Suddenly Married

Suddenly Married
Biang kerok



Sebelum lanjut membaca. Emak memberi tahukan kepada kalian semua. Kalau tidak suka dengan novel emak langsung di skip saja. Tadi pagi ada beberapa akun yang melaporkan karya aku yang berjudul Suddenly Married ini. Dari novel-novel sebelumnya sudah aku peringatkan untuk bijak dalam memilih bacaan, kalau tidak suka ya di skip saja. Saling menghargailah. Untuk yang gabung di WAG pasti sudah tahu masalah ini karena tadi pagi aku kirim SS ke sana.


Sakit hati ndak?


Tidak sakit hati, hanya saja kecewa, tapi tak senyumin saja.😊


Dan sekali lagi terima kasih karena kalian sudah setia sama karya aku dari jaman Daddy Xander sampai ke anaknya.


Mungkin ada pembaca baru, salam kenal semuanya.❤😉


Semoga kalian sehat selalu dan di lindungi oleh Allah di mana pun kalian berada, serta di lancarkan rejekinya. Amin.🙏❤


*


*


*


Aluna menatap suaminya dengan perasan kesal. Bagaimana tidak kesal, jika dirinya harus memakai pakaian kedodoran dan tertutup seperti orang yang akan senam bersama emak-emak komplek.


"Kamu cantik," puji Arjuna sembari memperlihatkan senyum pepsodent.


"CK! Kamu sudah gila menyuruhku ke kampus dengan pakaian seperti ini?!" dengus Aluna seraya berdecak kesal.


"Apa salahnya? Pakaian ini sopan," jawab Arjuna seraya menarik baju yang di kenakan istrinya itu.


"Tapi aku tidak pede. Helloww ... Aku ini cantik, fashionable dan juga sangat populer di kampus ini, apa jadinya kalau semua para mahasiswa melihatku berpakaian seperti ini?" cerocos Aluna dengan kesal.


Arjuna menatap istrinya dengan tajam, lalu mengalihkan padangannya seraya menghela nafas panjang.


"Sudah bicaranya? Sekarang aku mau tanya, kamu mau belajar atau tebar pesona kapada para mahasiswa itu?! Sekali lagi nurut dengan suamimu karena mulai saat ini kamu dan juga tubuhmu ini sudah menjadi milikku seutuhnya! Aku tidak ikhlas dan tidak rela jika lekuk tubuhmu yang sexy ini di lihat oleh pria lain, paham?!" ucap Arjuna sangat posesif.


"Kenapa kamu menjadi sangat menyebalkan seperti ini sih!" sungut Aluna seraya keluar dari dalam mobil dan menutup pintu mobil dengan kuat, sehingga membuat Arjuna mengelus dadanya karena tingkah bar-bar istrinya itu.


"Astaga, untung sayang," ucap Arjuna tanpa sadar, kemudian ia segera melajukan mobilnya lagi menuju hotelnya untuk bekerja.


*


*


*


"Hai, bestie ku!" seru Mia saat melihat kedatangan temannya di kelas. "Hei! Wait, kamu mau olah raga?" tanya Mia seraya memperhatikan penampilan temannya itu dari atas sampai bawah, lalu ke atas lagi dan tatapan matanya berhenti tepat di wajah Aluna yang menekuk.


"Jangan tanya!" sewot Aluna seraya mendudukkan dirinya di kursinya dengan kasar.


"Wohoho! Kemana baju sexy-mu dan juga gayamu yang fashionable itu? Kamu seperti tikus kecebur got," ledek Mia sembari menarik rambut Aluna yang tergerai.


"Mia jika kamu tidak mau diam, aku sumpal mulutmu dengan sepatuku!"


"Sabar dong bestie jangan marah-marah seperti ini," jawab Mia tertawa geli melihat wajah kusut temannya itu.


"Ini semua karena si juned!" sungut Aluna.


"Juned? Siapa? Tukang kebun? Namanya jelek sekali." Mia menjawab sembari tertawa kemayu.


"Arjuna alias Juned." Aluna menelungkupkan wajahnya di atas meja, dan mengetuk-ngetukkan keningnya berulang kali di permukaan meja tersebut.


Mia yang sedang tertawa kini langsung terdiam, lalu menggoyangkan lengan temanya itu. "Maksudnya suamimu? Yang super tajir dan tampan itu? Sejak kapan dia menjelma jadi tukang kebun?" cerocos Mia semakin membuat Aluna kesal dan menutupi kedua telinganya dengan tangannya.


