
Rivan segera menyelesaikan ritual mandinya, agar sang istri juga segera mandi agar mereka bisa secepatnya pergi ke tempat kerja. Setelah selesai dengan ritual mandinya dia langsung keluar dari kamar dengan hanya memakai handuk dari pinggangnya sampai lutut. Bagian atas dia biarkan telanjang begitu saja dengan handuk kecil di pundaknya untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
Tiara yang mendengar suara pintu kamar mandi terbuka langsung menoleh dan tanpa sengaja dia melihat tubuh telanjang suaminya bagian atas. Matanya terbuka dengan lebar dan nafasnya seolah berhenti seketika saking terkejutnya.
Tidak hanya Tiara yang terkejut, Rivan yang berdiri di depan pintu kamar mandi dan sedang mengeringkan rambut basahnya dengan handuk kecil di pundaknya pun juga terkejut. Tapi Rivan segera tersadar dan tidak lama kemudian dia justru tersenyum licik sambil berjalan mendekati istrinya.
" Kenapa? mau pegang ya, sayang?" bisik Rivan di telinga Tiara dengan suara yang menggoda sekaligus meniup telinga Tiara pelan dan diam diam bibirnya tersenyum licik.
Bahkan dengan lancangnya Rivan langsung memegang tangan Tiara dan membawanya ke atas untuk membelai dadanya yang polos. Rivan begitu mendamba istrinya bisa melakukan hal seperti itu, bahkan kini tubuhnya serasa menegang.
Sementara itu Tiara yang m belum sadar total oleh ucapan mesum Rivan membuat tubuhnya serasa meremang dan menatap suaminya yang berdiri di depannya dengan jarak yang sangat dekat. Dan sejenak kemudian tangannya semakin terkejut saat merasakan tangannya telah menyentuh dada bidang suaminya yang begitu halus dan lembut sesuai arahan dari tangan Rivan.
Dada Tiara sudah naik turun tidak karuan dan katanya semakin membelalak dengan lebar. Dengan sekuat tenaga dan secepat mungkin Tiara langsung menarik tangannya yang menempel di dada Rivan dan terlepas dari genggaman tangan Rivan.
Rivan yang memang tidak terlalu kuat memegang tangan istrinya hanya membiarkan saja tangan Tiara terlepas saat sang istri menariknya dengan kuat. Dia hanya bisa menahan tawanya tidak melihat wajah cantik Tiara yang terlihat malu dan sangat menggemaskan.
" A...a..aku mandi... dulu" kata Tiara dengan suara terbata dan dia langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi agar suaminya tidak melihat ekspresinya yang sangat malu.
" Hahaha...." Rivan sudah tidak dapat menahan tawanya begitu melihat tingkah istrinya yang sangat menggemaskan.
Rivan menggelengkan kepalanya berulang kali sambil tersenyum lucu dan pergi menuju ke walk in closed untuk berganti baju. Dia segera bersiap siap, namun setelah selesai dia masih belum melihat istrinya yang sedari tadi di kamar mandi belum keluar membuat Rivan cemas.
" Sayang, buruan cepat mandinya. Aku udah siap nih" ucap Rivan setelah mengetuk pintu kamar mandinya.
" Iya sebentar, kamu tunggu aja di bawah" sahut Tiara dari dalam kamar mandi.
Sebenarnya Tiara sudah selesai mandi dari tadi, tapi dia belum berani keluar karena dia takut suaminya masih ada di dalam kamar. Karena kalau dia masih ada di dalam kamar, dirinya pasti akan semakin malu untuk bisa bertatapan langsung dengan Rivan yang asyik akan semakin menggodanya.
" Apa dia malu?" tanya Rivan mencoba mencari tau Karema dia semakin terkejut saat melihat jam tangan yang melingkar sempurna di tangannya. Rupanya sudah setengah jam istrinya berada di dalam kamar mandi.
Tidak ingin istrinya kenapa kenapa hanya karena masih ada dirinya di dalam kamar. Selain itu mereka juga harus segera berangkat jika tidak ingi dirinya terlambat berangkat ke kantor.
" Baiklah, cepetan siap siap! aku tunggu di bawah!" seru Rivan di balik pintu kamar mandi.
Rivan segera keluar dari kamarnya dan turun ke bawah untuk menyiapkan mobil yang akan dia bawa kali ini. Sudah beberapa hari ini pak Rudi tidak mengantar jemput dirinya, karena sudah beberapa hari ini pak Rudi disuruh bunda Amel untuk mengantar jemput Vani.
Makanya sudah beberapa hari Rivan tidak melihat pak Rudi. Tapi justru hal itu membuat Rivan semakin senang karena dia bisa leluasa berduaan dengan istrinya tanpa diganggu oleh orang lain.
Tiara segera keluar saat dirasa sudah aman saat mendengar pintu kamar tertutup menandakan suaminya benar benar telah keluar dari kamar mereka. Dengan cepat Tiara segera mempersiapkan diri, karena dia tau saat ini suaminya akan terlambat sampai di kantornya. Berbeda dengan dirinya yang tidak terikat oleh jam kerja karena buruk tersebut adalah miliknya sendiri.
