
"Terima kasih kak sudah antar Ananya, sampaikan salamku buat tante Dian." Kata Ananya yang baru saja turun dari mobil.
"Iya, nanti kusampaikan." Balas Varo.
"Ya udah, Nya masuk yah kak, hati-hati...!" Ananya melambaikan tangannya saat Varo mulai melajukan mobilnya. Ia pun berlari masuk ke dalam rumah.
Ananya heran, kenapa pintunya tidak terkunci dan terdengar isak tangis dari arah kamar ibunya.
"Bunda, ada apa ini ? Ibu Kenapa bund ?" Ananya mulai panik melihat ibunya tergeletak di lantai kamar tepat di depan pintu kamar mandinya.
"Ibu kamu sepertinya terjatuh nak, tadi Bunda di dapur dan mendengar ada keributan. Pas Bunda masuk, ibu kamu sudah tergeletak dan tidak sadarkan diri. Kita harus segera membawanya ke Rumah Sakit nak." Jelas Ibu Anna yang disertai isakan tangis.
Yang difikirkan Ananya saat ini adalah baaimana carany agar Ibunya bisa segera tertolong dan degera di bawa ke Rumah Sakit. Ia pun segera menelpon Varo yang menurutnya belum jauh dari rumahnya.
"Halo kak,... Ibu kak... tolong Nya..." Katanya sambil menangis.
"Hey, ada apa ? kenapa kamu menangis ?" Varo.
"Kak, ibu terjatuh dan pingsan, tolong Nya kak." Ananya masih menangis dan terdengar sangat panik.
"Okey, tenangkan diri kamu. Aku segera kesana." Panggilan di tutup, dan Varo segera membanting stir memutar arah kembali ke rumah Ananya.
Pintu rumah Ananya tidak tertutup, dan Alvaro langsung masuk ke sumber suara tangisan yang ia dengar.
"Ananya, Bunda, kenapa bisa begini ?" Ananya tidak menjawab Alvaro.
"Bunda tidak tau persis nak. Pas bunda masuk kakak sudah tergeletak tidak sadarkan diri." Jawab Ibu Anna.
"Ayo kita Bawa ke Rumah Sakit." Alvaro langsung menggendong tubuh kurus Ibu Lena kedalam mobil diikuti oleh Ananya.
"Kalian pergilah, bunda akan menyusul kalian. Bunda akan menyiapkan beberapa barang yang harus di bawa ke Rumah Sakit. Varo hati-hati yah nak. Bunda percayakan semuanya padamu." Kata Ibu Anna.
"Baik, bunda.. Kami pergi sekarang"
Varo mulai mengemudikan mobilnya menuju Rumah Sakit dimana ibu Lena biasa di rawat. Sedangkan Ananya, ia nampak sibuk menghubungi dokter yang biasa memeriksakan kesehatan ibunya.
Rumah Sakit.
Varo memarkirkan mobilnya tepat di depan ruang IGD. Ia segera turun dan meminta pertolongan kepada satpam dan perawat yang bertugas.
"Suster tolong !!" Teriak Varo, para perawat mengambil langkah sigap menghampiri mobil Varo dengan membawa brankar Rumah sakit, kemudian memindahkan tubuh Ibu Lena yang terkulai lemas ke ranjang khas rumah sakit itu. Ibu Lena segera mendapatkan alat bantu pernafasan, karena wajahnya sudah sangat pucat. Perawat yang lain langsung memeriksakan tekanan darahnya sesaat sebelum dokter memeriksanya.
Untung saja para tenaga medis berseragam putih-putih itu bertindak dengan cekatan. Setidaknya Ananya kini bisa lebih tenang karena Ibunya sudah ditangani oleh para ahli.
Ananya benar-benar rapuh, di sandarkannya kepalanya di bahu Varo tanpa sadar. Air mata tak henti-hentinya membasahi pipinya.
Varo terkesiap dengan tingkah Ananya, ia pun membelai dengan lembut pucuk kepala Ananya, di ubahnya posisi duduknya sedikit menghadap ke arah Ananya agr Ananya bisa lebih nyaman. Perlahan, ia mendekap tubuh Ananya. Ananya pun semakin tenggelam dalam pelukan yang menenangkan baginya. Air matanya semkin deras membasahi kemeja yang dipakai Alvaro.
"Maaf kak, lagi-lagi Ananya membuat kakak repot" Ananya bangun dari sandarannya di dada Varo.
"Tidak apa-apa, kamu jangan nangis terus perbanyak berdo'a untuk kesembuhan Ibu kamu." Kata Varo dengan memegangi wajah Ananya dan menghapus air matanya dengan lembut.
Entah mengapa timbul rasa sakit yang mendalam menatap wanita di hadapannya itu menangis. Ia merasakan sesak di dadanya, seolah ingin selalu melindungi dan menjaganya. Alvaro terus menatap wajah Ananya dengan penuh haru.
"Bagaimana kakak, apa dokter sudah memeriksanya ?" Tanya Anna yang baru saja datang.
"Ibu masih di periksa sama dokter bunda." Jawab Ananya lemas.
"Nak Varo, terima kasih banyak atas bantuan nak Varo, kalau tidak ada nak Varo, bunda tidak tau bagaimana keadaan kakak sekarang. hiks..hiks..hiks..!" Anna kembali terisak mengingat keadaan kakaknya.
"Sudahlah bund, jangan menangis lagi yah." Ananya berusaha menenangkan bundanya.
Dokter pun keluar dari ruang periksa, menghampiri ketiganya.
"Maafkan saya, sebaiknya banyak-banyak berdo'a untuk Ibu Lena. Karena penyakitnya sudah sangat menggerogoti organ dalamnya. Sebenarnya Ibu Lena menderita penyakit kanker serviks stadium akhir. Bila sudah memasuki stadium 4 (akhir), kanker serviks akan mempengaruhi kandung kemih atau rektum. Di stadium ini pula, kanker bisa menyebar ke organ-organ lain, termasuk hati, tulang, paru-paru, dan kelenjar getah bening. Terlebih lagi selama ini Ibu Lena tidak berobat secara intensif, ia seolah pasrah dengan penyakitnya. Maafkan saya karena tidak mwmberi tahu kalian, semua ini ataa perminaan beliau sendiri." Jelas Dokter Rico.
"Apa dok ? Ibu sakit kanker ?" Ananya terduduk lesu mendengar penjelasan dokter Rico. Anna hanya menunduk membiarkan air matanya lolos begitu saja.
"Terima kasih dok, tapi kami minta tolong agar dokter tetap memberikan perawatan yang terbaik untuk Ibu Lena. Semoga masih ada harapan untuk sembuh." Kata Varo berusaha membangkitkan semangat untuk kedua wanita itu.
"Kalau itu, saya tidak bisa menjanjikan apa-apa. Yang jelas saya akan berusaha semaksimal mungkin." Doker Rico pun berlalu.
*****
To Be Continued
Jangan lupa Like
Comment
Add Favorite
Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
dan Vote sebanyak-banyaknya