
"Emhh ... Shhh ..," dessah seorang wanita di bawah kungkungan suaminya yang bergerak mendominan di atas tubuhnya.
"Ahh ..." Kali ini erangan sang suami yang terdengar sangat menggairahkan.
"Enak banget," racau Arjuna sembari memejamkan kedua matanya, meresapi rasa nikmat dari tubuh istrinya yang membuatnya candu.
Bibir mereka saling bertaut dan memanggut dengan penuh gairah yang menggelora, menggetarkan jiwa dan raga mereka berdua.
Sudah hampir satu jam mereka saling menyatu dan saling berbagi kenikmatan. Namun belum ada tanda-tanda jika mereka akan mengakhiri permainan panas itu.
"Ah ... Ah ..." dessah Aluna saat Arjuna menghentakkan senjatanya sampai ke titik yang paling dalam. Di tambah lagi Arjuna menyesap pucuk dadanya dan meremassnya bergantian membuat Aluna semakin merasa kenikmatan yang sangat luar biasa.
"Aku ... Ah ... Sampai ..." racau Aluna sembari meremat kedua bahu suaminya, kedua matanya memejam erat saat tubuhnya merasakan pelepasan yang begitu dahsyat.
"Aku juga sebentar lagi ... Oughhh ..." erang Arjuna sembari menghentakkan senjatanya sampai ke bagian yang paling dalam saat ia menyemburkan benih kualitas premium ke dalam rahim Aluna berharap jika benihnya itu bertunas, bertumbuh menjadi buah.
Arjuna menarik penyatuannya setelah ia menuntaskan pelepasannya itu. Kemudian ia menggulingkan tubuhnya ke samping istrinya dan merebahkan dirinya.
Keduanya mengatur nafas yang masih tidak beraturan. Percintaan yang ketiga kalinya dalam satu hari, lutut Aluna terasa sangat lemas dan tidak bertulang. Tubuhnya juga terasa remuk redam karena di bolak-balik suaminya seperti tempe goreng.
"Terima kasih, Aluna." Arjuna mengecup kening dan bibir istrinya dengan lembut.
"Aku lelah Pak Su. Lututku terasa lemas, bagaimana aku bisa kuliah besok?" ucap Aluna seraya melirik suaminya yang tidur miring menghadapnya.
"Jangan kuliah dulu," jawab Arjuna seraya mengusap pipi istrinya dengan lembut.
"Ish! Mana bisa seperti itu, besok ada Quis dari dosen killer, bisa tamat riwayatku kalau tidak masuk kuliah," rengek Aluna kepada suaminya.
"Ayo kita tidur, agar badannya besok lebih fress lagi." Arjuna menarik selimut yang ada di bawah kakinya, untuk menutupi tubuh polos mereka.
Arjuna tersenyum tipis saat melihat leher dan dada istrinya penuh dengan tanda kepemilikannya. Lalu ia merengkan kedua tangannya bertanda jika Aluna harus masuk ke dalam dekapannya.
Aluna tersenyum tipis lalu menghambur ke dalam dekapan suaminya. Dada bidang Arjuna saat ini menjadi tempat yang paling nyaman untuk Aluna bersandar. Dalam hati Aluna ingin terus merasakan kenyamanan seperti ini, sebuah kenyamanan yang sudah lama ingin ia rasakan, dan sebuah kenyamanan yang sudah lama tidak ia dapatkan dari seseorang yang ia cintai, Cinta Pertama yaitu ayahnya.
Bolehkan ia berharap lebih? Menemani Arjuna sampai menua nanti? Sebuah harapan yang sangat sederhana tapi apakah harapan itu bisa terkabul?
Arjuna memeluk Aluna dengan erat seraya mengusap-usap punggung polos Aluna dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Sesekali ia melabuhkan kecupan manis di pucuk kepala Aluna dengan mesra.
Perlakuan lembut Arjuna membuat Aluna semakin merasa nyaman dan membuat kedua matanya lama-kelamaan terpejam. Tertidur dalam dekapan suaminya, ia menelusupkan wajahnya ke dalam dada bidang Arjuna.
Arjuna mengulas senyum tipis saat melihat istrinya sudah terlelap di dalam dekapannya. Kemudian tidak berselang lama, Ia pun ikut tertidur dan mengarungi mimpi bersama dengan istrinya.
*
*
*
Pagi hari telah menyapa, suara kicauan burung bersahutan dan matahari telah menyinari bumi dengan sinarnya.
Arjuna bangun lebih awal dari biasanya, Ia pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk istrinya yang masih terlelap di dalam kamar. Tersenyum tipis sembari mengoleskan selai strawberry ke atas permukaan roti, ia membayangkan percintaan panasnya dengan Aluna yang ya masih begitu terasa nikmatnya di dalam benaknya.
"Waras, Bang?" tanya Asisten rumah tangganya yang sejak tadi melihat anak majikannya itu senyam-senyum sendiri.
