
Tiara langsung beranjak berdiri dan pergi tanpa meninggalkan sepatah kata lagi setelah ancaman yang sudah dia katakan dengan tegas sebelumnya. Tiara segera meninggalkan restoran bahkan dia juga meninggalkan Dika yang masih duduk dengan terpaku terdiam dalam dari lamunannya.
Dengan senyuman yang begitu lebar karena telah memenangkan perdebatan yang dari tadi tidak ujungnya. Dia seolah baru menyesal kenapa tidak sedari tadi terpikirkan olehnya untuk segera mengakhiri perbincangan alot mereka yang sudah membuang buang waktu paginya dengan sia sia hingga paginya menjadi kacau dan begitu buruk.
" Kenapa sekarang Dika menjadi orang yang sangat egois seperti itu?" Tiara bertanya tanya sendiri dengan suara lirih yang hanya bisa didengar oleh dirinya saja, sambil berjalan menjauh dari restoran.
" Seharusnya tadi aku menolak saja diajak olehnya dan kenapa juga tadi aku gak langsung bilang mengenai pernikahanku" Tiara memukul pelan dahinya merasa dirinya menjadi orang yang begitu bodoh.
Tiara segera bergegas mencari tukang ojek yang sedang mangkal di sekitaran restoran yang baru saja di datangi bersama Dika. Dia sudah tidak sabar untuk segera sampai di butiknya meskipun sebenarnya dia enggan untuk pergi ke butik dan melanjutkan pekerjaannya. Karena pagi ini dirinya harus berdebat dengan Dika yang membuat hatinya merasa buruk.
Tapi mau kemana dirinya harus pergi kalau bukan ke butik, kalau pulang ke rumah rasanya juga percuma karena tidak ada Rivan di rumah yang pasti dirinya akan tetap kesepian. Jika harus pulang ke rumah orang tuanya pasti ibunya akan bertanya banyak hal, kenapa dirinya sampai pulang ke rumah sendiri tanpa suaminya. Dan bisa dipastikan mood paginya akan semakin buruk memburuk karena ocehan ibunya.
" Pulang ke rumah sepi gak ada mas Rivan, pulang ke rumah ibu nanti malah kena omel lagi" ucap Tiara sendirian menimbang nimbang akan pergi kemana dirinya untuk mengusir moodnya yang sudah buruk. " Lebih baik ke butik ajalah, aku bisa beristirahat sebentar di sana" lanjutnya yang kemudian memutuskan untuk pergi ke butiknya.
Tiara mencari tukang ojek dan memintanya untuk mengantarkan dirinya ke butik setelah dia memberikan alamat butiknya.
*
Dika yang masih diam terpaku dalam lamunan di dalam restoran, masih tetap terduduk di tempatnya sendirian. Perempuan yang sedari tadi menemaninya berbicara bahkan mengajaknya terus berdebat, kini sudah pergi meninggalkan dirinya sepuluh menit yang lalu. Dirinya seolah tidak memiliki tenaga ataupun daya untuk bisa menahan perempuan yang bernama Tiara yang dulu pernah mengisi hari hari pergi berlalu begitu saja. Jangankan menahan Tiara, dirinya saja seolah tidak kuat berdiri dari duduknya.
Dika tampak begitu syok, baik hati dan pikirannya masih mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini. Jika mengingat semua rencana dan bujuk rayunya tadi semua langkahnya telah gagal untuk membuat Tiara kembali menjadi miliknya.
Cincin berlian yang tersemat di jari manis Tiara membuatnya tersadar bahwa perempuan yang dulu selalu ada di sisinya kini telah menjadi milik orang lain. Orang yang dulu selalu memuja dan menghormati dirinya, namun tanpa sengaja dia buang begitu saja. Kemudian dia menemukannya kembali namun kali ini sudah sudah menjadi milik orang lain.
Tapi jangan pernah berfikir bahwa Dika akan diam begitu saja menerima kekalahannya. Dia tidak akan tinggal diam setelah ini...
*
Tiara yang sudah sampai di butik langsung memasuki butiknya dengan tubuhnya yang terlihat malas. Namun dia masih berusaha untuk tersenyum saat karyawannya sedang menyapa dirinya meskipun rasanya begitu enggan. Tanpa berbicara Tiara langsung menuju ke ruangannya yang berada di lantai 2.
" Hai bos" sapa Nita yang baru saja keluar dari ruangannya. Dapat Nita lihat Tiara yang berjalan dengan lesu dan wajah kusutnya.
Tiara hanya tersenyum sekilas tanpa ada niat membalas sapaan dari sahabat sekaligus karyawannya. Tiara langsung masuk ke ruangannya setelah mendorong pintu kayu berwana coklat di depannya.
Nita yang masih berdiri sambil menatap Tiara penuh selidik melihat wajahnya yang tidak bersemangat pagi ini yang seperti ada masalah yang sedang dihadapi oleh sahabatnya tersebut. Tapi dia tidak ingin bertanya terlebih dahulu, dia yakin jika nanti mood Tiara sudah kembali membaik, maka sahabatnya sendiri yang akan bercerita langsung padanya tanpa dia paksa sekalipun.
