
Tidak lama dengan diselingi obrolan ringan mereka akhirnya telah menyelesaikan kegiatan sarapan mereka. Dan Tiara segera membawa semua peralatan makan mereka yang telah kotor ke wastafel dan ingin mencucinya.
Saat Tiara ingin mencuci piring tanpa dia sadari Rivan telah berdiri di belakang dan langsung melingkarkan tangannya di perut sang istri. Dan sontak saja hal itu mengejutkan Tiara yang langsung menghentikan kegiatannya yang ingin mencuci piring bekas sarapan mereka serta peralatan yang dia pakai untuk memasak.
" Mas..." panggil Tiara pelan.
" Sebentar saja" ucap Rivan meletakkan kepalanya di bahu Tiara yang membuat Tiara terdiam.
Setelah dirasa cukup memeluk sang istri, Rivan melepaskan pelukannya dan mengganti posisinya untuk berdiri di sebelah Tiara. Dan mengetahui suaminya memintanya bergeser Tiara menggeser tubuhnya ke samping karena mengira suaminya hanya ingin mencuci tangannya setelah memakan sarapannya.
" Mas... biar aku yang cuci piringnya" larang Tiara salah mengira, ternyata Rivan ingin mencuci piring kotor bekas makan mereka.
Tanpa mengindahkan larangan istrinya, Rivan terus mengambil dan langsung meletakkan beberapa peralatan di rak bagian bawah meja. Dan setelah dirasa semua sudah masuk ke dalam rak Rivan menutupnya dan memencet tombol.
" Kamu hanya perlu meletakkan semua bekas makan kita di sini sayang dan pencet tombol ini" beritahu Rivan yang ternyata itu adalah dishwasher yakni alat pencuci piring otomatis.
Tiara yang tidak tau menahu alat tersebut hanya terbengong saja melihatnya. Tanpa sadar kalau saat ini Rivan sudah memeluknya kembali dari belakang.
" Terima kasih sayang..." bisik Rivan pelan di telinga Tiara.
Sedari tadi melihat leher jenjang Tiara yang putih dan mulus, membuat Rivan tidak tahan untuk tidak menciumnya. Bibir Rivan sudah bermain di leher serta telinga Tiara yang membuat tubuh Tiara meremang.
Saat mereka tengah terbuai dengan kecupan Rivan di telinga serta leher jenjang Tiara. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sedari tadi melihat aksi mereka berdua di belakang mereka. Bahkan mereka tidak menyadari sama sekali saat orang tersebut masuk ke dalam rumah dan langsung disuguhi adegan mesra di depannya.
Merasa kesal karena kedua insan di depannya masih belum menyadari kedatangannya dan bahkan masih asyik dengan adegan mesra mereka berdua membuat orang tersebut geram.
" Ekhemmm.....!!!" suara deheman keras yang dibuat buat sontak langsung membuat Tiara dan Rivan menoleh ke belakang. Terlihat di sana ada seorang wanita paruh baya berdiri dengan kedua tang bersilang di dadanya menatap tajam ke arah mereka berdua.
Rivan yang mengetahui wanita tersebut langsung membulatkan matanya dengan lebar dan menelan ludahnya kasar. Rivan juga langsung melepaskan tangannya yang masih setia memeluk pinggang Tiara.
Sementara Tiara melihat penuh selidik tentang siapa wanita yang berkunjung ke rumah Rivan pagi pagi sekali itu. Wanita tersebut berusia sekitar 50 tahunan. Tubuhnya tinggi tegap dengan pembawaannya sangat elegan dan wajahnya terlihat masih cantik meskipun ada sedikit kerutan di bagian sudut matanya.
" Bunda..." ucap Rivan dengan lirih namun masih bisa didengar oleh Tiara yang berdiri di sebelahnya.
Tiara langsung menoleh ke arah Rivan dengan mata terbelalak dan mulut menganga. Kali ini jantungnya semakin berdebar semakin hebat menyadari panggilan suaminya pada wanita yang berdiri di depan mereka dan sedang memandang ke arah mereka tanpa senyum.
" Bunda kapan datangnya?" tanya Rivan lalu tersenyum miris pada istrinya yang masih terbengong. Ternyata wanita yang sedang memergoki mereka tengah bermesraan adalah bunda Amel.
" Bunda mau nagih janji, Van" kata wanita tersebut tenang tanpa senyum, namun tidak marah ataupun senang.
Tiara masih termangu setelah menyadari wanita yang berdiri di hadapan mereka adalah ibu dari suaminya. Campuran antara terkejut dan terpesona dengan pertemuan mendadak mereka membuat Tiara bingung harus berbuat apa.
Tiara langsung tersadar begitu merasakan genggaman tangan Rivan di jari jari tangannya. Dia langsung menoleh dan melihat Rivan tersenyum padanya, senyuman yang membuatnya yakin dan menularkan ketenangan untuknya. Diapun ikut tersenyum dan mengangguk pelan meskipun jantungnya seakan ingin melompat keluar.
Rivan mengajak istrinya mendekati sang bunda yang masih berdiri di tempatnya. " Bunda kenalin, ini Tiara" kata Rivan saat mereka berdua sudah berdiri di depan sang bunda dan langsung memperkenalkan sang istri.
