
Arjuna mengangkat pergelangan tangan kirinya, melirik jam yang melingkar di sana sembari mendesah kesal berulang kali. Saat ini dirinya berada di ruang VIP restoran yang terdapat di hotelnya, menunggu seseorang yang sudah membuat janji dengannya.
Baru saja akan beranjak dari duduknya, pintu ruangan tersebut terbuka dari luar. Arjuna pun mengurungkan niatnya, dan kembali duduk di kursinya, seraya menatap datar seorang pria paruh baya yang menatapnya dengan raut terkejut.
“Tuan Arjuna, untuk apa Anda di sini?” tanyanya seraya berjalan masuk, mengulurkan tangannya ke arah Arjuna namun Arjuna tidak kunjung membalas uluran tangannya. Dengan rasa kecewa, ia menarik tangannya lagi, kemudian duduk di hadapan Arjuna.
“Menurut Anda, saya di sini untuk apa?” tanya Arjuna seraya menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, menyilangkan kedua tangannya di dada, menatap angkuh pria paruh baya yang juga tengah menatapnya dengan raut bingung.
“Saya tidak mengerti dengan pertanyaan Anda,” jawabnya lagi seraya berdehem pelan, lalu mengalihkan pandangannya karena saat ini Arjuna menatapnya dengan sangat tajam.
Siapa yang tidak mengenal Arjuna, seorang pebisnis sukses di bidang perhotelan, dan namanya cukup di segani di berbagai kalangan. Selain itu Arjuna juga mempunyai banyak saham di perusahaan besar, seperti di Warjah Grup, Holitron Grup, dan masih ada perusahaan besar lainnya.
Arjuna mengeluarkan ponsel dari dalam jas-nya lalu membuka ponsel tersebut seraya menyerahkan kepada pria paruh baya itu.
Pria paruh baya tersebut tercengang dan juga bingung saat melihat pesan singkat yang tertera di layar ponsel tersebut. “Ini ‘kan? Kenapa Anda bisa tahu tentang pesan ini?”
Ia benar-benar bingung, kenapa pesan singkat berupa ancaman yang di kirimkan kepada Aluna bisa di ketahui oleh Arjuna? Ada hubungan apa antara Arjuna dan Aluna? Pikir pria paruh baya tersebut.
“Ya, tepat sekali! Itu adalah pesan Anda kirimkan ke ponsel ISTRIKU!” jawab Arjuna, menekan kata ‘istri’ di ujung kalimatnya.
Pria paruh baya tersebut tersentak kaget, terkejut saat mendengar jawaban Arjuna
“A-apa? Ja-jadi—”
“Iya, Aluna adalah istriku!” jawab Arjuna seraya memperlihatkan jari manisnya yang terselip cincin pernikahan di sana.
Wajah pria paruh baya itu memucat seraya mengusapnya dengan kasar. Ia tidak menyangka dan tidak mengetahui jika Aluna adalah istri Arjuna.
Lagi pula sejak kapan mereka menikah? Kenapa pernikahan mereka tidak di publikasikan? Ada yang tidak beres! Pikirnya.
“Jadi Anda sudah tahu jika yang di lecehkan putramu itu adalah istriku! Aku tidak menerimanya dan aku akan tetap melanjutkan kasus ini sampai anak Anda mendekam di jeruji besi!” ucap Arjuna dengan ketegasan dan penuh emosi.
“Tuan, tolong pikirkan kembali dengan keputusan Anda. Putraku tidak melakukan apa pun, ini hanyalah kenakalan remaja,” ucap Pria tersebut dengan entengnya dan semakin memancing emosi Arjuna.
“Lagi pula jika Anda melanjutkan kasus ini, hubungan kerja sama kita akan putus, dan Anda akan merugi besar.” Sepertinya pria tersebut berusaha untuk membujuk Arjuna agar tidak melanjutkan kasus putranya.
Arjuna tersenyum sinis, seraya mencondongkan setengah badannya ke depan, menatap pria yang ada di hadapannya itu dengan sengit.
“Sebelum itu terjadi, aku sudah mencabut semua sahamku yang ada di perusahaan Anda, Tuan!” jawab Arjuna tersenyum licik.
Terkejut? Tentu saja!
Pria paruh baya itu sampai memegang dada sebelah kirinya dan tubuhnya membeku karena sangat terkejut dengan keputusan Arjuna.
“Aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi,” ucap Arjuna seraya beranjak dari duduknya.
