Suddenly Married

Suddenly Married
Lo Gak Pantes



Dika seolah mengutuk nasibnya karena dia menikah dengan seorang anak perempuan dari pengusaha kaya raya. Seorang istri yang memiliki kualitas jauh dibawah Tiara. Anak orang kaya yang manja dan penuh tuntutan setiap harinya, membuatnya muak dan tak mampu memuaskan egonya.


" Ini bukan masalah benar atau salah. Ini masalah Lo yang semaunya sendiri dan nggak pernah mikirin perasaan orang lain. Gue udah gak mau berurusan lagi sama Lo!"" ucap Tiara dengan geram.


" Kenapa nggak mau berurusan sama aku lagi?apa karena udah ada orang lain?" tanya Dika yang tidak kalah geram dengan ucapan Tiara.


Ucapannya itu pun membuat Dika menyadari bahwa sepenuhnya dirinya telah salah. Kini keberadaannya telah tergantikan oleh orang lain mengingat dirinya yang telah melepaskan dan meninggalkan Tiara. Namun dia masih berusaha menyangkal itu semua bahwa sampai saat ini Tiara masih mencintai dirinya dan dia akan berusaha untuk merebut cinta dari mantan kekasihnya tersebut.


" Kalau iya memangnya kenapa?" jawab Tiara tenang dan menantang seolah dirinya kini telah menang.


Dika terdiam sejenak mengingat pertemuan mereka yang tidak sengaja. Di sana dia melihat Tiara dengan seorang pria yang mengaku sebagai suami Tiara tapi dia berusaha menyangkalnya, dia berfikir tidak mungkin Tiara dengan mudah melupakan dirinya.


Dika tidak suka dengan pria yang dia temui di restoran waktu itu. Dia tidak suka pria tersebut memeluk pinggang Tiara. Dia tidak terima dengan tatapan penuh perhatian pria yang tidak dikenalnya pada Tiara. Begitu juga sebaliknya dengan tatapan Tiara pada pria tersebut yang membuatnya kesal dan marah waktu itu.


Bahkan tadi dia melihat Tiara keluar dari l mobil yang tidak kalah mewah dari mobilnya. Dan dia yakini bahwa pemiliknya adalah seorang pria, meskipun dia tidak tau apakah pria tersebut sama dengan yang dia temui di restoran waktu itu.


" Kalau iya memangnya kenapa?" jawab Tiara tenang dan menantang seolah dirinya kini telah menang.


Dika tidak menyangka akan ada seorang pria yang bisa setara dengan dirinya di mata Tiara. Bahkan bisa mengambil hati Tiara dengan begitu mudahnya. Dika hafal benar dengan sikap Tiara yang tidak pernah mudah jatuh hati pada laki laki. Menjadi perempuan yang cantik, cerdas dan mandiri membuatnya sedingin gunung salju di mata laki laki.


Tiara merasa risih dengan tatapan orang orang yang sedang berlalu lalang. Pasti dalam pikiran mereka saat ini dirinya sedang berantem dengan pacarnya atau malah bisa dibilang suaminya. Dan dia tidak mau anggapan orang salah menilai hubungan mereka.


" Lo mau ngomong kan, ya udah sekarang juga kita ngomong dan selesaikan semuanya saat ini juga!" seru Tiara yang ingin segera menyudahi pertemuannya dengan Dika yang membuatnya hatinya buruk seketika.


" Baiklah kita ngobrol di luar" sahut Dita dengan senyum mengembang merasa Tiara sudah membuka hatinya untuk dirinya.


Dika menyuruh Tiara untuk masuk ke dalam mobil mewahnya. Dia yakin Tiara pasti merasa bangga terhadap dirinya karena sudah menjadi orang sukses seperti keinginannya selama ini. Tanpa Dika ketahui bahwa suami Tiara jauh lebih kaya dan sukses daripada dirinya. Entah apa yang terjadi jika mereka bertemu.


Saat ini mereka sudah duduk di salah satu restoran yang baru dibuka sehingga suasana di sana terlihat masih sepi pengunjung. Tiara enggan memesan karena selain dirinya yang sudah sarapan bersama Rivan, dia juga ingin secepatnya pergi dari sana. Tapi Dika langsung memesankan beberapa menu makanan untuk dirinya dan Tiara berharap Tiara menemani dirinya sarapan.


" Terima kasih atas waktu kamu" kata Dika dengan senyum yang mengembang sempurna. Baginya kemenangan kecil ini adalah pembuka untuk kemenangan yang lebih besar untuk dirinya.


" Gue nggak bisa lama lama" balas Tiara dengan cepat, dirinya memang tidak ingin lama lama berduaan dengan Dika seperti saat ini. Bahkan gerak geriknya menyiratkan bahwa dirinya enggan untuk mengobrol lama lama dengan pria yang duduk di depannya.


" Kamu sibuk ya sekarang, sudah jadi desainer ternama kayaknya..." bukannya berbicara langsung, Dika malah mengajak Tiara untuk berasa basi terlebih dahulu.


