Suddenly Married

Suddenly Married
Emosi Arjuna



PLAK!


Aluna sangat geram mendengar ucapan Tommy, dan melayangkan satu tamparan keras di pipi kanan pria berengsek tersebut.


"Jaga ucapanmu!" sentak Aluna dengan nada penuh penekanan.


Tommy memainkan lidahnya di langit-langit mulutnya, seraya mengusap pipi kanannya yang terasa perih, juga menatap Aluna dengan sinis.


"Kenapa kamu harus marah? Jadi benar yang aku ucapkan? Kalau kamu sudah tidur dengan pria itu!" sentak Tommy sembari melebarkan kedua matanya.


"Itu bukan urusanmu!" balas Aluna, ingin beranjak pergi dari sana namun langkahnya terhenti saat tangannya di cekal oleh Tommy.


"Tentu saja menjadi urusanku Aluna!" geram Tommy, seraya mencengkram tangan Aluna dengan kuat, sehingga membuat wanita itu meringis kesakitan.


Tommy marah dan kesal, pasalnya saat mereka masih bertunangan, Aluna sulit untuk di sentuh, bahkan untuk mencium bibir Aluna saja ia harus berjuang keras.


Tapi sekarang? Aluna seperti wanita murahan yang begitu mudahnya memberikan tubuhnya ke pria lain.


"Apa urusanmu?!" Aluna menatap tajam mantan tunangannya itu seraya menyentakkan tangannya agar cekalan tersebut terlepas. "Aku tegaskan sekali lagi. Kita sudah tidak mempunyai hubungan apa-apa lagi! Jadi jangan pernah mendekati aku ataupun menggangguku lagi!" ucap Aluna dengan penuh ketegasan.


"Aku tidak peduli! Aku mau kamu dan hanya kamu!" geram Tommy seraya menarik Aluna masuk ke dalam dekapannya.


"Lepas! Lepaskan aku berengsek!" umpat Aluna seraya memberontak di dalam dekapan Tommy. Ia memundurkan wajahnya saat pria itu ingin mencium bibirnya.


Kondisi lingkungan kampus sudah sepi, menjadi kesempatan Tommy untuk melancarkan aksinya.


"Di sini dia menyentuhmu?" Tommy menyentih bibir Aluna dengan lembut dan penuh damba.


"Kamu berengsek! CUIH!" Aluna meludahi wajah Tommy, lalu salah satu kakinya menginjak kaki Tommy dengan kuat membuat Tommy mengumpat seraya meringis kesakitan, sontak saja langsung melepaskan Aluna dari dekapannya.


Aluna tidak menyia-nyiakan kesempata, lari secepat mungkin dari halaman kampus tersebut, menuju gerbang kampus yang jaraknya cukup jauh.


"Ah, sial!" umpat Aluna, ia menyesal karena tidak menerima tawaran Mia yang ingin mengantarkannya pulang.


"Arjuna!" geram Aluna karena suaminya itu tidak kunjung datang.


Tommy mengusap wajahnya dengan lengannya, lalu mengejar Aluna yang berusaha untuk melarikan diri.


Aluna berlari sembari mengambil ponselnya yang ada di dalam tasnya untuk menghubunghi Arjuna. "Cepat angkat!!!" kesal Aluna karena Arjuna tidak kunjung mengangkat telepon darinya.


Sementara itu Arjuna yang baru saja selesai bertemu Klien terkejut saat mendengar ponselnya berdering.


"Astaga, aku lupa menjemput Aluna." Arjuna segera beranjak dari ruang meeting dengan tergesa sembari mengangkat telepon dari istrinya.


"Hal—" baru saja membuka mulutnya, Arjuna langusung terdiam saat mendengar ucapan istrinya seperti orang yang sedang ketakutan.


"Arjuna aku takut, cepat datang jemput aku ... hiks," balas Aluna, diujung telepon sana. Terdengar suara Aluna bergetar ketakutan, serta suara nafas yang tersengal, membuat Arjuna yakin jika istrinya itu baik-baik saja.


"Oke, aku sedang menuju ke sana," ucap Arjuna tanpa mematikan ponselnya. Beruntung jarak hotel dan kampus Aluna tidak terlalu jauh, hanya membutuhkan waktu 20 menit saja, ia sudah sampai di depan kampus Aluna.


"Kamu di mana?" tanya Arjuna kepada Aluna, saat keluar dari dalam mobil, berjalan memasuki kampus yang sudah sepi itu. Sambungan telepon mereka masih terhubung.


"Di toilet kampus yang di dekat tempat parkir. Aku takut ... hikss ..." jawab Aluna yang berada di salah satu bilik toilet bergetar ketakutan. Ia segera menutup bibirnya saat mendengar suara Tommy berteriak memanggilnya.


