Suddenly Married

Suddenly Married
Baking Powder



Fika menepuk lengan menantunya seraya berkata, "Ayah mertuamu memang seperti itu, jadi jangan kaget ya, hi hi hi." Fika tertawa di ujung kalimatnya.


"Iya, Ma," jawab Aluna sembari menahan senyumannya agar tidak tertawa terbahak.


"Papi itu antik banget, Lun. Walau pun casing-nya gemulai tapi banyak banget wanita yang menggodanya," sahut Arjuna kepada istrinya.


"Itu karena Papi kamu banyak duitnya Juned!" sahut Fika sembari mencebikkan bibirnya.


Kesal tentunya jika mengingat kalau suaminya itu banyak yang menggoda. Terkadang Fika juga merasa insecure karena dirinya sudah tidak mudah lagi namun yang mengejar suaminya adalah para gadis yang cantik dan juga seksi.


Arjuna tersenyum saja menanggapi ucapan ibunya yang ketus.


"Tapi Papi adalah Ayah dan suami terbaik di dunia ini 'kan, Mam," ucap Arjuna seraya menatap ibunya yang masih terlihat kesal.


"He-em. Papimu adalah pria yang sangat baik, tidak pernah marah, sayang anak dan istri, tanggung jawab dan juga sangat sabar," jawab Fika sekaligus memuji suaminya sepenuh hati.


"Rasanya Mama setiap hari jatuh cinta kepada Papimu," lanjut Fika seraya tersenyum menatap langit-langit dan menyatukan kedua tangannya di depan dada, membayangkan wajah tampan dan sikap suaminya yang selalu begitu manis kepadanya.


Aluna seperti merasa sangat senang melihat begitu harmonisnya keluarga suaminya. Dan ia menjadi iri karena ia saja tidak pernah merasa dekat dengan kedua orang tuanya selama ini.


"Sosok Papi sangat sempurna di mata kalian, tapi kenapa Arjuna sangat berbeda? Dia pemarah, arrogan, dan juga menyebalkan." Aluna bersuara sembari menatap suaminya dengan sinis. Ia merasa kesal saat mengingat sikap Arjuna kepada dirinya.


Sontak saja Arjuna langsung menoleh dan mengerutkan keningnya, sedangkan Fika menggembungkan pipinya menahan tawa yang ingin meledak saat mendengar ucapan menantunya.


"Aluna kamu jujur sekali sih, ha ha ha. Dia memang tidak mirip dengan Papinya, tapi sangat mirip dengan Opanya," jawab Fika tertawa terbahak, menunjuk wajah putranya yang terlihat sangat kesal.


"Ck! Awas kamu ya!" Arjuna memberikan ultimatum kepada istrinya tanpa suara.


Aluna bergidik ngeri melihatnya, lalu ia mengikuti ibu mertunya yang kembali duduk di sofa ruang keluarga. Begitu pula dengan Arjuna yang ikut duduk di sofa, bersebelahan dengan Istrinya.


Aluna meringis ngilu saat bokongnya mendarat di sofa.


"Masih sakit banget?" bisik Arjuna tepat di telinga istrinya itu. Aluna menjawab dengan anggukan kecil.


"Jadi kapan hari baiknya? Maksud Mama, kapan kami akan mendapatkan cucu?" tanya Fika sembari menggoyang-goyangkan kedua tangannya seolah seperti menggendong bayi mungil dan menggemaskan.


"Tidak akan lama lagi," jawab Arjuna seraya merangkum pundak istrinya, lalu meletakkan dagunya di pundak Aluna. Bertingkah manja seperti anak kecil.


Aluna merasa risih, akan tetapi dirinya tidak bisa mencegah tingkah suaminya itu karena merasa tidak enak dengan ibu mertuanya.


"Unchhh! Kalian pasti sudah Gol 'kan?" tebak Fika sembari menunjuk anak dan menantunya bergantian. Menggoda pengantin baru adalah hal yang paling menyenangkan untuknya. Apalagi saat melihat wajah menantunta yang sudah memerah, membuat Fika semakin gencar menggoda pengantin baru itu.


Wajah Aluna menjadi sangat merah saat mendengar ucapan mertuanya yang sangat frontal. Berbeda dengan Arjuna yang malah membanggakan jika dirinya sudah berhasil membobol gawang istrinya.


"Sudah cetak Gol 1-0, Ma. Doakan saja benihku berubah menjadi kecambah yang sangat subur di perut Aluna," jawab Arjuna sembari mengelus perut Aluna yang rata itu.


"Arjuna!" Aluna meruntuki sikap suaminya yang tidak mempunyai rasa malu sekali. Ingin rasanya ia membekap bibir suaminya agar tidak asal bicara. Dirinya men


"Owh, benarkah? Kamu memang keturunan Opa Bon-Bon dan Papi Nue. Hot jeletot! Ha ha ha haa." Fika tertawa gembira karena ia merasa sebentar lagi akan mendapatkan cucu keduanya.


