Suddenly Married

Suddenly Married
Pesan Singkat



Makan malam telah usai, Varo yang kala itu tengah bersantai di balkon tiba-tiba di kejutkan dengan kehadiran Sherly.


"Kak Varo...!" Sherly menyapa Varo yang nampak melamun.


"Hey, ada apa ? Apa kamu bosan ?" Kata Varo.


"Tidak, kak.. Rumah ini selalu membuatku nyaman. There's something wrong ? Sepertinya kakak lagi ada sesuatu." Lidik Sherly.


"Oh... No..no.. I mean, I'm okay, like you see right now." Jawab Varo mengangkat bahunya.


"Oh, syukurlah." Jawab Sherly.


Hening, tak ada percakapan setelahnya. Keduanya nampak sibuk dengan pikiran masing-masing. Sebenarnya Sherly ingin sekali berbagi cerita dengan Varo, hanya saja bibirnya terasa kelu untuk memulai pembicaraan. Ia pun tak tahu harus memulai dari mana dan topik apa yang harus ia bicarakan.


"Kak...?!" Sherly.


"Hmm..." Varo menoleh ke arah Sherly.


"Apa kakak bahagia ?" Sherly memberanikan diri untuk bertanya.


"Apa maksudmu ?" Varo.


"Apa kakak bahagia dengan pernikahan tiba-tiba kakak ?" Tanya Sherly.


"Tentu saja aku bahagia." Jawab Varo dengan sedikit senyum di wajahnya sembari menatap lurus ke depan.


"Pernikahan tanpa cinta ? Apa bisa membuat kita bahagia ?" Shely.


"Maksudmu ?"


"Aku tau, kalian tidak saling mencintai bukan ?" Tanya Sherly yang tiba-tiba menghilangkan senyum dari wajah Varo.


"Cinta atau tidak, aku bahagia. Setidaknya istriku sangat menghormatiku sebagai suaminya." Jawab Varo.


"Kak... Jangan memaksakan keadaan. Aku hanya ingin kakak bahagia, jika kakak tidak bahagia bersamanya, datanglah pada Sherly. Kakak tau kan bagaimana persaan Sherly kepada Kak Varo."


"Cukup, Sherly. Jaga batasanmu. Tidak pantas seorang wanita mendambakan pria yang telah beristri."


"Beristri ? Tapi mana istri kakak ? Kenapa dia malah pergi menghindar dari kakak ? Harusnya sebagai pasangan suami isteri yang baru saja menikah kalian selalu bersama-sama." Sherly mulai berapi-api engemukakan pendapatnya.


"Sherly !!! Jaga bicaramu, jangan mencampuri kehidupan pribadiku. Lagipula, semua ini tidak ada hubungannya denganmu. Jadi tolong, berhentilah mengurusi kehidupanku. Maaf, urus saja urusanmu !" Varo berlalu meninggalkan Sherly yang mematung. Air mata Sherly kini menetes membasahi pipinya.


Ia tampak menyesali perbuatannya yang telah lancang mecampuri kehidupan Varo. Dengan begitu, jarak keduanya akan semakin menjauh.


"Kenapa aku begitu bodoh ? hiks..hiks...!" Gumam Sherly dengan lirih.


******


Di dalam kamar tidurnya, Varo terlihat resah. Perkataan Shery terngiang-ngiang di kepalanya. Sejenak ia bertanya pada dirinya sendiri, apa benar ia bahagia ? Kalaupun ia merasa bahagia, bagaimana dengan Ananya ? Apakah ia juga bahagia dengan pernikahan ini ??


Malam itu terasa sangat panjang bagi Varo. Ia benar-benar sulit untuk memejamkan matanya. Sesekali bayangan Ananya hadir menghantuinya.


"Apakah aku merindukannya ?" Batin Varo.


Ia pun mengambil benda pipih diatas nakas, diliriknya sekilas jam yang tertera di layar ponselnya.


"Jam 12 malam, apakah Ananya sudah tidur ?" Gumamnya lirih.


Akhirnya ia pun memberanikan diri mencari nomor kontak Ananya, kemudian menelponnya.


Tut...tutt...tuut...


Panggilan terhubung namun belum diangkat, Varo pun memutuskan panggilannya.


"Ini sudah tengah malam, mungkin ia sudah tidur." kata Varo.


Ia kembali membaringkan tubuhnya dan meletakkan ponselnya di tempat semula. Saat ia hendak menutup mata, ponselnya tiba-tiba bergetar dan bunyi notifikasi memecah sunyi malam itu.


📩 Ada apa kak ? Tadi kak Varo menelpon ?


📨 Maafkan aku mengganggumu, apakah kamu tidur ?


