
"Sudah bangun...!" Kata Varo yang duduk di meja kerjanya menatap ke arah Ananya yang nampak kebingungan menatap kesana kemari.
"Sudah pagi yah ?" Tanya Ananya.
"Belum, ini baru jam 9 malam. Apa kamu lapar ?"
"I..iya... sedikit." Jawab Ananya sambil memperbaiki posisi selimut yang menutupi tubuh polosnya.
"Apa kamu keberatan jika aku keluar mencari makanan ?" Tanya Varo lagi.
"Sebenarnya tidak, tapi bagaimana kalau kita delivery aja ?" Ananya memberi pilihan.
"Baiklah, sambil menunggu makanannya datang kita bisa mengulang yang tadi sore." Seringai Varo dengan senyum nakalanya.
"Iishhh.... kak Varo..!!?" Ananya menyembunyikan wajahnya di balik selimut karena malu.
"Kamu lupa, aku ini suamimu, bukan kakakmu." Kata Varo yang berjalan mendekati Ananya yang masih duduk di tempat tidur dengan tubuh yang hanya terbalut selimut. Tentu saja keadaan Ananya yang seperti itu sangat menguntungkan bagi Varo.
Merekapun kembali kembali mereka ulang kejadian indah tadi sore. Namun sebelumnya Varo memesan makanan yang akan mereka santap untuk mengisi kembali tenaga mereka yang habis terkuras di ranjang.
*******
"Mama..." Kata Serly yang menghampiri Diandra di ruang keluarga.
"Iya, kenapa sayang ?" Diandra menoleh ke arah Sherly.
"Kak Varo dan istrinya gak pernah datang yah ? Sunyi juga yah gak ada kak Varo di rumah." Kata Sherly yang bersandar di bahu Diandra.
"Hhmm... tadi Siang Varo dan Nya makan siang di runah kok. Kamunya aja yang sibuk di kantor..!" Kata Diandra menoel hidung Sherly.
"Benarkah ? Kak Varo itu benar gila kerja yah, Ma... Di kantor saja Sherly sangat jarang melihatnya. Palingan kami hanya berpapasan saat di jalan, itupun Kak Varo tidak pernah menegur Sherly." Curhat Sherly pada Diandra.
"Kamu tahu sendirikan Varo orangnya memang seperti itu, tapi bagaimana dengan Vino ? Apa dia masih suka mengganggumu ?" Tanya Diandra balik.
"Vino ? Tidak tante, Sherly juga jarang melihat Vino belakangan ini." Jawab Sherly.
"Vino juga sangat jarang berada di rumah. Apa dia mulai dekat lagi dengan seorang wanita ?" Lidik Diandra.
Sherly nampak gelisah mendengar perkataan Diandra. Ia tidak mungkin menceritakan kepada Mama Diandra perihal Vino yang mencintai isteri kakaknya.
"Sher.... kamu kenapa nak ? Apa ada yang kamu sembunyikan dari Mama ?" Tanya Diandra yang nampak curiga.
"Eh, tidak Ma... Sherly cuma mengingat-ingat waktu itu Vino sedang berbicara dengan salah satu karyawan wanita. Kelihatannya keduanya sangat akrab. Tapi Sherly juga tidak yakin sih Ma..." Jawab Sherly asal.
"Hhmm.... Berarti Mama harus mengawasi Vino mulai sekarang. Mama tidak mau dia salah memilih wanita. Kamu tahu kan bagaimana sifat Vino yang selalu sembrono. Mama khawatir jika dalam memilih wanita dia pun asal. Jika wanitanya baik, pintar dan cantik seperti Sherly sih Mama gak keberatan." Ucap Diandra sambil memegang pipi mulus Sherly.
"Aaahhh... Mama bisa saja. Andai saja kak Varo menyukai Sherly yah Ma..!" Kata Sherly lirih. Diandra kaget mendengar pengakuan Sherly.
"Sherly..."
"Ah, tidak ma... Maksud Sherly..."
"Sher.... Apa kamu menyukai Varo ?" Tanya Diandra yang tidak di jawab oleh Sherly.
"Maafkan mama sayang, mama benar-benar tidak tau. Selama ini mama tidak pernah mempedulikan perasaanmu,nak." Kata Diandra.
"Sudahlah, Ma... semuanya sudah berlalu. Semoga Kak Varo bisa bahagia dengan istrinya. Sherly kan kuat, Ma..." Jawab Sherly memperlihatkan otot lengan atasnya. Keduanya saling berpelukan dan tertawa bersama.
"Kenapa sih nak, kamu kayaknya dari dulu sukaaaa banget gangguin Sherly. Awas nanti jatuh cinta !" Kata Diandra seperti mengancam anaknya.
