Suddenly Married

Suddenly Married
Terbang ke Paris



"Kamu tak apa? Apakah anak kita baik-baik saja?" tanya Arjuna ketikan istrinya sudah keluar dari kamar mandi.


Arjuna merangkum pundak istrinya dan menuntunnya hingga duduk di tepian tempat tidur.


Aluna tersenyum meringis melihat ke khawatiran suaminya. Ia menjadi merasa bersalah karena terlah mengerjai Arjuna.


"Aku baik-baik saja," jawab Aluna.


"Benarkah?" Arjuna berjongkok di depan Aluna, mengusap perut Aluna yang masih rata itu dengan penuh kelembutan. Ia juga mengecup beberapa perut istrinya.


"Sayang, semua baik-baik saja,"ucap Aluna, menyakinkan suaminya agar tidak khawatir kepadanya.


Arjuna bernajak dan menatap istrinya dengan dalam. "Baiklah kalau begitu, sekarang istirahatlah." Arjuna membantu istrinya untuk merebahkan diri di atas tempat tidur.


"Jangan khawatirkan aku. Aku akan tidur, dan kamu bisa kembali bekerja," ucap Aluna ketika melihat sorot mata suaminya yang menunjukkan ke khawatiran kepadanya.


Arjuna menghela nafas panjang. "Kamu yakin?" tanya Arjuna.


"He-em. Di rumah 'kan ada Bibi, Mama dan Papi," jawab Aluna.


"Baiklah kalau begitu." Arjuna menundukkan kepalanya lalu mengecup kening dan bibir istrinya tidak lupa menyesap bibir itu atas bawah bergantian.


Arjuna segera beranjak dari kamar tersebut. Ia kembali bekerja karena ada meeting penting dan beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan sebelum mereka berangkat honey mon ke Paris.


Waktu berjalan begitu cepat dan hari yang di tunggu telah tiba. Di mana Arjuna dan Aluna akan berangkat ke Paris. Binar kebahagiaan terlihat jelas dari wajah Aluna, yang sejak tadi terus mengulas senyum.


Fika, dan Nue mengantarkan anak dan menantunya ke bandara. Tidak ketinggalan Nyonya Kim dan suaminya.


"Jangan lupa oleh-oleh untuk Mommy. Tas dan jam tangan branded," bisik Nyonya Kim saat memeluk putrinya.


"Iya, jika tidak lupa," jawab Aluna.


"Harus di ingat dong. Suamimu itu kaya jadi harus di manfaatkan!" Nyonya Kim berbicara dengan penuh penekanan.


Kini gilaran Fika yang memeluk menantunya. "Jaga diri di sana, jangan terlalu lelah. Ingat di perutmu ada baby kalian," ucap Fika kepada menantunya, yang berbeda dengan ibunya sendiri.


"Iya, Mama, terima kasih banyak sudah mengingatkan," jawab Aluna.


"Jika bukan kami orang tua yang mengingatkan kalian siapa lagi. Arjuna jangan membuat menantu Mama kelelahan," ucap Fika, yang sudah memberikan ultimatum kepada putranya.


"Siap, Mama," jawab Arjuna.


"Ingat pesan Mommy tadi." Nyonya Kim berbicara kepada putrinya.


"Memangnya kamu berpesan apa kepada memantuku?" tanya Fika dengan ketus.


"Rahasia dong!" jawab Nyonya Kim.


"Cih! Modelan sepertimu pasti hanya meminta barang-barang branded!" tebak Fika.


Nyonya Kim memalingkan wajahnya dengan sangat angkuh, kesal karena besannya mengetahui keinginannya.


Kan jadinya malu. 🤣🤣


Pesawat yang di tumpangi Aluna dan Arjuna kini sudah mengudara di angkasa.


"Akhrinya aku akan ke Paris." Aluna memekik sambil bertepuk tangan. Masa bodo jika dirinya di anggap kampungan oleh penumpang lainnya.


Aluna menatap deretan sekumpulan awan puntih yang terbentang luas di angkasa. Terlihat sangat indah dan sangat menakjubkan.


"Kamu bahagia?" tanya Arjuna.


"Ya, sangat," jawab Aluna, menoleh ke arah suaminya. Ini adalah pengalaman pertamanya terbang ke Paris, maka dari itu dirinya sangat bahagia.


Arjuna mengusap pucuk kepala istrinya dengan lembut, ternyata membuat istrinya bahagia itu sangat sederhana.