
"Pacarku hilang di ambil orang, apakah aku kurang sexy sayang?" Nue bernyanyi sembari merangkai bunga di vas besar yang ada di dekat tangga. Ia bernyanyi dengan suara gemulainya dan bokongnya geyal-geyol ke kanan dan ke kiri.
"Duh, suara eike syantik sekali ya, sampai-sampai gendang telinga semut dan cicak di dinding yang mendengar menjadi pecah," ucap Nue sembari tertawa cekikikan dan menutup mulutnya dengan gaya kemayu.
"Papi, whare are you?" seru Fika yang baru selesai berlatih tinju di ruang Gym.
"I'm here, Mama," jawab Nue sedikit berteriak.
Fika berjalan menuju ke sumber suara, sembari melepaskan sarung tinju yang masih melekat di kedua tangannya. Walau pun sudah tidak muda lagi, Fika masih aktif berlatih tinju dan karate tujuannya untuk menjaga bentuk tubuh dan kebugaran tubuhnya.
Tubuh Fika masih terlihat sangat kencang dan sexy, ia menjaga bentuk tubuhnya karena ingin membuat suami gemulainya itu tidak jelalatan di luar sana dan betah berada di rumah.
Ya ... suaminya memang gemulai tapi yang mengherankan di luar sana banyak sekali wanita yang tidak tahu diri ingin menggoda suaminya.
"Ish! Merangkai bunga lagi? Kamu ingin membuat rumah kita ini menjadi sarang nyamuk?" dengus Fika yang tidak menyukai bunga, di tambah lagi suaminya hampir setiap minggu merangkai bunga di Vas besar, setelah selesai diletakkan di setiap sudut rumah itu.
"Ini adalah seni. Yei paham?" jawab Nue sembari mencebikkan bibirnya dengan kesal.
"Terserah!" balas Fika seraya memutar kedua bola matanya dengan malas.
Nue menatap tubuh sexy istrinya yang di penuhi keringat. Ia mengulum bibirnya sendiri dan menatap istrinya dengan nakal, dirinya sangat bergairah jika melihat istrinya yang seperti itu.
"Ada apa?" tanya Fika saat merasa di perhatikan oleh suaminya.
"Ngadon kue yuk," ajak Nue sembari mengedipkan kedua matanya berulang kali, dan tersenyum manjah.
"Baking powder-nya habis, nanti kuenya jadi bantet karena tidak bisa mengembang." Fika menolak ajakan suaminya karena dirinya sedang berhalangan.
"Yah! Kecewa," jawab Nue dengan lesu, karena mengerti dengan kode penolakan istrinya itu.
"Sabar, satu minggu lagi," ucap Fika sembari terkekeh saat melihat suaminya cemberut seperti anak TK yang merajuk karena tidak di belikan es krim oleh ibunya.
Tidak berselang lama mereka mendengar deru suara mobil memasuki halaman rumah, Nue dan Fika saling pandang seolah bertanya 'siapa yang datang?'
*
*
*
"Pak Su? Apakah jalanku terlihat seperti bebek?" tanya Aluna saat mereka berdua sudah berdiri di depan pintu rumah mewah tersebut. Aluna menggandeng lengen kekar suaminya.
Arjuna menoleh dan menatap istrinya yang juga tengah menatap dirinya, lalu ia menangkup wajah Aluna dengan mesra.
"Kamu tidak terlihat seperti bebek tapi terlihat seperti marmut yang sangat lucu dan menggemaskan." Arjuna berkaat seraya mendekatkan wajahnya dan melabuhkan ciuman mesra di permukaan bibir istrinya.
CUP
Satu ciuman berlabuh, Aluna memejamkan mata saat benda kenyal itu menempel di bibirnya, terasa dingin namun mampu menghangatkan tubuhnya dan menggetarkan hatinya.
Bukan Arjuna namanya kalau tidak mencuri kesempatan. Ia mellumat dan menyesap bibir istrinya dengan sangat menunut, tanpa memedulikan beberapa security yang melihat aksinya.
Pintu rumah tersebut terbuka dari dalam, bertepatan dengan Arjuna dan Aluna larut dalam ciuman mereka.
CEKLEK
Suara pintu terbuka dengan lebar, Arjuna dan Aluna sontak saja sangat terkejut dan segera melepaskan ciuman mereka. Sedangkan pasangan suami istri yang sudah tidak muda lagi itu terbengong bercampur terkejut saat melihat siaran live di depan mata mereka.
Wajah Aluna sudah merah seperti kepiting rebus karena ketahuan mesum oleh kedua mertuanya, lain lagi Arjuna yang terlihat biasa saja sembari berdehem pelan untuk menyadarkan kedua orang tuanya yang masih terbengong dan mematung di tengah pintu.
