Suddenly Married

Suddenly Married
Nanggung Ceritanya



Setelah mendengar suara suaminya dari seberang meskipun hanya melalui panggilan seluler, sudah membuat mood Tiara menjadi lebih baik setelah pertemuannya dengan Dika. Karena memang hanya Rivan selalu bisa membuat hatinya selalu merasa lebih baik.


Hati Tiara sudah kembali senang begitu mendapatkan ungkapan sayang dari suaminya. Dia bahkan langsung bersemangat untuk memulai harinya dengan bekerja tanpa merasa terbebani ataupun terganggu pikirannya. Tanpa terasa dia sudah bekerja dengan giat siang itu hingga waktunya semua karyawannya untuk pulang ke rumah masing masing.


Siangnya dia juga meminta salah satu karyawannya untuk membelikan makan siang untuknya dan semua karyawannya.


" Rupanya sudah sore, waktunya pulang" ucap Tiara lirih sambil mendesah saat dia melihat jam yang tergantung di dinding ruangannya.


Tok tok tok suara pintu ruangan Tiara di ketuk dari luar.


" Masuk" jawab Tiara yang sibuk membereskan beberapa kertas di mejanya.


Pintu dibuka dari luar dan ternyata Nita yang sudah mengetuk pintu. " Waktunya pulang, apa Lo gak ingin pulang?" tanya Nita yang sudah masuk ke dalam ruangannya sahabatnya sekaligus bosnya.


Kebetulan jam kerja sudah selesai, jadi mereka berbicara biasa layaknya sahabat. Meskipun mereka berdua memanggil dengan sebutan Lo-Gue tapi mereka tetap bicara dengan nada yang biasa. Tidak seperti saat Tiara berbicara dengan Dika tadi, dia terdengar lebih galak dan judes. Itu karena ada rasa sakit di hatinya yang dia rasakan karena ulah Dika sehingga membuat Tiara berbicara kasar.


" Iya, ni gue lagi beres beres" jawab Tiara yang terus membereskan semua kertas kertasnya hingga tidak ada lagi selembar kertas yang berada di mejanya. " Suami Lo gak keluar kota?" tanya Tiara kemudian sambil melihat Nita.


Tiara ingin bercerita pada Nita tentang pertemuannya tadi dengan Dika. Dia tau saat inipun Nita juga menunggu dirinya bercerita sendiri, karena Tiara tau sahabatnya tersebut mengetahui bahwa dia sedang ada masalah.


" Gak!" jawab Nita yang sudah duduk di kursi yang berhadapan dengan Tiara. " Tapi kita bisa ke kafe sebentar kalau elo mau" lanjut Nita yang kemudian mengambil ponselnya untuk meminta ijin pada suaminya kalau dirinya akan pulang terlambat.


Setelah selesai berberes, Tiara segera mengajak Nita untuk pergi ke salah satu cafe yang biasa mereka datangi waktu kuliah dulu. Karena belum waktunya makan malam mereka hanya memesan minuman, pizza dan dua porsi salad buah sebagai teman ngobrol mereka kali ini.


" Gue tadi ketemu sama Dika" ucap Tiara yang langsung tanpa basa basi ingin menceritakan kejadian yang dialaminya tadi pagi.


" Uhuk...uhuk..." Nita sampai tersedak dan terbatuk batuk karena cerita Tiara. " Mau ngapain itu orang nemuin Lo?!" tanya Nita yang tersulut emosi ketika mendengar nama Dika, mantan Tiara yang sudah membuat hidup Tiara selama ini.


" Sebenarnya tadi bukanlah pertemuan kita yang pertama" ucap Tiara mengabaikan pertanyaan Nita. " Sebelumnya gue sama Rivan pernah ketemu sama Dika dan istrinya waktu kita makan malam bersama ayah dan ibu saat ulang tahun ibu beberapa hari yang lalu" lanjutnya.


" Terus.... terus...?" tanya Nita yang penasaran, karena selama ini Tiara belum bercerita soal pertemuan dirinya dengan mantan terindah sekaligus mantan terburuk Tiara.


" Istri sama suami sama aja, bar bar! terlalu percaya diri dan suka merendahkan orang lain" ucap Tiara kesal jika mengingat pertemuannya dengan Dita dan istrinya.


" Dia tau gak kalau elo udah nikah sama Rivan?" tanya Nita lagi.


Tiara mendesah sambil menutup matanya sekilas untuk mengatur nafasnya yang sedikit sesak karena semuanya. " Harusnya sih tau, karena waktu gue debat sama istrinya Dika, Rivan ngenalin gua sebagai istrinya di depan manager restoran yang mengenal Rivan. Dan Lo tau gak ternyata pemilik restoran yang kita datangi itu milik adik kandungnya Rivan, jadinya ya kita menempati ruangan VIP dong...." ucap Tiara dengan senangnya mengingat wajah wajah orang yang sempat mereka temui di restoran yang langsung terdiam ketika Rivan meminta ruangan VIP dan langsung diberikan oleh sang manager.


" Hahaha.... gue gak bisa bayangin wajah mereka langsung terkejut pastinya" meskipun dia tidak mengalaminya sendiri tapi dapat Nita bayangkan saat kejadian mereka semua langsung terdiam dan terbengong saat itu.