📩 Tentu saja tidak, mana bisa Nya tidur sambil ngetik pesan. 😅


📨 Kamu sudah berani yah, maksud kakak tadi apakah kamu sudah tidur tadi ?


📩 Sebenarnya tadi Nya sudah hampir tertidur, tapi ponsel Nya berdering jadi kebangun deh.


📨 Maaf, kalau begitu istirahatlah. Goodnight


Begitulah isi pesan keduanya. Meskipun hanya bertukar kabar melalu pesan singkat namun Varo sangat bahagia. Meskipun Ananya tidak mencintainya, setidaknya ia selalu berlaku baik dan sopan kepada Varo.


*****


"Apa yang kau lakukan disini ? Sudah larut malam, masuklah nanti kamu masuk angin." Vino menghampiri Sherly yang duduk seorang diri di balkon.


"Vin... kamu dari mana ?" Tanya sherly.


"Ck... biasalah. Mau aku temani ?" Vino.


"Boleh, duduklah...!" Pinta Sherly.


Vino mendaratkan bokongnya duduk di samping Sherly. Sesaat ia melirik gadis di sampingnya itu dengan tatapan aneh.


"Lagi galau ?" Tanya Vino.


"Hmmm... sedikit !"


"Kurasa tidak, bukan sedikit tapi baaanyaakk!!" Kata Vino kemudian.


"Entahlah Vin... Aku belum siap aja mendengar pernikahan kakak. Kamu tau kan sebenarnya..."


"Aku tau, kamu menyukai kakak kan ? Tapi jangan putus asa, masih ada kesempatan kok." Kata Vino kemudian.


"Maksudmu ?"


"Kamu mau bekerja sama denganku ?" Tanya Vino.


"Tunggu...tunggu... aku gak ngerti." Sherly merubah posisi duduknya menghadap ke arah Vino.


"Sher... Aku mencintai Ananya, dan dia juga mencintaiku." Kata Vino.


"Whaatt ??? what do you talking about ? are you sure ?" Sherly benar-benar kaget.


"Yeah, I'm sure. She never loved him, she only loved me. Only Me." Vino mempertegas ucapannya.


"Lagipula, pernikahan mereka karena terpaksa, as you know. but I promise I'll take her back to my side." Lanjut Vino.


"Bagaimana dengan Mama Dian, apa dia akan setuju ?" Tanya Sherly kemudian.


"Dia harus setuju. Aku salah karena memberi ruang untuk kak Varo mendekati Ananya. Aku benar-benar lengah."


"Tapi, Vin... aku tidak yakin mama sama papa akan menyetujui rencanamu." Tambah Sherly.


"Aku tidak bisa tanpa Ananya Sher... selama ini aku benar-benar buta tidak bisa melihat cinta di mata Ananya. Setelah ia dimiliki oleh kakak, aku baru menyadari bahwa dia benar-benar berati buatku. Dan aku tidak akan membiarkannya dimiliki oleh yang lain."


"Meskipun itu kakak kamu sendiri ?"


"Yah, meskipun itu kakak."


"Maaf, Vin.. Aku tidak akan ambil bagian dalam rencanamu. Aku malu, ini akan menodai harga diriku sebagai seorang wanita. Aku harap kamu mengerti maksudku." Kata Sherly.


"Hhmm... tidak apa-apa. Andai saja aku bisa sedewasa dan se ikhlas kamu, tapi aku belum sanggup Sher..." Kata Vino.


"Kamu pasti bisa, coba saja. Ayo kita ke dalam, malam sudah larut, istirahatlah." Pinta Sherly.


"Baiklah, ayo masuk."


Keduanya masuk dan berjalan beriringan, Vino mengantar Sherly sampai ke depan kamarnya, kemudian ia berjalan menuju kamar tidurnya yang tepat berada di samping kamar Sherly.


*******


Di tempat lain, Ananya nampak gelisah membolak balikkan tubuhnya. Ia pun susah tidur, entah apa yang ia fikirkan saat ini. Bayangan Varo dan Vino bergantian muncul di benaknya. Pria yang satu adalah sahabat sekaligus cinta pertamanya, sedangkan yang satunya lagi adalah pria yang baik yang kini menjadi suaminya.


.......


To Be Continued


Tinggalkan jejak setelah membaca.


Tekan Like dan Add Favorite


Terimakasih untuk semua pembaca setia "Suddenly Married". Terus ikuti lanjutan kisahnya yah,..


Mohon maaf author baru bisa update, soalnya kemarin sibuk banget di kantor karena dikejar deadline laporan akhir bulan. Mohon kritik dan sarannya di kolom komentar. Terimakasih 🤩