"Bicara denganmu membuat aku semakin stres, sama seperti akan menghadapi Quis dari dosen killer," jawab Aluna seraya mendengus.


"Oh, My GOD! Aluna kenapa kamu tidak mengingatkan aku kalau akan ada quis dari pak kumis?!" pekik Mia dengan heboh.


"Stttt!! Berisik banget si kaleng rombeng!" ucap para mahasiswi kepada Mia.


"He he he ... Sory guys. Selow dong santai saja," jawab Mia sembari tertawa meringis karena pagi-pagi sudah di semprot oleh teman-temannya.


"Makanya mulutnya di rem Mia. Jangan kayak kaleng rombeng," sahut Aluna tetawa geli, meledek temannya itu.


"Aluna!" geram Mia seraya mengepalkan tinju di udara. Bukannya takut, Aluna malah semakin tertawa cekikikan.


*


*


*


Arjuna menatap datar seorang pria yang menghadannya saat akan memasuki hotelnya sendiri.


"Apa hubunganmu dengan Aluna! Dan kenapa kamu membawanya masuk ke dalam hotel ini?!" tanya Pria tersebut yang tak lain adalag Tommy mantan tunangan Aluna. Ya ...pada malam itu ia melihat Aluna di gendong Arjuna memasuki hotel tersebut.


"Siapa kamu?" tanya Arjuna datar.


"Aku tunangan Aluna!" jawab Tommy dengan tegas dan penuh penekanan.


"Tunangan?!" Arjuna tersenyum setan saat mendengar jawaban pria yang ada di hadapannya itu.


"Apakah kamu yakin masih menjadi tunangan Aluna? Lalu kamu sendiri sedang apa di hotel ini?" Arjuna bertanya balik membuat Tommy gelagapan namun hanya untuk sesaat karena pria itu segera mengalihkan pembicaraan.


"Bukan urusanmu! Jawab pertanyaaku! Apa yang kamu perbuat kepada Aluna?!" sentak Tommy dengan kuat.


Arjuna melangkah maju seraya berkata pelan kepada Tommy. "Menurutmu apa yang di lakukan seorang pria dan wanita yang masuk ke dalam hotel?"


Arjuna tersenyum miring ketika melihat wajah Tommy yang merah karena marah.


Tommy mengepalkan kedua tangannya dengan erat, emosinya naik ke ubun-ubun membayangkan apa yang di lakukan Aluna dan Arjuna di hotel itu.


Arjuna mendengus lalu beranjak dari sana tanpa menjelaskan apapun lagi, membiarkan Tommy dengan segala dugaanya.


"Membuang waktu saja!" Arjuna berjalan memasuki lift menuju ruangannya yang ada di lantai paling atas.


*


*


Hari sudah semakin siang. Aluna sudah selesai dengan kuliahnya dan saat ini dirinya sedang menunggu Arjuna menjemputnya.


"Bestie, ayo aku antarkan pulang," ucap Mia dari dalam mobilnya.


"Aku di jemput," tolak Aluna, dan Mia pun mengerti lalu segera melajukan mobilnya.


Dari kejauhan Tommy menatap Aluna dengan penuh rasa emosi, kemudian ia menghampiri Aluna.


"Aluna kita harus bicara!"


"Mau apa lagi?!" jawab Aluna malas, lalu menjaga jarak dari Tommy yang semakin mendekatinya


"Hubungan kita belum selesai!" tegas Tommy.


"Apakah kamu amnesia? Lupa dengan semua perselingkuhan yang kamu lakukan di belakangku? Dan lupa kalau kamu sampai chek-in ke hotel dengan selingkuhan kamu? Sakit jiwa kamu ya!!" balas Aluna emosi dan kesal bercampur menjadi satu.


"Itu kesalahan terbesarku, Lun. Aku menyesal dan aku ingin kita kembali lagi seperti dulu," jelas Tommy dengan wajah yang sok melas dan di buat sedih.


Aluna menggeleng pelan sebagai jawaban. "Aku nggak bisa, Tom. Dan aku harap jangan pernah menggangguku lagi!" tegas Aluna kepada mantan kekasihnya itu.


"Kenapa? Apa karena kamu sudah tidur dengan pria itu. Aku bisa menerimamu apa adanya walau kamu sudah tidak suci lagi."