
Semalaman Ananya menjaga ibunya yang terbaring lemah di tempat tidur, ia pun tak kuasa menahan kantuk dan tertidur di sisi ranjang dengan beralaskan lengan terlipat untuk menyangga kepalanya. Sedangkan Varo sendiri merebahkan tubuhnya di sofa. Ibu Anna memilih pulang ke rumah karena besok adalah gilirannya berjaga di rumah sakit.
"Maaf, nona saya mengganggu sebentar." Soerang suster datang untuk memeriksakan kembali kondisi Ibu Lena, mengecek suhu tubuhnya, mengganti cairan infus serta mengukur tekanan darah Ibu Lena.
"Iya suster, silahkan." Ananya bangun dari tidurnya dan melihat ke arah Varo yang terlelap dalam tidurnya.
"Kenapa kak Varo masih disini, semalam aku sudah memintanya untuk pulang." Batinnya.
"Sudah selesai nona, saya permisi dulu." Pamit suster.
"Iya, sus. Terima kasih. Tapi bagaimana kondisi Ibu saya ?" Tanya Ananya sebelum suster benar-benar pergi.
"Kondisi pasien masih sangat lemah. Untuk lebih jelasnya dokter yang akan menjelaskannya nanti." Susterpun berlalu setelah melihat anggukan dari Ananya.
"Ananya, maaf aku ketiduran. Bagaimana keadaan Ibu kamu ?" Ananya menoleh ke sumber suara yang serak nan berat khas suara bangun tidur.
"Kak Varo sudah bangun,,? Ibu masih lemah dan belum sadarkan diri." Jawabnya melemah.
"Kamu lanjut istirahat aja, biar aku yang jagain ibu kamu dulu." pinta Varo.
"Tidak kak, ini sudah mau subuh kok. Mendingan sekarang kakak pulang aja nanti tante Dian nyari kakak." Pinta Ananya.
"Astaga, aku lupa kasi tau mama. Ponselku ketinggalan di rumah lagi." Ucapnya sambil menepuk jidat.
"Mm... kamu sendiri gak apa-apa kan ?" Tanya Varo yang merasa tidak enak meninggalkan Ananya sendiri menjaga ibunya.
"Tidak apa-apa kak." Ananya menggeleng disertai senyum manisnya.
"Nya....!" Suara lirih terdengar, seperti dipaksakan untuk berbicara dan kedengarannya seperti sangat lemah tanoa tenaga. Ananya dan Varo bersamaan menoleh ke sumber suara, yaitu Ibu Lena.
"Ibu.... jangan bergerak dulu bu, kondisi ibu masih sangat lemah." Ananya menghampiri ibunya dan duduk disampingnya sembari menggenggam tangannya.
"Nya, Varo... Hidup Ibu mungkin tidak akan lama lagi." Suara Ibu Lena nyaris tidak terdengar karena tidak punya tenaga.
"Ibu jangan bicara seperti itu. Ibu harus semangat untuk sembuh." Ananya mulai terisak.
"Nya, sebelum ibu pergi, Ibu ingin melihat kamu menikah." Ibu Lena menarik nafas panjang kemudian melanjutkan kata-katanya.
"Ibu akan tenang jika melihatmu bersama dengan orang yang tepat." Lagi-lagi Ibu Lena mengambil nafas karena merasa sesak.
"Ikuti permintaan terakhir ibu nak, bawalah kekasihmu dan menikah di hadapan ibu sebelum ibu pergi.." Ibu Lena terlihat semakin tersiksa.
"Ibu, Nya mohon jangan berpikiran seperti itu bu,,, Ibu pasti sembuh." Ananya kini tidak mampu menahan tangisannya yang mulai pecah. Sedangkan Alvaro sendiri berlari keluar mencari pertolongan kepada dokter.
Dokter pun datang, dan memeriksakan kondisi Ibu Lena.
"Nona, sebaiknya Nona memenuhi permintaan terakhir Ibu Anda." Bisik Dokter Rico pada Ananya namun masih dapat di dengarkan oleh Alvaro.
"Tapi bagaimana mungkin dok...!" Ananya kalang kabut atas permintaan ibunya. Kekasih saja dia tidak punya, bagaimana mungkin bisa menikah semudah itu.
"Aku akan menikahimu, Ananya !" Suara Alvaro menggema di ruangan itu, seutas senyum nampak di wajah Ibu Lena yang menahan rasa sakit.
"Baiklah, saya akan panggil Pak Shobri Imam masjid di Rumah Sakit ini, dia pasti sudah bersiap untuk ke Masjid." Kata Dokter Rico yang mulai sibuk menelpon seseorang.
"Tapi, kak Varo...!" Suara Ananya tertahan, ia pun tak tau harus berkata apa.
"Va...ro... Apa ka..mu ya..kin mmaa...u.. mennika..hi.. a..nak sa..ya ?" Ucapan Ibu Lena terbata.
