
Setelah perdebatan beberapa hari yang lalu Tiara sama sekali tidak membahas lagi rencana pemberian hadiah di acara ulang tahun kakek Rivan. Mengingat acaranya masih 2 minggu lagi dan masih ada waktu bagi Tiara untuk meyakinkan suaminya sambil mencari referensi kado yang sesuai dan tepat untuk dia berikan pada kakeknya Rivan.
Mungkin nanti setelah dia berhasil mendapatkan referensi kado yang tepat dan cocok untuk diberikan pada kakeknya Rivan, dia akan kembali membahasnya untuk meminta pendapat suaminya dengan pelan pelan sambil meyakinkan Rivan.
Tidak ingin hubungan rumah tangga yang baru saja mereka jalani menjadi runyam Rivanpun juga tidak ingin membahas soal ulang tahun kakeknya lagi. Dia seolah berpura pura melupakan perdebatan mereka malam itu dan dia berusaha semaksimal mungkin untuk bersikap seperti biasanya agar hubungan mereka semakin membaik dari hari ke hari.
Yang terpenting untuk saat ini mereka berdua merasa bahagia dengan kedekatan serta kemesraan mereka saat mereka sedang berduaan, meskipun hanya sebatas saling memeluk ataupun hanya berciuman saja. Rivan akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengambil dan meluluhkan hati Tiara agar bisa menerima dan mencintai dirinya dan membuat Tiara menjadi miliknya seutuhnya.
Kebetulan hari ini adalah hari istirahat dan libur bagi Rivan dan juga Tiara. Maka di sela sela waktu istirahatnya ini Tiara sengaja menyempatkan untuk memberi dirinya sendiri me time. Dan dari semua kegiatan ia putuskan untuk mempergunakan waktu liburnya bersama Nita, karena dia butuh penyegaran dalam hidupnya dan dia yakin Nita yang bisa melakukannya dan Nita tidak pernah gagal melakukan hal itu.
Rivan sendiri bukannya marah karena waktu kebersamaan mereka harus hilang karena istrinya yang harus pergi keluar bersama sahabatnya. Dia justru merasa senang karena dirinya yang sudah menyarankan agar Tiara menggunakan waktu liburnya keluar bersama sahabatnya agar Tiara merasa bahagia dengan refreshing atupun shopping.
Rivan sendiri bukannya tidak mau pergi keluar jalan jalan bersama dengan istrinya, dia hanya ingin memberikan me time buat istrinya bersama dengan sahabatnya untuk menghabiskan hari libur bersama mereka. Menurut Rivan istrinya butuh refresing yang selalu dibutuhkan oleh kaum hawa, entah itu hanya jalan jalan untuk menghabiskan waktu kebersamaan mereka, pergi belanja, makan bersama sambil menggosipkan segala macam yang biasa dilakukan oleh kaum hawa.
Dan dia senang karena istrinya mengikuti sarannya tanpa membantah dan dirinya juga akan memanfaatkan waktu liburnya dengan berada di rumah sambil melakukan olah raga di rumahnya sendiri. Karena kebetulan Rivan memiliki beberapa alat gym yang lengkap di dalam rumah mereka sendiri.
Disinilah Tiara saat ini, di sela sela waktu liburnya untuk keluar bersama dengan sahabatnya. Saat ini dia sedang berada di dalam taksi menuju ke salah satu kafe, tempat dimana dia janji ketemuan dengan Nita. Mereka janjian ketemuan di kafe yang biasa mereka datangi saat mereka masih duduk di bangku kuliah. Mereka berangkat sendiri sendiri setelah mendapatkan ijin dari suami mereka masing masing.
Awalnya Rivan ingin mengantarkan istrinya, tapi Tiara menolak. Bahkan Rivan juga meminta istrinya untuk membawa salah satu mobilnya tapi sekali lagi Tiara menolaknya dengan alasan dirinya tidak terbiasa membawa mobil jika pergi jalan jalan. Tiara sudah terbiasa pergi dengan taksi online jika ingin pergi entah itu pergi bekerja ataupun pergi jalan jalan.
" Hai ara…." suara nyaring Nita yang heboh ketika Tiara membuka pintu kafe yang tidak pernah terdengar di telinga Tiara ketika mereka sedang bekerja di butik miliknya.
Tiara langsung melihat ke sekitarnya dengan wajahnya yang menahan malu dan memohon maklum pada semua pengunjung kafe, karena polusi suara sahabatnya yang keras dan nyaring yang Tiara yakin sudah mengganggu pendengaran mereka semua karena seketika mereka semua langsung melihat ke arahnya saat Nita menyapa dirinya yang baru datang.
" Hei…." kata Tiara dengan wajah lelah sambil memeluk tubuh Nita yang sudah berdiri dari duduknya.
" Ya ampun.... masih juga jam setengah sebelas nih, Ara. Kok udah lemes aja, ngapain aja Lo semalam?" tanya Nita yang melihat wajah lesu dan lelah sahabatnya.
" Jungkir balik!" jawab Tiara asal.
