Suddenly Married

Suddenly Married
Harapan.



Seperti yang di katakan Varo tadi, ia akan mengantarkan Ananya pulang karena ingin membawanya ke mansion keluarganya untuk makan malam.


"Masih lama ?"


Ananya kaget melihat tubuh jangkung yang tiba-tiba berdiri di hadapannya.


"Sedikit lagi, pak." Jawabnya.


Alvaro mendaratkan bokongnya di kursi tepat di hadapan Ananya. sesekali ia memperhatikan gadis yang kini menjadi istrinya itu.


"Kenapa bapak liatin saya ?" Ananya salah tingkah.


"Memangnya tidak boleh ?"


"Nya malu pak !"


"Ooh, tapi kita kan sekarang sudah jadi suami isteri." Varo berniat menggoda Ananya, ia sangat suka melihat pipi Ananya yang memerah karena malu.


"Suami isteri ? Benarkah ? Mana buktinya ?" Ananya hendak membalas Varo dengan menggodanya.


"Jadi, kamu mau bukti. Akan kutunjukkan kalau begitu." Varo berdiri dan membungkuk di hadapan Ananya dengan mendekatkan wajahnya ke wajah Ananya. Ananya membelalak tidak percaya atas apa yang dilihatnya.


"Iya,,, iya,,, Pak Varo stop ! Nya cuma bercanda." Ananya Semakin panik.


"Bercanda ? Tapi aku tidak !" Varo.


"Pekerjaan saya sudah selesai, mari kita pulang pak.!" Ananya bergegas membereskan mejanya kemudian mengambil tasnya dan berjalan meninggalkan area kerjanya. Varo menarik seutas senyum oenuh kemenangan. Kali ini ia berhasil mengerjai Ananya.


*********


"Bunda... Nya pulang !" Ananya sedikit berteriak mencari tahu dimana keberadaan bundanya. Anna nampak berjalan dari arah dapur menghampiri si pemilik suara.


"Tumben pulang cepat, Eh, ada nak Varo rupanya." Kata Anna.


"Iya, bunda boss Nya lagi baik hati jadi bisa pulang tepat waktu." Ananya berkata sambil melirik ke arah Varo.


"Besok kamu tidak perlu bekerja biar kamu stay di rumah terus." Varo membalas perkataan Ananya.


"Tidak bisa begitu dong kak, Kerjaku kan bagus... Rugi dong kalau aku berhenti bekerja." Ananya protes.


"Tapi kan aku bossnya, dan kamu istriku." Varo balik memprotes.


"Istri katanya ?" Batin Ananya.


"Ananya, sudahlah... dengarkan apa kata suamimu nak. Jangan membantah." Anna menasihati keponakannya yang agak keras kepala.


"Bunda, mana bisa seperti itu ? Kalau dia meninggalkanku bagaimana ? Siapa yang akan menghidupiku ?" Ananya menolak permintaan Varo.


"Aku tidak akan meninggalkanmu, percayalah." Suara Varo merendah seolah ingin menunjukkan ketulusannya. Ananya terkesiap mendengar ucapan Varo. Sebenarnya tadi ia tidak sengaja berkata seperti itu, dia benar-benar keceplosan.


"Maaf kak, Nya cuma becanda kok. Serius..!" Ananya menggigit bibirnya karena cemas, dan Varo semakin gemas melihat tingkah istrinya itu.


"Ananya siap-siap dulu kak, kakak tunggu disini." Pinta Ananya namun tidak di indahkan oleh Varo. Ia malah ikut melangkahkan kakinya menuju kamar Ananya.


"Loh, kenapa kakak ikut kesini ? Gak baik loh kak laki-laki masuk ke kamar perempuan." Ananya.


"Yang bilang baik siapa ?" Varo.


"Nah, itu tahu... Kenapa masih disini ?" Ananya sedikit geram.


"Kan ini kamar istriku." Varo menjawab dengan enteng.


"Iya yah,,, kalau begitu kakak tunggu aja disini." Ananya menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya, tdiak lupa ia membawa handuk dan pakaian yang akan dikenakannya. Varo terkekeh kecil melihat tingkah polos istrinya.


Tak lama kemudian ia pun selesa. Namun naasnya, ada benda penting yang ia lupa bawa serta ke dalam.


"Ya ampun, kenapa aku bisa sebodoh ini ? Bagaimana ini ? Tidak mungkin aku keluar hanya menggunakan handuk. Namun tanpa benda itu, pakai baju sekali pun akan terasa aneh." Gerutunya dalam hati.


Ia pun memberanikah diri meminta bantuan kepada Varo.


"Kalau minta tolong sama dia, dia pasti berpikiran aku lagi menggodanya." Bergumam lirih.


"Kenapa lama sekali ? Apa kamu baik-baik saja di dalam sana?" Varo berteriak dari luar.


Ananya membuka pintu kamar mandi namun hanya menampakkan wajahnya saja.


"Kak... Nya boleh minta tolong ?" Ananya Memperlihatkan senyum recehnya.


"Kenapa ?"


"Kakak tolong buka lemari Nya, yang pintunya warna kuning." Alvaro berjalan menuju lemari pakaian dengan tiga pintu yang di cat warna warni.


"Terus ?" Varo.


"Kakak buka lagi laci ke dua dari atas." Sontak Varo terbelalak kaget melihat isi dari laci tersebut. Bagaimana tidak, isinya pakaian dalam semua.


