Suddenly Married

Suddenly Married
Aroma Masakan Pagi



Makan siang sekaligus memperkenalkan Tiara dengan Ella berjalan dengan baik. Tiara yang awalnya mengira Vani akan bereaksi sama seperti bunda Amel, justru kebalikannya. Vani sangat menyukai Tiara dan senang akhirnya dia bisa punya kakak ipar yang baik seperti Tiara.


Banyak sekali obrolan ringan yang mereka bicarakan siang itu. Tapi diantara keempat orang yang ada di ruangan tersebut hanya Vani dan Tiara saja yang terlihat keasyikan mengobrol. Sesekali Ella ikut menimpali obrolan mereka berdua. Berbeda dengan Rivan yang hanya diam dan menjadi pendengar saja, karena obrolan mereka hanya seputar tentang perempuan. Sesekali Rivan memainkan ponselnya untuk mengalihkan kebosanannya yang harus diacuhkan oleh ketiga perempuan di depannya.


" Yuk, sayang....kita pulang" ajak Rivan segera memotong pembicaraan Vani dan istrinya yang masih terlihat asyik mengobrol ringan. Selain itu dia juga sudah merasa bosan karena harus dicuekin dari tadi.


Sudah terlalu lama mereka berada di restoran milik Vani, apalagi hari sudah beranjak sore, Rivan mengajak Tiara untuk pulang ke rumah. Dia yakin saat ini istrinya pasti merasa lelah begitu juga dengan dirinya, apalagi paginya Rivan lebih dahulu mengajak Tiara berkeliling untuk membeli perabotan yang diperlukan Tiara. Jadi mereka harus segera pulang untuk mengistirahatkan tubuh mereka yang sudah pasti kelelahan.


" Kok pulang sih, mas... ini masih jam berapa juga?" protes Vani yang tidak terima kakaknya membawa pulang Tiara. " Lagian aku masih pengen ngobrol banyak sama mbak Tiara" lanjutnya dengan bibir cemberut.


" Mbak mu sekarang tinggal di rumah mas, kamu kan bisa main ke rumah kalau mau ngobrol banyak sama istri mas" beritahu Rivan yang sudah tidak sabar untuk mengajak Tiara pergi dari sana.


Rivan beranjak berdiri sambil memegang tangan Tiara agar ikut berdiri juga dari duduknya. Tidak ingin membantah suaminya Tiara akhirnya ikut berdiri dan kali ini diikuti juga oleh Vani dan Ella.


" Kami pergi dulu ya, kalau ada waktu main ke rumah" pamit Tiara dengan tersenyum lembut meskipun sebenarnya dia juga enggan pergi dari sana.


" Iya mbak pasti. Nanti kita lari bersama ya mengelilingi rumah utama" sahut Vani yang juga ikut tersenyum.


" Emm..." Tiara bergumam sambil mengangguk mengiyakan ajakan adik iparnya.


Mereka tidak menyangka kalau hobi mereka sama, yaitu suka olahraga lari di luar ruangan. Ada juga beberapa kesamaan diantara mereka berdua yang langsung membuat keduanya terlihat akrab.


Tidak ingin terlalu lama menunggu, Rivan segera menarik tangan Tiara dengan lembut keluar dari ruangan tersebut yang juga diikuti oleh Ella dan Vani yang harus kembali melanjutkan kerjanya.


*


Keesokan paginya Rivan terbangun tanpa adanya Tiara di ranjang mereka. Rivan yakin istrinya saat ini sedang menyiapkan sarapan untuk mereka sebelum mereka berangkat bekerja. Dia langsung turun ke bawah dan terlihat sosok sang istri sedang sibuk di depan kompor.


" Selamat pagi, sayang" sapa Rivan yang kemudian langsung duduk di depan kitchen bar tanpa ingin mengganggu istrinya yang sedang sibuk. Dia tidak ingin waktu mereka habis hanya karena dirinya selalu mengganggu ataupun menggodanya.


" Pagi, mas. Mau kopi apa teh?" tanya Tiara yang masih asyik berkutat di depan kompor.


" Teh aja, sayang" jawab Rivan yang diam sambil memperhatikan istrinya.


Rivan mencium aroma kopi yang baru disajikan oleh istrinya dan aroma harum masakan yang membuatnya tersenyum karena aroma tersebut langsung membuat perutnya terasa lapar. Begitu ajaibnya aroma masakan di pagi hari seolah perutnya tak rela melewatkan hidangan sarapan pagi. Padahal selama ini perutnya selalu kebal untuk tidak menerima asupan sarapan di pagi hari. Tapi beberapa hari ini perutnya seolah meronta meminta sarapan di pagi hari.


Tiara segera menyajikan makanan yang telah dia buat untuk sarapan pagi mereka. Ternyata tidur di rumah suami dan tanpa orang tua, membuat tubuhnya lebih sigap dan bangun lebih pagi dari biasanya. Mungkin itulah yang dinamakan naluri seorang istri melayani suaminya. Bahkan dia masih sempat untuk berolahraga pagi hanya dengan mengelilingi halaman belakang rumah mereka yang cukup luas. Barulah dia membuat sarapan untuk suami dan juga dirinya.


