
Setelah selesai makan bersama, pasangan suami istri itu menuju pulang ke rumah dengan perut yang sudah kenyang.
Sampai di rumah. Aluna masih merasa gelisah dengan permintaan Arjuna, tepatnya permintaan ibu mertuanya yang ingin segera mendapatkan cucu darinya.
"Bagaimana ini?" batin Aluna dengan perasaan resah.
"Kenapa masih diam di sana? Ayo masuk." Arjuna menegur istrinya yang masih diam di dalam mobil.
"Eh, iya!" Aluna terperanjat, lalu segera turun dari mobil, mengikuti suaminya dari belakang dengan tatapan kosong.
BRUK
"Awww!" pekik Aluna yang tidak memperhatikan jalan, dan keningnya membentur sesuatu yang keras sehingga dirinya meringis sakit.
"Siapa yang melatakkan tiang di sini?" keluh Aluna, sembari mengusap keningnya. Lalu ia membuka kedua matanya, dan ternyata yang ia tabrak adalah dada bidang suaminya sendiri.
Arjuna menaikkan sebelah alisnya sambil menatap istrinya dengan intens. "Kamu kenapa? Sejak tadi bengong?" tanya Arjuna lalu menyentuh kening istrinya. Ia berfikir jika istrinya itu sakit, maka dari itu menjadi tidak fokus.
"Tidak panas," gumam Arjuna, lalu menurunkan tangannya, lalu menggandeng tangan istrinya menuju kamar mereka yang ada di lantai atas.
"Aku hanya merasa lelah," jawab Aluna pelan, saat mereka sampai di dalam kamar.
"Ya sudah kalau begitu kamu istirahat saja. Aku mau lanjut ke hotel lagi," jawab Arjuna, seraya menangkup sebelah sisi wajah istrinya dengan lembut, lalu ia memajukan wajahnya dan mengecup bibir Aluna dengan penuh kasih.
Aluna memejamkan kedua matanya saat merasakan benda kenyal itu mendarat di permukaan bibirnya. Mereka berciuman dengan waktu yang cukup lama, bibir mereka saling bertaut, saling menyesap dan saling berperang lidah.
Arjuna melepaskan ciumannya dengan terpaksa saat ia merasakan gairahnya mulai bangkit, dan si Junaedi mulai menggeliat di dalam sana.
Aluna membuka matanya perlahan saat ciuman itu berakhir, tatapan matanya bertemu dengan manik hitam Arjuna yang menatapnya dengan sayu. Wajahnya bersemu merah dan jantungnya berdetak tidak karuan saat ketika melihat tatapan mata suaminya.
"Aku berangkat dulu," pamit Arjuna seraya mengusap bibir istrinya yang basah dengan ibu jarinya. Setelah itu ia keluar dari kamar, meninggalkan Aluna yang mematung di tempatnya.
"Jantungku." keluh Aluna saat Arjuna sudah tidak tampak lagi, ia mengusap dadanya berulang kali sembari mengambil nafas dalam, untuk mentralkan perasaannya yang tidak karuan.
Setelah merasa tenang. Aluna berjalan menuju nakas, lalu mengambil sesuatu dari dalam laci nakas tersebut. Ia menatap deretan obat kecil-kecil dalam satu kemasan.
Sedangkan Arjuna yang sudah sampai di tengah tangga rumahnya menghentikan langkahnya, karena ia mengingat ada sesuatu yang tertinggal. Lalu Arjuna kembali lagi ke dalam kamarnya.
Aluna tersentak kaget saat mendengar langkah kakin menuju kamarnya, dengan cepat ia melemparkan obat yang ada di tangannya itu ke dalam kolong tempat tidur. Dan benar dugaannya, jika Arjuna kembali lagi ke dalam kamar.
"Kok kembali?" tanya Aluna kepada Arjuna.
"Ada berkas yang harus aku ambil, kamu kenapa?" ucap Arjuna saat melihat wajah istrinya yang terlihat pias.
"Aku kaget saja, tadi mau ganti baju, tapi kamu masuk kamar begitu saja," jawab Aluna beralasan.
"Aku 'kan suami kamu, kenapa harus kaget? Kita sudah saling lihat dan saling merasakan satu sama lain," jawab Arjuna seraya mengerling nakal ke arah istrinya, kemudian ia berjalan menuju lemari yang ada di dalam kamarnya itu, mengambil berkas yang ada di dalam lemari tersebut.
