
Sampai di dalam kamar hotel mewahnya. Arjuna menurunkan istrinya di tepian tempat tidur.
"Jangan khawatirkan aku. Aku sudah merasa lebih baik," ucap Aluna kepada suaminya yang terlihat cemas.
"Jangan banyak bicara!" tegas Arjuna, lalu menghubungin dokter keluarganya untuk memeriksa kesehatan Aluna.
"Arjuna, aku hanya butuh istirahat saja," ucap Aluna lagi.
"Menurutlah, Lun." Kali ini Arjuna berkata lebih lembut.
"Baiklah," jawab Aluna pada akhirnya.
"Tapi, bantu aku untuk berganti pakaian. Tidak mungkin 'kan dokter memeriksaku dengan gaun pengantin ini," ucap Aluna sembari memperhatikan penampilannya.
Arjuna menganggukkan kepala sebagai jawaban, lalu segera membantu melepaaskan gaun pengantin dari tubuh ramping istrinya.
Jangkunnya naik turun, baru melihat punggung mulus istrinya saja sudah membuatnya On.
"Sudah belum?" tanya Aluna yang membelakangi suaminya.
"Su-sudah," jawab Arjuna, lalu berjalan menuju ruang ganti dan mengambil dress untuk istrinya.
Ia harus menahan hasratnya, mengingat istrinya sedang tidak enak badan.
Setelah berganti pakaian. Aluna merebahkan diri di atas tempat tidur dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal.
Tidak berselang lama dokter yang sejak tadi di tunggu akhirnya datang. "Lama sekali, Om!" kesal Arjuna kepada dokter tersebut saat memasuki kamar hotelnya.
"Sebenarnya aku tidak mau datang ke sini, karena kamu mengadakan resepsi tidak mengundangku!" sahut dokter tersebut, mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar hotel mewah tersebut, dan tatapan matanya berhenti saat melihat seorang wanita tidur di sana.
"Istrimu yang mau di periksa?" tanya dokter tersebut.
"Iya," jawab Arjuna berjalan menuju tempat tidur membangunkan istrinya.
"Tiduran saja jika kepalanya pusing," ucap dokter, saat melihat Aluna ingin bangun. "Sudah berapa lama kalian menikah?"
"Apa hubungannya dengan sakitnya istriku dan usia pernikahanku?" tanya Arjuna sambil memperhatikan istrinya yang sedang di periksa dokter tersebut.
"Jawab saja!" kesalnya lalu tersenyum kepada Aluna.
"Apa yang kamu rasakan saat ini?" tanya dokter tersebut sembari menempelkan stetoskop di dada atas Aluna.
"Mual, pusing, dan lemas," jawab Aluna sembari menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan.
Dokter tersebut tersenyum lalu menganggukkan kepalanya berulang kali, paham dan menyimpulkan sesuatu yang besar.
"Jadi, sudah berapa lama telat datang bulan?"
Wajah Aluna merona malu saat di tanya dengan pertanyaan yang sensitif seperti itu, terlebih lagi yang bertanya adalah seorang pria.
"Hei! Hei! Apakah kamu tidak melihat jika istriku malu dengan pertanyaanmu itu?!" Arjuna menjadi kesal sekali, karena mulut dokter tersebut tidak berfilter.
"Ck! Periksakan istrimu ke dokter kandungan karena aku yakin jika istrimu saat ini sedang mengandung benihmu," jawab dokter tersebut seraya beranjak dan membereskan peralatan medisnya. Berdecak kesal lagi saat melihat pasangan suami istri itu diam tidak bersuara.
Mungkin mereka sangat terkejut.
"Hei, kalian kenapa diam saja? Apakah kalian tidak senang dengan kabar ini?"
"Hah? Kabar apa?" tanya Arjuna dengan bodohnya.
"Istrimu sepertinya mengandung, dan bawa dia ke dokter kandungan." Dokter dengan kesal mengulangi ucapannya lagi.
Arjuna membekap mulutnya dengan kedua telapak tangannya, tidak percaya dengan ucapan dokter tersebut. Rasa senang dan bahagia membuncah di dalam dada.
"Benarkah itu? Istriku mengandung?" tanya Arjuna lagi.
"Delapan puluh persen, sangat yakin jika istrimu mengandung," jawab dokter dengan yakin.
Aluna mengusap perutnya yang rata. "Bukankah aku sudah membeli pil KB? Kenapa bisa hamil?" gumam Aluna, sambil berfikir keras.
***
Sakarepmu Alunaš¤£š¤£
Pil KB itu di minum bukan di simpanš