Suddenly Married

Suddenly Married
Kedatangan Heri.



"Makanlah...! seharian kamu belum makan." Alvaro membawakan sepiring nasi dan lauk kemudian menyodorkannya ke arah Ananya.


"Kakak, kenapa masih disini ?" Ananya terkesiap melihat Varo yang masuk ke dalam kamarnya dan masih memakai baju yang sama sejak semalam, menandakan ia belum pulang ke rumahnya.


"Kamu lupa, aku sekarang adalah suamimu. Aku akan menepati janjiku kepada Ibu untuk selalu menjagamu." Kata Varo.


Ananya mengangkat wajahnya, menatap Varo dengan mata berair. Bagaimana mungkin ia bisa melupakan peristiwa sakral dimana ia telah melakukan ijab qabul dengan bossnya itu.


"Maafkan Nya kak, Nya....!" Perkataannya terhenti saat ia merasakan ada tangan kekar yang menggenggam tangannya begitu hangat.


"Tidak usah dipikirkan, aku mengerti dengan keadaanmu sekarang. Makanlah, nanti kamu sakit." Varo memperbaiki duduknya dan mengarahkan sendok ke mulut Ananya. Ananya pun membuka mulutnya mengikuti perintah Varo. Suapan demi suapan mendarat mulus di mulut Ananya, hingga tak ada makanan yang tersisa di piring. Entah mengapa, makanan itu terasa lebih enak jika di suapkan oleh orang lain.


"Sekarang, bersihkan dirimu. Apa ada pakaian yang bisa aku gunakan ?" Varo merentangkan tangan seolah ia menunjukkan bentuk tubuhnya dan ia belum pernah berganti baju sama sekali.


"Kurasa tidak ada, karena semua pakaian milik almarhum ayah sudah di sumbangkan ke yayasan sosial." Jawab Ananya.


"Ya sudah, tidak apa-apa. Aku akan menyuruh Heri kesini membawakanku beberapa potong pakaian." Kata Varo kemudian.


"Mmm... kak..." Ananya tampak cemas.


"Ya, ada apa ?" Alvaro menyahuti.


"Aku takut, bagaimana keluarga kakak jika mengetahui pernikahan kita ?" Ananya tertunduk saat mengatakan kata PERNIKAHAN.


"Jangan khawatir, itu urusanku." Varo mengusap kepala Ananya.


"Kalau mereka tidak setuju bagaimana ? Tidak apa-apa kok jika kakak mau membatalkan pernikahan ini. Aku tidak mau hanya karena kasihan kakak harus mengorbankan hidup kakak buat Nya." Ananya berusaha tersenyum.


"Awalnya aku memang kasihan, namun rasa kasihanku itulah yang meyakinkanku bahwa aku telah jatuh cinta padamu, sejak pertama aku melihatmu." Gumam Varo dalam hati.


"Soal mereka, aku akan mengurusnya. Percayalah padaku, awalnya mungkin akan terasa sulit tapi lama kelamaan mereka pasti bisa menerimanya." Jawab Varo.


"Berikan ponselmu, aku akan menghubungi Heri." Pinta Varo kemudian.


Ananya bergegas mencari ponselnya yang sejak kemarin tak pernah ia sentuh. Di raihnya hand bag dia atas nakas kemudian mengeluarkan benda pipih berwarna hitam dari dalam tasnya.


"Kak, ponselku mati, Nya charge sebentar yah." Ananya mengisi battery ponselnya, saat ponsel itu menyala ia pun melihat ada beberapa panggilan dari Diandra.


"Banyak missed call dari tante Dian." Diandra menunjukkan ponselnya yang tersambung dengan cable charge kepada Varo.


"Biarkan saja dulu." Sebenarnya Varo pun khawatir, entah apa yang harus ia katakan kepada keluarganya tentang pernikahannya yang dadakan dan tanpa sepengetahuan mereka.


Alvaropun akhirnya menelpon Heri, dan memintanya untuk mencarikannya beberapa potong pakaian baru. Ia tidak ingin Heri mengambil pakaian di rumahnya di karenakan ia masih ingin merahasiakan semuanya kepada Mama dan Papanya.


Tak butuh waktu yang lama, Heri pun akhirnya datang dengan membawa beberapa paper bag di tangannya. Heri menatap heran melihat para tamu yang memakai serba hitam meninggalkan rumah Ananya. Heri masih nampak bingung, karena Varo belum menjelaskan apa-apa kepadanya.


"Bro, ada apa ini ?" Menatap aneh ke arah Varo dan sekitarnya.


Alvaro pun akhirnya menjelaskan semuanya kepadanya, Heri tak bisa berkomentar apa-apa. Ia merasa heran akan keputusan Varo yang dianggapnya terlalu ceroboh dan gegabah tanpa pertimbangan.


"Tolong, rahasia ini hanya kamu saja yang tau. Aku berencana akan pulang malam ini, tapi aku masih akan merahasiakan pernikahanku kepada mereka." Kata Varo tertunduk.


