
Saat Tiara sedang bergelut dengan memikirkan Rivan yang selalu membuatnya bahagia dalam hidupnya. Bahkan dirinya dengan senang hati menunggu kedatangan suami yang terus membuat hidupnya kembali lebih berwarna dan berbunga. Padahal waktu yang masih belum sedikit banyak sesuai dengan kesepakatan ya g telah dia katakan ditelpon tadi saat dirinya memberikan tenggang waktu pada Rivan.
Tiara sampai harus melipat bibirnya ke dalam bahkan menggigitnya agar tidak terlihat bahwa saat ini dia sedang tersenyum bahagia. Dia tidak ingin dilihat orang lain sedang tersenyum sendirian hingga membuat orang berfikir bahwa dirinya sedang gila.
Karena dalam otaknya terus memikirkan Rivan, hingga dirinya tidak menyadari seorang pria yang memanggilnya. Dia mendengar panggilan tersebut tapi dia masih berfikir bahwa yang memanggilnya adalah Rivan. Dan dengan buru buru Tiara tersenyum dan membalikkan tubuhnya melihat ke arah pemanggil.
Namun detik kemudian senyuman yang tadinya terlihat cerah menghiasi bibir Tiara, tiba tiba langsung menghilang. Dengan mata memutar malas, lidah mencebik dan wajah yang langsung berpaling ke samping dengan hati yang begitu sangat kesal.
Dia benar benar kecewa saat harapannya langsung kandas ketika melihat sosok pria yang tadi pagi membuat moodnya langsung memburuk. Tadinya dia berharap dan mengira yang datang adalah suaminya Rivan tapi ternyata pria yang sudah membuat hatinya terluka beberapa tahun terakhir ini.
Hai" sapa Dika kembali dengan wajah yang sumringah karena dia mengira senyum lebar yang Tiara sematkan di bibirnya barusan adalah untuk dirinya. Tapi rupanya hal tersebut hanya salah paham semata yang tidak dipedulikan oleh Dika yang terpenting dia bisa melihat kembali senyum cerah Tiara.
Tiara tidak membalas sedikitpun sapaan dari Dika bahkan dia seolah enggan untuk menatap pria yang berdiri di depannya dengan jarak 2 meteran. Wajahnya sudah berubah menjadi datar, dingin dan ketus. Tanpa berkata apa apa Tiara langsung membalikkan badannya lagi dan menganggap Dika hanyalah orang asing yang kebetulan saja lewat di depan butiknya.
Akan lebih baik dirinya segera menjauh dari Dika yang akan membuat moodnya kembali memburuk. Lebih baik dia menunggu Rivan ditempat lain meskipun harus pergi menjauh dari depan butiknya.
" Tiara!" melihat Tiara yang akan menjauh darinya Dika segera memanggil Tiara dan menarik bahu Tiara.
Merasa kesal bahunya ditarik oleh Dika, Tiara langsung berbalik dengan wajah yang sudah memerah. Tiara langsung menghempaskan dengan kasar tangan Dika yang mencengkeram bahunya. Dia menatap Dika dengan penuh amarah dan kebencian yang sudah mendarah daging di dalam tubuhnya. Dia tidak ingin masa lalunya merecoki kehidupannya yang berangsur menjadi lebih baik dari sebelumnya. Apalagi mengingat ajakan Dika tadi pagi yang membuatnya muak, untuk memulai kembali hubungan mereka yang sudah dihancurkan sendiri oleh Dika.
" Tiara kasih aku kesempatan...." ucap Dika yang langsung membuat Tiara tertawa sinis penuh ejekan saat mendengarnya.
" Sejak kapan sih elo jadi stupid kayak gini Dik? Apa yang gue omongin tadi pagi nggak masuk di kepala kamu ya?" ucap Tiara yang merasa lelah apalagi saat ini banyak orang yang pasti melihat perdebatan mereka saat ini mengingat saat ini mereka berada di depan umum.
Tiara sama sekali tidak menyisakan segaris senyumpun setelah tawanya berhenti. Dia berusaha menjaga jarak dengan Dika, dengan tangan menyilang di depan dadanya dengan angkuh. Matanya menatap ke segala arah berharap segera melihat kedatangan suaminya.
" Kali ini kita nggak akan terpisahkan, aku janji" ucap Dika dengan tulus yang dia buat sebaik mungkin.
Ucapan Dika langsung membuat penekanan tombol peringatan dini pada diri Tiara untuk berwaspada. Dia benar benar tidak habis pikir dengan Dika, bagaimana bisa pria tersebut masih saja berusaha mendekati dirinya, setelah tadi pagi dia telah mengatakan status barunya yang telah menikah dan menjadi milik pria lain.
Tiara mendesah, dia tau apa yang dilakukan Dika saat ini adalah salah dan dia tidak habis pikir bahwa pria yang telah beristri tersebut sanggup mendekati dirinya setelah dia mengatakan dia sudah menikah. Tiara langsung bergidik ngeri, tidak bisa membayangkan jika dirinya sampai luluh dan meninggalkan Rivan, sosok suami yang telah membuat hidupnya bahagia.