Hingga beberapa menit kemudian Tiara sudah selesai dan kini dia sudah duduk di kursi mobil bagian depan bersebelahan dengan suaminya yang sudah duduk sedari tadi di kursi kemudi.
" Maaf...aku lama, ya?" ucap Tiara yang sudah duduk namun masih merapikan poni dan bedaknya di kaca depan.
Ini adalah awal untuk mereka berdua berangkat bekerja bersama dari rumah yang sama. Pergi seperti ini tentunya sangatlah praktis bagi Rivan. Waktu serta tenaganya tidak akan terbuang sia sia di perjalanan, karena waktu tempuh untuk mengantar istrinya ke butik lebih singkat dan cepat.
Dikarenakan jarak rumah Rivan yang jauh lebih dekat dengan butik milik Tiara, kemudian dia bisa langsung berangkat ke kantornya. Sangat berbeda daripada dia harus menjemput Tiara terlebih dahulu di kediaman keluarga pak Hendra dan balik lagi mengantar Tiara ke butiknya kemudian barulah dia berangkat ke kantornya. Waktunya akan banyak terbuang di perjalanan saja.
Meskipun Tiara menghabiskan waktu yang cukup lama untuk berdandan, tapi buktinya mereka masih bisa berangkat dalam rentang waktu bersama. Waktu lebihnya bisa dia gunakan untuk kegiatan yang lainnya, sangat efisien kan?
Karena itulah suasana hati Rivan sangat senang ketika melihat alis Tiara yang rapi, kulit cerah mata bersinar dan bibir yang merona berwarna merah. Dan dengan cepat tadi Rivan mengutarakan kesannya terhadap penampilan istrinya itu. Apalagi melihat wajah Tiara yang malu menerima pujiannya, Rivan semakin senang karena bisa menggoda perempuannya.
" Aku kan gak nanya bagaimana penampilan aku, mas" kata Tiara dengan bibir cemberut untuk menutupi rasa malunya.
"Aku cuma seneng ngomong kenyataan kok. Kamu sangat cantik dan aku cinta kamu, sayang" rasanya Rivan tidak kuat untuk tidak terus menggoda istrinya Karena dia senang saat melihat wajah merah Tiara dan senyumnya yang tertahan setiap kali dia menggodanya.
" Aku juga cinta" kata Tiara cepat cepat dengan suara lirih dan itu adalah jawaban Tiara yang diluar ekspektasi Rivan.
" Kamu apa??" tanya Rivan ingin memastikan bahwa yang didengarnya barusan bukanlah ilusi semata.
" Tidak ada siaran ulang!" sahut Tiara yang wajahnya melihat ke luar jendela karena dia tidak menyangka dirinya akan membalas ungkapan perasaan Rivan dengan mudahnya.
" Sayang.... come on, jangan bikin aku penasaran. please!" mohon Rivan ingin sekali mendengar dengan jelas perkataan istrinya tadi.
" Aku juga cinta... sama diriku sendiri" jawab Tiara sambil menjulurkan lidahnya gantian menggoda suaminya.
Rivan mengangkat kedua alisnya, kemudian dia langsung tertawa mendengar istrinya yang malah balas menggoda dirinya. ' Boleh juga...' gumam Rivan dalam hati dengan bibir tersenyum tipis.
" Udah mulai lihai nih, ngebales godaan aku" kaya Rivan sambil mengangguk kagum dengan istrinya.
Menurut Rivan istrinya itu merupakan lawan yang sepadan untuk diajak beradu apapun. Tidak ingin terlalu lama di dalam mobil akhirnya Rivan membernarkan posisi duduknya. Kemudian melingkarkan sabuk pengaman ke depan dadanya.
" Cup" tiba tiba Tiara langsung mencium pipi kiri Rivan. " Aku cinta kamu, mas" lanjutnya berbisik di telinga Rivan yang baru saja memegang setir mobil.
Rivan langsung terpaku menatap lurus ke depan. Sedari tadi mobilnya sudah menyala dan panas, namun ia masih belum melajukan mobilnya. Dirinya masih mencerna kecupan serta bisikan di telinganya tadi, apakah tadi itu hanya ilusi di kepalanya semata atau beneran terjadi di dunia nyata.
Dengan perlahan Rivan menoleh ke arah Tiara yang juga sedang menatapnya dengan tersenyum tipis. Sungguh pemandangan yang sangat jarang ditemukan oleh Tiara, dimana wajah Rivan dengan ekspresi hangat menatapnya dengan wajah memerah.
" Itu peringatan! jangan suka godain istrinya kalau tidak mau digodain balik, ya!" ucap Tiara sambil menaikkan alisnya ke atas beberapa kali. Dia tersenyum jahil melihat suaminya yang salah tingkah setelah dia cium tadi.
Walaupun terkesan menggoda, tapi yang Tiara katakan tadi bukanlah candaan semata, melainkan perasaan yang dia rasakan, dan Rivan mengetahui perasaan yang dia dan istrinya rasakan
Rivan justru balik tersenyum jahil. " Aku sangat mencintaimu, sayang" balas Rivan dengan menggenggam tangan istrinya dan membawa mobilnya keluar dari rumah.