Suddenly Married

Suddenly Married
Tunggu Aku



Setelah kepergian suaminya, semua karyawannya kembali lagi menggoda dirinya. Namun dirinya hanya mendengar dan tersenyum saja tidak menanggapinya sama sekali. Dia juga membiarkan mereka menggodanya asalkan tidak sampai berlebihan.


Setelah dirasa karyawannya puas menggoda dirinya mengenai Rivan, akhirnya dia mengingatkan mereka untuk kembali bekerja. Dan mereka tidak membantah dan langsung membubarkan diri masing masing karena para pelanggan semakin banyak yang datang.


Tiara sendiri langsung menuju ke ruang kerjanya yang ada di lantai atas. Dengan senyum yang selalu menghiasi bibirnya mengingat suaminya yang telah meminta untuk mampir ke butiknya sekalian untuk makan sarapan bersama. Bahkan Rivan juga tidak merasa risih dengan tempat kerjanya yang bisa dibilang kecil ataupun godaan yang tadi dilontarkan oleh karyawannya, Rivan tidak marah dan tidak juga memperdulikannya.


Tiara langsung duduk di kursi kerjanya segera mengerjakan dan menyelesaikan beberapa desain pesanan baju para pelanggannya. Dia begitu asyik dengan pekerjaannya hingga saat Nita mengajaknya makan siang, Tiara bilang bahwa dirinya masih kenyang dan tidak lapar. Tentu saja masih kenyang karena jam makan sarapan mereka tadi sudah hampir jam makan siang.


Tiara terus asyik dengan kerjaan membuat desain baju bajunya hingga dirinya tidak sadar bahwa dia sudah duduk di kursi kerjanya hampir 7 jam lamanya. Hingga Nita yang datang ke ruangannya mengajak Tiara untuk pulang karena sudah pukul 5 sore saat dirinya masih asyik dengan kerjaannya.


" Ara, sudah malam elo gak pulang?" tanya Nita yang membuka pintu ruang kerja tanpa masuk ke dalam.


Tiara terkejut dan langsung mengalihkan tatapannya ke arah Nita yang hanya memperlihatkan kepalanya di balik pintu. Lalu dia melihat ke arah jam yang terpajang di dinding ruangannya. Tiara tidak menyangka kalau waktu terus berjalan tanpa dia rasa sudah petang.


" Lo pulang aja duluan" suruh Tiara mengingat dirinya belum membereskan kertas kertas yang masih berserakan di atas mejanya. " Anak anak sudah pada pulang semua, Nit?" lanjutnya menanyakan keberadaan karyawannya yang biasanya sudah pulang.


" Sudah dari tadi" sahut Nita masih saja berdiri di balik pintu.


" Ya udah Lo balik sana, nanti gue dijemput sama suami gue" usir Tiara yang tidak ingin merepotkan sahabat sekaligus asistennya.


" Wuiiihhh mentang mentang udah punya suami, gue dicampakan..... " ucap Nita pura pura kesal pada Tiara bahkan bibirnya di manyunkan. " Udah mulai berani show up nih" goda Nita dengan senyuman menggoda dan alisnya naik turun terlihat gemas.


" Apaan sih Lo! udah Lo pulang sono!" usir Tiara kesal melihat Nita yang masih berdiri di pintu dan menggodanya.


Nita tertawa terbahak bahak dengan reaksi Tiara yang begitu kesal karena ucapannya.


" Ya udah gue pulang dulu, by Ara.... met nungguin suami tercinta...." pamit Nita yang masih saja menggoda Tiara sambil melambaikan tangannya. Kemudian dia buru buru langsung menutup pintu ruangan milik Tiara sebelum Tiara benar benar marah dan melemparinya barang kepadanya.


Sementara itu Tiara hanya bisa menggeleng dengan sikap sahabatnya yang selalu terlihat ceria seperti anak yang masih SMA. Tapi dia senang bisa bersahabat dengan Nita yang notabenenya bersifat kebalikan daripada dirinya yang bisa saling melengkapi sifat mereka yang bertolak belakang.


Tiara segera membereskan kertas kertas di mejanya yang masih berserakan. Dia terkejut saat merasakan getaran ponselnya yang ada di mejanya. Tapi saat dia melihat siapa yang menelponnya, Tiara langsung tersenyum dengan cerah. Dengan riang dan sedikit terburu buru Tiara langsung menerima panggilan di ponselnya.


" Hai mas..." senyum Tiara otomatis langsung mengembang ketika dia menjawab panggilan telepon. Bagaimana tidak mengembang karena yang menelpon saat ini adalah Rivan suaminya. Setelah dirinya disibukkan dengan pekerjaan setelah kepergian Rivan dari butiknya tadi pagi yang selalu membuatnya merindukan pria tersebut.


' Are you smiling while you answering my phone?' tanya Rivan langsung karena mendengar suara istrinya yang seperti seorang anak yang kegirangan saat mendapatkan mainan yang diinginkan.


" Bagaimana kamu bisa tau, mas?" tanya balik Tiara tak habis pikir dengan tebakan suaminya yang selalu mengetahui semuanya. Dia memicingkan matanya mencurigai suaminya sebagai cenayang yang selalu bisa mengetahui isi hati atau keinginannya sekalipun.


