Suddenly Married

Suddenly Married
Erica



"Tidak ada yang kebetulan, semuanya sudah takdir. Tuhan memberikan masalah, pasti Tuhanpun akan memberikan jalan keluar. percayalah, jika kalian memang diciptakan untuk bersama, bagaimanapun caranya cinta akan menemukan jalannya untuk pulang."


Setelah merasa sedikit tenang, Ananya menuju ke kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya di ranjang empuk miliknya. Ia teringat, beberapa minggu yang lalu saat ia dan Varo berada dalam satu kamar. Seketika wajahnya memerah mengingat kejadian itu. Dimana saat Varo menggenggam tangannya dan memberikan semangat kepadanya. Di waktu yang bersamaan, ia merasa sedih dan merasa bersalah. Ia merasa berdosa telah mengabaikan pria yang telah resmi menjadi suaminya itu.


Ia meraih tas selempang yang tadi ia letakkan sembarangan kemudian mencari ponselnya. Saat mendapatkan apa yang ia cari, ia kemudian memberanikan diri menghubungi Varo. Namun, lagi-lagi ia harus kecewa karena nomor telepon Varo sedang tidak aktif. Ia pun mengirimkan pesan singkat kepada Varo, ia berharap Varo akan membaca pesannya saat ponselnya sudah aktif kembali.


"Besok pagi, aku harus menemui kak Varo." Gumamnya.


Tak lama kemudian Ananyapun terbuai dalam tidurnya.


*****


Pagi itu, di salah satu kamar hotel mewah milik Wijaya Group Alvaro terbangun dengan kepala yang terasa berat. Ia heran mengapa bisa berada di dalam kamar ini. Ia mencoba mengingat-ingat kejadian semalam. Dalam ingatannya, terakhir kali ia berada di bar hotel, itupun hanya seorang diri. Ia sama sekali tidak mengingat mengapa ia bisa sampai ke kamar ini.


"Apa mungkin pegawai Bar yang membawaku kesini ? Tapi aku sama sekali tidak mengingatnya." Gumam Varo.


Alangkah kagetnya Varo melihat Erica yang keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah dan handuk kimono yang melekat di badannya.


Erica adalah salah satu manager di hotelnya. Sudah lama ia mengejar-ngejar cinta Varo namun Varo sama sekali tidak pernah menggubrisnya.


" Apa yang kamu lakukan disini ?" Bentak Varo.


"Tenang dulu, Pak... Apa bapak sudah lupa kejadian semalam ?" Tutur Erica dengan nada yang sengaja di buat-buat manja.


"Apa maksudmu !" Bentak varo lagi.


Ericapun mengambil ponselnya dan memperlihatkan beberapa fotonya yang hanya menggunakan lingerie dan berada di pelukan Varo. Dalam foto itu, Varo nampak memejamkan matanya, berbeda dengan Erica yang menatap ke arah camera.


"Apa ini sudah bisa menjelaskan semuanya Pak Alvaro ?" Seringai Erica.


"Apa maumu ?" Kata Varo tanpa basa-basi. Ia tahu betul saat ini wanita yang ada di hadapannya kini ingin memerasnya.


"Sabar, Pak... Kita bisa nego disana." jawab Erica dengan menunjuk ke arah Ranjang Kingsize di kamar itu dan mendekat ke arah Varo.


"Dasar wanita gila !! Jangan mimpi kamu...!" Jawab Varo.


"Pak Varo...Pak Varo... Kelakuannu yang sperti inilah yang membuatku semakin tergila-gila padamu." Kata Erica sambil menggigit bibirnya dan melonggarkan ikatan jubah mandinya berharap Varo akan tergoda. Namun di luar dugaannya, Varo malah menelpon reception dan menyuruh keamanan datang ke ruangannya.


"Sekarang juga, pakai pakaianmu kalau kau tidak ingin di permalukan." ancam Varo.


Erica nampak marah karena penolakan Varo. Iapun bergegas mengambil pakaiannya dan masuk ke kamar mandi untuk memakai pakaiannya. Setelah keluar dari kamar mandi, ia pun segera pergi. Namun sebelum ia benar-benar pergi, ia menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Varo.


"Bapak jangan coba-coba memecat saya, jika bapak tetap nekat melakukannya bapak akan lihat sendiri akibatnya." Ancam Erica kemudian pergi dari hadapan Varo.


Sepertinya, ancaman Erica sama srkali tidak membuat Varo takut. Ia sudah memprediksikan segala sesuatunya, kira-kira apa yang akan di lakukan Erica selanjutnya. Ia kembali menghubungi Kepala keamanan untuk mencegat Erica di pintu Lobby dan mengambil Ponselnya agar diserahkan kepada Varo. Para Keamananpun melakukan tugasnya dengan baik, Erica meninggalkan hotel itu dengan wajah yang seperti tak berbentuk lagi.


Setelah masalah Erica selesai, Varo langsung menuju apartemennya mengganti pakaiannya dengan pakaian kerja, kemudian menuju kantor untuk bekerja. Saat akan menuju ke ruangannya, Ia melihat Vino tengah menelpon seseorang dengan pembicaraan yang sepertinya sangat serius, tapi sepertinya bukan masalah pekerjaan. Namun ia tidak ingin terlalu jauh mencampuri kehidupan pribadi adiknya, ia pun melanjutkan langkahnya menuju ke ruang kerjanya.