"Maafin Nya yah kak... tolong ambilkan yang warnanya hitam." Ananya berucap lirih. Tanpa berkata-kata Varo langsung memilih salah satunya sesuai permintaan Ananya kemudian menyerahkannya kepada Ananya yang masih berdiri di balik pintu.


Ia menyeringai jahat, dalam otaknya tiba-tiba muncul ide untuk kembali menggoda Ananya.


"Jadi ukuranmu segitu ?" Sahutan Varo tidak mendapatkan jawaban dari Ananya.


"Tadi aku sudah melihat dan memegang covernya, berarti tidak lama lagi akan memegang dan melihat isinya." Kata Varo dengan nada mengejek.


"Dasar laki-laki mesum, tua bangka !" Ananya geram dengan ejekan suaminya.


"Apa katamu ? Aku mesum ? Tua bangka ?" Varo tdak terima dikatai mesum dan tua bangka.


"Aku ini bukan tua, tapi dewasa. Lagian yang mesum siapa ? Bukannya kamu sendiri yang sengaja menggodaku dengan menyuruhku mengambilkan bra mu itu ? Dasar aneh." Varo ikut terbawa emosi, sedangkan Ananya hanya diam saja, umpatan demi umpatan ia ucapkan dalam hati.


"Ada apa ini ribut-ribut ?" Anna tiba-tiba muncul.


"Tidak apa-apa kok bunda, biasalah suami isteri." Jawab Varo.


"Ooh,bunda kira kenapa. Ya sudah bunda kembali ke kamar yah."


"Iya, bunda. Sekalian kami mau pamit mau ke rumah Mamanya Varo." Kata Varo lagi.


"Pergilah, kalian hati-hati yah.."


Alvaro dan Ananya kompak mengangguk setelah kepergian Anna. Keduanyapun menuruni anak tangga kemudian menuju mobil. Laju mobil sangat pelan, sebenarnya Varo hanya ingin menikmati moment duduk berdua bersama istrinya itu. Lagu-lagu cinta nan romantis mengalun lembut memecah kesunyian di dalam mobil.


"Apa kamu sudah siap ?" Varo membuka percakapan.


"Siap tidak siap, bukannya kita harus selalu bersiap-siap? Toh cepat atau lambat semuanya akan terjadi juga bukan ?" Tanya Ananya balik.


"Hmm... maafkan aku yah." kata Varo.


"untuk apa kak ?" tanya Ananya.


"Ya karena aku, kamu jadi ikut repot mengikuti sandiwara di rumah." Varo.


"Sandiwara ? Tapi kita lagi tidak bersandiwara kak. Kita memang sudah menikah. Lagian semua ini terjadi karena terpaksa, demi Ibu." Ananya bingung dengan maksud Varo yang mengatakan bahwa mereka bersandiwara namun hatinya sedikit perih mengingat mendiang ibunya.


"Jangan sedih begitu, nanti jelek. Maksud aku, saat berada di rumah Mama nanti bersikaplah seolah kita telah saling mencintai. Yah, layaknya suami isteri pada umumnya." Kata Varo sedikit Ragu.


"Contohnya ?" Ananya bingung akan maksud varo.


"Ya... seperti sepasang kekasih. Seperti ini." Varo tiba-tiba meraih tangan Ananya dan meraihnya namun tetap fokus dengan kemudi dengan salah satu tangannya. Tubuh Ananya bergetar hebat, jantungnya berpacu lebih cepat, dan wajahnya tiba-tiba merona merah, ini adalah kali kedua Varo menggenggam tangannya seperti ini.


Ananya menarik perlahan tangannya dari genggaman Varo. Varo melongarkan genggamannya dan kembali menggenggam kemudi dengan kedua tangannya.


"Jadi sekarang kamu mengerti kan maksudku ?" Tanya Varo dengan senyum kemenangan di wajahnya.


"I..iya kak, Nya mengerti."


"Bagus, istri yang pintar. Oh iya, di depan mereka jangan panggil kakak yah. Kata Varo lagi.


" Hah...? terus panggil apa dong ? Masa harus panggil sayang ??" kata Ananya asal.


"Yuuppp betul. Panggil sayang." Varo tersenyum, sedangkan Ananya cemberut.


"Memang harus seperti itu ?" Tanya Ananya polos.


Varo memilih tidak menjawab pertanyaan Ananya. Sebenarnya alasannya ingin terlihat dekat dengan Ananya di depan orang tuanya untuk meyakinkan keluarganya kalau pernikahannya bukanlah sekedar rasa kasihan. Ia tidak ingin orang tuanya beranggapan bahwa Varo tidak bahagia dengan pernikahannya. Soal Vino, ia sudah yakin bahwa Ananya dan Vino hanya sekedar berteman. Iapun tahu bahwa Ananya menyuai Vino, tapu tidak dengan Vino. Tugas Varo sekarang yaitu membuat Ananya jatuh cinta kepadanya, dan mereka akan menjalani kehidupan Rumah tangga yang sesungguhnya. Itulah harapan Alvaro.


.


.


.


.


.


To be Continued.


Mohon meninggalkan jejak setelah membaca.


LIKE


COMMENT


SHARE


ADD FAVORITE


Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐


Vote Sebanyak-banyaknya.


Mohon kritik dan sarannya


Tetap jaga kesehatan yah teman-teman. Jangan anggap remeh pandemi ini.


Senantiasa jaga jarak, tetap gunakan masker dan rajin mencuci tangan


THANK YOU 🥰😘