" Sudah pastilah, Nit. Hahaha...." sahut Tiara yang ikut tertawa.


Sebelum melanjutkan ceritanya lagi, Tiara terlebih dahulu menyeruput minuman yang telah dipesannya. Dia juga masih begitu fokus untuk merangkum ceritanya untuk dia bagikan pada Nita.


" Sepertinya memang gak punya otak kali ya itu orang. Masa iya dia bilang mau ngajak gue balikan dan membujuk gue buat bisa merima dia lagi" kata Tiara nada suara yang terdengar kesal.


" Wah... memang dasar sudah gila ya itu orang" Nita juga terlihat kesal mendengar cerita Tiara.


Menurut Nita, yang dilakukan oleh Dika adlah hal yang sangat menjijikan dan hanya orang yang tidak punya otak atau orang gila saja yang bisa melakukannya. Bagaimana bisa seseorang yang sudah menyakiti dan meninggalkan orang lain hanya demi harta dan kekuasaan. Dan setelah beberapa tahun lamanya orang tersebut tiba tiba datang kembali dan meminta orang yang dulu dia tinggalkan untuk menerima dirinya lagi. Memangnya orang lain digunakan sebagai tempat persinggahan semata.


" Memang sudah gila tuh orang, masak iya dia bilang ke gue, dia rela cerai sama istrinya buat balikan sama gue" kata Tiara dengan wajah serius.


" Whaaaaatt....? seriously...?" Nita berteriak dengan hebohnya tidak percaya dengan ucapan yang dilontarkan oleh sahabatnya tersebut.


Tiara hanya bisa tersenyum tipis dengan reaksi Nita, dia sudah memperkirakan sebelumnya bahwa Nita pasti akan sangat terkejut jika tau cerita kelanjutannya. Namun dia membiarkan saja reaksi Nita, meskipun saat ini mereka berdua sudah pasti menjadi bahan tontonan orang lain yang mendengar teriakan Nita.


Tiara justru dengan sengaja menjeda ceritanya terlebih dahulu, dengan sengaja mengambil sepotong pizza untuk dia makan terlebih dahulu.


" Trus... gimana kelanjutannya? nanggung banget ceritanya, Ara!" seru Nita yang sudah mendekatkan badannya ke arah Tiara agar bisa mendengar cerita Tiara dari dekat. Tapi sayang Tiara seolah sengaja memakan pizza untuk menghentikan ceritanya hingga membuat dirinya sangat penasaran. " Buruan makannya!" seru Nita sekali lagi yang sudah tidak sabar menunggu kelanjutan cerita Tiara.


Tiara mengunyah pizza di mulutnya dengan pelan dan bibirnya tersenyum tipis melihat tingkah sahabatnya yang sudah tidak sabaran. "Iya...iya... gue ceritain. Tapi Lo jangan berisik kayak tadi, gak enak sama semua orang yang ada di sini" ujar Tiara sembari menasehati Nita.


Nita melihat ke sekelilingnya, dan akhirnya dia mengangguk setuju sambil melipat mulutnya ke dalam. Di dengan senyum malu melihat beberapa pengunjung melihat ke arah mereka yang pasti meras terganggu oleh suaranya.


" Iya gue gak bakalan teriak kayak tadi lagi" janji Nita yang sudah tidak sabar mendengarkan Tiara melanjutkan ceritanya.


Tiara segera menyudahi makannya dan menyeruput minumannya untuk mendorong pizza yang dimakannya ke dalam perut.


" Dia terus saja bujukin gue, dengan segala rayuan dan gombalan supaya gue mau menerima dia lagi bahkan dia dengan rela gue rendahin dan gue hina hanya demi membujuk gue agar bisa kembali menjadi miliknya" kata Tiara.


" Tapi gue tetep berusaha keras untuk nggak balikan sama, lagian gue juga punya prinsip dalam menjalani suatu hubungan. Gue gak mau jadi seorang pelakor!" lanjut Tiara dengan suara penuh penekanan dan keyakinan, sementara Nita sedari tadi sudah sangat antusias untuk mendengat kelanjutan cerita Tiara.


" Trus elo ngomong status lo yang sekarang nggak?" tanya Nita berusaha menekan suaranya agar suaranya tidak mengganggu pengunjung lainnya.


" Bodohnya kenapa dari awal gue gak langsung bilang aja kalau gue udah nikah, jadi gak terus berdebat sama dia. Tapi akhirnya setelah lelah berdebat, gue akhirnya langsung bilang kalau gue udah nikah sambil gue tunjukkan cincin nikah gue" jawab Tiara.


" Gue langsung ngomong ke dia gini ' kalau memang elo gak bisa hargai pernikahan elo, setidaknya hargai pernikahan gue dan menjauh jangan pernah menampakkan wajah elo di depan gue lagi. Sebelum suami gue nemuin elo dan bikin elo nyesel karena udah memperlakukan gue kayak gini'. Gimana keren gak gue?" tanya Tiara kemudian dengan bangganya.


Nita justru membuka matanya dengan lebar sambil bertepuk tangan dengan senyum lebar. Nita begitu bangga dan penuh kagum dengan tindakan yang sudah dilakukan oleh Tiara pada Dika.