Suddenly Married

Suddenly Married
Selamat tinggal, Ananya



Malam mulai tiba, setelah makan malam usai, Ananya yang dibantu oleh Nayla membereskan dapur kemudian menuju kamar tidurnya menyusul Varo yang sedari tadi menunggunya disana.


"Belum tidur ?" Sapa Ananya yang melihat Varo duduk di tepi ranjangnya.


"Hmm... aku menunggumu."


"Oh, ya ? Maaf aku lama." kata Ananya sembari mendekat ke arah Varo.


"Ananya, apa kamu bahagia ?" Pertanyaan Varo sontak membuat Ananya kaget.


"Maksud kak Varo ?"


"Ananya, aku tidak akan membuang-buang waktu lagi. Kita membahas masalah ini sudah berulang kali. Kumohon tegaslah, Ananya. Harus diapakan pernikahan ini !?" kata Varo.


"Apa yang harus aku lakukan ? Disisi lain aku masih mencintai Vino, namun di sisi lain kak Varo adalah suamiku yang sah." Batin Ananya.


"Bisakah kak Varo memberiku waktu ?" Pinta Ananya.


"Tidak lagi Ananya, aku tau ini terlalu cepat buatmu. Tapi cobalah berpikir dari sisiku, apa yang harus aku katakan kepada mama, papa, bunda serta paman dan bibi. Kita hanya berputar-putar pada satu masalah, tanpa adanya penyelesaian." Varo nampak frustasi.


Hening...


Setelah ucapan Varo, lagi-lagi Ananya tak berkomentar apa-apa. Lidahnya benar-benar kelu tak bisa berkata. Apa yang dapat ia ungkapkan ? sedang menatap Varo pun ia tak mampu.


Ponsel Ananya berdering memecah keheningan keduanya. Sekilas ia menatap layar ponsel, ternyata panggilan dari Vino. Ia pun mengangkat panggilannya.


"Iya, Vin...?!"


"Kamu lagi dimana ?"


"Aku lagi di rumah Paman Aiman, kenapa ?"


"Apa kakak bersamamu ?"


"Iya, kak Varo juga disini. Ia datang menyusulku kesini."


"Baiklah..."


"Tapi, Vin... Halo...?!"


Tuu...tut...tuutt....!


Panggilan terputus. Ananya semakin panik, ia melihat gurat emosi di wajah Varo.


"Telepon dari Vino ?" Tanya Varo.


"I...iyaa.. kak." Jawab Ananya dengan gugup.


Kini giliran ponsel Varo yang bergetar pertanda notifikasi pesan yang masuk ke ponselnya.


📩 Vino tau kakak bersama Ananya sekarang. Vino hanya ingin menagih janji kepad kakak. Semoga kakak segera menyelesaikan permasalahan kakak dengan Ananya. Jika memang kakak tidak peduli dengan perasaan Vino, setidaknya kakak masih peduli dengan perasaan Ananya. Apa kakak tega menghancurkan masa depannya ? Apa kakak tega membiarkan Ananya hidup dengan orang yang sama sekaki tidak ia cintai ? Yang di cintai Ananya hanya Vino kak, bukan orang lain.


"Vino.... Kamu benar. Aku tidak boleh egois memaksakan kehendakku kepada Ananya." Batin Varo.


Setelah membaca pesan dari Vino, Varo menyapu wajahnya dengan kasar dan berkacak pinggang membelakangi Ananya.


"Okay, Ananya. Sepertinya kamu belum bisa menerimaku dan melupakan Vino. Aku tidak memintamu untuk langsung mencintaiku sekarang ini, tidak. Aku hanya ingin kamu menghargai pernikahan kita, menghargai aku sebagai suamimu. Aku hanya ingin kau memberikan kesempatan untuk KITA. Aku bukan dewa Ananya, kesabaranku juga ada batasnya. Begini saja, malam ini juga aku akan pulang ke rumah. Aku akan pamit kepada paman, dan dalam waktu tiga puluh menit jika kamu tidak menyusulku ke bawah, maka tidak usah di jelaskan lagi. Ingat, aku tidak mengancammu, sama sekali tidak. Ikut aku pulang, dan membuka lembran baru hubungan kita, atau tetap tinggal disini dan pernikahan kita berakhir. Pikirkanlah !"


Varo meninggalkan Ananya yang mematung dan nampak bimbang. Bagaimana mungkin ia bisa berpikir secepat itu, pilihan yang harus ia pilih kali ini benar-benar sulit.


Tiba-tiba, bayangan Ibunya hadir menari-nari dalam benakka, sangat terdengar dengan jelas di telinga dan kepalanya nasihat terakhir yang ibunya berikan. Air mata Ananya semakin deras, ia semakin bingung.


Setelah Varo meninggalkan Ananya di dalam kamar, ia menemui Pamana Aiman dengan maksud ingin berpamitan kembali ke Kota J. Namun ia tidak mengatakan jika Ananya uga akan ikut. Ia tidak ingin berharap terlalu banyak kepada Ananya, jikalau pun pada akhirnya Ananya akan ikut denganya, ia pun tidak akan menolaknya.


Dua puluh lima menit berlalu, Ananya belum juga menunjukkan batang hidungnya. Alvaro tersenyum kecil membayangkan bagaimana tragisnya pernikahannya itu. Menikah dengan gadis yang ia cintai pada pandangan pertama, namun tak mendapatkan balasan sama sekali.


"Hmm... Tidak ada tanda-tanda ia akan turun. Sepertinya kita memang tidak di takdirkan bersama. Selamat tinggal Anannya..!" Batin Varo.


"Paman, Varo berangkat sekarang yah, sebelum larut." Pamit Varo.


"Kenapa tidak menunggu pagi saja nak, bahaya loh menyetir malam-malam begini." Kata Aimna.


"Tidak apa-apa paman, lagian besok Varo harus ke kantor pagi sekali karena ada rapat penting yang haris Vato ikuti dengan client." Tolak Ananya dengan halus.


"Terus, Ananya ?! Apa ia tidak ikut bersamamu nak ?" tanya Aiman heran.


"Hhm... tidak paman. Katanya ia masih ingin berada disini,, jadi biarkan saja ia menikmati liburannya dsni." Jawab Varo dengan maksud menutupi aib rumah tangganya, meskipun sebenarnya paman Aiman harus tahu masalah ini.


.


.


TO BE CONTINUED


Maaf author cuma bisa update segini, author sudah ngantuk parah. Maklumlah auathor lagi hamidun baru 3 minggu jadi sangat wajar jika author gampang capek.


Tolong, bantu author untuk memberikan rate 5 bintang


Tinggalkan jejak anda setelah membaca novel****ku.


Like dan comment please...


VOTE SE IKHLASNYA DAN SEBANYAK-BALASAN