
Dika tidak menyangka dari sekian banyak hal yang diinginkannya bahwa tantangan terbesarnya adalah mendapatkan Tiara dan menjadikan Tiara menjadi satu satunya miliknya. Sejak lama jika dia tidak meninggalkan Tiara waktu itu hanya untuk memenuhi keinginannya yang lain maka mereka akan disatukan dalam ikatan yang sakral.
Tapi dulu keinginan Dika hanya satu menjadi orang yang sukses sehingga dirinya tidak direndahkan oleh orang lain. Dan semuanya bisa terwujud setelah dia menikahi seorang perempuan yang sama sekali tidak dia cintai, lebih tepatnya Dika memanfaatkan kekayaan serta usaha yang dimiliki oleh calon mertuanya Dan akhirnya dia bisa mewujudkan semua keinginannya.
" Lalu kamu maunya apa, Tiara? apa yang harus aku lakukan untuk bisa mendapatkan kamu kembali?" tanya Dika yang sudah merasa kehilangan sebuah ketenangan dalam hidupnya. Dia akan terus membujuk Tiara agar mau menjadi miliknya lagi, apapun itu akan dia lakukan.
Tiara hanya menggeleng kepalanya pelan saat dia melihat sikap Dika yang sedari tadi terus mengejar dirinya dan ingin langsung memilikinya. Lalu menghela nafasnya dengan berat kemudian menghembuskannya.
" Nggak ada, karena gue udah gak mau jadi milik Lo lagi. Dan gue juga udah gak tertarik dan gak ada niat buat memiliki Lo lagi" ucap Tiara dengan gamblang berharap Dika bisa paham keinginannya saat ini. " Dari sini apa masih ada yang belum Lo mengerti?" tanya Tiara seolah memberikan briefing pada karyawannya yang belum mengerti dengan penjelasannya.
" Tapi aku butuh kamu di hidupku, Tiara. Please! berikan aku kesempatan sekali ini saja, dan aku pastikan tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan yang kamu berikan" pinta Dika yang terlihat memohon.
Kali ini Dika mencoba merendahkan dirinya bahkan terlihat serendah rendahnya di hadapan Tiara. Dan hal itu membuat Tiara begitu takjub dengan usaha Dika yang ingin kembali dengan dirinya.
"Kenapa sih, Dik? kamu jadi kayak gini, gak kayak Dika yang dulu gue kenal?" tanya Tiara begitu penasaran dan heran dengan sikap Dika saat yang berubah drastis gak kayak dulu.
Dika yang dulu adalah seorang pria yang penuh ambisius dengan gengsi yang sangat tinggi. Tapi lihatlah Dika yang sekarang memohon mohon pada dirinya. Bahkan terlihat begitu merendahkan diri hanya untuk sesuatu yang pernah dia lepaskan tanpa berpikir untuk kedepannya.
"Kayak gimana maksud kamu?" tanya Dika balik yang masih belum begitu paham dengan pertanyaan yang dimaksudkan Tiara.
Tanpa menatap wajah Dika yang duduk di hadapannya, perasaan Tiara saat ini begitu campur aduk. Ingin dirinya melampiaskan semua kekesalannya pada Dika selama lima tahun belakangan ini. Dirinya yang harus mendapatkan hinaan dari orang lain, yang mengatai dirinya perawan tua tidak laku laku. Nyatanya waktunya terbuang sia sia oleh ulah Dika, dan saat ini ingin sekali rasanya Tiara menyakiti Dika yang terlihat tak berdaya di hadapannya.
Dika terus menatap wajah Tiara yang seolah enggan untuk melihat ke arahnya. Dirinya ingin mencari jawaban Tiara dari sorot matanya tapi dia tidak bis melihatnya karena pandangan Tiara yang terus menghindari tatapannya.
" Maksud gue, Lo yang sekarang lebih terlihat seperti seorang pengemis, minta dikasihani terus dari tadi" jawab Tiara dengan terang terangan, tentu saja dia menggunakan kesempatan itu untuk menghina Dika saat ini. Keinginannya harus dia lampiaskan mumpung ada celah baginya untuk menghina dan menyakiti Dika saat ini.
Saat ini Tiara sudah berani menatap Dika dengan tatapan yang penuh ejekan dan penghinaan. Senyuman yang terlihat sinis dapat dilihat dengan jelas oleh mata Dika yang sedari tadi menatap wajah Tiara.
Dika hanya bisa mengerutkan kedua alisnya saat mendengar jawaban Tiara yang begitu merendahkan sekaligus menghina dirinya. Namun meskipun begitu dirinya hanya bisa membiarkan Tiara menghina dirinya asalkan Tiara bisa luluh dan bersedia kembali menjadi miliknya.
" Tiara, aku sungguh menyesali semua yang sudah aku lakukan ke kamu selama ini. Tapi aku harap kamu bisa memahami keadaanku dulu" ucap Dika dengan wajah yang terlihat memelas. " Harapanku saat ini adalah aku bisa balikin waktu dan mengembalikan kita kayak dulu lagi. Dan berharap kamu selalu tau betapa besar perasaan aku ke kamu, Tiara" lanjutnya terus memohon meskipun dirinya hanya bisa mendapatkan hinaan semata.