Nita langsung melanjutkan niatnya untuk turun ke bawah setelah matanya tidak melihat bayangan tubuh Tiara yang sudah masuk ke dalam ruangannya. Dia ataupun karyawan lainnya tidak akan mengganggu Tiara terlebih dahulu. Akan dia biarkan sampai nanti Tiara sendiri yang mengajak mereka berbicara duluan.
Sementara itu Tiara yang sudah berada di ruangannya langsung duduk di sofa tanpa ada niatan untuk melakukan pekerjaannya. Untuk sementara dia akan menenangkan dulu pikirannya.
Ditatap ponselnya yang menyala yang layarnya menampilkan nomer seseorang yang selalu membuat dirinya nyaman. Entah kenapa dia ingin sekali menghubungi orang tersebut yang dia yakini sedang bekerja dan bisa saja sedang rapat. Dia begitu merindukan suara orang tersebut, padahal baru beberapa jam yang lalu mereka berpisah.
Tangannya dengan lancang langsung memencet sebuah tanda pemanggil di nomer yang dia beri nama ' My Husband'. Baru 2 kali nada dering memanggil berbunyi tapi sudah berhenti dan terganti oleh suara Rivan dari seberang.
' Halo? sayang...' sapa Rivan dari seberang yang tersenyum bahagia karena istrinya menelepon dirinya terlebih dahulu. Biasanya dia yang duluan menelpon karena merasa kangen dengan istrinya.
" Ha... halo, mas..." jawab Tiara dengan suara terbata saat mendengar suara seseorang yang telah membuatnya jatuh cinta.
' Ada apa, sayang?' tanya Rivan kemudian, saat mendengar suara istrinya yang terdengar kebingungan. ' Apa ada masalah?' tanyanya lagi merasa sedikit khawatir dengan keadaan sang istri saat ini.
" Gak mas" sahut Tiara dengan cepat tidak ingin membuat suaminya mengkhawatirkan dirinya yang tiba tiba menelponnya. " Apa kamu sibuk?" tanya Tiara lagi kini sudah bisa menormalkan nada suaranya agar suaminya lebih tenang di seberang sana.
' Aku lagi ada rapat' jawab Rivan dengan tenang.
Mata Tiara langsung terbuka lebar mendengar jawaban suaminya, begitu bodohnya dia tidak mengirimkan pesan terlebih dahulu, malah langsung menghubungi suaminya. Dia langsung gelagapan begitu mendengar kalau saat ini suaminya tengah sibuk dengan pekerjaannya.
" Eh...kamu sibuk, ya? maaf ...aku tutup teleponnya sekarang deh ya" ucap Tiara yang merasa tidak enak hati karena telah mengganggu suaminya yang dia yakini tengah rapat dengan pimpinannya.
' Ngomong sebentar saja gak apa apa kok' sahut Rivan dengan suara lembut. Saat ini dirinya memang sedang rapat beberapa teman kerjanya, namun dia undur diri sebentar untuk menerima panggilan telepon dari istrinya. Tidak apalah sebentar dia keluar dari ruangan rapat dan teman temannya juga memakluminya takut ada masalah penting yang terjadi terutama keluarganya.
" Gak ada apa apa mas, aku hanya..." kata Tiara tidak dapat menyelesaikan kata katanya.
' Aku juga kangen, sayang' ucap Rivan tiba tiba seolah mengerti apa yang ingin diucapkan oleh Tiara mengingat bahwa istrinya selama ini tidak pernah menghubungi dirinya terlebih dahulu. Rivan yakin saat ini istrinya pasti sedang ada masalah namun bingung harus mengatakan apa padanya. Berharap dengan dia bilang seperti itu istrinya bisa lebih tenang saat ini.
" Mas..." panggil Tiara dengan suara yang terdengar manja.
' Ya... nyonyaku' goda Rivan berusaha menghibur Tiara.
" Nanti siang ada waktu gak?" tanya Tiara
' Ini aku masih harus ngurusi kerjaan di Jakarta Barat, tapi nanti malam aku jemput kamu di rumah ibu ya. Gak pa pa kan, nanti kamu pulang duluan ke rumah ibu?' tanya Rivan merasa sedikit khawatir.
" Iya gak mas, ya udah aku tutup teleponnya ya. I love you mas. Semangat kerjanya" kata Tiara menenangkan suaminya yang terdengar mengkhawatirkan dirinya.
Mendapatkan kata kata cinta dari istrinya membuat Rivan langsung melayang. ' I love you to, sayang' sahutnya dengan cepat sebelum sang istri menutup teleponnya.
Dan benar saja setelah Rivan membalas kata cintanya, Tiara langsung menutup teleponnya.
Tiara tersenyum bahagia setelah mendengar suara suaminya yang selalu membuatnya jatuh cinta setiap saat. Dan benar saja setelah mendengar suara suaminya Tiara langsung lupa dengan masalah yang membuat moodnya buruk. Dan sekarang moodnya sudah kembali membaik dan siap untuk bekerja dengan semangat.