"Jadi mau sampai kapan kamu membohongi mereka ? Tanya Heri penuh penekanan.


"Aku tidak berbohong. Aku hanya belum memberi tahu mereka." Jawab Varo kemudian.


"Bukankah itu sama saja ?" Heri.


"Jelas berbeda, aku akan mengatakan semuanya pada saat Ananya sudah siap. Saat ini belum waktu yang tepat untuk Ananya, ia masih sangat terpukul." Kata Varo.


"Baiklah, terserah kau saja. Jika butuh bantuanku, jangan sungkan bro." Heri menepuk bahu Varo.


"Hmm... sejak kapan aku sungkan kepadamu ? Dasar bodoh." Varo berdecih kesal pada sahabat sekaligus rekan kerjanya.


"Iyaa iyaa, kan kamu bossnya. Tapi aku kecewa, kamu merebut gadis impianku. Haahaa.." Heri meledek Varo.


"Sorry, keadaanya mendesak." Jawab Varo datar.


"Jadi kamu terpaksa ?" Heri bertanya.


Tanpa keduanya sadari, sedari tadi Ananya menguping pembicaraan mereka. Hati Ananya terasa sakit mendengar pengakuan Varo yang seolah terpaksa menikahinya. Ia semakin merasa bersalah telah merenggut kebebasan Varo karena janjinya kepada mendiang sang Ibu.


"Nya janji kak, secepatnya akan membebaskan kakak. Pernikahan ini memang salah, tidak ada cinta yang terjalin. Semua karena keterpaksaan. Maafkan Nya kak." Batin Ananya yang menghapus air matanya kemudian menghampiri Varo dan Heri. Ia menyuguhkan dua cangkir teh untuk Varo dan Heri.


"Ayo kak, di minum" Ananya.


Varo hanya mengangguk pelan, sedangkan Heri langsung menyeruput cangkir yang berisi teh yang masih panas itu.


"Aduuuh...!" Her mengaduh merasa kepanasan pada lidahnya.


"Makanya,..!" Varo meledek Heri.


"Nya, aku turut berduka yah. Kamu yang sabar. Ini aku bawakan pakaian suami kamu." Kata Heri yang mempertegas kata SUAMI kepada Ananya.


"Hmm.. aku bawa ke kamar dulu kak." Ananya pun berlalu dari hadapan Varo dan Heri. Ada rasa yang tak biasa yang ia rasakan, mendengar kata Heri menyebut Varo sebagai suaminya. Wajahnya bersemu merah, namun dengan segera ia tepis perasaan itu. Iya tidak ingin terbawa perasaan.


Sontak ia mengingat pesan terakhir sang ibu yang mengatakan bahwa "Suami dan isteri harus saling berpegangan tangan, tidak boleh saling melepaskan."


"Bagaimana ini Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang ?" Ucapnya lirih.


Varo mengetuk pintu yang tidak tertutup itu, ia memberi isyarat kepada Ananya bahwa ia ingin masuk kedalam.


"Masuklah kak, apa Heri sudah pergi ?" Taya Ananya.


"Iya, dia sudah pergi. Apa ada handuk yang bisa aku pakai ? Aku ingin mandi." Varo.


Ananya mengambilkan handuk berwarna cokelat yang ada di lemarinya kemudian menyerahkannya ke Alvaro.


Alvaro menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar Ananya, kemudian membersihkan dirinya. Tak lupa ia membawa serta paper bag berwarna coklat berikina pakaiannya.


"Mana suami kamu nak ?" Bunda Anna tiba-tiba muncul.


"Kak Varo, lagi mandi bunda." Jawab Ananya segera.


"Nak, sekarang kamu sudah menikah. Kamu berkewajiban mengurus segala keperluan suamimu. Ingat, jadilah isteri yang baik, jangan membantah perkataan suami, layani suamimu dengan sepenuh hati." Nasihat Bunda Anna.


"Entahlah bunda, Nya masih tidak percaya akan semuanya. Ananya tidak yakin bisa menjadi isteri yang baik buat kak Varo." ananya menunduk menyembunyikan air matanya.


"Jangan berkata seperti itu, ikatan suci yang mengatas namakan Allah tidak boleh dipermainkan. Percayalah, ini sudah menjadi TakdirNya. Kamu tinggal menjalaninya, berikan yang terbaik untuk suamimu nak." Bunda Anna.


"Akan Nya coba Bunda." Bunda Anna pun berlalu menuju dapur, hendak menyiapkan makan malam buat mereka bertiga. Tinggalah mereka bertiga di rumah itu.


.


.


.


.


.


.


.


To Be Continued


Ikutibterus kisah Alvaro dan Ananya.


Jangan lupa meninggalkan jejak setelah membaca.


Like, comment dan Vote sebanyak-banyaknya.


Terima kasih