“Oh, iya satu lagi. Aku akan mencabut tuntutanku kecuali jika istriku yang menginginkannya!” ucap Arjuna sebelum keluar dari ruangan tersebut dengan rasa puas di dada, karena berhasil menampar orang dengan yang sudah merendahkan istrinya.
*
*
*
“Jeng, istri Arjuna cantik sekali. Tapi, wait ... sepertinya aku pernah melihatnya, di mana ya?” ucap salah satu pelanggan Fika dari kaum sosialita.
“Masa sih, Jeng?” jawab Fika seraya melirik Aluna yang menundukkan kepala.
“He-em, tapi aku lupa di mana. Ah ... sudahlah lupakan saja, yang penting menantu Jeng Fika cantik dan baik hati. Jaman sekarang ‘kan banyak sundel bolong Jeng. Parasnya saja yang cantik tapi hati sampai punggungnya bolong, ha ha ha ha.” Wanita yang bergaya glamour itu tertawa terbahak seraya mencolek dagu Aluna.
“Ha ha ha haa. Benar Jeng.” Fika ikut tertawa membenarkan ucapan pelanggannya itu.
Setelah selesai memperkenalkan Aluna, Fika mengajak menantunya itu menuju ruangannya. “Hei, Maya! Siapkan dua pegawai untukku dan juga menantuku, kami ingin perawatan di atas,” ucap Fika kepada supervisor di salonnya itu.
“Baik, Madam. Cap Cus deh, eike kasih pegawai yang super kece,” jawab Maya, pria bertulang lunak yang sebelas dua belas dengan Papi Nue.
“Aku tunggu,” jawab Fika sebelum berlalu, kemudian menggandeng tangan menantunya.
“Ma, aku merasa insecure,” ucap Aluna saat sudah sampai di ruangan ibu mertuanya. Ruangan bernuansa putih, beraroma pinus sangat menyegarkan dan juga menenangkan, membuat Aluna merasa betah berada di sana. Ruangan tersebut sangat rapi, dan di sudut ruangan tersebut ada sofa berwarna abu-abu, dan tidak jauh dari sana ada meja kerja Fika. Di dinding sebelah kiri ada pintu menuju ruangan lain yang biasa di gunakan untuk perawatan Fika dan Nue.
“Jangan merasa insecure. Kamu ini istrinya Arjuna yang kaya raya tujuh turunan dan tujuh tanjakan. Tunjukan pesonamu, Luna,” jawab Fika, dan di angguki oleh Aluna dengan pelan.
Perawatan sudah di mulai. Aluna dan Fika melakukan SPA, mereka berdua sudah seperti anak dan ibu kandung saling akrab dan juga saling bertukar cerita.
“Nikmati waktumu, Aluna. Sebelum kamu luluh lantak di makan oleh Arjuna,” ucap Fika seraya memejamkan mata, tengkurap di atas bed menikmati pijatan dari pegawainya.
“Ma!” Aluna merasa malu dengan ucapan ibu mertuanya tidak berfilter itu.
“Hei, jangan malu seperti itu. Namanya juga laki-laki kalau sudah dapat lawan pasti maunya merendam terus,” ucap Fika kepada menantunya.
“Merendam apa?” tanya Aluna karena tidak mengerti ucapan ibu mertuanya itu.
“Merendam adik kecilnya, biar selalu hangat, ha ha ha ha,” jawab Fika sambil tertawa terbahak-bahak.
Aluna memilih diam tidak menanggapi ucapan ibu mertuanya yang akan terus menggodanya, apalagi di sana ada dua pegawai yang mendengarkan pembicaraan mereka.
“Ibu mertuaku memang anti mainstrem,” batin Aluna tersenyum geli.
Sedangkan di lantai bawah salon tersebut, Nyonya Kim baru datang untuk melakukan perawatan.
“Nyonya Kim. Anda telat datang. Tadi Jeng Fika memperkenalkan menantunya,” ucap salah seorang wanita yang sedang melakukan manicure-pedicure.
“Benarkah?” jawab Nyonya Kim sangat antusias.
“Aku penasaran dengan menantunya yang katanya orang biasa saja itu. Apa spesialnya sampai di perkenalkan kepada kaum sosialita seperti kita ini?” ucap Nyonya Kim dengan suara yang pelan, karena takut terdengar oleh orang lain.
***
Kok kesel ya sama Nyonya Kim😡
Bestie haus nih, butuh kopi dan Vote💃💃❤