
Sebelumnya....
"Bagus, istri yang pintar. Oh iya, di depan mereka jangan panggil kakak yah. Kata Varo lagi.
" Hah...? terus panggil apa dong ? Masa harus panggil sayang ??" kata Ananya asal.
"Yuuppp betul. Panggil sayang." Varo tersenyum, sedangkan Ananya cemberut.
"Memang harus seperti itu ?" Tanya Ananya polos.
Varo memilih tidak menjawab pertanyaan Ananya. Sebenarnya alasannya ingin terlihat dekat dengan Ananya di depan orang tuanya untuk meyakinkan keluarganya kalau pernikahannya bukanlah sekedar rasa kasihan. Ia tidak ingin orang tuanya beranggapan bahwa Varo tidak bahagia dengan pernikahannya. Soal Vino, ia sudah yakin bahwa Ananya dan Vino hanya sekedar berteman. Iapun tahu bahwa Ananya menyuai Vino, tapu tidak dengan Vino. Tugas Varo sekarang yaitu membuat Ananya jatuh cinta kepadanya, dan mereka akan menjalani kehidupan Rumah tangga yang sesungguhnya. Itulah harapan Alvaro.
Keduanya turun dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk utama Mansion keluarga wijaya.
"Kamu siap ?" Tanya Varo. Ananya mengangguk dengan penuh keyakinan.
Varo terlebih dahulu melangkahkan kaki nya menemui keluarganya, Ananya mengikuti dari belakang.
"Selamat malam semuanya.." Varo.
"Sayang, Mama barua saja akan menelponmu. Eh, Ada Ananya juga ? Ayo kita makan malam dulu. Bi Mirah menyiapkan makanan kesukaanmu nak." Ajak Diandra, Varo dan Ananya saling betukar pandang. Keduanya berjalan mengikuti Diandra.
Tidak lama kemudian, Ryan dan Vino pun ikut bergabung.
"Nya, sudah lama ?" Tanya Vino.
"Ba..baru saja." Anaya benar-benar gugup. Di tatapnya Vino dengan raut yang sulit di tebak.
"Kita akan mengatakannya setelah makan malam usai, bersikap biasalah." Bisik Varo pada Ananya, dan Ananya hanya mengangguk.
"Nya, besok kita ke party Mike bareng-bareng yah.." Kata Vino sambil menaruh makanan di pringnya.
"Tidak boleh !" Kata Varo.
"Aduh kak, kenapa sih kakak selalu saja menghalangi Vino. Kami cuma ke party teman kampus kami kak. Lagian acaranya juga di luar jam kerja jadi apa salahnya." Vino.
"Kalau kakak bilang tidak boleh ya tidak boleh. Ananya dan aku akan makan malam bersama client." Jawab Varo asal.
"Kenapa mesti menajak Ananya coba ? Kenapa tidak mengajak istri kakak saja." kata-kata Vino membuat Ananya kaget, dan terbatuk-batuk.
Varo memberikan segelas air putih kepada Ananya dan membantunya untuk minum.
"Vino...!" Bentak Diandra. Namun Vino tetap melanjutkan makannya, tidak memperhatikan yang lain.
Tanpa Varo sadari, Mama Diandra dan Papa Ryan memperhatikan sikapnya yang sedikit berlebihan memperlakukan Ananya.
"Bagaimana ini, kelihatannya Varo menyukai Ananya. Sedangkan Varo sendiri kini telah menikahi wanita lain." Batin Diandra yang merasa sedih, sesaat ia bertukar pandang dengan suaminya.
"Apakah wanita yag dinikahi putraku adalah Ananya ?" Gumam Ryan dalam hati. Ternyata ia dengan mudah menebaknya, berbeda dengan iaterinya yang masih salah faham.
Usai makan malam, Ryan dan Diandra menuju ruang keluarga, sedangkan Vino memilih ke kamarnya untuk melanjutkan permainan gamenya.
"Nya, ikut ke kamar ku, akan kutunjukkan koleksi buku terbaruku." Ajak Vino.
"Tidak boleh, Papa punya tugas untuk Ananya." Kali ini Ryan yang menghalau putranya.
Vinopun melangkahkan kakinya menuju anak tangga dan naik ke kamarnya. Sebenarnya, ia mukai merasa sesuatu janggal disini. Namun ia ebih memilih untuk pergi.
Ryan dan Diandra duduk di sofa, Varo dan Ananya kemudian menyusul orang tuanya ke ruang keluarga dan duduk di sofa yang lain.
"Sekarang, beritahu papa. Apa kecurigaan papa ini benar ? Kamu dan Ananya..." Ryan menggantungkan kata-katanya. Diandra menatap suaminya dengan penuh ketakutan. Ia tidak tega jika suaminya menuduh Ananya dan Varo tengah berselingkuh. Sedangkan Ananya hanya menunduk tidak berani menatap wajah Ryan.
