Suddenly Married

Suddenly Married
Di gosok-gosok sampai Jos!



Aluna menatap kedua orang tuanya bergantian. Saat ini semua orang berkumpul di ruang tamu, setelah perkelahian satu lawan satu dan di menangkan Mama Fika telah selesai.


Tuan Kim dan istrinya duduk di sofa berseberangan dengan Aluna dan Arjuna. Sedangkan Fika dan Nue duduk di sofa yang sama namun dengan jarak yang lumayan jauh.


Nyonya Kim mengelus pipinya yang masih terasa sakit, karena pukulan yang di berikan oleh Fika sangat kuat. Ruam biru pun mulai tercetak jelas di pipinya.


“Aku dan Arjuna sudah memaafkan Mommy dan Daddy. Jadi, aku harap kalian tidak membuat keributan lagi di sini. Malu.” Aluna mengawali pembicaraan di ruang tamu itu yang terasa dingin, dan mencekam. Pasalnya, Fika masih menatap tajam besannya, seolah belum puas menghajarnya.


Nyonya Kim yang menundukkan kepala, kini mengangkat kepalanya dan memandang putrinya dengan kelegaan. “Benarkah?”


“Iya, Mom.”


Pandangan Nyonya Kim beralih pada Arjuna yang merasa jengah menatapnya. “Mommy minta maaf kepadamu, Arjuna. Karena pernah menghinamu dan mengusir kalian dari rumah,” ucap Nyonya Kim hanya sebatas akting belaka, karena di dalam hati bersorak bahagia karena rencananya berhasil, ia bisa mendekatkan diri pada anak dan menantunya itu.


Dan rencana selanjutnya adalah ia ingin membujuk Arjuna untuk mempromosikan dirinya agar menjadi BA di Warjah Grup, perusahaan Kosmetik milik Jaiden Clark.


Dasar Nyonya Kim!


“Iya,” jawab Arjuna dengan malas. Sudah bisa menebak apa yang sedang di pikirkan oleh ibu mertuanya yang matre dan licik itu.


“Sekarang sudah clear! Jadi Tuan dan Nyonya Kim silahkan pergi dari rumah ini,” usir Fika yang masih di selimuti emosi.


Nyonya Kim yang takut dengan besannya itu pun segera beranjak sambil menarik tangan suaminya. Segera pulang dari sana.


Fika pun beranjak dari sana, menuju ruang gym untuk melampiaskan emosinya yang belum sepenuhnya tersalurkan semuanya.


Ruang tamu menjadi lengang, dan hening. Aluna bernafas lega karena semua masalah sudah terselesaikan.


“Minggir!” Aluna merasa risih dengan tingkah suaminya yang tidak tahu tempat dan tidak punya malu sama sekali. Apalagi di ruang tamu tersebut masih ada ayah mertuanya.


Nue melirik anak dan menantunya itu sambil berdehem pelan. “Ke kamar sana. Kalau sudah merasakan yang anget dan menjepit, rasanya ingin nancep terus ya, Jun,” ucap Nue tidak berfilter, menyindir putranya itu.


“Papi!!” geram Arjuna. Istrinya menjadi malu karena ucapan ayahnya itu.


“Apa? Papi ‘kan bicara apa adanya. Huh!” Nue pergi dari ruang tamu sambil mengibaskan rambut cepaknya dengan kesal, berjalan lenggak-lenggok bagaikan model papan teriplek.


“Bisa begitu ya?” ucap Arjuna saat memperhatikan cara berjalan ayahnya, sambil tertawa ringan.


“Husst! Itu Papi kamu sendiri, dasar tidak sopan!” Aluna menepuk tangan suaminya sedikit keras.


Arjuna memeluk istrinya dengan erat, lalu mengecup pipi istrinya dengan mesra. “Kita lanjutkan yang tadi, yuk!” ajak Arjuna sambil mendusel leher Aluna.


Aluna menggigit bibir bawahnya. Tubuhnya terasa sangat lelah dan letih, ia butuh istirahat karena setiap waktu suaminya itu meminta jatah.


“Ah, aku lapar. Kita makan siang lebih dulu,” ucap Aluna sengaja mengulur waktu.


“Sayang, jangan beralasan,” rengek Arjuna seperti anak kecil, sambil menggosok-gosok Si Junaedi yang sudah ingin bertemu dengan soulmate-nya.


Aluna berdecak kesal, lalu segera beranjak menuju dapur tanpa memedulikan suaminya yang merengek seperti anak kecil. “Apakah dia tidak lelah? Sehari sudah kayak minum obat.”


***


Bestie, vote-nya mana? Berikan aku vote, please🥺🥺