
Tuan Kim mengikuti Arjuna tanpa memedulikan istrinya. Ia kini berada di lobby hotel mewah tersebut, namun dirinya terlambat Arjuna dan Aluna sudah masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil keluar dari area hotel tersebut.
“Daddy! Ini sangat keterlaluan!” Nyonya Kim menghampiri suaminya yang berdiri seperti orang bodoh di depan lobby hotel tersebut.
“Aku kehilangan mereka!” sentak Tuan Kim tertahan, sembari menatap tajam istrinya. “Dia masih putri kita dan dengan teganya kamu mengatakan aku keterlaluan!”
“Sudah menjadi pilihannya untuk meninggalkan rumah dan menikah dengan Sopir miskin itu! Jadi stop untuk mencari mereka lagi,” jawab Nyonya Kim dengan segala ke-egoisannya.
“Ibu macam apa kamu ini!” Tuan Kim tidak habis pikir dengan istrinya yang sudah di perbudak oleh popularitas dan juga kekayaan. “Aku tidak menyangka jika kamu berubah menjadi wanita sejahat ini!” Tuan Kim mengucapkan hal tersebut sembari menatap kedua mata istrinya dengan penuh kekecewaan dan juga amarah bercampur menjadi satu.
Tuan Kim beranjak pergi dari sana, tanpa mengatakan satu kata apa pun lagi. Ia sudah benar-benar kecewa dengan sikap istrinya.
“Daddy mau ke mana?” tanpa merasa bersalah Nyonya Kim mencegah suaminya yang akan pergi meninggalkannya. “Pertemuan kita dengan produser bagaimana? Ini adalah kesempatan besar mendapat tawaran yang amazing.” Nyonya Kim seperti tidak punya hati sama sekali. Ia masih bersikap egois dan mementingkan karier-nya saja.
Tuan Kim hanya menoleh sesaat dan melanjutkan langkahnya lagi tanpa mau menggubris istrinya.
Nyonya Kim menghentakkan kakinya dengan kesal dan berulang kali, karena sepertinya ia akan kehilangan kesempatan besar untuk meraih kesuksesannya.
*
*
*
Sementara itu, Arjuna saat ini sedang fokus menyetir mobil dan Aluna sedang duduk di samping suaminya sembari memainkan game yang ada di ponselnya.
“Mia tadi menghubungiku berulang kali. Dia mengajakku untuk makan malam di luar,” ucap Aluna tanpa menoleh karena saat ini dirinya sedang fokus menekuri layar ponselnya.
“Mia? Teman kampusmu?” tanya Arjuna seraya menoleh sekilas.
“He-em, tepatnya dia adalah fans beratmu,” jawab Aluna seraya mencebikkan bibir.
“Waoh, sepertinya menarik. Lain kali ajak aku untuk bertemu dengannya,” ucap Arjuna dan langsung mendapat pelototan dari istrinya.
“Why? Ada yang salah?” tanya Arjuna seraya menaikkan kedua bahunya.
“Kamu ini pria beristri dan tidak pantas jika bersikap genit seperti itu! Apalagi dengan temanku sendiri!” sewot Aluna seraya berdecih kesal.
“Hei! Siapa yang genit? Aku hanya ingin menjalin pertemanan dengan temanmu juga,” jawab Arjuna apa adanya dan fokus menyetir mobil. Tapi tiba-tiba ia menoleh ke arah istrinya seraya tersenyum penuh arti.
“Atau jangan-jangan kamu cemburu ya?” tanya Arjuna dengan tatapan penuh menyelidik.
“Aku cemburu? Tentu saja tidak.” Aluna berkilah lalu memfokuskan pandangannya ke layar ponselnya, bermain game lebih menarik dari pada meladeni ocehan suaminya yang terkadang membuatnya salah tingkah.
Arjuna terkekeh-kekeh ketika mendengar jawaban istrinya. Ia melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota yang padat merayap pada malam hari itu. Dan ia menghentikan mobilnya saat melihat tanda rambu lalu lintas menunjukkan warna merah bertanda jika semua pengendara jalan raya harus berhenti.
“Heum, aku sepertinya mencium bau sesuatu yang aneh,” ucap Arjuna seraya memiringkan badannya seraya mengendus tubuh istrinya.
“Bau apa?” tanya Aluna seraya ikut mengendus kedua ketiaknya.
“Bau kebohongan,” bisik Arjuna dan seketika itu langsung membuat kedua pipi Aluna memerah seperti kepiting rebus.
“Hei! Apa maksudmu?” Aluna mengerutkan keningnya seolah tidak mengerti dengan ucapan yang di lontarkan suaminya itu.