Tapi untungnya tadi dia sudah mencuci wajahnya sebelum turun ke bawah. Namun adakah penampilan yang tidak lebih sopan dari ini saat bertemu untuk pertama kalinya dengan orang tua dari pasangan kita?. Tidak hanya itu dirinya kepergok telah bermesraan dengan putranya di dapur.
' Tiara?? kenapa namanya tidak asing?' tanya bunda Amel dalam hati mencoba mengingat ingat nama tersebut dengan alis bertaut dan menatap dalam ke arah Tiara. ' Tunggu dulu, apa ini Tiara yang diceritakan Rivan dulu? dan itu artinya?' masih bergumam sambil menahan senyumannya.
" Tante..." Tiara tersenyum gugup sambil mengangkat tangannya untuk menyalami tangan bundanya Rivan.
Bunda Amel hanya melihat tangan Tiara tanpa berniat menjabatnya. ' Jadi ini yang dimaksud Vani kalau dirinya pasti akan menyukai istri anaknya, jodoh memang tidak akan kemana' masih bergumam dalam hati mengingat laporan putrinya tentang istri Rivan.
Kalian ingat kan Tiara ini adalah orang yang sebenarnya mau dikenalkan sekaligus dijodohkan oleh bundanya Amel beberapa hari yang lalu. Beliau sendiri juga tidak mengenal Tiara, dia hanya sebatas tau namanya saja dari cerita Rivan saat berkunjung ke rumah ini dan Rivan bercerita tentang Tiara setelah sang bunda memaksanya.
" Jadi saya ini masih jadi tante atau sudah jadi bunda, nih?" tanya bunda Amel yang berbalik dengan pelan dan melangkah menuju ke sofa.
Rivan secepat kilat berjalan mendahului bunda Amel menuju ke sofa untuk mengambil tas serta jas dan dasinya yang masih berada di sofa. Dia meninggalkan Tiara begitu saja yang masih terbengong dengan ucapan bundanya Rivan. Lalu memanggil dan menyadarkan Tiara untuk menyusul dirinya dan dan sang bunda.
Tiara duduk dengan badan tegak dan gugup di sebelah Rivan dan sang bunda duduk di depan mereka berdua seperti seorang penyidik yang sedang menginterogasi seorang penjahat.
" Bunda mau minum apa?" tanya Rivan ingin mencairkan suasana yang terasa menegangkan bagi Tiara.
" Nggak usah Van. Bunda sudah minum tadi, yang belum bunda dapatkan itu keterangan tentang pernikahan kamu" sindirnya.
' Ya tuhan nyinyir banget mertuaku' batin Tiara dalam hati merasa tersindir. Di rumah dia memiliki ibu yang suka berkata pedas dan sekarang dia memiliki mertua yang suka menyindir.
Rivan menahan rasa geli dengan melipat bibirnya ke dalam mulut, melihat sikap canggung Tiara yang salah tingkah disindir habis habisan oleh bunda Amel.
" Kami sudah menikah beberapa hari yang lalu di KUA Cilincing. Saat itu ayah Tiara, pak Hendra yang menikahkan kami" kata Rivan menjelaskan pada sang bunda agar tidak menyindir Tiara terus menerus.
" Kok bunda gak diundang, Van?" tanya bunda Amel dengan tenang dengan tatapan penuh intimidasi yang langsung membuat Tiara menunduk karena takut disalahkan.
" Bukannya gak diundang, Bun. Kebetulan Rivan dan Tiara sepakat untuk menikah secara sederhana" jawab Rivan yang membuat kedua alis bunda Amel berkerut tidak setuju.
" Sebelumnya mohon maaf kalau kami dianggap lancang. Semuanya terjadi begitu saja dan begitu cepat" Tiara langsung menimpali ucapan suaminya sebelum ibu mertuanya mengomentari ucapan Rivan sebelumnya.
Rivan menatap Tiara penuh kagum, dia pikir Tiara akan diam saja dan membiarkan dirinya menjelaskan semuanya pada sang bunda. Ternyata Tiara tidak membiarkan dirinya maju sendirian. Seketika bunda Amel mendesah.
" Kalaupun itu bisa kalian jadikan alasan, tapi tidak dengan bunda. Kenapa setelah menikah kalian tidak langsung menghadap orang tua?" tuntut bunda Amel meminta penjelasan.
" Sebenarnya kami berencana menghadap ayah sama bunda" jawab Rivan dengan santai.
Bunda Amel menatap penuh selidik pada Rivan dan Tiara secara bergantian. " Tapi akhirnya kalian memutuskan untuk menunggu bunda yang mendatangi kalian lebih dulu, begitu kan?" ada sedikit kekesalan di hati sang bunda dengan sikap keduanya selama ini.
Ada rasa nyeri yang langsung menghantam dada Tiara mendengar sindiran ibu mertuanya secara bertubi tubi. Menurutnya ibunya sendiri selama ini selalu berkata pedas dan suka menyindir tapi dia biasa saja menanggapinya. Entah kenapa mendapat sindiran dari bunda Amel rasanya begitu nyeri di hatinya.