
Nyonya Kim melalukan perawatan sembari menggosip ria, dan tentu saja yang di gosipkan itu adalah menantu pemilik salon tersebut.
"Nyonya Kim kenapa sepertinya tidak suka dengan menantunya Jeng Fika? Padahal menantunya itu cantik dan juga baik loh," tanya temannya.
"Kalau yang namanya tidak suka ya tidak suka," jawab Nyonya Kim seraya mendengus, dan menikmati pijatan lembut yang di lakukan pegawai salon di bahunya. Karena saat ini dirinya sedang creambath.
Teman sosialitanya yang bernama Nyonya Nora, menaikkan kedua bahunya acuh, lalu membuka majalah kecantikan yang ada di pangkuannya.
"Oh, Iya, Nyonya Kim. Apakah kamu sudah melihat kabar terbaru dari keluarga Tommy, mantan tunangan anakmu itu?" tanya Nyonya Nora.
Nyonya Kim yang sedang menikmati pijatan di bahunya itu pun sontak langsung menegakkan punggungnya dan membuka kedua matanya, menatap temannya dengan serius.
"Ada apa? Aku belum tahu, karena kamu tahu sendiri aku ini adalah artis terkenal, banyak job, jadi aku tidak sempat melihat ponsel atau pun televisi," jawab Nyonya Kim apa adanya namun terselip kesombongan diantara kalimat yang ian ucapkan.
Nyonya Nora itu memutar kedua bola matanya dengan malas, seraya berdecih pelan, saat mendengar kesombongan Nyonya Kim yang tidak pernah luntur di makan usia. "So ... Tommy mantan tunangan putrimu itu di laporkan ke polisi karena telah melecehkan salah satu mahasiswi, satu Kampus dengannya akan tetapi berbeda fakultas," terang Nyonya Nora sembari menatap Nyonya Kim yang tampak terkejut.
"Tidak mungkin." Nyonya Kim seperti di tampar oleh keadaan. Pemuda yang dulunya ia agung-agungkan sebagai pria baik dan kandidat menantu idamannya itu ternyata sangat bejat.
"Tapi, itulah kenyataanya Nyonya," ucap Nyonya Nora, mengambil ponselnya. Jari lentik dan kukunya yang di hias dengan sangat cantik berselancar di layar ponselnya, kemudian ia memperlihatkan layar ponselnya kepada temannya itu.
Berita tentang Tommy si anak konglomerat menjadi tranding topik di media sosial. Nyonya Kim menggigit ujung jarinya dengan resah, kini ia sadar jika pilihannya yang menurutnya baik untuknya ternyata belum tentu baik akhlak dan juga sikapnya.
Ada rasa sesal di dalam hati Nyonya Kim karena ia sempat memaksa Aluna menikah dengan Tommy.
"Jadi sudah tahu 'kan? Untung saja Aluna tidak jadi menikah dengan Tommy. Sudah ketahuan boroknya lebih dulu, jadi Aluna terselamatkan dari pria bajingan seperti itu. Kalau aku menjadi Nyonya Kim, lebih baik mempunyai menantau biasa saja, asal baik dan bisa mencukupi kebutuhan putriku, dari pada mempunyai menantu kaya raya tapi tidak ber-akhlak."
Nyonya Kim merasa tertampar dengan ucapan temannya itu. Ia menundukkan kepala seraya menghirup nafas dalam-dalam.
Ternyata segala hal tidak dapat di nilai dari kekayaan, dan juga tahta. Harta dan tahta hanya bertahan saat berada di dunia sementara. Dan harta adalah sebuah titipan dari Tuhan. Maka jika ada orang yang mengagungkan harta dan tahta adalah orang yang gila harta, seperti Nyonya Kim, contohnya.
"Semoga Nyonya Kim bisa mengambil pelajaran dari peristiwa ini," ucap Nyonya Nora sembari tersenyum tipis, karena sudah lama ia menunggu momen ini, membuat temannya yang angkuh dan gila harta itu tersadar.
Nyonya Kim diam tidak menjawab ucapan temannya karena saat ini dirinya sedang larut dalam pikirannya yang berkecamuk.
*
*
*
Arjuna memarkirkan mobilnya di depan salon ibunya yang terlihat ramai pada siang hari itu. Istirahat makan siang, ia ingin menghabiskan waktunya bersama istrinya.
Arjuna melangkah masuk ke dalam salon tersebut sembari menundukkan kepala, karena banyak tante-tante yang memandangnya dengan tatapan ingin memangsa. Begitu pula para gadis yang sedang perawatan salon di sana sampai berdecak kagum saat melihat ketampanan Arjuna yang sangat sempurna.
