Suddenly Married

Suddenly Married
Maaf Aku Lupa



Dengan tatapan yang saling beradu diantara suami istri yang akan memulai kehidupan rumah tangga mereka hari. Sungguh hari ini begitu banyak kejutan bahagian yang diberikan sang istri. Meskipun tadi malam sempat terjadi pertengkaran kecil diantara mereka, namun setelah itu justru kebahagiaan yang saat ini dirasakan oleh Rivan.


Bagaimana tidak, tadi malam mereka akhirnya bisa tidur di kamar bersama, bahkan mereka juga tidur di ranjang yang sama. Ya meskipun tidak ada hal adegan yang biasa terjadi dengan pasangan suami istri yang baru menikah pada umumnya. Mereka hanya tidur bersama tanpa melakukan apa apa lagi.


Tidak hanya sampai di situ kebahagiaan yang dirasakan oleh Rivan, pagi hari saat dia bangun dia langsung disuguhi kegiatan sang istri yang memasakkan sarapan untuk dirinya. Lalu kedatangan bunda sehingga Tiara langsung berkenalan dengan sang bunda.


Dan yang tidak kalah bahagianya sang istri mengatakan mulai hari ini dia akan tinggal di rumah ini bersama dengan dirinya. Sungguh hari ini adalah hari yang melelahkan baginya namun juga membahagiakan yang terjadi dalam hidupnya.


" Jadi? Mau ada resepsi?" tanya Rivan dengan senyum tipis.


Selain kebahagiaan yang akan datang menghampiri hidupnya, Rivan juga masih merasa ragu dengan ucapan sang istri yang menyetujui rencana sang bunda yang ingin mengadakan resepsi pernikahan mereka. Dia bukannya tidak bahagia mendengar rencana tersebut, tapi dirinya merasa malas saja jika melakukan resepsi yang akan menguras banyak waktunya.


" Kita lihat dulu aja, mas. Lagian masak iya bunda kuat ngurusin resepsi pernikahan kita sendirian? kita aja yang nikah males ngurusin, iya gak?" jawab Tiara dengan entengnya seolah meremehkan kemampuan ibu mertuanya.


" Hahaha... kamu tuh ya..." Rivan merasa gemas dengan pikiran Tiara hingga membuatnya tertawa.


Tiara justru tersenyum dengan jahil saat tangan Rivan menepuk nepuk kepala Tiara pelan. Rivan justru merasa yakin bahwa sang bunda lebih dari mampu untuk mempersiapkan acara pernikahan mereka sendiri dan aku yakin hal itu nanti pasti akan membuat Tiara kagum dengan semua yang bisa dilakukan oleh bundanya.


" Eh, ngomong ngomong halaman kamu luas banget ya, mas" kata Tiara yang melepaskan tangan Rivan lalu mengamati halaman luas tersebut yang begitu memabukkan matanya.


Dengan jelas Tiara dapat melihat pintu kaca besar dan bening yang memisahkan ruang dapur serta meja dapur dengan halaman tersebut. Tiara ingat semalam dia hanya melihat tirai yang besar dan gelap yang menutupi pintu kaca tersebut. Dan setelah tirai tadi disibakkan oleh Rivan yang langsung mengekspos bagian halaman belakang rumah dengan ruang di dalam rumah.


Dengan senyum mengembang Rivan mengikuti langkah istrinya yang menapaki jalan setapak yang ditumbuhi rumput disepanjang jalan menuju ke tembok besar yang diyakini Tiara sebagai pembatas antara rumah Rivan dengan bunda Amel.


" Suka?" tanya Rivan yang kini sudah berdiri tepat di belakang istrinya.


Tiara menoleh dan melihat wajah Rivan yang terpancar cahaya mentari pagi sehingga menampakkan wajah tampang suaminya dengan rahan yang kokoh dengan alis tebalnya membuat Tiara begitu terpesona.


Tiara langsung mengangguk tidak ingin lebih lama terbuai dengan pesona yang dimiliki sang suami. " Suka. Aku dulu pernah memiliki impian ingin memiliki rumah dengan halaman yang luas" jawab Tiara dengan bahagia dan senyum mengembang di bibirnya.


" Oh ya?" tanya Rivan dengan senyum tipis di kedua sudut bibirnya.


" Iya. Enak dibikin macem macem dan bisa melakukan aktivitas di luar ruangan namun masih berada di dalam rumah" jawab Tiara membayangkan dirinya tinggal di sana dan melakukan kegiatan yang menyenangkan di halaman tersebut.


Senyum lebar kini tersemat di bibir tebal Rivan yang juga merasa bahagia melihat reaksi Tiara yang senang dengan suasana rumahnya.


" Oh ya, mas. Kalau yang diluar sana itu apa? jalanan yang cukup luas atau gak gang kecil?" tanya Tiara penasaran sambil menunjuk pagar tembok yang menjulang tinggi.


" Jalanan rumahan, tapi besar" jawab Rivan dengan berbohong. Jalanan yang dimaksud Rivan bukan jalan perumahan pada umumnya, melainkan jalanan di dalam area perumahan utama yang dimiliki oleh keluarganya secara eksklusif.


