengan genit.
Rivan terdiam salah tingkah, sungguh di luar dugaan. Sebenarnya Rivan melakukan semua itu bukan tanpa sebab, dia memang ingin mengalihkan pikiran Tiara yang sedang kacau saat itu. Dia ingin Tiara kembali bersikap seperti biasanya sebelum dia bertemu dengan pria yang dia ketahui sebagai mantan kekasihnya Tiara.
Dan rupanya dia telah berhasil melakukannya, Tiara yang terlihat sudah tidak memikirkan masalah yang dihadapinya dan sudah bersikap seperti biasanya. Namun yang membuat Rivan salah tingkah adalah sikap agresif Tiara yang begitu kentara dia lakukan di depan umum yang belum pernah dia lakukan selama ini.
Ternyata jika beradu pesona dengan Tiara, dirinya masih jauh terlihat lemah dibanding Tiara. Tapi Rivan senang bisa melihat sikap manja dan agresif Tiara seperti saat ini, namun dia lebih berharap Tiara melakukan hal itu disaat mereka sedang berduaan saja. Meskipun dia juga merasa bahagia karena telah berhasil mengalihkan pikiran Tiara.
" Suka.... tapi lebih suka lagi jika kita sedang berduaan di rumah dan melakukan lebih dari ini" sahut Rivan dengan suara pelan tapi penuh makna di dalamnya. Kemudian sebelah matanya berkedip membalas sikap genit Tiara.
Tiara tertawa kecil dengan pipinya yang sudah memerah karena merasa malu dengan balasan Rivan. Dia juga merasa bahagia karena memiliki sosok pria yang begitu perhatian terhadapnya. Sosok pria yang selalu berhasil mengalihkan semua agar pikirannya hanya tertuju padanya saja.
Menu makanan yang dipesan oleh Rivan kini telah datang dan ditata dia tas meja oleh para pelayan membuat keduanya terdiam. Hingga tidak lama semua hidangan telah tersaji di atas meja dengan rapi. " Yuk kita makan, sayang" ajak Rivan kemudian setelah kepergian pelayan restoran.
Tiara hanya tersenyum tipis dan mengangguk mengiyakan ajakan Rivan. Mereka kemudian makan dengan diselingi berbagai obrolan ringan di sela sela makan malam mereka berdua.
Rivan yang awalnya begitu penasaran dengan kejadian yang dilihatnya tadi saat melihat Tiara sedang berbicara dengan mantan kekasihnya. Dia ingin tau apa yang dibicarakan oleh mereka berdua karena ada sedikit rasa cemas di dia rasakan di sudut hatinya. Dia cemas jika pria tadi mengajak Tiara berbaikan dan Tiara menerimanya. Tak dapat dia bayangkan apa yang akan terjadi padanya.
Namun dirinya tidak berani menanyakan semuanya pada Tiara. Mulutnya seolah tidak dapat terbuka untuk menanyakan semuanya, takut Tiara akan tersinggung. Mungkin yang bisa dia lakukan saat ini hanya diam menunggu Tiara sendiri yang akan mengatakan semuanya tanpa ada yang Tiara tutup lagi darinya.