Suddenly Married

Suddenly Married
Panggil Saya Bunda



Kembali Tiara menundukkan wajahnya yang penuh dengan penyesalan. Dan sepertinya cukup sampai disini saja dia menyampaikan pendapatnya ataupun argumennya dihadapan bundanya Rivan.


Dia sudah pasrah jika saja bundanya Rivan sudah sangat marah ataupun kesal dengannya. Semua orang punya hak untuk bisa menyukai ataupun membenci seseorang begitu juga dengan bundanya Rivan apakah beliau akan membenci Tiara itu adalah haknya dan Tiara ataupun Rivan tidak bisa memaksanya.


Semuanya kembali lagi pada Rivan ataupun bundanya Rivan, apakah mereka mengerti dan memahami pendapatnya barusan. Jika mereka menerimanya maka Tiara patut berbangga, namun jika mereka tidak menerima argumennya dia juga tidak akan memaksakan lagi.


Dan kelanjutan hubungan pernikahan dirinya dan Rivan juga tergantung pada pendapat dan restu sang bunda. Meskipun sebenarnya yang memiliki hak sepenuhnya adalah Rivan dan dirinya, namun mereka juga tidak bisa mengabaikan hak dari orang tua Rivan.


Rivan hanya diam terpaku dan takjub mendengar pendapat dan argumen dari dua perempuan yang berarti dalam hidupnya. Awalnya dia pikir dirinya akan banyak bicara untuk membela ataupun melindungi istrinya dari sindiran sang bunda. Tapi rupanya Tiara punya cara sendiri untuk membela dirinya sendiri. Dan hal itu membuat Rivan begitu bangga karena telah berhasil memperistri Tiara dengan keyakinannya sendiri bahwa Tiara adalah jodoh terbaik yang dikirim Tuhan untuk dirinya.


" Satu hal yang harus kalian sadari, bahwa dua orang menikah bukan hanya menikahi seseorang, tapi kalian juga harus menikahi keluarga pasangan kalian juga. Masalah yang kalian hadapi tidak hanya kalian berdua saja, tapi keluarga kalian juga akan mengalaminya. Dan bunda tidak ingin nilai seperti hilang meskipun nanti bunda memiliki cucu ataupun cicit. Kalian mengerti?" jelas bunda Ratu dengan suara pelan dan tidak setegas seperti sebelumnya.


Matanya bergantian menatap ke arah putra dan menantunya. Beliau tau Rivan dan Tiara merasa bersalah dan penuh penyesalan mendalam. Namun disisi lain dia juga merasa kagum dengan keberanian Tiara menghadapi dirinya di pertemuan pertama mereka.


" Mengerti" sahut Tiara dan Rivan bersamaan dengan wajah mereka yang tertunduk penuh penyesalan. Namun dibalik wajah mereka ada senyum tipis terbit di kedua sudut bibir mereka merasa lega setelah dirasa bunda Amel sudah tidak marah seperti sebelumnya.


" Sekarang bunda yang akan mengurus resepsi pernikahan kalian" kata bunda Amel santai.


Baru saja mereka tersenyum dan merasa lega, kepala mereka langsung mendongak secara bersamaan dengan mata membulat sempurna setelah mendengar perkataan bunda Amel. Sekilas Rivan dan Tiara saling bertatapan seolah bertanya satu sama lain, tapi mereka tidak dapat mengatakannya dan langsung menatap ke arah bunda Amel.


" Tapi bunda__" Rivan ingin menolak keinginan yang bunda karena sedari awal sebelum pernikahan Tiara dan Rivan sudah sepakat untuk mengadakan pernikahan sederhana tanpa mengadakan resepsi. Tapi belum sempat Rivan melanjutkan ucapannya sudah dipotong duluan oleh bunda Amel.


" Tidak ada penolakan, Rivan" bunda Amel bahkan sampai mengangkat tangan kanannya bertanda dia tidak ingin dibantah lagi.


" Tapi Rivan dan Tiara sudah sepakat untuk tidak mengadakan resepsi pernikahan, Bun..." ucap Rivan bersikeras menolak keinginan sang bunda. Tiara sendiri sudah sedikit merasa kurang nyaman dengan pembicaraan tersebut.


Berbeda dengan mereka berdua yang terlihat menolak keinginan bunda Amel. Justru bunda Amel tertawa geli dan sini dengan ucapan Rivan barusan. Seolah menganggap saat ini Rivan tengah bercanda saja.


" Kita tinggal di Indonesia Rivan sayang....hidup kalian tidak akan pernah tenang jika pasangan suami istri tidak mengadakan resepsi pernikahan...." jelas bunda Amel.


Kali ini raut wajah Rivan dan Tiara terlihat resah dan bunda Amel menyadari hal itu. Beliau hanya bisa mendesah jadi apa yang dikatakan Rivan barusan adalah hal serius bahwa mereka benar benar tidak ingin mengadakan resepsi pernikahan mereka.


