Suddenly Married

Suddenly Married
Membujuk Aluna



Fika dan Nue saling pandang dan saling senggol saat mereka berada di ruang makan, lalu tatapan mata mereka beralih menatap sepasang suami istri yang terlihat tidak baik-baik saja.


"Luna, ini adalah ayam goreng buatan bibi yang paling enak." Arjuna mengambilkan paha ayam dan meletakkannya di piring istrinya, akan tetapi Aluna mengembalikan ayam goreng itu ke tempatnya lagi.


Arjuna menghela nafas kasar saat melihat istrinya masih marah dengannya. Tapi, Arjuna tidak menyerah begitu saja, ia berusaha untuk mengambil hati istrinya lagi.


"Itu juga ada semur jengkol kesukaanmu, dan juga ada rendang daging, kamu mau yang mana, biar aku yang ambilkan," ucap Arjuna kepada istrinya.


Namun Aluna tetap diam dan mengambil makan malam sendiri, bahkan Aluna tidak menoleh sama sekali ke arah Arjuna, membuat suaminya itu mendesah frustrasi.


Mendadak ruang makan tersebut menjadi hening dan canggung. Nue dan Fika menatap anak dan menantunya bergantian.


"Hem ... makan malamnya hari ini sangat nikmat sekali ya, Pi," ucap Fika kepada suaminya untuk mengusir suasana canggung.


"Iya, Bibi hari ini masak spesial. Terima kasih, Bi," jawab Nue sembari berseru kepada Bibi yang kebetulan melintas ke arah dapur.


"Ayo, makan semuanya. Kenapa kalian diam saja?" tanya Fika kepada suami istri itu.


"Iya, Ma," jawab Aluna sambil tersenyum tipis, lalu mulai memakan makan malamnya dengan tidak berselera. Sedangkan Arjuna hanya mengaduk-aduk makanannya saja sambil menatap istrinya.


*


*


*


Selesai makan malam, Aluna segera berpamitan lebih dulu untuk beristirahat. Arjuna dan kedua orang tuanya masih berada di meja makan.


"Apa yang terjadi?" tanya Fika kepada putranya.


Arjuna menghela nafas dengan kasar, sembari menatap kedua orang tuanya bergantian. "Gara-gara foto laknat. Aluna menemukan foto Laura di tumpukan berkasku," jawab Arjuna dengan lesu, lalu bertopang dagu di atas meja.


"Bagaimana bisa foto Laura berada di tumpukan berkasmu?" tanya Fika dengan serius.


"Berkas yang ada di lemariku itu sudah sangat lama, mungkin terselip saat aku masih menjalin hubungan dengan Laura," jawab Arjuna lagi.


"Kenapa kamu bisa ceroboh sih? Perasaan wanita itu sangat sensitif. Dan Mama yakin jika saat ini Aluna sedang berfikir jika kamu masih mencintai Si loreng itu," jelas Fika kepada putranya.


"Lalu aku harus bagaimana, Ma, Pi?" Arjuna sudah merasa sangat frustrasi karena Aluna sangat sulit untuk di bujuk.


Fika menjawab sembari menaikkan kedua bahunya bersamaan. "Selesaikan sendiri, Mama dan Papi tidak mau ikut campur masalah rumah tanggamu, apalagi ini menyangkut masa lalu kamu," jawab Fika seraya beranjak dari sana, dan di ikuti oleh suaminya.


"Pi, tolong bantu aku," pinta Arjuna kepada ayahnya.


"Sorry Juned. Papi mau kelonan sama Mama kamu," jawab Nue, membuat Arjuna mendengus kesal.


Arjuna menghenyakkan punggungnya di sandaran kursi, mengusap wajahnya dengan kasar. Baru kali ini dirinya merasa se-frustrasi ini dalam menghadapi wanita, dan takut akan kehilangan.


Ia beranjak dari duduknya, menuju kamarnya dengan langkah yang gontai.


Ceklek


Suara pintu terbuka dari luar. Aluna segera meletakkan ponselnya di atas nakas, lalu menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya itu.


Lagi-lagi Arjuna harus merasa kecewa, karena istrinya itu sudah terlelap di atas tempat tidur. Padahal ia ingin membicarakan kesalahpahaman tentang foto Laura.


***


Sabar ya Juned, harusnya kamu sadar kalau istrimu cemburu, masa nggak peka sih🤣


Jangan lupa dukungannya ya bestieā¤šŸ’ƒ