
Seorang pria bertubuh tinggi tak kalah tinggi daripada Rivan, wajah blasteran antara Jawa - Australia dengan sebuket bunga mawar merah di tangannya. Namun Tiara hanya menatapnya dengan ekspresi yang datar dan cenderung malas.
" Hai, Ara" sapa pria tersebut yang kini sudah berdiri tepat di depan Tiara.
Tiara tidak menyahut atau balik menyapa, dia hanya menghela nafas panjang dengan malas. Sosok pria yang dulu pernah mengisi hari harinya menjadi indah, tapi pria itu juga yang telah menorehkan luka begitu mendalam di hatinya, yang membuatnya trauma dengan seorang pria. Dan kenapa dia harus datang lagi setelah menorehkan luka yang sulit sekali Tiara sembuhkan beberapa tahun terakhir.
Saat ini dirinya telah memiliki tambatan hati lainnya, pria yang begitu mencintainya, menyayanginya bahkan sangat memujanya setiap saat. Ya, siapa lagi kalau bukan suami tercintanya yang telah berhasil menghapus semua luka di hatinya selama ini, memberikan kebahagiaan yang membuat Tiara langsung melayang.
Jujur saja Tiara merasa muak sekali melihat wajah pria tersebut yang tidak lain adalah Dika. Mantan kekasih Tiara yang membuat dirinya trauma untuk berhubungan dengan seorang pria lainnya. Pria yang sudah membuat hati Tiara sangat terluka karena memutuskan hubungan mereka secara sepihak dan menikah dengan wanita lain yang memiliki harta yang banyak.
Tiara tidak suka jika Dika menyapa dirinya seolah mereka adalah orang yang begitu akrab seperti itu. Hubungan mereka sudah berubah sangat banyak dan dia seolah tidak rela jika Dika seolah melupakan itu semua.
" Jangan sok akrab!" seru Tiara tidak terima dengan nama panggilannya yang biasa dipakai oleh orang orang terdekatnya saja.
Dika hanya tersenyum melihat wajah Tiara yang terlihat marah padanya. Tanpa rasa takut Dika tetap berjalan maju mendekati Tiara yang masih berdiri di tempatnya.
" Ini buat kamu" katanya memberikan sebuket bunga mawar merah di tangannya dengan mengabaikan nada bicara Tiara yang terdengar judes dan dingin terhadapnya. Dika berfikir bahwa Tiara pasti akan menerima bunga indah persembahannya tersebut dan menjadi lunak.
" Gue gak suka bunga!" sahut Tiara dengan kesal, yang malah membuat Tiara risih melihat bunga mawar yang ada di tangan Dika. " Nggak tiban gue sekalian dengan karangan bunga aja!" lanjut Tiara dengan sewotnya melihat buket bunga mawar yang begitu besar yang membuat dia mundur kebelakang karena terdesak dengan besarnya buket bunga tersebut.
Tiara bukanlah tipe cewek yang menyukai pemberian bunga dari seseorang, menurutnya meninggalkan kesan indah hanya untuk sementara. Dia juga tidak mahir memelihara bunga, jadi pemberian bunga pada seseorang itu jauh dari kata berguna.
Ayah dan ibunya tau bahwa Tiara memang tidak suka diberi bunga, begitu juga dengan Nita yang mengetahui semua tentang Tiara. Namun berbeda dengan Dika, meskipun mereka dulu pernah menjalin hubungan asmara yang cukup lama sewaktu mereka kuliah, tapi Dika sama sekali tidak mengetahui kalau Tiara tidak suka diberikan bunga.
" Come on, Ara... nggak ada cewek yang gak suka sama bunga. Kamu juga pasti suka kan?" bujuk Dika agar Tiara mau menerima buket bunga darinya.
Tiara tertawa sinis dengan sikap ngotot Dika yang salah besar tentang dirinya. " Lo ketuker kali antara gue sama bini Lo!" kata Tiara dengan suara yang begitu penuh penekanan namun suaranya tidak terlalu keras karena dia tau saat ini banyak orang yang sedang melihat ke arah mereka.
Tiara langsung berbalik arah dan ingin cepat cepat pergi menuju ke dalam butiknya untuk meninggalkan Dika yang masih berdiri dengan sebuket bunga yang masih berada di tangannya. Namun belum sempat dia berjalan pergelangan tangannya sudah dipegang terlebih dahulu oleh Dika.
" Ara, tunggu!" pegang tangan Tiara dengan erat hingg membuat pemilik tangan merasa sakit dan akhirnya membalikkan badannya lagi.
" Kita bukan orang yang dekat, jadi jangan panggil gue kayak gitu! lepasin tangan gue kalau Lo gak mau gue teriak di sini!" ucap Tiara dengan keras dan galak sekaligus mengancam. Dia menepis tangan Rivan yang masih memegang pergelangan tangannya hingga kini tangannya terlepas.
Tiara yang kesal akan terlihat semakin menggemaskan karena kecantikannya. Namun jika dia sudah sangat marah maka akan membuat jantung orang bergidik ngeri karena nada tajam Tiara yang dia keluarkan. Hanya saja Dika adalah orang yang bukan biasa saja. Dia salah satu orang yang bisa mengerti bagaiman meredam kemarahan Tiara.
