Suddenly Married

Suddenly Married
Wellcome home, sayang !



Apa yang akan kakak lakukan ?" Ananya berusaha memaksakan senyumnya.


"Tidak ada, hanya mengambil ini." Tunjuk Varo pada koper yang berada di dekat sofa. Wajah Ananya seketika memerah karena menahan malu. Ia teringat akan kejadian tadi saat di ruang kerja Varo, saat keduanya berciuman.


"Maukah kau membantuku mengemas sebagian pakaianku ?" Pinta Varo.


"Oh.. tentu saja. Kemarikan kopernya dan tunjukkan dimana lemari pakaian kakak." Varo membawa kopernya menuju salah satu ruangan yang ada di kamarnya. Lagi-lagi Ananya berdecak kagum.


"Wooww.... ruangan di dalam ruangan. Luar biasa..!" Gumamnya sambil membelalakkan mata menatap wardrobe milik Varo.


"Sebagian saja, tidak usah semuanya." kata Varo kemudian menuju ke meja kerjanya mengambil beberapa berkas dan memasukkannya ke dalam map folder.


"Sebenarnya kakak mau kemana ?" Tanya Ananya.


"Aku akan ada perjalanan bisnis, apa kamu mau ikut ?"


"Hmm... tidak usah." Jawab Ananya singkat.


"Apa ini sudah cukup ?" Tanya Ananya dengan memperlihatkan koper yangbsudah terisi beberapa pakaian.


"Iya sayang, sudah cukup."Jawab Varo.


Ananya pun menutup kopernya dan membawanya ke tepi ranjang dengan wajah malu-malu mendengar Varo menyebutkan kata sayang.


"Tunggu sebentar yah, sedikit lagi." kata Varo sambil merapikan beberapa barangnya yang akan ia bawa ke apartemen.


Sebenarnya, sore ini ia akan mengajak Ananya ke apartemennya. Ia beranggapan, mungkin akan lebih baik untuknya dan Ananya tinggal berdua agar bisa lebih dekat. Namun ia belum memberitahukannya kepada Ananya, ia ingin memberikan surprise kepada Ananya.


"Selesai, ayo kita pulang..!" Ajak Varo, Ananya hanya ikut mengekor di belakang Varo.


Varo menyuruh Mang Ujang membawa kopernya kedalam mobil sebelum di lihat oleh Diandra. Jika Diandra tahu, maka akan banyak pertanyaan lagi yang harus Varo jawab. Apalagi, selama ini Diandra pikirnya Varo dan Ananya sudah tinggal bersama di apartement, sedangkan Ananya sendiri belum tahu apa-apa soal apartement itu.


Varo dan Ananya menghampiri Diandra dan Ryan di ruang kerjanya untuk pamit.


"Ma, Pa... kami mau pamit dulu." Ujar Varo.


"Loh, kenapa buru-buru sayang ?" Kata Diandra.


"Kami masih ingin ke suatu tempat, Ma..." Jawab Varo.


"Ya sudah kalau begitu, kalian hati-hati yah sayang..."


"Iya, Ma..." Varo dan Ananya berlalu, tiba-tiba suara Papa Ryan menahan langkah keduanya.


"Varo....!" Varo dan Ananya membalikkan badannya.


"Jangan tunda lama-lama yah... Berikan Papa cucu..!" Kata Ryan penuh penegasan.


"Aahh... Papa... tentu saja Varo akan segera memberinya. Iya kan sayang ?" Kata Varo sambil menggenggam tangan Ananya, sedangkan Ananya sendiri tidak tau harus berkata apa menanggapi ucapan ayah mertuanya. Ia hanya mengagguk malu dengan wajah meronanya.


Keduanya berlalu, dengan tangan yang saling bergenggaman. Genggaman tangan keduanya terlepas saat Varo membukakan pintu mobil untuk Ananya.


Sepanjang perjalanan tak ada percakapan antara keduanya, sampai akhirnya mobil Varo memasuki basement Apartementnya.


"Loh, katanya kita mau pulang ? Kenapa kita malah kesini kak ?"


"Ya kita pulang...!" Jawab Varo enteng.


"Ini... memangnya kita mau kemana kak ?" Tanya Ananya lagi penasaran.


"Ya pulang...!"


"Tapi kan ini bukan rumahnya Bunda kak...!?" Kata Ananya


"Tapi kan ini rumah kita." Varo menoleh ke arah Ananya setelah memarkirkan mobilnya.


"Ayo, turun..!" Ajak Varo kemudian mengambil Kopernya di bagasi mobil.


Keduanya berjalan masuk ke dalam gedung apartemen, ada banyak pertanyaan dalam kepala Ananya namun ia enggan menanyakannya kepada Varo. Ia lebih memilih menunggu penjelasan dari Varo.


Mereka menuju ke lift, dan Varo memencet angka 8.


Ting....!


Pintu lift terbuka, Varo keluar dari lift diikuti oleh Ananya.


"Woow... keren sekali. Ini apartement siapa ?" Tanya Ananya yang terkagum-kagum melihat seisi apartement itu.


Pletak...!


Varo menyentil jidat Ananya yang ia rasa sangat lemot.


"Kamu ini lulusan terbaik, tapi mikirnya lambat. Dari tadi aku kan sudah bilang, kita pulang ke rumah kita. Mulai sekarang kita akan tinggal disini. Berdua !" Jawab Varo.