"Jatuh cinta sama cewek cengeng kayak dia ? Gak bakalan Ma...." KataVino.
"Ye.... sok ganteng. Kalau kamu mau sama akupun pasti bakal aku tolak." kata Sherly menjulurkan lidahnya ke arah Vino. Vinopun sontak menarik hidung bangir Sherly.
Diandra hanya tertawa melihat tingkah Vino dan Sherly yang bagai tom and jerry. Keduanya memang tidak bisa bertemu, ada-ada saja yang akan mereka ributkan.
"Andai Varo dan Ananya juga ada disini, pasti akan lebih menyenangkan melihat keseruan mereka." Gumam Diandra dalam hatinya.
"Sudah, sudah... kalian ini seperti anak kecil saja. Vin, kamu kemana saja nak, Mama perhatikan kamu jarang pulang ke rumah." kata Diandra.
Raut wajah Vino berubah seketika mendapat pertanyaan dari Ibunya. Ia tidak mungkin mengatakan jika selama ini ia menghindari sang kakak yang membuatnya kecewa. Padahal tanpa ia ketahui bahwa Alvaro pun selama ini sudah tinggal di apartemennya sendiri.
"Maaf, Ma... Vino kan sekarang sudah mulai bekerja, jadi Vino banyak menghabiskan waktu di kantor." jawabnya asal.
"Rajin-rajinlah pulang ke rumah, nak... Mama kesepian di rumah. Paling ridak pulanglah makan siang dan makan malam. Kakakmu kan sudah berumah tangga dan sudah tinggal dengan isterinya, jadi pasti perhatiannya sudah terbagi untuk mama. Kamu sama Sherly makan siang di runah yah nak." Pinta Diandra.
"Kakak tinggal sama Nya ? di rumahnya Nya Ma ?" Tanya Vino seperti keheranan.
"Mereka sekarang sudah tinggal di apartement, katanya sih mau belajar mandiri." Jelas Diandra.
"Kok Vino gak tau, Ma ?" Vino semakin keheranan. Ia pikir selama ini Varo tinggal di rumahnya itulah sebabnya mengapa ia lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah.
"Memangnya segala sesuatunya harus kamu ketahui ?" Celutuk Sherly.
"Anak kecil diamlah... Kalau gitu Vino ke kamar yah, Ma... Selamat malam Ma." Ucap Vino sebelum mengecup kening ibunya dan berlalu menuju kamarnya.
"Sherly juga ke kamar yah, Ma... sudah ngantuk. Mama juga istirahatlah." kata Sherly yang kemudian memeluk tubuh Diandra dan berlalu.
********
Sherly nampak termenung di dalam kamarnya, kata-kata Diandra ternguang-ngiang dalam benaknya. Ia seolah menyesali, mengapa ia tak mengatakan perasaannya kepada Diandra. Jikalau mungkin ia dari dulu jujur kepada Diandra, mungkin kini ia telah di jodohkan dengan Varo, lelaki yang ia cintai sejak kecil.
"Kak Varo.... kenapa sangat susah untuk melupakanmu. Apa masih ada peluang untukku untuk memilikimu ? Oh tidak, tidak... aku tidak boeh seperti ini. Ini salah, maafkan aku Tuhan.." Gumam Sherly lirih.
Ia menatap dinding kamarnya yang terpajang fotonya dengan Varo dan Vino. Dari kecil, Varo memang sudah nampak berkhrisma. Pembawaannya yang tenang dapat memikat hati wanita manapun, tak terkecuali dirinya.
"Life must go on, aku pasti akan melupakanmu, Kak..!" Kata Sherly pada diriny sendiri.
Sherly akhirnya merebahkan tubuhnya di kasur empuk miliknya, tak butuh waktu lama ia pun akhirnya terbuai ke alam mimpinya.
Hari ini begitu berat baginya, karena harus memeriksa laporan keuangan perusahaan pusat bahkan sampai ke anak perusahaan. Alvaro sengaja menempatkannya di bagian auditor karena ia tahu kemampuan Sherly yang bisa diandalkan. Sebenarnya alasan lain Varo yaitu ingin memberikan kesibukan kepada Sherly agar tidak sering memikirkannya, Varo tau persis bagaimna perasaan Sherly kepadanya. Ia tidak ingin jika Sherly terus-terusan mengharapkannya, sedangkan Varo sendiri sudah mencintai wanita lain yang tak lain adalah istrinya Ananya. Dengan memberinya kesibukan, Varo berharap ia akan berangsur melupakannya.
.
.
.
TO BE CONTINUED
Terus dukung author yah, jangan lupa like, comment dan Vote sebanyak-banyaknya. Tolong hargai author, masukan dan saran silahkan ketik di kolom komentar. Jangan di hujat apalagi di bully. Author masih pemula, dan baru belajar. Terimakasih