
Rivan baru menyadari bahwa semua barang yang ada di kamar istrinya hampir semuanya bernuansa warna kuning. Mulai dari meja kerja, beberapa hiasan dinding bahkan frame foto yang berbentuk matahari. Bahkan jam dinding serta warna sprei yang di duduki ya juga berwarna kuning. Tapi untungnya cat temboknya bukan warna kuning melainkan putih gading sehingga terlihat cerah saja ruangan kamar Tiara.
" God..." ucap Rivan dengan penuh antusias dan tersenyum cerah sambil matanya terus mengamati seisi kamar istrinya yang begitu menyejukkan. Dia yakin dirinya akan semakin betah saja untuk tinggal di kamar sang istri.
" Kenapa?" tanya Rivan heran melihat suaminya yang begitu bersemangat. Bahkan wajah Tiara masih terlihat bersemu merah setelah mereka berciuman sebelumnya.
" You are a sunshine" jawab Rivan yang langsung membuat Tiara semakin tersipu malu bahkan wajahnya semakin terasa menghangat dari sebelumnya.
" Gombal banget sih kamu... sunshine sunshine segala...!" kata Tiara merasa malu dengan senyum senyum malu. Saat ini hatinya sangat senang, tapi dikatai demikian secara terang terangan
Rivan tipe orang yang suka mengungkapkan perasaan serta pikirannya dengan blak blakan. Dan pujian yang dilontarkan Rivan membuat wajahnya selalu bersemu merah. Tiara juga tau bahwa suaminya bersungguh sungguh dengan ucapannya yang membuatnya sangat tersanjung. Rivan juga sering sekali memujinya akhir akhir ini bukan untuk menyenangkan hati Tiara melainkan murni berasal dari hatinya.
Saat ini hatinya sangat senang namun dikatai demikian secara terang terangan oleh orang yang selalu sukses mendebarkan hatinya. Rasanya dia ingin sekali membenamkan wajahnya kedalam bantal sambil mengibaskan kedua kakinya seperti orang yang sedang berenang dengan gaya bebas. Habis kalau membenamkan diri ke dada suaminya nanti bisa keterusan kan! hahaha....
" Kamu memang sunshine untuk aku, Ara sayang..." kata Rivan sekali lagi dengan begitu tulus dan penuh keyakinan daripada hanya sekedar sebuah rayuan atau gombalan semata.
Rivan terlihat sangat bersyukur memiliki Tiara dan seperti ingin membuka dirinya dengan mencurahkan segala isi hatinya kepada Tiara tanpa ingin menutup nutupinya. Dan Tiara yang begitu terharu, hanya bisa menatap wajah suaminya. Mencoba mencari kebohongan di mata suaminya, tapi sama sekali dia tidak menemukannya, justru yang terlihat sebuah kejujuran yang begitu kentara di mata Rivan.
" Seandainya kamu tau, betapa langkanya perempuan seperti kamu di hidup aku. Maka kamu pasti akan mengerti dan ngerasa kenapa aku mengganggap kamu sebagai sinar yang menerangi hidup aku" ucap Rivan sekali lagi dengan jujur dan meyakinkan sang istri.
Mendengar curahan hati suaminya yang paling dalam, ada getaran yang begitu hebat di dalam hati Tiara. Dia merasa trenyuh dan termangu saat melihat ekspresi Rivan yang menyimpan kerinduan karena hidupnya selama ini terasa sunyi. Sedikit banyak Tiara dapat menebak, apa saja yang telah dialami oleh riyvan sebelum bertemu dengan dirinya.
" Memang apa yang membuat kamu ngerasa kalau hidup kamu terasa gelap selama ini?" tanya Tiara menatap wajah suaminya yang terlihat sendu sambil menyandarkan punggungnya ke belakang.
Mungkin saat inilah waktu yanga tepat dimana momen ketika suaminya mempercayai dirinya untuk berbagi cerita dan berkeluh kesah tentang bagian terdalam hidupnya. Entah itu perasaannya, perjalanan kisah hidupnya, kegundahan hatinya atau apapun itu yang tak hanya sekadar terlihat dari luarnya saja.
" Selama ini aku selalu merasa orang orang hanya melihat aku berdasarkan atas apa yang aku punya, apa yang orang tuaku punya, apa yang aku pakai, semua yang aku miliki, apa pekerjaan aku dan aku dibentuk dari itu semua. Padahal aku tau bahwa aku lebih dari itu..." kata Rivan mendesah sambil menatap ke sembarang arah dengan tatapan sendu.
Rivan mulai menceritakan bagian dirinya yang selama ini dia rasakan sebelum Tiara masuk ke dalam hidupnya.
Mendengar cerita suaminya membuat Tiara sangat terharu. Dulu dirinya juga merasakan kesepian ketika orang lain mendefinisikan berdasarkan statusnya yang masih terus melajang di usianya yang sudah matang untuk berkeluarga. Dan apakah yang dirasakan Rivan juga hampir sama dengan apa yang dia rasakan selama bertahun tahun lamanya.