" Ok, jangan galak kayak gitu dong, Tiara.... kamu cewek cantik yang cantik jika sedang tersenyum" bujuk Dika agar Tiara tidak marah padanya.
Tiara hanya diam memutar matanya malas sambil menghembuskan nafasnya dengan berat.
Bodohnya Tiara justru hanya terdiam ditempatnya tanpa ada niatan pergi dari sana. Dia justru melihat kepergian Dika tanpa berusaha melangkahkan kakinya untuk meninggalkan pria tersebut. Sampai akhirnya Dika kembali berdiri di hadapannya.
" Bunganya sudah gak ada, aku minta waktu kamu pagi ini, boleh?" tanya Dika yang terdengar penuh permohonan.
" Enak aja, emangnya Lo pikir Lo itu siapa!" jawab Tiara dengan begitu sengitnya. Namun Dika sendiri hanya bisa melebarkan senyumnya meskipun dia mendapatkan perlakuan yang kurang baik dari Tiara.
Mungkin dulu Dika tidak akan terima mendapatkan perlakuan sinis dari Tiara, dia justru merasa berhak untuk menerima segala pujian serta rasa hormat dari Tiara. Karena dulu Tiara adalah cewek yang terlihat selalu mengemis cintanya. Tapi sekarang semuanya telah berubah Tiara seolah enggan untuk berlaku baik padanya.
Sementara itu Tiara yang benar benar sudah tidak tau lagi bagaimana caranya menghadapi Dika. Lalu sudah menginginkan sesuatu Dika memang selalu terobsesi, namun tidak pernah ada dalam bayangannya bahwa dirinya saat ini akan menjadi obsesi seorang Dika.
" Tiara... please... dengerin aku" bujuk Dika yang tidak ingin mengalah.
Dulu sebelum dan setelah mengenal Tiara, Dika sama sekali tidak pernah merasakan kasih sayang dan cinta yang tulus dari orang lain. Tidak ayahnya yang bangkrut dan pergi meninggalkan banyak hutang dan tidak juga ibunya yang selalu menganggap dirinya sebagai bebannya. Begitu pula kerabatnya yang selalu menyadarkan Dika bahwa betapa kasihan hidupnya.
Dia tidak ingin menjadi orang yang dikasihani, dia ingin menjadi orang yang dihormati, dia bertekad untuk menjadi orang yang sukses. Dan dia berhasil mewujudkan mimpinya menjadi orang sukses, dan kini orang orang yang dulu pernah mengasihani dan merendahkan dirinya. Tiba tiba datang meminta bantuan dengan merendahkan diri mereka di hadapan Dika.
" Udah cukup kayaknya gue dengerin Lo ngomong ya, dari tadi!" tolak Tiara secara tidak langsung.
Dika hanya bisa mendesah pelan melihat perempuan yang ada di depannya saat ini. Perempuan sama, yang dulu begitu memujanya dan menghormati dirinya, tapi sekarang seolah mendorong dirinya untuk menjauh.
Tapi ini semua memang salahnya, dulu dirinya meninggalkan Tiara karena menganggap Tiara tidak penting bagi masa depannya. Bagi Dika untuk bisa sukses di butuh suntikan dana untuk usahanya dan Tiara tidak akan bisa memberikan hal itu. Makanya dia meninggalkan Tiara dan menikah dengan perempuan lain yang kaya raya.
" Dari dulu memang cuma kamu yang bisa ngerti, Tiara..." kata Dika dengan suara yang lirih kepalanya menggeleng, mengingat kebodohan yang telah dia perbuat.
Dika berusaha mengejar kesuksesan sejak dirinya masih memakai seragam abu abu- putih untuk membuktikan pada semua orang. Dan hanya Tiara yang tau semua keinginannya selama ini.
" Aku tau aku salah, dan aku tau kamu yang selalu benar..." ucap Dika penuh penyesalan.
Dia seolah mengutuk nasibnya karena dia menikah dengan seorang anak perempuan dari pengusaha kaya raya. Seorang istri yang memiliki kualitas jauh dibawah Tiara. Anak orang kaya yang manja dan penuh tuntutan setiap harinya, membuatnya muak dan tak mampu memuaskan egonya.
" Ini bukan masalah benar atau salah. Ini masalah Lo yang semaunya sendiri dan nggak pernah mikirin perasaan orang lain. Gue udah gak mau berurusan lagi sama Lo!"" ucap Tiara dengan geram.
" Kenapa nggak mau berurusan sama aku lagi?apa karena udah ada orang lain?" tanya Dika yang tidak kalah geram dengan ucapan Tiara.
" Kalau iya memangnya kenapa?" jawab Tiara tenang dan menantang seolah dirinya kini telah menang.
Dika terdiam sejenak mengingat pertemuan mereka yang tidak sengaja. Di sana dia melihat Tiara dengan seorang pria yang mengaku sebagai suami Tiara tapi dia berusaha menyangkalnya, dia berfikir tidak mungkin Tiara dengan mudah melupakan dirinya.