Aluna mendengus saat mendengar jawaban suaminya. Ia duduk di tepian tempat tidur, sembari memerhatikan suaminya yang sedang sibuk mencari sesuatu di dalam lemari.
"Kamu butuh bantuan?" tanya Aluna.
"Ehmm ... Iya, aku mencari map berwarna biru, di dalamnya ada berkas penting," jawab Arjuna tanpa menoleh.
Aluna beranjak dari duduknya, membantu suaminya mencari berkas tersebut.
"Maka dari itu aku bingung," jawab Arjuna sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"CK!" Aluna berdecak lalu mengambil setumpuk map tersebut lalu meletakkannya di atas tempat tidur.
"Berkas apa yang kamu cari?" tanya Aluna.
"Berkas kontrak kerja sama dengan perusahaannya Aiden," jawab Arjuna, sambil membuka satu persatu berkas tersebut.
"Apa di ruang kerja ya?" gumam Arjuna, merasa pusing sendiri karena tidak kunjung menemukan apa yang ia cari.
"Yang ini?" tanya Aluna sambil memperlihatkan salah satu map biru yang ada foto seorang wanita cantik dan sexy. Foto Laura mantan kekasih Arjuna.
"Mati aku! Kenapa foto itu bisa menyelip di tumpukan berkas penting ini?!" Arjuna merutuki dirinya di dalam hati.
"Cantik dan Sexy ya," sindir Aluna sambil melihat foto tersebut. Dadanya tiba-tiba berdenyut nyeri, mengetahui jika suaminya masih menyimpan foto mantan kekasihnya.
"Aluna, itu tidak seperti yang kamu bayangkan. Aku sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi dengannya, dan aku juga berniat untuk membuang foto tersebut," jelas Arjuna dengan wajah yang pias, saat melihat istrinya mode singa.
"Oh, baru berniat membuangnya? Jadi kalau tidak ketahuan, kamu tidak akan membuangnya 'kan?" desak Aluna dengan perasaan yang sesak.
"Aduh, sepertinya aku salah bicara," batin Arjuna.
"Tidak bukan seperti itu ... Sudah sini mana fotonya, aku akan membuangnya sekarang." Arjuna segera merebut foto laknat yang menjadi boomerang di rumah tangganya.
"Mau dibuang atau mau di simpan untuk menjadi kenang-kenangan?" cibir Aluna dengan ketusnya.
Arjuna menghembuskan nafasnya dengan kasar, lalu membuang foto tersebut ke dalam tempat sampah. "Sudah aku buang!" ucap Arjuna kepada Aluna yang menatapnya dengan sinis.
Aluna tidak menjawab ucapan Arjuna, wanita itu malah beranjak dari duduknya menuju kamar mandi sambil menggerutu. "Mantan terindah, yang paling Sexy dan cantik! Maka dari itu susah move on!"
BRAK
Aluna menutup kamar mandi dengan keras, membuat Arjuna mengelus dadanya lantaran sangat terkejut.
"Astaga! Kenapa menjadi begini sih?! Dan kenapa foto laknat itu bisa berada di dalam tumpukan berkas penting ini. Sialan!" runtuk Arjuna, lalu berjalan menuju kamar mandi, mengetuk pintu tersebut, membujuk istrinya agar tidak merajuk lagi.
"Luna cantik, buka pintunya dong," pinta Arjuna sambil terus mengetuk pintu kamar mandi, akan tetapi istrinya tidak kunjung membuka pintu tersebut, bahkan tidak menyahut panggilannya.
Arjuna menjadi frustrasi di buatnya, dan menjadi takut jika terjadi sesuatu kepada istrinya itu.
Drtttt ... Drttt ...
Ponsel Arjuna bergetar panjang menandakan jika ada panggilan masuk. Ia mengambil ponselnya itu dari kantong celananya, menatap layar ponselnya, dan ternyata yang menghubunginya adalah Aiden. Tidak memerlukan waktu lama, dirinya segera mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Pending dulu perpanjang kontraknya! Ini darurat, menyangkut masa depanku dan juga Junaedi," jawab Arjuna kepada Aiden, lalu menutup panggilan teleponnya secara sepihak.
***
Semangat Bang Juned💪😆
Aku nggak semangat update kalau nggak di kasih, vote dan like. Meng-sadðŸ˜