Arjuna tersenyum seraya menegakkan punggungnya, memperbaiki duduknya di jok mobil. Siap untuk melanjutkan perjalanan menuju rumah saat melihat tanda lampu lalu lintas sudah berubah hijau, menandakan jika semua pengendara lalu lintas di perbolehkan melajukan kendaraan mereka.
“Berapa banyak wanita yang mendekatimu?” Bukannya menjawab pertanyaan suaminya, Aluna malah balik bertanya kepada Arjuna.
“Tidak terhitung,” jawab Arjuna sembari tersenyum tengil.
“Cih! Sombong, dasar buaya buntung!” sungut Aluna, menatap suaminya dengan sengit.
“Apakah kamu lupa jika suamimu ini adalah pria tampan, kaya, sukses? Jadi wajar saja jika aku menjadi idola para wanita,” jawab Arjuna seraya menepuk dada kirinya, membanggakan dirinya sendiri.
“Kenapa kamu menjadi narsis begitu sih?” cibir Aluna seraya memutar kedua matanya dengan malas menanggapi ucapan narsis suaminya itu.
“Atau jangan-jangan kamu adalah pemain wanita?” Aluna menoleh dan menatap suaminya dengan sangat tajam.
“Jangan menatapku seperti itu, dan yang kita lakukan di hotel tadi adalah pengalaman pertamaku juga,” jawab Arjuna dengan penuh kejujuran.
Ucapan Arjuna berhasil membuat pipi Aluna memerah lagi karena ia menjadi mengingat percintaan panas mereka yang penuh gairah.
“Asal kamu tahu, ibuku adalah mantan atlet karate, sedangkan Opa ku adalah mantan atlet tinju. Jika aku berani macam-macam atau mempermainkan seorang wanita maka hidupku akan berakhir di tangan mereka,” jelas Arjuna tanpa ada yang di tutupi lagi.
“Wow, keluargamu sangat luar biasa,” puji Aluna yang merasa takjub dengan keluarga suaminya itu.
“Dan lebih menakjubkan lagi adalah ayahku,” lanjut Arjuna. Ia menjadi terkekeh geli saat mengingat ayahnya yang gemulai itu.
“Ayahmu? Papi? Beliau kenapa?” tanya Aluna dengan penuh tanda tanya.
“Nanti kamu akan tahu sendiri jika bertemu dengannya,” jawab Arjuna seraya membelokkan mobilnya menuju rumah utama.
“Eh! Ini mau kemana?” tanya Aluna saat memperhatikan jalan yang asing menurutnya.
“Ke rumah ke dua orang tuaku,” jawab Arjuna seraya menoleh dan melempar senyuman tipis.
“Hah?! Tapi aku belum siap, dan pakaianku ...” Aluna menjadi panik, seraya menelisik penampilannya yang masih mengenakan baju olah raga.
“Mereka sangat baik dan tidak melihat orang dari penampilannya. Tenang saja, kamu akan merasa betah jika berada di sana.”
“Betah berada di sana? Kamu tidak berniat untuk mengajakku menginap di sana ‘kan?” tanya Aluna semakin panik. Entah kenapa saat mengetahui jati diri Arjuna yang sesungguhnya membuatnya menjadi insecure. Merasa tidak pantas untuk Arjuna.
“Bukan menginap, tapi kita akan tinggal di sana,” jawab Arjuna.
“WHAT!!” pekik Aluna sangat terkejut dengan pernyataan suaminya itu. “Arjuna aku--” ucapan Aluna terhenti saat mobil Arjuna berhenti di depan rumah yang sangat mewah dan megah, terlihat seperti istana. Bahkan rumah mewah kedua orang tuanya saja tidak sebanding dengan rumah Arjuna.
“Jika Mommy tahu identitas Arjuna yang sebenarnya pasti akan kejang-kejang,” batin Aluna yang masih terperangah melihat rumah mewah tersebut.
“Ini rumahmu?” tanya Aluna dengan nada tergagap.
“Bukan, tapi rumah kedua orang tuaku,” jawab Arjuna merendah, lalu mengajak Aluna turun dari dalam mobil.
“Aku belum siap,” ucap Aluna seraya menggelengkan kepalanya.
“Benarkah? Tapi kalau bercinta di dalam mobil kamu siap tidak?” tanya Arjuna seraya menaikkan sebelah alisnya.
“Sial! Dasar maniak!” umpat Aluna, segera turun dari mobil tersebut dan terus mengumpati suaminya yang sekarang menjadi sangat mesum jika berada di dekatnya.
Cie ... cinta di antara mereka sudah mulai berkembang biak🤣🤣🤣🙈