Dika tau saat ini Tiara butuh melampiaskan dendamnya, tapi dia juga tau bahwa pada dasarnya Tiara adalah perempuan yang baik. Setelah melihat Dika memelas dan memohon namun selalu terus terusan dikatai dan dihina, Tiara pasti akan merasa tak tega pada akhirnya.
Dika tidak mau tau pokoknya diskusi ini harus selesai sesuai dengan keinginannya.
" Sekarang aku hadir di depan kamu bukan mau membela diri, aku justru ingin mengakui semua kesalahan aku ke kamu. Aku menyesal, Tiara" Dika terus berusaha membujuk Tiara dengan terus memelas dan memohon.
Meskipun seorang perempuan terlihat judes, pada akhirnya mereka akan luluh juga oleh ego mereka. Dan sepertinya dapat Dika lihat bahwa strateginya telah berhasil saat melihat ekspresi Tiara yang terlihat melunak.
Tiara sendiri biasanya bersikap sangat menyebalkan terhadap siapapun yang telah menyakitinya. Tapi dia tidak pernah menjadi perempuan yang kejam dan pendendam, dirinya tidak pernah terus menyerang orang yang sudah menyerah dan mengaku kalah. Dika sangat tau dengan sikap Tiara tersebut, makanya dia memanfaatkan sifat mantannya itu dengan sangat baik.
Dika langsung tersenyum cerah. ' Kena kamu, Tiara...' batin Dika merasa puas dan sebentar lagi Tiara akan jadi miliknya lagi.
" Gue sudah maafin Lo, dan kita udah baikan tapi itu tidak berarti kita akan balikan" Tiara memperjelas kata katanya.
" Apa bedanya, Tiara?" tanya Dika menertawakan penjelasan Tiara yang baginya kurang masuk akal.
Bagi Dika, jika Tiara sudah memaafkannya itu artinya Tiara juga bersedia untuk berbalikan dengannya.
" Tentu banyak bedanya, Dika..." sahut Tiara dengan nada pelan tapi terdengar tegas. Tiara merasa bahwa Dika ini nampaknya masih begitu sulit menerima kenyataan.
" Aku gak ngerti maksud kamu, Tiara?" tanya Dika lagi seolah menjadi orang yang begitu bodoh.
Taira hanya bisa mendesah pelan. " Gak ada gunanya gue marah terus, karena gue udah merelakan kepergian Lo. Jadi, gue udah maafin semua perlakuan Lo ke gue, asal Lo gak balik lagi dalam kehidupan gue" jelas Tiara.
" Hahaha....." mendengar penjelasan Tiara seketika membuat Dika langsung tertawa kembali. " Itu baikan dari mananya, Tiara?" tanya Dika masih terus tertawa
" Dari sebelah gue yang udah gak benci lagi sama lo" sahut Tiara dengan cepat.
Dika menggeleng masih dengan tertawa namun kini suara tawanya semakin pelan. "Tapi kamu masih aja bersikap dingin ke aku dan itu artinya kamu masih membenci aku" kata Rivan memperjelas tatapan Tiara yang masih terlihat dingin saat menatapnya.
" Habisnya gue bersikap dingin aja, Lo masih aja gangguin gue. Gimana jadinya kalau gue bersikap hangat sama Lo" sindir Tiara masih dengan nada mengejek.
" Tiara, jangan bersikap berlebihan seperti itu dan itu satu satunya alasan kamu tidak bisa membuka hati kamu untuk aku" tatapan Dika begitu lembut dan terlihat menggoda Tiara.
Sekali lagi Tiara menghela nafas dengan panjang, matanya menatap tajam pada pria yang terlihat penuh percaya diri.
" Dika... kehilangan elo menjadikan pelajaran terbesar buat gue. Apa Lo tau apa yang gue dapatkan dari itu semua?" tanya Tiara kini suaranya lebih pelan tidak ingin berbicara keras karena di sana sudah banyak orang yang sedang menikmati makanan mereka.
" Apa itu?" tanya balik Dika ingin segera mengetahui maksud dari perkataan Tiara.
" Pelajaran terbesarnya adalah gue bisa menjalani kehidupan gue tanpa elo" jawab Tiara dengan mantap.
Dika langsung menegakkan dan kemudian memajukan tubuhnya hingga dadanya menempel pada meja yang memisahkan duduk mereka. " Bisa! tapi bukan berarti lengkap kan, Tiara?" tanya balik Dika dengan sura lirih namun penuh penekanan.
" Dik__" Tiara ingin membantah namun harus terpotong oleh ucapan Dika selanjutnya.
" Tentunya kamu merasa cacat kan, Tiara. Merasa bahwa ada bagian yang hilang dan kurang dalam hidup kamu, yang mati matian terus kamu tutupi dengan apapun itu. Kamu berusaha keras untuk menutupi bagian itu, tapi tetep saja gak bisa terpenuhi. Seperti kaki yang pincang karena diamputasi. Kamu tetap hidup tapi tidak lengkap, iya kan?" jelas Dika dengan penuh perasaan.
Penjelasan Dika membuat Tiara langsung terdiam dan terpaku, namun bukan berarti Tiara merasakan apa yang digambarkan oleh Rivan barusan. Justru dirinya sedang membayangkan bahwa Dika merasakan hal tersebut padanya dengan begitu kuat.