Maka dari itu selama ini Arjuna tidak pernah datang ke salon, dan baru pertama kali ini dirinya berada di salon tersebut, itu pun karena istrinya berada di sana.
Di tambah lagi Arjuna hanya mengenakan kemeja berwarna hitam yang lengannya di gulung sampai ke siku, dan kancing bagian dadanya terbuka separuh memperlihatkan dada bidangnya yang sangat menggoda, membuat para wanita menjerit melihatnya dan ingin menubruk dada Arjuna yang pelukabel.
Penampilan Arjuna yang berantakan malah semakin membuat pria itu terlihat sangat tampan.
"Nyonya Kim lihatlah siapa yang datang." Nyonya Nora menjawil tangan temannya yang masih larut dalam segala pemikirannya.
Nyonya Kim tersadar lalu menoleh ke arah temannya itu. "Ada apa?" tanya Nyonya Kim.
"Tuh, anaknya Jeng Fika. Oh ... Gusti tampan sekali." Nyonya Nora berkata sembari mengarahkan ujung dagunya kepada Arjuna yang sedang berjalan menuju tangga yang ada di ujung ruangan salon tersebut. Nyonya Nora sangat heboh sembari memegang dadanya sendiri.
Andai saja jika dirinya masih muda, maka dia akan menakhlukkan Arjuna, pikir Nyonya Nora.
Nyonya Kim mengikuti arah pandangan temannya itu, dan betapa terkeutnya dirinya saat melihat pemuda yang pernah datang ke rumahnya dan mengaku sebagai suami putrinya.
"AH! Tidak mungkin!!!" pekik Nyonya Kim.
PLAK ... PLAK
Nyonya Kim menampar pipinya berulang kali, ia berharap jika semua yang ia lihat adalah mimpi.
"Hei! Apa yang tidak mungkin? Dia itu putranya Jeng Fika dan Papi gemulai, dan apakah kamu tahu jika anak kedua Jeng Fika adalah menantu nomer satu di negeri ini, Tuan Clark. Oh ... My God! Ini baru yang di namakan The real Crazy Rich," ucap Nyonya Nora menggebu-nggebu.
"Kamu mainnya kurang jauh, makanya KUDET!" lanjut Nyonya Nora, mencibir temannya yang ternganga lantaran sangat terkejut.
"Ti-tidak mungkin." Nyonya Kim masih tetap menyangkal jika yang ia lihat hanyalah ilusi. Mana mungkin seorang sopir menjadi seorang konglomerat?Dan di tambah lagi, keluarga Fika dan Keluarga Clark adalah besanan.
Nyonya Kim, tidak percaya semua ini.
"Benar yang di katakan Nyonya Nora, Nyonya," ucap Pegawai yang sejak tadi diam saja mendengar obrolan para sosialita itu.
"Abang Arjuna adalah putra dari Ibu Fika," jelasnya dan membuat Nyonya Kim semakin syok, dan tubuhnya terasa sangat lemas, tidak berselang lama dirinya pun terjatuh ke atas lantai dan kejang-kejang.
"Astaga!!" Nyonya Nora dan beberapa orang yang melihatnya pun heboh, dan panik melihat Nyonya Kim pingsan.
Namun tidak berselang lama, Nyonya Kim sadar kembali. "Jadi benar jika Arjuna itu adalah anak dari Jeng Fika?" tanya Nyonya Kim kepada orang yang mengelilinya.
"He-em," jawab Nyonya Nora seraya mengangguk pelan.
"I-itu artinya Arjuna adalah menantuku dan Aluna adalah istri Arjuna? Dan yang selama ini aku bicarakan adalah Aluna, anakku sendiri?" lirih Nyonya Kim namun terdengar seperti gumaman.
"Jadi Arjuna bukan sopir?"
"Tentu saja bukan, dia pebisnis sukses dan mempunyai bisnis hotel di pusat kota yang paling mewah itu," jelas Nyonya Nora, dan membuat temannya itu terbelalak lalu pingsan lagi.
"Kenapa pingsan lagi?" Nyonya Nora menepuk-nepuk pipi temannya itu.
***
Yuhuuuu!! Hari ini Emak mau Crazy Up! Dan jangan lupa dukungannya. Seperti biasa, kasih Vote, like, komentar, dan gift..
Ingat sudah hari senin kasih, Vote ya! Kalau nggak Vote nanti jempolnya cantengan 🤣🤣🙏