" Lahap banget makannya, mas?" tanya Tiara yang melihat Rivan makan dengan lahap bahkan piringnya sudah bersih tanpa ada sisa makanan sedikit saja di sana.


" Hehehe.... habisnya aromanya menggunggah banget dari tadi bikin perut aku kelaparan" jawab Rivan terus terang. " Kamu tau gak, biasa aku hampir tidak pernah menyentuh makanan di pagi hari, tapi entah kenapa sejak kamu tinggal di rumah ini, rasanya setiap pagi perut aku selalu merasa lapar" lanjutnya bercerita.


Mendengar cerita suaminya Tiara hanya bisa membulatkan matanya dengan lebar. " Masak sih, mas? trus kalau gak sarapan kamu makan apa sebelum kerja?" tanya Tiara dengan penasaran.


" Biasanya cuma makan roti atau susu, kadang siang juga gak sempet makan kalau lagi banyak kerjaan" jawab Rivan santai lalu menyeruput kopinya.


" Kok bisa gitu sih, mas... kamu bisa sakit kalau pola makan kamu aja gak teratur kayak gitu!" seru Tiara kesal dengan kebiasaan suaminya yang seolah tidak memikirkan kesehatannya sama sekali. Dia percaya karena kemarin waktu dia membuka isi kulkas isinya kebanyakan susu uht yang bisa langsung di minum.


Rivan hanya tersenyum dan mengangkat bahunya sebentar menanggapi omelan istrinya yang merasa kesal dengan sikapnya. " Tapi aku yakin, mulai sekarang setiap pagi perutku pasti akan merasa lapar minta segera diisi karena selalu mencium aroma makanan yang selalu menggugah seleraku" sahut Rivan dengan senyuman yang menggoda istrinya.


Tiara hanya bisa tersenyum tipis mendengar godaan suaminya. Tiara tidak menduga bahwa rasanya nyaman sekali bisa berada di dekat Rivan di hari pagi ini. Melihat wajah Rivan yang polos sehabis bangun tidur yang tersenyum padanya, bahkan sesekali Rivan yang selalu menggodanya.


Hal semacam itu menurut Tiara lebih indah daripada kencan dengan pria tampan dan makan malam romantis di restoran mewah. Lagipula jika bersama Rivan, Tiara bisa melakukan kedua-duanya. Baik sarapan bersama di rumah atau makan malam romantis di restoran...tentu saja Tiara merasa benar benar menang banyak.


" Hari ini kamu lembur, mas?" tanya Tiara yang berharap bisa makan malam bersama nanti malam.


" Iya, hari ini ada meeting sampai malam, ngurusi jalur halte busway, setelah itu memantau proyek pembangunan rumah sakit daerah" ucap Rivan menjelaskan perjalanan agenda kerjanya hari ini.


Tiara yang baru saja berfikir telah menang banyak atas Rivan yang akan selalu menemaninya untuk sarapan pagi dan makan malam bersama. Namun kali ini nasib tidak berpihak padanya yang membuatkan ya langsung menginjakkan kakinya di bumi. Tanpa sengaja bibir Tiara manyun beberapa senti ke depan hingga membuat Rivan begitu gemas ingin mencubit bibir tersebut.


" Jadi, malam ini aku makan malam sendiri?" tanya Tiar dengan suara yang terdengar merajuk.


" Nggak lah..." sahut Rivan yang langsung membuat Tiara tersenyum bahagia, Karen dia mengira suaminya akan melakukan segala cara untuk bisa bertemu nanti malam dan makan malam bersama. " Kalau nanti malam kamu bisa pulang cepet, kamu bisa makan malam sama ayah dan ibu kan, sayang" lanjut Rivan yang langsung membuat Tiara mengembuskan nafasnya dengan kasar dan memajukan mulutnya sekali lagi.


Rivan sudah gak tahan melihat reaksi Tiara yang sedari tadi membuatnya ingin mencubit bibir manyun Tiara. Dia langsung berdiri dari duduknya dan melangkah dengan cepat ke arah Tiara.


" Cup" Rivan langsung mencium bibir Tiara sekilas. " Cup" ciumnya lagi yang membuat Tiara langsung mendelik melihat ke arah Rivan.


Rivan yang ditatap seperti itu hanya tersenyum, merasa lucu dengan reaksi istrinya. " Aku mandi dulu ya, sayang" ucap Rivan mencubit pelan bibir Tiara yang baginya sangat menggemaskan dan langsung pergi dari sana.


Akhirnya Rivan pergi ke atas untuk bersiap siap, sementara Tiara terlebih dahulu membersihkan bekas sarapan mereka. Dan kali ini Tiara hanya menaruhnya di wastafel, nanti semua akan dibersihkan oleh bik Yanti dan Ani yang akan datang sekitar jam 8 pagi.


Setelah itu Tiara bergantian yang segera membersihkan tubuhnya setelah dirasa suaminya keluar dari kamar mandi. Tidak lama kemudian mereka telah siap semua dan langsung pergi berangkat bekerja.