Arjuna menoleh dan melemparkan senyuman lebar kepada Bibi yang merawatnya sejak kecil itu.
"Habis dapat jackpot, Bi. Makanya aku sangat senang dan bahagia," jawab Arjuna seraya melemparkan senyuman yang lebar kepada Asisten rumah tangganya itu.
"He-em. Aku juga tidak menyangka bisa mendapatkan istri seperti Aluna," jawab Arjuna, pandangan matanya menerawang ke depan. Masih mengingat saat pertama kali dirinya bertemu dengan Aluna dengan situasi yang tidak terduga. Menikah dalam keadaan mabuk, membawanya masuk kebiduk rumah tangga yang awalnya tidak ia harapkan, tapi saat ini malah kebalikannya, ia mempertahankan pernikahannya dan akan menjadikan Aluna istri satu-satunya di dalam hidupnya.
"Sepertinya Abang sangat mencintai, Aluna. Benar 'kan?" tebak Bibi.
Arjuna tersadar dari lamumannya saat mendengar suara Bibi yang berbicara kepadanya.
"Apakah terlihat seperti itu?" tanya Arjuna sembari menatap Bibi yang sedang menata sarapan di atas meja.
"Iya. Kalau kata anak jaman sekarang itu Abang bucin, budak cinta. He he he he," jawab Bibi tertawa kecil di akhir kalimatnya.
Arjuna tersenyum malu menanggapinya, kemudian ia segera kembali ke kamar sembari membawa nampan yang berisi beberapa potong roti selai strawberry dan segelas susu coklat, kesukaan istrinya.
Sampai di dalam kamar, Arjuna menatap istrinya yang masih bergelung di dalam selimut tebal yang menutupi tubuh polosnya. Arjuna melangkah, lalu meletakkan nampan yang ia bawa di atas nakas.
"Pasti dia masih kelelahan," ucap Arjuna, naik ke atas tempat tidur dan memeluk tubuh istrinya dengan erat, seraya mengusapkan rahangnya yang di tumbuhi bulu lebat itu ke permukaan pipi istrinya.
"Eughh ... jangan menggangguku. Aku masih ngantuk," ucap Aluna yang masih memejamkan kedua matanya. Terasa malas sekali bangun dari tidurnya karena tubuhnya terasa remuk bagai tidak bertulang.
"Aku mau minta nambah lagi. Boleh 'kan?" bisik Arjuna sembari menahan tawanya.
Sontak saja mendengarkan bisikan suaminya itu langsung membuat kedua mata Aluna terbuka dengan lebar, lalu memukul lengan suaminya yang memeluk perutnya dengan erat.
"Apakah kamu tidak merasa lelah sama sekali? Astaga!" kesal Aluna kepada suaminya yang tertawa terbahak-bahak.
"Aku hanya bercanda. Mana mungkin aku melakukannya lagi, karena anu mu masih sakit 'kan," jawab Arjuna seraya menyentuh lembah yang di tumbuhi rumput tipis berwarna hitam.
"Ck!! Aku tidak percaya dengan kata-katamu!" Aluna mencebikkan bibirnya saat merasakan si junaedi sudah mengeras dan menggeliat di bawah sana.
Arjuna terkekeh geli saat mendengar ucapan istrinya, kemudian ia melepaskan pelukannya dan menyuruh istrinya untuk bangun dan sarapan.
"Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu," ucap Arjuna seraya meletakkan nampan yang berisi roti dan segelas susu itu di pangkuan istrinya.
Aluna tersenyum gembira saat melihat Arjuna yang begitu perhatian kepadanya. "Terima kasih, Pak Su," ucap Aluna tulus, dan segera menyantap sarapannya.
Kedua mata Arjuna memicing dan jangkunnyan naik turun saat melihat bagian dada istrinya tereskpos karena Aluna tidak sadar jika selimut yang ia kenakan melorot.
"Aluna, bolehkah aku minta susunya?" tanya Arjuna pandangannya tidak lepas dari dada istrinya yang besar dan penuh dengan jejak kepemilikannya.
"Ini." Aluna menyerahkan segelas susu kepada suaminya.
"Bukan susu yang ini, tapi susu yang itu," tunjuk Arjuna ke dada istrinya.
Aluna mengikuti arah telunjuk suaminya, ia menunduk dan betapa terkejutnya ia melihat dadanya tidak tertutup sama sekali.
"Dasar mesum!!" umpat Aluna seraya menarik selimut dan menjepitnya di bawah kedua ketiaknya.
"Apa salahku? Aku hanya ingin jadi bayi besar," rajuk Arjuna sembari memanyunkan bibirnya.
***
Ciee yang ketagihan, bawaanya pengen nyesap terus ya 🤣🤣🤣🔥🔥
Sawerannya mana bestie?? Vote dan votee ya!!