Alvaro nampak fokus menatap layar komputer lipat yang ada di hadapannya. Ruangan itu benar-benar sunyi, hanya bunyi mouse yang di klik dan bunyi jarum jam yang berirama yang terdengar secara bergantian.


Ceklek...!!


Knop pintu bergerak, pintu bergerak terbuka perlahan. Fokus Alvaro beralih ke arah pintu


"Ananya....!"


"Kak, biarkan Nya masuk. Kita harus bicara." Kata Ananya dengan wajah memohonnya.


Alvato tidak bergeming, tidak memberikan ijin namun tidak pula melarang Ananya untuk masuk. Ananya pun memanfaat kediaman Alvaro, ia mengaggap diamnya Varo sebagai pengganti kata YA untuknya.


"Apa lagi yang ingin kamu bicarakan, bukankah semua nya sudah jelas ?" Kata Varo tanpa menatap wajah Ananya. Ia berdiri dan melangkah menuju jendela menatap ke arah luar melihat langit yang membentang dan bangunan-bangunan megah yg terbangun di bawahnya.


"Kak Varo, kakak salah faham." Kata Ananya.


"Salah faham ? Sudahlah Ananya, aku sudah capek berjuang sendiri." Varo menoleh sejenak ke arah Ananya kemudian kembali memalingkan wajahnya.


"Baiklah, semua terserah kakak. Tapi Nya mohon dengarkan dlu penjelasan Nya, kak.. Setelah kak Varo mendengarnya, apapun keputusan kakak akan Nya terima." Kata Ananya yang memegang tangan Varo.


"Baiklah, waktuku tidak banyak cepat katakan." Perintah Varo dan Ananya yang mendengarnya langsung menarik tangan Varo mengajaknya duduk di sofa.


Ia pun menceritakan kejadian saat di rumah Paman Aiman, saat dimana Varo memberinya pilihan untuk ikut dengannya. Karena terburu-buru mengemasi barangnya akhirnya ia terjatuh saat keluar dari kamar mandi karena kakinya terasa licin. Terjatuhnya dia membuatnya pingsan tak sadarkan diri yang membuat Varo menunggunya sangat lama.


"Sebenarnya malam itu, Nya ingin ikut kak tapi Nya pingsan. Pamanpun melarang Nya segera menyusul kak Varo karena paman merasa khaeatir Jika Nya berangkat ke Kota malam-malam sendiri." jelas Ananya yang masih menggenggam tangan Varo.


Varo menarik tangannya, kemudian kembali berdiri ke dekat jendela.


"Lalu bagaimana dengan malam itu, sepertinya kamu sangat menikmati pelukan Vino." Timpal Varo.


Ananya kembali mendekat ke arah Varo kemudian memeluknya dari belakang sembari berkata.


"Maafkan aku, kak. Waktu itu ak mencoba memberi pengertian kepada Vino agar tidak mengungkit perasaannya lagi. Aku sudah membuka hatiku untuk pernikahan kita. Aku akan berusaha menjadi istri yang baik dan belajar mencintaimu." Tutur Ananya.


Deg...!


Jantung Varo berdegup kencang mendengar pengakuan Ananya. Ia memegang tangan Ananya yang masih melingkar di perutnya, melepasnya perlahan. Ia membalikkan badannya menatap mata Ananya ingin mencari kebenaran disana, namun ia tak menemukan sedikitpun kebohongan dari mata teduh itu.


"Apa kamu serius ?" tanya Varo dan Ananya hanya mengagguk menjawabnya. Bibir Varopun tertarik menampilkan senyum indahnya.


Dengan refleks Ananya berjinjit meraih bibir Varo, ia menempelkan bibirnya dengan bibir Varo dengan singkat. Dengan seringai kemenangan, Varopun memulai aksinya memainkan bibir Ananya dengan rakus, ditariknya pinggang Ananya agar ubuh Ananya bisa menyatu dengan tubuhnya. Ananyapun mengangkat kedua tangannya mengalungkannya di leher Varo.


Setelah keduanya merasa kehabisan nafas, ciuman panas pun terhenti.


"Apa kamu sudah memikirkannya ?" Kata Varo lagi yang enggenggam kedua tangan Ananya.


"Iya..." jawab Ananya dengan seyuman.


"Ajari aku untuk mencintaimu." Ananya langsung memeluk tubuh suaminya.


"Jadilah istriku, sekarang dan selamanya." Kata Varo.


Jantung Ananya seolah meronta-ronta meminta untuk keluar dari tempatnya. Perasaanya kini bercampur aduk, antara malu, takut dan bahagia. Baru kali ini ia seekstreme ini dengan lawan jenis.


Alvaro memeluk tubuh ramping istrinya, mengusap rambutnya dan mencium pucuk kepala sang isteri. Ananya hanya memejamkan mata menerima perlakuan dari Varo yang sangat menenangkan hati menurutnya.


.


.


.


.


TO BE CONTINUED


Jangan lupa Like dan Comment setelah membaca biar author lebih semangat lagi menulis lanjutan kisahnya. Kritik dan saran ditunggu, mohon jangan di bully..


Vote se ikhlasnya. Terima kasih 🙏🙏🙏