" Ya udah kamu mandi sana" suruh Rivan berusaha mengalihkan pandangan Tiara yang seakan ingin berlari dan menghampiri pagar tersebut.


Rivan mengajak Tiara pergi dari tempatnya berdiri, dan masuk ke dalam. Dia terus menggandengnya tangan Tiara memasuki rumah mereka kembali untuk melakukan aktivitas mandi mereka yang tertunda karena kedatangan bunda Amel.


" Aku akan mandi di bawah sini saja, jadi kamu bisa mandi di kamar mandi atas yang ada di kamar kita" kata Rivan yang mengantar Tiara sampai di bawah tangga dan menyuruh Tiara agar naik sendiri ke kamar mereka.


*


Tiara segera menyelesaikan ritual mandinya dan keluar dengan hanya memakai bathrobe di tubuhnya. Sebelum keluar dari kamar mandi Tiara memastikan terlebih dahulu keadaan kamar, apakah ada orang di kamar tersebut terutama Rivan. Setelah dirasa tidak ada siapapun di kamar tersebut Tua keluar dari kamar mandi dan langsung berjalan mengunci pintu kamar karena dia ingin mengganti bajunya.


Terlihat baju perempuan di atas tempat tidur, Tiara yakin bahwa itu adalah baju dari ibu mertuanya. Tiara segera mengambil baju tersebut yang ternyata dress berwana biru muda dengan kombinasi garis garis asimetris berwarna putih. Tiara segera memakai dress tersebut yang panjangnya tepat berada di atas lututnya.


Tiara segera turun ke bawah untuk mencari keberadaan Rivan. Tapi saat dia berada di tangga paling bawah tatapannya tertuju pada 2 orang perempuan. Perempuan tersebut yang satu terlihat sudah berumur dan satunya lagi seorang gadis yang umurnya terlihat lebih muda dari Tiara. Mereka memakai seragam dan terlihat membersihkan rumah tersebut


" Sayang... sini" panggil Rivan yang melihat istrinya turun dari tangga, sementara dia sedang duduk di sofa. Tiara langsung berjalan menghampiri suaminya, sedangkan Rivan begitu terpesona melihat kecantikan yang dipancarkan oleh istrinya dengan memakai baju yang diantarkan oleh asisten bundanya.


" Kenalin ini bik Yanti dan dia Ani yang merupakan cucu dari bik Yanti. Mereka setiap hari datang ke sini untuk beres beras rumah" kata Rivan. " Dan kenalkan ini istri saya namanya Tiara" lanjutnya memperkenalkan sang istri pada sistem rumah tangganya.


Tiara tersenyum pada keduanya dan dengan antusiasnya mereka berdua juga langsung mengangguk bersamaan dan ikut tersenyum. Sudah pasti mereka berdua terkejut, pasalnya yang mereka ketahui bahwa majikan mereka belum menikah tapi kenapa tiba tiba ada perempuan cantik yang tidak lain istri majikan mereka. Tapi mereka hanya diam tidak ingin ikut campur dengan urusan majikan mereka. Dan mereka langsung melanjutkan pekerjaan mereka.


Sudah Tiara duga bahwa Rivan tidak mungkin sendirian dalam menjaga kebersihan rumah tersebut yang terlihat sangat bersih dan rapi.


" Yuk kita berangkat sekarang ke rumah ayah ibu. Kita ambil baju baju kamu" ajak Rivan yang sudah menunggu Tiara dari tadi.


" Aku mau pergi ke butik. Kamu sendiri gak kerja?" tanya Tiara heran melihat baju Rivan yang hanya memakai kaos dengan celana Chino.


" Hahaha... jangan bilang kamu mulai amnesia. Ini hari Sabtu sayang, jadi hari ini aku libur kerja" Rivan tertawa mendengar pertanyaan istrinya yang seolah lupa ini hari apa.


" Hehehe...maaf aku lupa" kekeh Tiara dengan tersenyum malu. " Lagian aku biasa libur di hari Minggu saja, jadi gak ingat ini hari apa" lanjutnya berusaha membela diri untuk menutupi rasa malunya.


Kedua alis Rivan langsung mengernyit. " Tapi kamu gak lupa kan? kalau mulai hari ini kamu akan tinggal di rumah ini?" tanya Rivan dengan cemas.


Tiara langsung menepuk jidatnya pelan dan tersenyum melihat wajah Rivan yang terlihat cemas. " Iya mas. Tapi boleh ya sebentar saja kita ke butik dulu, mas?" tanya Tiara meminta ijin suaminya. " Habis itu kita langsung ke rumah buat ambil baju baju aku" lanjutnya mencoba membujuk suaminya.


Rivan menghembuskan nafas lega setelah itu dia tersenyum dan mengangguk.


Mereka berdua langsung pergi bersama setelah berpamitan dengan bik Yanti dan Ani yang sedang sibuk membersihkan rumah mereka. Rivan langsung melajukan mobil mewahnya keluar dari halaman rumahnya menuju ke jalan raya. Dan kali ini Tiara tidak keberatan suaminya membawa mobil mewahnya.