' Aku suka suara kamu yang lagi senyum. Manis and manja... i like that' jawab Rivan.


Bagaimana hati Tiara tidak luluh setiap saat mengahadapi pria seperti Rivan?. Seperti saat ini yang tidak dapat menahan diri untuk tidak tertawa mendengar rayuan dari Rivan. Dan tentu saja tawa bahagia bukan tawa konyol karena merasa Rivan sedang bercanda.


' Bagaimana harimu tadi?' tanya Rivan ingin mengetahui hari istrinya tadi setelah kedatangan Rivan di butik Tiara.


' Hmm... kamu di goda terus sama karyawan kamu' tebak Rivan mengingat tadi saat dirinya datang ke butik terus mendapatkan candaan serta godaan dari karyawan Tiara.


Tiara membelalakkan matanya tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya. " Wah... kayaknya kamu itu beneran cenayang atau seorang penyihir yang mengetahui segalanya" ucap Tiara yang terkagum kagum dengan tebakan Rivan yang benar benar tepat.


' Aku vampir' canda Rivan dengan tertawa pelan di balik teleponnya. ' Yang pengennya gigit kamu sampai puas' lanjutnya menggoda Tiara.


Meskipun sebenarnya dalam hatinya ingin sekali melakukannya, tapi bukan gigitan beneran yang bakal menghisap darah Tiara, tapi lebih ke gigitan lembut yang hanya akan membuat kulit Tiara berubah berwarna merah nantinya. Tapi sayang sampai saat ini Rivan belum bisa mewujudkan keinginannya yang terpendam tersebut.


Tiara bergidik ngeri mendengar ucap Rivan yang dia sendiri tau apa yang dimaksud oleh Rivan. " Hmm... aku lebih suka penyihir" ucap Tiara.


' Aku sukanya kamu aja, boleh?' tanya Rivan sembari menggoda istrinya dengan bibirnya yang terus tersenyum.


" Hmm... boleh gak ya...." sahut Tiara dengan suara menggoda.


Jawaban Tiara yang menggantung membuat Rivan tertawa dari seberang. Bukan Tiara namanya kalau tidak bisa membuat Rivan gemas dan penasaran.


' Kamu sudah pulang, sayang?' tanya Rivan yang sebenarnya memang ingin mengetahui keberadaan istrinya saat ini.


" Belum.... ini masih beres beres, sebentar lagi pulang" jawab Tiara yang memang masih berada di butiknya, yang dia yakini saat ini dirinya hanya sendirian karena semua karyawannya sudah pada pulang, mungkin hanya tinggal satpam yang berjaga di luar butik.


' Kamu masih di butik, sayang.... ini sudah mau magrib loh, sayang' ucap Rivan dengan rasa heran juga sedikit khawatir dengan keberadaan istrinya yang masih berada di butiknya.


Untung saja dirinya tadi berniat untuk menelpon Tiara, entah kenapa setiap dirinya merasa cemas dan khawatir dengan Tiara. Dan saat itu juga keberadaan Tiara membuatnya mengkhawatirkan meskipun kekhawatirannya kadang tidak beralasan sama sekali. Karena dia yakin saat ini semua karyawan istrinya sudah pada pulang dari tadi dan pikirnya Tiara sedang di butiknya sendirian.


' Kamu pulang sebentar lagi, ya' kata Rivan mencoba menepiskan rasa khawatirnya yang bisa membuat Tiara nanti kesal dengan sikap overthinking nya. Dia berusaha berkata dengan nada yang lembut, tapi masih terdengar sedikit rasa cemas bahkan nadanya juga seperti perintah bagi Tiara.


Tiara tertawa pelan meras gemas mendapati dirinya disuruh suruh oleh Rivan lewat telepon pula. Naluri single nya masih belum bisa rela ketika dirinya diatur atur oleh Rivan meskipun pria itu adalah suaminya sendiri. " Emang kenapa kalau aku gak mau pulang sebentar lagi?" tanya Tiara mencoba menggoda suaminya.


' Soalnya aku on the way jemput kamu' ucap Rivan sedikit berbohong karena saat ini dirinya masih di kantor tapi buru buru langsung beranjak pergi dari kantornya untuk menjemput istrinya.


Kalau Tiara paling sebal kalau dirinya diatur atur orang lain, sedangkan Rivan memiliki sifat yang tidak suka dibantah saat dirinya berbicara.


" What?! nggak usah jemput kalau repot, mas" Tiara menjadi panik mengira suaminya sudah dalam perjalanan menuju ke butiknya.


Tapi, meskipun dirinya bukan tipe orang yang mau disuruh suruh orang lain, tapi jika dia disuruh oleh Rivan rasanya tidak ada daya untuk membantahnya.


" Baiklah" ujar Tiara akhirnya mengiyakan perintah suaminya tanpa membantah sedikitpun.


' Tunggu aku, okey!' kata Rivan memastikan istrinya untuk segera bersiap siap pulang bersama dirinya.


Tanpa menunggu sahutan istrinya lagi, Rivan langsung menutup teleponnya dan segera menuju mobil untuk menjemput Tiara di butik milik istrinya. Sementara Tiara sendiri juga langsung segera berkemas sebelum suaminya tiba di butiknya.