Tiara melirik ke arah Dika dengan tajam, semua perasaan muaknya seolah tersampaikan dengan satu lirikan tajamnya. " Gue gak bisa bukan karena apa, tapi karena gue gak mau lama lama ngobrol sama Lo" sergah Tiara dengan ucapan yang sarkas lalu mengamati restoran yang masih terlihat sepi.


Sedari mereka ketemu Tiara selalu manggil Dika dengan panggilan Elo - Gue. Dia sudah enggan untuk berbicara baik baik dengan Dika.


" Kita makan dulu Ara..." bujuk Dika dengan suara pelan agar hati Tiara luluh.


Sejenak mereka terdiam saat pelayan restoran datang dan menghidangkan makanan yang sudah dipesan oleh Dika.


" Gue udah makan, so... buruan apa yang mau Lo omongin sama gue!" desak Tiara terus dengan rasa kesalnya.


Dika hanya bisa mendesah pelan dengan sikap keras kepala Tiara yang belum pernah berubah sampai detik ini.


" Gak ada apa apa. Aku mau bilang kalau aku cuma mau bikin kamu jadi milik aku lagi aja" ucap Dika kemudian dengan nada suara yang terdengar tenang. Mata Tiara langsung melototi Dika yang menyeringai penuh kemenangan.


Dika adalah cinta pertama Tiara meskipun bukan kekasih pertama. Dan sekarang Dika bertekad sekali lagi untuk menjadi yang pertama dan terakhir bagi Tiara. Dia yakin dirinya akan menjadi pemenang hati Tiara karena dulu Tiara begitu sangat mencintai dirinya setulus hatinya. Akan dia usahakan apapun yang dapat membuat Tiara kembali menjadi miliknya.


" Gue gak akan pernah mau menjadi milik pria beristri" tolak Tiara mentah mentah sambil menggeleng tidak menyangka dengan ucapan nekat Dika.


Suasana hati Dika langsung suram saat mendengar ucapan Tiara yang mengingatkan dirinya telah memiliki seorang istri. " Pasti mau kalau pria itu aku" sahut Dika dengan begitu percaya diri.


Dika kesal jika Tiara terus mengingatkan dirinya bahwa dirinya telah terikat dengan perempuan lain. Tapi bagi Dika hatinya akan selalu terikat oleh Tiara, begitu juga sebaliknya Dika ingin hati Tiara hanya terikat oleh dirinya seorang.


Meskipun Tiara menganggap mereka sudah tidak memiliki hubungan apa apa. Tapi Dika yakin jika mereka bertemu beberapa kali dan saling bercakap serta bercerita maka mereka akan seperti dulu lagi selalu bersama dan saling melengkapi.


" Lo gila apa!" ucap Tiara terkejut dengan tingkat kepedean yang dimiliki Dika membuatnya terkejut dan membuka matanya dengan lebar. Tentu saja apa yang dipikirkan Dika sama sekali tidak pernah menjadi angan angan Tiara. " Stop omong kosong ya, Dika!" lanjut Tiara yang benar benar sudah muak dengan perilaku Dika yang menurutnya tidak punya malu.


Tiara berfikir, apa yang terjadi pada Dika selam ini. Dia yang sudah pergi darinya tanpa kabar dan siapa untuk dilupakan. Mengapa sekarang datang setelah keadaan dia telah menjadi suami orang lain, tapi dia datang dengan kepedean tinggi serta perangai yang berbeda dari yang Tiara dulu kagumi.


" Orang kalau semakin kaya, semakin tidak tau malu ya, Dik..." sindir Tiara sambil menganalisa situasi, Dika ini haru diapakan enaknya ya....


" Maksud kamu?" tanya Dika yang belum mengerti maksud ucapan Tiara yang terdengar ambigu. Tapi meskipun begitu Dika merasa dirinya telah berhasil membuat Tiara meladeni semua ucapannya walaupun terdengar nada yang sinis dan sarkas.


" Lo pikir mudah buat gue ngelupain Lo, hah! bertahun tahun gue harus berjuang sendirian buat ngelupain semua tentang kita, ngobatin rasa sakit hati gue, dihina orang lain karena gak bisa membuka hati buat pria lain. Dan elo dengan enaknya ninggalin gue tanpa perasaan dan nikah dengan cewek kaya raya" Tiara mulai menumpahkan segala rasa sakit yang dia alami selama ini.


" Saat gue sudah bisa hidup bahagia dan ngelupain rasa sakit gue, kenapa Lo tiba tiba datang dan bilang mau jadiin gue milik Lo lagi, Hah! apa Lo gak punya rasa malu bilang kayak gitu ke gue!" lanjut Tiara dengan suara yang pelan tapi penuh penekanan di setiap katanya.


" Ara..." Dika mencoba meraih tangan Tiara yang sedari tadi menunjuk nunjuk ke wajahnya namun langsung ditepis oleh Tiara.


" Stop manggil gue begitu! Lo gak pantes!" seru Tiara yang sudah semakin geram dengan sikap Dika.


Sungguh Dika juga ikut merasakan sakit yang dirasakan oleh Tiara. Hatinya terasa dicubit mendengar semua keluh kesah yang selama ini dirasakan oleh Tiara.