"Iya, papa benar." Jawab Varo singkat. Hati Diandra benar-benar hancur mendengar pengakuan putranya. Air mata menetes tanpa ia sadari.
"Ananya adalah wanita yang Varo nikahi, Varo harap Mama dan Papa bisa menerimanya." Varo menggenggam tangan Ananya. Ada rasa sejuk di relung hati Ananya mendengar Varo mengakuinya di depan kedua orang tuanya, namun ia sendiri tidak ingin terbawa perasaan. Ia masih ingat apa yang dikatakan Varo tadi soal bersandiwara.
Diandra mengangkat wajahnya kaget, menatap anak dan menantunya itu.
"Apa benar itu nak ? Ananya adalah istri kamu ?" Diandra bertanya dengan semangat, keceriaan mulai nampak di wajahnya.
"Apa ? Kak Varo dan Ananya menikah ?" Vino tiba-tiba muncul dengan wajah yang tidak kalah kagetnya.
"Vino kenapa Ma ?" varo bertanya kepada ibunya.
"Sudah, jangan pedulikan adikmu. Dia hanya kaget." Jawab Diandra.
Berbeda dengan yang lainnya, Ananya merasa kepergian Vino karena marah besar kepadanya. Ia dapat melihat kekecewaan pada pria yang telah lama dekat dengannya. Seketika ia merasa sakit melihat pria yang ia cintai terluka karena dirinya.
"Aku tahu Vin, kamu marah dan kecewa sama aku. Maafkan aku, aku akan belajar dan berusaha untuk mengubur rasa cinta ini." Kata Ananya dalam hatinya.
"Ananya, jika benar kalian telah menikah, berarti Ibu kamu ?" Tanya Diandra dengan wajah sedihnya.
"Iya tante, Ibu sudah pergi untuk selamanya. Hiks.. hiks..." Ananya menangis, sontak Varo menariknya ke dalam dekapannya.
"Kenapa tidak memberi tahukan kepada kami nak ?" Diandra.
"Semuanya terjadi begitu saja tante, Nya juga bingung harus berbuat apa waktu itu." Varo melepaskan pelukannya saat Ananya akan menjawab pertanyaan ibunya.
"Kamu yang sabar yah nak," Diandra berpindah posisi duduk di samping Ananya. "Mulai sekarang, kamu jangan sedih lagi. Mama akan selalu ada untukmu, sekarang kamu jadi putri mama dan jangan panggil tante lagi. Mama tidak suka." Diandra membelai rambut panjang ananya, dan menyelipkan anak rambutnya yang berantakan ke belakang telinganya.
Alvaro bernafas lega, ternyata kedua orang tuanya tidak keberatan akan pernikahannya dengan Ananya. Namun satu hal yang masih mengganjal perasaannya, kepergian Vino tadi seolah tidak bisa pernikahan mereka.
"Setelah ini, papa mau kamu dan Ananya tinggal di rumah ini. kuharap kalian tidak keberatan." Kata Ryan.
"Maafkan kami pa, Varo rasa Ananya butuh waktu untuk hal itu. Dia masih dalam keadaan berduka, lagian Bunda Anna bibinya Ananya akan tinggal sendiri jika Ananya tinggal disini." Jawab Varo.
Ananya pun membenarkan kata-kata suaminya, ia menatap sang ibu mertua dengan tatapan memohon agar memebuhi permintaan Varo.
Sebenarnya Varo hanya ingin menjauhkan Vino dan Ananya untuk sementara waktu. Ia tidak ingin, perasaan Ananya akan semakin tumbuh jika terus berada di dekat Vino.
"Bukannya akan kebih baik jika Ananya tinggal disini ? Ia akan mendapati suasana baru dan bisa lebih mudah melupakan kesedihannya." Diandra.
"Mama, mengertilah. Kami akan melakukannya secara bertahap, okay ? Dan untuk sementara waktu, Varo akan tinggal bersama Ananya." Kata-kata Varo yang mengatakan akan tinggal bersama Ananya sontak membuat Ananya kaget.
"Iya kan sayang ?" Kata Varo meminta persetujuan Ananya.
"I...iya sa..yang..!" Ananya menjawabnya dengan terbata.
.
.
.
.
.
To be Continued.
Mohon meninggalkan jejak setelah membaca.
LIKE
COMMENT
SHARE
ADD FAVORITE
Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Vote Sebanyak-banyaknya.
Mohon kritik dan sarannya
Tetap jaga kesehatan yah teman-teman. Jangan anggap remeh pandemi ini.
Senantiasa jaga jarak, tetap gunakan masker dan rajin mencuci tangan
THANK YOU 🥰😘