"Aluna apakah sakit?" tanya Fika sembari menaik turunkan alisnya dan tersenyum tengil.


"Sakit?" beo Aluna seraya menatap suami dan ibu mertuanya bergantian.


"Ah, sudah lupakan," jawab Arjuna yang sudah tidak tega melihat istrinya menahan rasa malu karena pertanyaan ibunya yang sangat frontal itu.


"Mama penasaran Juned!" seru Fika.


"Suhu kok bertanya dengan yang cupu, tidak terbalik, Ma?" ledek Arjuna seraya beranjak dari duduknya, sembari menarik tangan istrinya.


Kemudian ia mengajak istrinya menuju kamarnya, karena ia merasa kasihan kepada istrinya yang masih terlihat sakit saat berdiri atau melangkahkan kakinya.


Arjuna menggandeng tangan istrinya dengan sangat lembut, membuat Aluna merasa heran.


"Kemana?" Aluna mengerutkan keningnya.


"Ke kamar," jawab Arjuna seraya mengerlingkan salah satu matanya dengan nakal.


"Aihhh! Kalian ini sudah tidak sabar mau enak-enak ya? Hi hi hi. Ya sudah sana ke kamar dan ngadon cucu untuk Mama. Jangan lupa di beri baking powder agar kuenya mengembang dengan sempurna," ucap Fika sangat absurd, membuat Aluna menjadi bertambah sangat malu.


"Ish, Mama seperti Oma Airin kalau berbicara banyak sekali istilahnya," ucap Arjuna sembari terkekeh pelan, dan melanjutkan langkahnya, menggandeng tangan istrinya menuju kamarnya yang ada di lantai atas.


*


*


*


Kedua manik mata Aluna mengendar ke setiap sudut kamar yang sangat mewah itu. Kamar yang bernuasa abu dengan desain yang simpel dan modern membuat kamar tersebut semakin terlihat sangat maskulin.


"Ini kamarku," ucap Arjuna seraya membuka satu persatu kancing kemejanya.


Aluna menganggukkan matanya tanpa menoleh karena kedua matanya masih sibuk memperhatikan setiap sudut kamar suaminya, dan tatapan matanya terhenti saat melihat beberapa bingkai foto dengan berbagai ukuran terpasang di dinding kamar tersebut. Transfomasi Arjuna kecil sampai menjadi dewasa seperti saat ini, suaminya itu memang sudah sangat tampan dari lahir. Aluna tersenyum saat memperhatikan foto balita yang usia berkisar 1 tahun sedang duduk di taman, hanya memakai diapers dan bermain dengan dua anjing kecil yang lucu.


"Ini kamu ya?" ucap Aluna seraya menunjuk foto balita itu.


Arjuna yang sedang menanggalkan seluruh pakaiannya, dan menyisakan boxer berwarna hitam menutupi bagian bawahnya yang menonjol itu pun menoleh ke arah istrinya.


Kemudian Arjuna menghampiri istrinya yang sedang terpaku menatap satu persatu fotonya yang terpajang di dinding kamarnya itu.


GREBB


Arjuna memeluk istrinya dari belakang, seraya menyampirkan dagunya di bahu istrinya. Menghirup aroma alami Aluna yang membuatnya merasa tenang dan nyaman, juga sudah menjadi candunya.


"Eh!" Aluna awalnya terkejut saat suaminya memeluknya begitu saja, namun beberapa saat kemudian ia mulai terbiasa dengan sikap suaminya yang ternyata sangat manja jika bersama dirinya.


"Iya itu aku, lucu 'kan?" ucap Arjuna seraya menggigit cuping telinga istrinya dengan sangat lembut.


Aluna menggeliat pelan, dan tubuhnya meremang saat mendapat sentuhan nakal dari suaminya.


"Kita bisa membuat yang lebih lucu dan menggemaskan lagi. Kamu mau 'kan?" tanya Arjuna yang kini mengendus leher istrinya, salah satu tangannya yang tadinya melingkat di perut rata Aluna kini merambat turun, menyelinap masuk ke dalam celana Aluna dan menyentuh area sensitif istrinya itu.


"Jawab dong, jangan diam saja," ucap Arjuna lagi.


Aluna menahan nafasnya dan mengangguk pelan seraya menggigit bibirnya saat tangan suaminya bergerak nakal di bawah sana.


"Si Junaedi sudah tidak sabar main rumah-rumahan lagi." Arjuna menekan keras itu ke bokong istrinya.


"Tapi, masih sakit," jawab Aluan dengan lirih.


"Aku akan pelan-pelan, janji," ucap Arjuna meyakinkan istrinya.


Aluna menganggukkan kepalanya dengan pelan sebagai jawaban.


Dan selanjutnya ...


*


*


Nungguin apa kalian hah?? 🤣


Di sana tiba-tiba mati lampu jadi Emak nggak bisa ngintip Bestie. 🤣🤣


Sudah hari senin loh, mana vote-nya? Emak minta Vote dan dukungannya ya bestie. ❤