" Aku hanya ingin ada orang yang bisa melihatku sebagai…. Aku. Bukan sebagai Rivan Dimas Sanjaya, generasi terakhir atau cucu tertua dari kek Guntur Sanjaya pengusaha terkenal di Indonesia. Sosok bayi yang baru lahir namun sudah sukses duluan sebelum dia bisa berjalan" ceritanya lagi dengan nada suara yang terdengar menyedihkan.
" Aku berusaha dengan keras untuk bisa menghilangkan apa yang orang orang panggil dengan hak yang istimewa tersebut" lanjutnya.
Tiara yang terus setia mendengar keluh kesah suaminya, mulai mengerti bahwa suaminya selama ini selalu mengalami krisis identitas hanya karena dia lahir dari keluarga pengusaha terkenal dan kaya raya. Tiara meremas bahu suaminya yang saat ini tengah bersandar di kepala ranjang untuk memberikan dukungan.
Tiara paham betul dengan apa yang dirasakan oleh suaminya. Rivan merasa begitu kehausan untuk diakui sebagai pribadi yang terpisah dari semua label yang orang orang berikan untuknya.
" Lalu kamu muncul di pertemuan tak terduga kita, bahkan dipertemuan kita selanjutnya di rumah sakit. Yang mana kamu tidak tau menahu akan latar belakang keluarga aku, tidak tau bahwa aku seorang PNS namun memiliki kekayaan yang banyak" kata Rivan mengingat kembali pertemuan mereka yang tak terduga.
" Bahkan kamu seolah merasa tidak nyaman dan kurang bisa menerima diriku, saat aku membawa mobil mewahku. Padahal aku hanya ingin menunjukkan kalau aku ini orang kaya dan diluar dugaan justru kamu merasa risih dengan apa yang aku punya. Justru sangat berkebalikan jika hal itu dialami oleh wanita lain. Mereka akan langsung terlihat materialistis jika sudah dihadapkan dengan hal hal yang berbau kemewahan" lanjutnya.
Tiara tersenyum lucu saat mengingat untuk pertama kalinya Rivan membawa mobil mewahnya dan dengan tidak nyaman dia duduk di mobil mewah tersebut. Rasanya banyak sekali yang terjadi selama kurun waktu yang hanya beberapa hari setelah mereka menikah. Kini bersama Rivan terasa wajar sampai sampai dia sering lupa bagaimana keadaan dirinya saat Rivan belum hadir di kehidupannya.
" Keberadaan kamu dalam hidupku begitu terasa asing, sayang… hanya keluargaku yang bisa menerima diriku apa adanya. Namun mereka memiliki kehidupan mereka sendiri. Dan aku juga ingin berbagi dengan orang yang bisa menerima aku apa adanya. Karena itulah dipertemuan kita selanjutnya, ada desakan dalam hati aku untuk tidak melepaskan kamu" ucap Rivan menatap wajah cantik istrinya dan membelainya dengan lembut.
" Hmm.... lucu!" ucap Tiara dengan tersenyum yang membuat Rivan terbuai saat melihat senyuman manis istrinya.
Rivan menarik pandangannya dan menemukan mata besar Tiara yang begitu ramah dan hangat. Mata mereka saling beradu yang membuat hati Rivan begitu menghangat seolah terhipnotis saat menatapnya. Rivan menangkup kedua pipi Tiara yang langsung menutup matanya menikmati sentuhan tangan pria dihadapannya penuh cinta.
" Lucu?" tanya Rivan yang menatap bibir mungil istrinya yang begitu menggoda apalagi perempuan didepannya saat ini tengah menutup matanya. Bulu matanya yang lentik sangat menggoda bagi Rivan.
Tiara membuka matanya. " Dulu aku berusaha menyadarkan diri bahwa ke KUA untuk menikahi cowok yang baru aku kenal, itu adalah hal gila. Tapi aku tetap saja ngelakuin, karena ada desakan kuat dari diriku juga untuk nggak ngebiarin kamu lewat begitu saja" kata Tiara
Mereka sudah sangat dekat, bahkan hidung mancung Rivan sudah menyentuh hidungnya dan Tiara merasa sulit untuk bernafas. Tiara sangat suka dengan aroma tubuh Rivan yang berbaur dengan harum wangi parfumnya, dia juga menikmati hembusan nafas suaminya yang langsung menerpa wajahnya bahkan Tiara tidak dapat berkutik dari sentuhan Rivan.
Rivan sendiri berusaha menahan dirinya sekuat tenaga untuk tidak menyentuh seluruh tubuh istrinya saat mereka berdua di kamar seperti saat ini. " Cup" Rivan menempelkan bibirnya lama di bibir Tiara yang tertutup rapat. Dia hanya ingin mengecup bibir Tiara lama dan tidak lebih dan langsung melepaskannya.
" Kita istirahat" kata Rivan kemudian sambil menghembuskan nafas dengan berat dan berusaha tersenyum dengan kecut. Riva membaringkan tubuhnya yang sudah mulai merasa panas karena harus menahan gairahnya untuk bisa menyentuh istrinya saat itu juga. Tiara yang mengerti akhirnya ikut berbaring juga dan setelah lama terdiam akhirnya mereka tertidur seperti tadi malam saat mereka tidur di kamar Rivan.