" …sendirian gak?" tanya Nita jahil sambil menaik turunkan alisnya menggoda Tiara.
Tiara langsung saja menonyor kepala sahabatnya itu dengan pelan, siapa tau setelah ditonyor otaknya bisa beres sedikit dari otak mesumnya jika sudah berada di luar jam kerja.
" Gue Jungkir balik ngurusin hidup gue" kata Tiara yang beberapa hari ini memikirkan hidupnya yang memang cukup gila.
Mengingat hidupnya beberap hari ini harus jungkir balik karena pernikahan dirinya dengan Rivan yang mendadak yang merubah statusnya hanya dalam sekejap. Kehidupan Rivan yang ternyata berasal dari keluarga kalangan konglomerat, yang sudah memiliki segalanya. Tinggal bersama dengan Rivan di rumah mewahnya. Pertemuan dirinya dan Dika yang membuat hari harinya semakin buruk karena sikap gila Dika yang ingin mengajaknya balikan dan dia belum menceritakan semuanya pada Rivan. Memikirkan kado apa yang akan diberikan pada ulang tahun kakeknya Rivan nanti.
" Hahaha.... lagian ngurusin apa lagi selain hidup? badan? ngapain udah kurus gini? mendingan jungkir balik bareng suami Lo, pasti enakan ntar" goda Nita yang selalu berhasil membuat mood Tiara membaik meskipun ucapannya selalu terdengar vulgar di telinga Tiara.
Nita yang mendengarnya langsung tertawa terbahak bahak tanpa memperdulikan sekitarnya. " Nyokap Lo emang juara!!" ujar Nita seru yang membuat Tiara hanya tersenyum dengan malu. " S** education memang sangat dibutuhkan oleh pengantin baru, apalagi Lo yang udah lama banget ngejomblo dan gak pernah deket sama cowok" lanjut Nita yang setuju dengan pemikiran nyokap dari sahabatnya.
Tiara hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya, dirinya yang sudah salah berbicara di depan Nita. Karena kalo membahas masalah s**, maka Nita akan membahasnya dengan penuh semangat dan akan berbicara dengan vulgar tanpa sungkan atau malu sedikitpun.
" Nanti gue share tips gaya yang enak, deh. Trus... Lo sama Rivan punya rencana punya anak cepet nggak? kalau nggak gue ada rekomendasi alat kontrasepsi nih" jelas Nita yang seolah menjadi pakar konsultasi s** buat Tiara.
" Nit... gue masih nggak nyaman ngomongin masalah yang kayak gituan. Jadi, ganti topik aja boleh nggak?" tanya Tiara dengan cepat motong ucapan Nita sebelum dia kebablasan membahas hubungan suami istri.
Hubungan Tiara dan Rivan masih belum sampai ke sana, namun hubungan mereka semakin hari semakin hangat saja. Dirinya bisa bermesraan dengan Rivan di manapun dan kapanpun mereka mau. Setiap ingin dimanja ataupun memanjakan Rivan, pria tersebut selalu terjangkau, baginya itu sudah cukup membahagiakan untuknya.
Meskipun dia tau sebenarnya Rivan nampak menunggu sinyal dari Tiara untuk bisa melakukan malam pertama. Mungkin karena banyak yang mengatakan akan sakitnya malam pertama membuat Tiara seolah tidak rela untuk mengorbankan dirinya bersakit sakitan hanya demi kepuasan orang lain. Makanya hingga sekarang Rivan belum mendapatkan haknya sebagai suami untuk menjalankan malam pertama pernikahan mereka.
Tidak lama pelayan kafe datang.
" Eh...kita langsung makan siang aja ya?"
tanya Tiara pada Nita yang sedang sibuk membaca beberapa daftar menu.
" Ok! udah nanggung juga jam segini, habis itu anterin gue beli gaun" jawab Nita tanpa mengalihkan tatapannya.
" Ngapain gak beli gaun di butik kita" kata Tiara yang mengalihkan tatapannya pada Nita yang sedang sibuk memesan makanan yang diinginkannya.
Biasanya Nita selalu beli gaun di butik Tiara bahkan tak jarang Tiara memberikan gaun yang diinginkan Nita.
Nita menutup buku menu setelah dirasa dia selesai memesan makanan yang dia inginkan pada pelayan kafe yang berdiri di sebelahnya.
" Gaun yang gue butuhin saat ini gak dibuat atau di jual di butik milik Lo, Ara" sahut Nita tersenyum licik seperti otaknya yang sedang memikirkan hal yang kotor.
Tiara hanya bisa mendengus kesal sambil menunjuk beberapa menu makan siang yang dipesannya agar ditulis oleh pelayan kafe yang saat ini bergantian berdiri di sebelahnya.
" Emangnya... gaun model apa yang mau Lo cari?" tanya Tiara penasaran dengan menyipitkan kedua matanya menatap Nita penuh selidik.
" Nanti Lo juga bakalan tau sendiri" sahut Nita tanpa ada niat untuk memberitahukan gaun yang dia inginkan saat ini.
Sambil menunggu pesanan makanan datang mereka ngobrol panjang lebar.