
Arjuna dan Aluna kini sudah berada di dalam kamar hotel yang super mewah itu.
Aluna memakai bathrobe berwarna putih, duduk di tepian tempat tidur dengan wajah yang murung. Hatinya masih merasa kesal dengan sikap suaminya yang tidak peka akan perasaanya.
Sedangkan Arjuna berada di balkon hotel tersebut, menghubungi seseorang.
"Pakaianmu akan datang sebentar lagi," ucap Arjuna saat memasuki kamar, melihat istrinya terdiam di tepian tempat tidur.
"Aluna kamu masih marah kepadaku?" Arjuna bertanya sambil menyentuh pundak istrinya, namun Aluna dengan cepat menepis kasar tangan suaminya yang bertengger di pudaknya.
Aluna memalingkan wajahnya, ia enggan menatap suaminya yang kini berjongkok di depannya. "Sebenarnya kamu kenapa sih? Katakan jika aku salah atau kamu menginginkan sesuatu, jangan diam seperti ini. Bukankah aku sudah menyetujui untuk menunda momongan dulu, sampai kamu lulus kuliah," ucap Arjuna dengan sangat lembut seraya memegang kedua tangan istrinya dengan lembut juga.
Ya, Arjuna sudah mengizinkan Aluna untuk menunda momongan dua tahun ke depan. Arjuna berpikir jika Aluna masih kuliah dan masih sangat muda. Ia tidak ingin egois untuk memaksakan kehendaknya. Akan tetapi, istrinya itu masih diam dan marah dengannya. Arjuna menjadi pusing di buatnya, karena ia tidak bisa memahami perasaan wanita.
"Aku tidak apa-apa," jawab Aluna setelah sekian lama terdiam. "Lebih baik setelah ini kita pulang saja," lanjut Aluna dan suaminya itu mengangguk pasrah.
Setelah mendapatkan pakaiannya. Aluna dan Arjuna segera pulang ke rumah. Di dalam perjalanan pun Aluna tetap diam membisu.
*
*
*
"Ada apa? Kalian bertengkar lagi?" tanya Nue kepada putranya, saat melihat menantunya memasuki rumah dengan murung.
"Entah, aku juga bingung dengan jalan pikiran Aluna," keluh Arjuna sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ceritakan sama eike." Nue menunjuk dirinya sendiri, lalu menggiring putranya itu ke ruang keluarga.
Nue menyimak ucapan putranya itu dengan baik, dan menganggukkan kepalanya berulang kali bertanda mengerti.
"Juned, hati seorang wanita itu seperti sumur yang sulit untuk di tebak, sulit di selami dan sulit untuk di mengerti. Tapi, jika kamu peka dengan perasaan istrimu, maka kamu akan tahu keinginannya," jelas Nue kepada Arjuna yang duduk di sampingnya.
"Aku tidak mengerti dengan ucapan Papi," jawab Arjuna membuat ayahnya itu menepuk jidatnya dengan keras.
"Kamu ini memang keturunan Opa Bon-Bon yang tidak peka dan sangat menyebalkan!" sewot Nue sembari menjitak kepala putranya.
"Aw! Sakit, Papi!" Arjuna mengaduh sembari mengusap kepalanya yang baru saja di jitak oleh ayahnya yang gemulai itu.
Nue menarik nafas panjang melalui hidung, lalu mengeluarkannya dari mulut secara perlahan. "Jangan emosi, oke. Nanti wajah eike bisa keriput dan tidak cucok lagi," ucap Nue kepada dirinya sendiri dengan gaya kemayunya.
"Dasar gemulai!" umpat Arjuna dengan nada pelan, namun masih di dengar oleh ayahnya.
"Anak luknut kamu! Kurang garam, kurang micin!!" balas Nue lalu mukul bahu putranya dengan sangat keras, hingga putranya itu memekik kesakitan.
"Huh! Sabar," ucap Nue sembari melirik putranya yang meringis sakit.
"Jadi, lamar Aluna lagi dengan romantis dan buatlah pesta pernikahan dengan megah dan mewah. Begitu saja tidak peka. Dasar otak udang!" umpat Nue, sembari menonyor kepala Arjuna ke depan. Kemudian ia beranjak dari duduknya, seraya mengibaskan rambut cepaknya.
"Nyidam apa Afika dulu bisa punya anak seperti kamu!" cibir Nue kepada putranya.
***
Jangan lupa dukungannya bestie❤❤❤