Suddenly Married

Suddenly Married
Anaya Spesial



Nyonya Kim duduk di hadapan Arjuna, tepatnya bersebrangan dengan meja kerja menantunya itu.


Dengan tidak tahu malunya, ia mendatangi Arjuna dan memohon untuk di rekomendasikan ke Warjah Grup untuk menjadi BA (Brand Ambasador)


"Maaf sebelumnya Mom. Warjah Grup saat ini sedang menggaet model yang masih muda dan berkompeten. Sedangkan Mommy ..." Arjuna sengaja tidak melanjutkan ucapannya, kedua matanya memindai penampilan ibu mertuanya yang glamour.


"Maksudmu Mommy sudah tua, begitu?!" ketus Nyonya Kim sembari mendekap tas mewahnya, lalu memalingkan wajahnya dengan kesal.


"Aku tidak mengatakan jika Mommy tua, tapi bagus sih kalau Mommy sadar diri," jawab Arjuna sembari menopang dagu dengan kedua tangannya di atas meja, dan melemparkan senyuman manis, bahkan sangat muaniissss kepada Ibu mertuanya itu.


"Kamu 'kan kakak iparnya Tuan Aiden, pasti bisa dong membujuk dan merayu, agar Mommy bisa menjadi BA di sana." Masih berusaha membujuk menantunya walau dengan cara tidak tahu malu.


Honor menjadi BA di Warjah Grup sangatlah fantastis, maka dari itu Nyonya Kim bersikukuh dan mengusahakan segala cara agar bisa menjadi bagian dari perusahaan kosmetik terbesar se-Asia itu.


"Maaf, Mom. Aku tidak bisa," jawab Arjuna dengan sopan, namun penuh penegasan.


Nyonya Kim mendengus lalu beranjak, menatap Arjuna dengan kesal. "Untuk apa punya menantu kaya raya tapinya tidak bisa di andalkan!!" ucap Nyonya Kim sebelum berlalu dari sana.


Arjuna menggeleng sambil menaikkan kedua bahunya masa bodo dengan ibu mertuanya yang gila akan ketenaran.


****


Sementara itu Aluna yang baru pulang kuliah terkejut saat melihat Gwen berada di ruang tamu rumah mertuanya.


Tertawa cekikikan dan sesekali menutup wajahnya dengan kedua tangannya lalu membukanya lagi, berharap jika wanita anggun dan cantik yang ada di hadapannya ini adalah nyata.


"Hei, kenapa menatapku seperti itu Kakak Ipar?" tanya Gwen sambil menggoyang-goyangkan telapak tangannya di depan wajah Aluna, saat wanita itu menatapnya tidak berkedip.


"Kakak Ipar!" panggil Gwen sedikit keras, membuat Aluna yang sedang larut mengagumi dirinya pun tersentak kaget.


"Eh, Iya." Aluna mengerjap berulang kali, menatap adik iparnya yang juga tengah menatapnya. "Maaf, tadi aku sedang memikirkan sesuatu." Aluna tersenyum malu.


"Iya, tidak apa-apa," jawab Gwen, sembari menatap ke arah tangga di mana putrinya di gendong oleh ayah mertuanya.


"Naya, come to mommy." Gwen melambaikan tangannya ke arah putrinya yang baru berusia beberapa bulan itu.


"Wah, ini putrimu? Cantik sekali seperti Mommy-nya," puji Aluna saat Anaya sudah berada di pangkuan Gwen.


Nue menoel pipi Anaya lalu melambaikan salah satu tangannya, sebelum menjauh dari ruang tamu sana. Anaya tersenyum sambil bertepuk tangannya ke arah Opa-nya.


"Hai, Anaya. Ini Aunty, salam kenal," ucap Aluna, namun Anaya diam saja tidak meresponnya.


"Anaya spesial, dia tidak bisa mendengar," jelas Gwen kepada Aluna saat memandang Anaya dengan tatapan bingung.


Hati Aluna terasa tercubit mendengarnya, lalu mengusap pipi Anaya dengan lembut. "Maaf." Hanya itu yang mampu di ucapkan oleh Aluna. Lidahnya terasa kelu, dan dadanya mendadak ikut sesak.


Ia tidak bisa membayangkan perasaan Gwen saat menjelaskan kondisi Anaya kepadanya.


***


Vote-nya dong bestie❤❤