Tommy tidak menyerah mencari keberadaan Aluna. Ia harus mendepatkan Aluna kembali bagaimana pun caranya.


Arjuna mematikan ponselnya dan segera berlari menuju lokasi di mana istrinya berada. "Sial! Kenapa di sini tidak ada security sama sekali, kemana mereka?" umpat Arjuna saat menatap pos jaga di dekat gerbang kampus tampak kosong.


*


*


"Aluna! Aku tahu kamu ada di dalam! Keluar!!!" teriak Tommy sembari menggendor pintu toilet yang tertutup rapat dan terkunci dari dalam.


"Aluna!!!" teriak Tommy seraya mendobrak pintu toilet tersebut dengan kuat.


BRAK!


"Ya tuhan, tolong lindungi aku," batin Aluna sangat ketakutan.


Arjuna sudah sampai di toilet di dekat parkiran. Ia segera masuk ke dalam sana. Mendengar suara teriakan seorang pria yang memanggil nama istrinya, membuat Arjuna meradang. Ia segera berlari menuju sumber suara.


"Keluar Aluna! Kita bersenang-senang," teriak Tommy lagi, lalu tertawa terbahak seperti orang kesurupan.


"Apa yang kau lakukan!" sentak Arjuna kepada Tommy.


Tommy menoleh dan menajamkan penglihatannya. "Ah, ada pahlawan ke sorean rupanya," ucap Tommy seraya tersenyum iblis.


Aluna merasa lega saat mendengar suara suaminya, ia segera menghapus air matanya yang membasahi pipinya.


"Kamu bukankah pria yang tadi pagi?Yang mengaku sebagai Tunangan Aluna?" ucap Arjuna dengan santai seraya menggulung lengan kemejanya sampai sebatas siku.


"Dan sekarang kamu ingin mengganggu Aluna-ku?" tanya Arjuna lagi, melangkah semakin dekat, kedua matanya menatap tajam Tommy, seperti hewan buas yang siap untuk mengintai mangsanya.


"Aluna-mu?" Tommy terkekeh pelan seraya memundurkan langkahnya saat Arjuna semakin mendekat ke arahnya. Aura gelap menyelumuti Arjuna, membuat pria itu semakin terlihat mengerikan di mata Tommy.


"Ya, Aluna-ku!" jawab Arjuna seraya menarik kerah baju Tommy, mengepalkan tangannya dengan kuat dan rahangnya mengetat hingga giginya bergemelutuk.


"Hei, Bung. Kita bisa bicarakan baik-baik, jangan memakai kekerasan," ucap Tommy yang tiba-tiba nyalinya menciut saat melihat betapa mengerikannya pria yang sedang mencengkram kerah bajunya itu.


"Cih! Pengecut!" umpat Arjuna seraya melayangkan tinju ke rahang Tommy dengan kuat.


BUGH!


Satu kali tinju, Arjuna berhasil melumpuhkan lawannya. Tommy terjatuh ke atas lantai dan beberapa giginya terlepas, karena terlalu keras ia memberikan tinju kepada pria tersebut.


"Arghhh!" Tommy mengerang kesakitan di atas lantai seraya memegangi rahanganya yang terasa sangat sakit luar biasa.


"Bangsat!!! Berani sekali kau mengganggu istriku!" umpat Arjuna seraya menendang Tommy yang masih di atas lantai.


"I-istri?" Tommy berucap di sela rasa sakit yang mendera. Ia terkejut mendengar pengakuan Arjuna.


"Iya! Dan hanya ini kemampuanmu?!" cibir Arjuna, dan melayangkan tendangan lagi ke arah Tommy, membuat pria itu bertambah kesakitan.


Aluna yang berada di dalam toilet segera keluar, saat mendengar Arjuna memukuli Tommy.


"Arjuna sudah, hentikan," ucap Aluna seraya mengehampiri suaminya yang masih di selimuti emosi.


Arjuna menoleh dan menatap istrinya yang terlihat kacau. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Arjuna lalu memeluk istrinya itu dengan erat.


"Aku baik-baik saja," jawab Aluna seraya menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Menumpahkan tangisnya di sana.


Beruntung suaminya datang tepat waktu, jika tidak? Ia tidak tahu hal buruk yang terjadi kepadanya selanjutnya.


"Aku akan melaporkanmu ke polisi!! Lihat saja!!" ucap Tommy masih bersikap sombong, seraya bangkit dari atas lantai.


"Laporkan saja, aku tidak takut!" jawab Arjuna sembari menatap tajam Tommy yang meringis kesakitan.


*


*


Njaluk di ulek si Tommy itu, kesel!😡


Emak mengiba, kasih vote, like, komentar, dan hadiah, please🙏🥺