Tiara menggeleng dan menatap mata Dika dengan sangat tajam. Tiara tau saat melihat mata pria di depannya itu, bahwa sudah tidak ada lagi cinta di hatinya untuk pria yang sudah beristri tersebut.
" Teruslah bermimpi Dik! Tapi gue mohon jangan libatin gue dalam mimpi konyol elo itu!" ucap Tiara dengan tegas dan dingin.
" Sayang..." panggil seseorang yang langsung membuat Tiara menengok dan kini dapat dia lihat Rivan yang sedang berjalan mendekati dirinya. Wajah Tiara langsung merasa lega saat melihat wajah suaminya, pria yang dia tunggu akhirnya datang juga.
Tanpa pamit, Tiara langsung meninggalkan Dika yang masih diam membatu seperti patung menuju ke arah Rivan. Tiara sudah muak menghadapai Dika, dan dia ingin segera pergi dan tidak melihat wajah pria tersebut hingga sisa umurnya.
Tiara berjalan dengan cepat dan penuh percaya diri mendekati Rivan yang saat ini juga berjalan mendekati dirinya. Padahal saat itu Tiara sedang menggunakan sepatu high heels, namun dia tetap berjalan dengan lemah lembut nun terlihat kokoh dan tegas.
Entah karena emosinya yang naik akibat kedatangan tiba tiba Dika di hadapannya atau karena perutnya yang mulai melilit karena kelaparan karena sejak siang dirinya tidak makan siang. Tiba tiba Tiara merasa kehilangan konsentrasi saat melangkah. Ketika dirinya sudah semakin dekat dengan Rivan, Tiara merasa tubuhnya limbung.
Keseimbangan tubuh Tiara pun terganggu, kakinya saling beradu dan membuatnya hampir terjatuh. Dengan reflek Tiara langsung terpekik ketika masih di udara, tidak dia sangka dirinya akan terjatuh dengan memalukan setelah berlaku dingin pada Dika. Dia juga tidak menyangka akan terlihat konyol di hadapan Rivan.
Beruntungnya saat itu Rivan sudah berada di dekat Tiara yang sedang menutup matanya karena merasa dirinya sebentar lagi akan mencium pinggiran aspal. Rivan dengan sigap menolong Tiara, dengan kakinya yang panjang dengan satu langkah saja dia berhasil menggapai Tiara. Kakinya setelah berlutut sambil menahan tubuh Tiara dari arah bawah.
Tiara yang tersadar tubuhnya tidak sampai jatuh ke pinggiran aspal melainkan ditahan oleh otot lengan yang kuat. Matanya langsung terbuka menatap manik mata hitam pekat yang menatapnya dengan cemas. Entah kenapa Tiara selalu bersikap serampangan jika sudah berada di hadapan Rivan. Dia seolah tidak ingin melepaskan diri dari Rivan bahkan saat mereka sudah kembali berdiri dengan tegak.
" Kamu nggak apa apa?" tanya Rivan dengan lembut. Wajahnya begitu khawatir sambil memperhatikan kaki Tiara, dan hendak berlutut dan mengecek kaki Tiara apakah terkilir atau tidak, namun Tiara mencegahnya.
Tiara menahan binar harunya saat menatap wajah Rivan, berbeda jauh saat dirinya tadi terus berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah di hadapan Dika. Rivan yang selalu ada untuknya dan menjadi satu satunya pria yang menggerakkan hatinya dan membuatnya bahagia.
" Makasih, sayang...." ucap Tiara dengan suara pelan dengan tatapannya penuh kekaguman dan rona kemerahan di wajah Tiara.
Tiara tersenyum dan menatap Rivan penuh dengan arti dan wajah mereka begitu dekat sehingga Tiara dapat melihat keterkejutan pada wajah Rivan.
Jantung Rivan nyaris berhenti mendapati seorang perempuan yang menatapnya dalam dengan pesona yang tidak berkurang baginya. Pipi Tiara yang semua merah terlihat manis di mata Rivan bahkan terlalu manis.
" Sama sama, sayang..." balas Rivan kemudian mengecup pipi Tiara yang merona.
Tiara tersenyum hangat menerima kecupan Rivan, sementara Rivan ingin waktu berhenti agar kejadian itu bisa berlangsung lebih lama.
" Yuk....!" ajak Tiara pada Rivan suaminya.
Rivan kembali menahan rasa terkejutnya saat Tiara menggenggam tangannya dengan erat.Fi ekor matanya dapat Rivan lihat sesosok pria yang berdiri sedikit jauh dari mereka. Pria tersebut tampak tidak senang saat melihat dirinya dan Tiara bersamaan.
Sebenarnya Rivan tadi sempat melihat Tiara sedang berbincang dengan pria tersebut bahkan dapat dia yakini pria tersebut juga yang telah mengajak Tiara pergi tadi pagi. Dia tidak ingin merusak suasana yang indah tersebut maka dia berusaha untuk menahan rasa penasaran tingginya. Saat ini Rivan ingin menikmati debaran dalam hatinya karena tangannya yang ditarik Tiara dengan lembut