
Nyonya Kim dan Tuan Kim saat ini sedang mencari alamat rumah Arjuna.
"Mommy yakin jika mereka tinggal di perumahan mewah ini?" tanya Tuan Kim kepada istrinya yang menunjukkan jalan.
"Sebenarnya rumah Jeng Fika, tapi Mommy yakin jika anak dan menantu kita tinggal di sana," jawab Nyonha Kim sembari menatap layar ponselnya yang tertera alamat rumah Arjuna yang ia dapat dari teman sosialitanya.
"Cluster Halu, Blok NT, nomer 5," ucap Nyonya Kim saat memasuki salah satu Cluster yang paling mewah di perumahan tersebut.
Nyonya Kim menatap satu persatu nomor rumah yang ia lewati. "Stop! Ini dia," ucap Nyonya Kim kepada suaminya.
Tuan Kim menghentikan mobilnya tepat di depan pintu gerbang yang menjulang tinggi.
"Woah!! Ini pintu gerbangnya saja sudah seperti ini, pasti rumahnya seperti istana ya, Dad." Nyonya Kim sangat antusias, bahkan ia terlihat sangat kampungan.
"Arjuna ternyata anak Sultan." Tuan Kim membenarkan ucapan istrinya.
Keduanya keluar dari dalam mobil, menuju pos satpam yang letaknya di sebelah kiri gerbang rumah tersebut.
"Selamat sore, Pak. Saya ingin bertemu dengan anak dan menantu saya," ucap Nyonya Kim kepada dua satpam yang berada di Pos tersebut.
"Siapa anak dan menantu, Ibu?" tanya salah satu satpam sambil memindai wanita dan pria yang berdiri di luar Pos tersebut, sepertinya tidak asing dan pernah melihatnya. Tapi, entah di mana, ia lupa.
"Aluna dan Arjuna," jawab Nyonya Kim dengan penuh rasa bangga.
Kedua Satpam tersebut saling pandang, lalu menganggukkan kepala.
"Sesuai dengan standar SOP keamanan di sini, kalian harus menunggu dan mendapatkan persetujuan dari Papi Emanuel, dan kalian juga harus di periksa terlebih dahulu," jelas salah satu Satpam.
"Ribet sekali sih! Apakah kalian tidak mengenali kami?!" kesal Nyonya Kim dengan sangat angkuh.
"Mom, kita ikuti prosedurnya!" Tuan Kim menegur istrinya.
"Mau siapa pun, Anda. Harus tetap mematuhi peraturan yang sudah di buat, Tuan dan Nyonya. Mohon kesediaannya untuk di periksa terlebih dahulu," ucap Satpam tersebut.
Salah satu Satpam berjalan menuju rumah untuk memberitahukan jika ada tamu yang ingin bertemu dengan Aluna dan Arjuna, namun langkahnya terhenti di ambang pintu saat melihat anak dan menantu majikannya itu sedang saling mencaplok bibir di ruang tamu.
"Duh, ketuk pintu nggak ya? Apa langsung masuk saja? Nanti Bang Juna marah, kalau aktifitasnya di ganggu." Satpam tersebut menjadi serba salah, ia pun memundurkan langkahnya.
"Bang Juna nggak tahu tempat sekali!" rutuk Satpam tersebut, lalu memutuskan untuk lewat pintu samping.
"Ehmm ... Arjuna, nanti ada yang melihatnya." Aluna mendorong dada bidang suaminya, hingga ciuman mereka terlepas dengan paksa.
"Mereka tidak akan melihat. Ya 'kan, Bi?" tanya Arjuna kepada Bibi yang sedang menyapu tidak jauh dari sana.
"Ya, saya tidak melihat apa pun," jawab Bibi sembari menundukkan kepalanya, menjadi malu sendiri dengan tingkah pasangan suami istri yang sedang di mabuk cinta itu.
"Tuh, kamu dengar sendiri kalau Bibi tidak melihat kita berciuman. Kita lanjut di kamar yuk," ajak Arjuna yang sudah mulai On kembali.
"Ih, tidak mau. Nanti kamu minta lebih." Tolak Aluna, yang sudah hafal dengan modus suaminya.
"Aku hanya meminta sedikit saja, tidak lebih," bujuk Arjuna.
Aluna menatap jengah suaminya.
"Baiklah, lagi pula ada Pil KB yang membuatku tidak hamil," ucap Aluna sambil beranjak dari duduknya.
Arjuna menggembungkan pipinya, menahan tawa yang sudah ingin menyembur keluar, saat mendengar ucapan istrinya mengenai Pil KB.
Nepuk jidat sama kepolosan Aluna 🤣🤣🙈