"Iya, Bu... Saya akan menikahi Ananya putri ibu. Saya berjanji akan menjaga dan melindunginya." Ucap Varo dengan mantap.
Dokter Rico pun datang bersama dengan Pak Shobri, imam yang akan menikahkan Ananya dan Alvaro. Sedangkan dokter Rico dan salah satu mantri/perawat menjadi saksi pernikahannya. Tidak lama kemudian, Bunda Anna pun datang bersama Paman Aiman, adik dari Almarhum ayah Ananya. Setelah mendapat kabar dari Rumah sakit, Bunda Anna segera menghubungi Aiman untuk menjadi wali nikah Ananya.
Setelah keduanya mengambil air wudhu, prosesi ijab qabul segera di lakukan karena tidak ingin menunda waktu lebih lama. Ananya dan Alvaro pun kini sah sebagai suami dan isteri di mata Agama.
Merekapun memanjatkan do'a setelah para saksi mengatakan SAH atas pernikahan mereka. Wajah Ibu Lena nampak tersenyum, ia bahagia karena kini anak semata wayangnya telah memiliki pendamping hidup. Setidaknya ia tau lelaki seperti apa yang mempersuntingnya. Meskipun belum lama mengenalnya, tapi ia yakin Alvaro adalah lelaki yang baik dan bertanggung jawab.
"Nak..." Ibu Lena memberi isyarat kepada Ananya dan Varo agar mendekat kepadanya.
" Sepasang suami isteri itu harus saling berpegangan, jangan saling melepaskan." Kata Ibu Lena dengan suara yang lirih dan semakin melemah.
Itu adalah pesan pertama dan terakhir dari Ibu Lena buat Ananya dan Alvaro yang baru saja menikah. Ia pun perlahan memejamkan matanya, nafasnya mulai terhenti dan jantungnya kini berhenti berdetak. Pecahlah tangisan Ananya dan Bunda Anna.
Ananya kehilangan ibunya untuk selamanya. Ibu yang sangat ia sayangi, Ibu yang bijaksana dan tidak pernah mengeluh. Ibu yang tidak pernah memarahinya dan selalu memanjakannya.
"Ibu, jangan tinggalkan Nya, bu... Ibu bangun... Bagaimana bisa Nya hidup tanpa Ibu..."
Ananya benar-benar terpukul dan terluka atas kepergian ibunya. Belum kering rasanya air matanya karena di tinggalkan sang ayah lima tahun silam, sekarang ia pun harus kehilangan ibunya.
"Bunda.... suruh ibu bangun bunda... Ibu gak boleh pergi Bund.. tolong bund..!" Ananya berpindah merengek ke Bunda Anna.
"Ananya, dengarkan aku. Ibu sudah pergi, tolong ikhlaskan dia. Jangan menyiksanya lagi. Dia sudah tenang dan tidak merasakan sakit lagi." Alvaro memegang kedua bahu Ananya agar mau mendengarkannya. Bukannya tenang, Ananya semakin histeris, ia terkulai lemah di lantai meratapi kepergian ibunya.
Alvaropun berjongkok dihadapan wanita yang kini menjadi istrinya itu, ia berusaha menenangkan Ananya dan menuntunnya kedalam dekapannya. Seketika ia pun merasakan sesak di dadanya melihat Ananya yang sangat terpukul. Ananya membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami, air mata pun tak henti-hentinya menetes membasahi baju yang di kenakan Varo.
Setelah di semayamkan, dengan segera pihak keluarga mengantarkan almarhumah ke peristirahatannya yang terakhir. Makam ibu Lena berada tepat di samping suaminya.
*****
Sementara itu, di Mantion keluarga Wijaya Diandra tak bisa tidur dengan nyenya sejak semalam. Ia oun bangun lebih pagi karena mengkhawatirkan sang anak yang belum pulang ke rumah. Ternyata, ponsel Alavaro tertinggal di rumah, itu sebabnya ia sama sekali tidak bisa di hubungi.
"Vino, sekarang sudah jam sebelas, ayo bangunlah nak." Diandra
"Mama,,, maaih pagi. Lagian ini kan hari sabtu Mama...!" Vino.
"Kakak kamu belum pulang sejak semalam." Bentak Diandra
"Ma... Kakak Sudah besar. Siapa tau saja dia nginap di rumah temannya." Vino mengusap wajahnya kasar
"Tapi tidak biasanya kakak kamu seperti ini." Diandra semakin panik.
"Okay, Vino mandi dulu, setelah itu Vino dan Sherly keluar cari kakak. Sekarang Mama keluar dulu yah..." Pinta Vino.
"Awas kamu kalau bohongin mama." Diandra pun meninggalkan kamar anaknya itu.
.
.
.
.
.
To Be Continued
Tinggalkan jejak setelah membaca. Tolong berikan penghargaan buat author yang rela meluangkan waktu untuk update babnya. Klik like, comment dan Votenya donggg...🥰😍