
Pertemuan Varo dan Pak Baskoro memakan waktu cukup lama. Meskipun demikian, pertemuan tersebut membuahkan hasil yang menguntungkan kedua belah pihak. Meskipun masih muda, kemampuan Alvaro soal negosiasi tidak bisa di remehkan.
"Pak Varo memang hebat..!" Puji Ananya di sela-sela langkahnya yang berjalan di samping Alvaro.
"Kamu juga hebat." Ucap Varo datar.
"Kita langsung ke rumah kamu saja yah biar sekali jalan, kamu siap-siap untuk acara sebentar malam di rumah, biar aku tungguin." Varo mengingatkan Ananya.
"Oh iya pak, Nya hampir lupa. Nya naik taksi aja pak, gak usah di tungguin." tolaknya.
"Kamu mau aku di marahin Mama lagi ?" Varo menghentikan langkahnya menatap Ananya dengan tatapan membunuh.
"Baa..baiklah pak kalau begitu. Terserah bapak saja." Ananya seolah tidak mempunyai kekuatan untuk membantah Varo yang nota bene adalah atasannya. Nyalinya seketika menciut melihat tatapan mata Varo yang seoah akan memakannya hidup-hidup.
Setibanya di rumah Ananya, Varo di sambut hangat oleh Bunda Anna dan Ibu Lena. Bunda Anna sangat menyukai sosok Varo yang menurutnya sangat cook dengan keponakan tersayangnya. Perangainya yang lemah lembut, sopan, serta wajahnya yang sangat tampan bak pangeran sangat menunjukkan bahwa ia adalah suami idaman para gadis.
Ananya telah siap, ia melangkah menghampiri Varo yang nampak tercengang akan penampilannya. Lagi-lagi Alvaro terpesona atas kecantikan Ananya. Cantiknya Ananya diibaratkan, kecantikan yang semakin di pandang maka kecantikannya akan semakin nampak.
"Maaf kakak menunggu lama, ayo kita berangkat kak !" Ajakan Ananya berhasil membuyarkan lamunan Varo.
"why do you have to be so beautyfull all the time." Batin Varo mengagumi kecantikan Ananya.
"Kak... kenapa bengong... ayo...!? Nanti tante Dian menunggu kita.!" Ananya meggerutu melihat Varo yang sedari tadi mematung. Ananya menaruk tangan Varo agar segera melangkahkan kakinya.
Varo hanya menatap tangannya yang di genggam oleh Ananya. Kejadian yang sama seolah terulang kembali, namun bedanya kali ini Ananya yang menggenggam tangan Varo. Alvaro tersenyum, sepertinya ia menikmati saat-saat Ananya menggenggam pergelangan tangannya. Keduanya masuk kedalam mobil, Alvaro pun melajukan mobilnya menuju mansion keluarganya.
Perjalanan dari rumah Ananya menuju Mansion keluarga wijaya memakan waktu sekitar empat puluh lima menit. Sesekali Alvaro tersenyum kecil mengingat kejadian tadi siang dimana ia dengan refleks menarik tangan Anannya, terlebih lagi saat di rumah Ananya yang melakukan hal yang sama kepadanya.
Saat ini, ia merasakan gemuruh aneh yang berdesir di dalam dadanya. Ia merasa degup jantungnya tidak seperti biasanya, seolah jantungnya meronta ingin keluar dari balik dadanya. Ia mencoba menglihkan rasa gugupnya dengan memutar audio di mobilnya. Lagu I believe My Heart dari Duncan James dan Keedie Babb mengalun lembut memecah kesunyian.
Whenever I see your face, the world disappears
All in a single glance so revealing
You smile and I feel as though I've known you for years
How do I know to trust what I'm feeling
I believe my heart
What else can I do
When every part of
Every thought leads
Me straight to you
I believe my heart
There's no other choice
For now and whenever
Only hear your voice
"Kamu suka lagu ini ?" Varo memberanikan diri bertanya kepada Ananya yang dari tadi bersenandung lirih mengikuti lagu.
"Iya, suka. Kalau kakak suka juga ?" Ananya menjawab singkat kemudian balik bertanya kepada Varo.
"Suka sih, tapi apa mungkin jatuh cinta bisa seperti itu ?" Kata Varo.
"Jadi kak Varo belum pernah jatuh cinta ?" Ananya bertanya histeris seperti tidak percaya.
"Mmm... entahlah." Varo menjawab seadanya.
"Jadi kak Varo tidak punya kekasih?" Tanya Ananya lagi.
"Mmmm... belum. Memangnya kamu mau jadi kekasihku ?" Goda Varo dengan menarik senyum kecil menatapke arah Ananya.
Wajah Ananya bersemu merah mendengar perkataan Varo, sontak degup jantungnya seolah berpacu dengan roda mobil yang dikemudikan oleh Varo.
Yang ia tahu, ia mencintai Alvino sejak dulu namun ia bingung apakah cintanya terbalas atau tidak. Terkadang Vino sangat memanjakannya, dan seolah menunjukkan bahwa ia peduli padanya, namun terkadang pula Vino bertingkah yang membuatnya kesal.
Tapi sekarang, mendengar perkataan Varo ia kembali merasakan seperti terbang ke awan. Namun ia kembali tersadar, mengingat apa yang pernah di ceratakan oleh Vino tentang kakaknya. Alvaro sangat gila kerja, dan tidak akan mempedulikan wanita manapun.
"Ananya...!" Varo menyentil pipi Ananya.
"Ishsshh... Kak Varo, sakit tau !" Mengusap pipinya yang terasa sedikit sakit.
"Lagian kamu kenapa bengong gitu ? Jangan baper yah... kakak cuma becanda. Haahaa..." Varo berusaha meralat perkataannya.
"Tuh kan... jangan baper Nya. Tahan..tahan...!" batin Ananya.
.
.
.
..
.
Jangan Lupa dukunganya buat author.
Klik like dan berikan masukan di kolom komentar.
Add favorite, rate 5⭐⭐⭐⭐⭐
Jangan lupa Vote nya yah sayang-sayangku...
Terima kasih