"Tapi, Nya belum mengambil pakaian Nya, kak... Kita juga belum pamit pada Bunda."


"Tenang saja, pakaianmu sudah kusiapkan di kamar. Soal Bunda, dia sudah tahu kok." Jawab Varo dengan senyum manisnya.


"Ooow..." Ananya membulatkan bibirnya membuat Varo semakin gemash melihatnya.


"Jadi kita hanya berdua disini ?" Tanya Ananya dengan ragu.


"Iya, biar kita bisa lebih fokus membuatkan Papa CU-CU !" Goda Varo yang berhasil membuat Ananya kembali seperti kepiting rebus. Wajahnya benar-benar merah menahan rasa malunya saat mengingat permintaan Ryan.


"Hhmm.... mungkin papa hanya bercanda kak." kata Ananya mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.


"Mana mungkin Papa bisa bercanda, lagi pula tidak ada yang salah kan dengan permintaan papa ?" Kata Varo yang meraih dagu lancip Ananya agar menatap ke arahnya.


Varo memajukan wajahnya perlahan, mendekatkan wajahnya dengan wajah Ananya. Ananya pun tahu apa yang akan di lakukan oleh suaminya, ia memejamkan matanya pertanda bahwa ia pun dengan sukarela menerima serangan dari sang suami.


Ting...tong...!


Bel berbunyi, pertanda di depan ada yang sedang mengharapkan untuk di bukakan pintu.


"Sial....!" Umpat Varo, Ananya hanya memahan tawa melihat suaminya yang nampak kesal.


"Tunggu sebentar, aku akan kembali." kata Varo, Ananya hanya mengagguk mengiyakan perintah suaminya.


Tak lama kemudian, Varo pun kembali menemui Ananya di kamar.


"Tadi siapa, sayang?" Kata Ananya, sontak Varo menoleh ke arah Ananya dengan cepat.


"Tadi kamu bilang apa ?" Tanya Varo.


"Siapa yang datang ?" Kata Ananya kemudian.


"Tidak, tadi kamu gak bilang itu. Coba ulangi lagi." Pinta Varo, karena tadi ia mendengar bahwa Ananya memanggilnya dengan sebutan sayang. Baginya ini Benar-benar kemajuan yang sangat pesat untuk hubungan mereka.


"Aahhh... sudahlah. Lupakan saja kak." Jawab Ananya malu-malu. Sebenarnya ia pun menyadarinya tadi tanpa sengaja ikut-ikutan memanggil Varo dengan sebutan sayang.


Tanpa aba-aba Varo pun mendaratkan ciuman mautnya di bibir Ananya. Ananya yang tanpa persiapan hanya bisa pasrah mendapat serangan dari Varo. Entah kenapa, ciuman Varo kali ini seolah tanpa ampun.


"Mulai sekarang, jangan panggil aku kakak, panggil aku Sayang. Aku suamimu, bukan kakakmu." Kata Varo di sela ciumannya.


Ananya hanya mengangguk menjawab permintaan Varo karena ia tak mempunyai kesempatan untuk menjawab perkataan Varo.


Entah bagaimana caranya keduaya kini berada di ranjang. Varo semakin rakus melahap bibir Ananya hingga kini keduanya terengah karena merasa kekurangan oksigen.


Ananya kembali mengalungkan kedua tangannya di tengkuk leher Varo dengan mata yang perlahan terbuka. Ia melihat tatapan Varo yang penuh damba. Mungkin sekarang saatnya untuk menjalankan kewajibannya sebagai seorang isteri.


"Aku siap, sayang...Aku milikmu." Bisik Ananya di telinga Varo.


"Kamu yakin ?" Tanya Alvaro, dan Ananya lagi-lagi hanya mengangguk menyetujuinya.


Tanpa menunggu lama, Varo pun kembali melancarkan aksinya meraup bibir Ananya yang kini menjadi candu baginya. Ia pun mengabsen jengkal demi jengkal tubuh Ananya dan meninggalkan jejakn kepemilikan di tiap bagian. Sampai akhirnya ia pun melakukan pelepasan, menyiram rahim Ananya dengan benih-benihnya. Mereka melakukannya hingga beberapa kali sampai keduanya terkulai lemas karena kehabisan tenaga. Rasa nyeri di area sensitif Ananya karena baru pertama kali melakukannya seketika itu juga terobati karena perlakuan hangat dan manis dari Varo.


Senja di Sore itu menjadi saksi penyatuan Ananya dan Varo. Pergumulan yang tak akan pernah dilupakan oleh Ananya dan Varo.


Saat itu juga, Ananya berjanji kepada dirinya dan kepada Varo bahwa ia akan belajar dan berusaha untuk mencintai Varo. Meskipun sebenarnya benih-benih cinta itu sudah ada, hanya saja ia belum menyadarinya.


To Be Continued.


Ayoooo beri dukungan kepada author yah. Author janji akan update semampunya. Sekedar info, author lagi hamil muda jadi untuk mengetik 1 bab saja butuh perjuangan yang berat karena pusing dan mual. Jadi di mohon pengertiannya yah readers tercinta.


Like, comment dan Vote sebanyak-banyaknya.


Terima Kasih...