"Ah, memalukan," batin Aluna, rasanya dirinya ingin bersembunyi ke dalam lubang semut lantaran sangat malu dengan mertuanya.
"Papi dan Mama tidak ingin mempersilahkan kami masuk?" tanya Arjuna seraya tersenyum tipis.
"Ya amidong, eike sampai lup ... awwww!" Ucapan Nue seketika itu terhenti dan tergantikan dengan pekikan keras karena istrinya mencubit perutnya yang berlemak dengan kuat.
"Sakit Mama!" rengek Nue sembari mengerucutkan bibirnya, merajuk kepada istrinya.
"Bikin malu!" ucap Fika seraya melotot horor ke arah suaminya.
Aluna melipat bibirnya ke dalam mulut, merasa lucu dan gemas saat melihat kedua mertuanya yang berdebat. Ia menjadi merindukan kedua orang tuanya sendiri.
"Kalian selalu saja bertengkar. Minggir!" Arjuna menarik tangan istrinya seraya menerobos masuk ke dalam rumahnya.
"Kami jadi lupa kalau ada menantu kami. Selamat datang Aluna ke gubuk kami ini," ucap Fika merendah kepada menantunya. Kemudian ia menarik Aluna dan membawanya ke ruang keluarga, setelah itu meminta pelayan untuk membuatkan minum untuk anak dan menantunya.
Aluna tersenyum meringis saat mendengar ucapan ibu mertuanya.
Arjuna mengikuti istrinya dari belakang begitu juga Nue, berjalan bersisian dengan Arjuna.
"Kamu sudah mencetak gol?" tanya Nue.
"He-em," jawab Arjuna seraya tersenyum tipis, ia menjadi mengingat percintaan panas mereka.
"Bagaimana rasanya? Mantap? Enak?" ledek Nue kepada putranya.
"Muantepp banget, Pi. Tahu begini aku tidak akan menunda malam pertamaku," jawab Arjuna sembari tersenyum geli.
"Ketagihan 'kan? Setelah ini kamu akan menjadi budak cinta," cibir Nue kepada putranya dengan sinis.
Arjuna hanya tersenyum mesam dan menggeleng pelan menganggapi ucapan Ayahnya.
"Buati istrimu selalu bahagia Juned. Jangan pernah membuatnya bersedih atau meneteskan air matanya," pesan Nue kepada putranya.
"Pasti Pi. Tapi, yang membuatku bingung apakah aku sudah mencintainya?" ucap Arjuna dengan kejujurannya.
Nue menghentikan langkahnya, menatap putranya sembari menghela nafas panjang. "Cinta akan datang dengan sendirinya. Atau tanyakan pada hatimu yang terdalam adakan Aluna di dalam sana?" jawab Nue, menunjuk dada kiri Arjuna.
"Kalian sudah menjadi suami istri, hilangkan ke-egoisan di dalam hati. Membangun rumah tangga tidak sekedar main rumah-rumahan jika sudah bosan langsung bubar! Tidak seperti konsepnya. Dalam rumah tangga bukan tentang siapa yang paling baik, melainkan bagaimana kita bersama-sama untuk menjadi lebih baik setiap hari. Jadilah sosok pria yang bertanggung jawab menjadi suami dan kepala rumah tangga dan bisa menjadi panutan anak dan istrimu kelak." Nue memberi wejangan kepada putranya itu agar tidak merasa bimbang lagi dalam memilih jalan kebahagiaan.
"Yakinkan hatimu jika Aluna adalah wanita yang tepat untuk menjadi istrimu, menjadi ibu dari anak-anakmu dan menjadi wanita yang menemanimu sampai harimu tua nanti," lanjut Nue seraya menepuk pundak putranya yang lebar itu.
Arjuna terdiam saat mendengar wejangan ayahnya yang menyentuh hatinya. Ia tersenyum dan mengaggukkan kepala.
"Terima kasih, Pi. Aku akan selalu mengingat semua ucapan Papi," ucap Arjuna terharu, lalu memeluk Ayahnya sesaat.
"By the way, Papi gemulai kenapa hari ini terlihat waras?" tanya Arjuna seraya mengurai pelukannya dan bersiap untuk kabur dari amukan ayahnya.
"Dasar anak kurang asam! Kurang micin!!"
"Kaboorrrrr!" Arjuna langsung lari terbirit menuju ruang keluarga yang tidak jauh dari sana.
***
Emangnya Papi gemulai setiap hari nggak waras ya, Bang? 🤣🤣🤣🙈
Sawerannya dong, like, vote, komentar dan kasih hadiah yang banyak ðŸ¤ðŸ¤
BTW mampir ke karya baru Emak yang berjudul Pesona Ayah Mertua di Noveltoon ya.