" Bunda bicara sesuai dengan fakta, Rivan. Kalian tidak akan bisa menjadi pasangan yang hidup tenang, karena kalian akan digosipkan dan dihakimi yang macam macam oleh masyarakat seumur hidup kalian" berusaha meyakinkan pasangan suami istri yang duduk di depannya.


" Dan bunda tanya sama kamu, Van. Apa kamu tega ayah sama bunda yang menanggung sisa hidup kami dihakimi dan digosipkan karena pernikahan kamu?" tanya bunda Amel dengan serius.


" Apa itu tidak terlalu berlebihan, bun?" tanya Rivan yang merasa bundanya terlalu mendramatisir situasi dan terlalu melebih lebihkan masalah mereka.


" Bukanya kamu sudah kelewatan memilih istri tanpa bunda?" tanya bunda Amel dengan sengit dan membuat Rivan tidak bisa berkata lagi.


" Jadi serahkan semuanya sama bunda" lanjutnya dengan tegas tidak ingin dibantah lagi.


" Tapi bun__" belum sempat Rivan ingin membantah lagi ucapan bundanya, Tiara memegang lengan Rivan dengan lembut yang duduk disebelahnya. Dan itu berhasil membuat Rivan terdiam dan menatap tangan Tiara yang memegang lengannya.


" Baik bu" ucap Tiara kemudian. " Kami akan serahkan semuanya pada ibu" lanjutnya menyetujui keinginan ibu mertuanya.


Bunda Amel tau bahwa ini adalah cara Tiara meminta maaf padanya sehingga dia langsung menyetujui keinginannya dengan tegas dan penuh keyakinan.


" Ikatan pernikahan bukan untuk mainan, jadi jangan harap kalian bisa melaluinya dengan mudah dan tertawa tawa. Harus ada kerja keras dan pengorbanan yang harus kalian hadapi nantinya agar pernikahan kalian bisa awet. Apa kalian mengerti?" ucap bunda Amel seolah dia sudah memberikan sedikit wejangan untuk pernikahan mereka ke depannya.


" Baik bu, kami mengerti" sahut Tiara sambil mengangguk.


Rivan hanya terdiam dari tadi, dia masih tidak percaya dengan jawaban yang sedari tadi dilontarkan oleh istrinya. Namun telinganya masih terus mendengar dengan seksama ucapan bunda dan istrinya, sejurus kemudian dia ikut mengangguk mengiyakan wejangan sang bunda saat Tiara meremas pelan lengan Rivan.


" Bunda, Tiara. Panggil saya bunda sama kayak Rivan memanggil saya bunda" tegas bunda Amel dengan sudut bibirnya tersenyum yang dibalas dengan senyuman oleh Tiara namun terlihat kikuk sebelum akhirnya dia mengangguk mengiyakan.


Bunda terus menatap wajah Tiara yang memang sangat cantik meskipun terlihat bahwa perempuan tersebut belum mandi. Bunda begitu bangga dengan putranya bisa menikahi seorang wanita yang tidak hanya cantik namun juga pintar menghormati pendapat orang lain tanpa mengorbankan prinsip hidupnya sendiri.


" Sehabis ini kalian mau ngapain?" tanya bunda Amel dengan nada santai dan lembut sehingga menjadikan suasana di sana menjadi santai dan ringan.


" Habis ini kita mau mandi dan setelah itu Rivan mengantar Tiara pulang" kali ini Rivan yang menjawab pertanyaan sang bunda juga dengan nada suara yang lembut.


" Kenapa pulang? inikan rumah kalian berdua dan seharusnya kalian sudah tinggal bersama bukan?" tanya bunda Amel yang sekali lagi merasa bingung melihat jalan kehidupan rumah tangga mereka berdua.


" Belum Bun, kami belum pernah tinggal bersama" sahut Rivan, kali ini wajahnya terlihat menyedihkan di mata sang bunda yang prihatin melihatnya.


" Tiara pulang untuk mengambil baju baju Tiara dan Tiara akan membawanya kesini. Dan mulai sekarang Tiara akan tinggal di sini bersama Rivan, bun" kali ini Tiara yang menjawab sebelum ibu mertuanya marah lagi sehingga suasana rumah ini tidak kembali tegang seperti sebelumnya.


Saat dia sedang memasak tadi, Tiara sempat memikirkan cara mengatakan pada Rivan untuk bisa tinggal bersama dengan suaminya di rumah ini. Mengingat pertengkaran mereka tadi malam, karena disebabkan oleh kurangnya kepercayaan serta komunikasi diantara mereka. Agar hal serupa tidak terjadi lagi di kemudian dari Tiara memutuskan agar mereka bisa tinggal bersama. Hal itu dilakukan agar diantara mereka harus terjalin komunikasi yang baik dan saling percaya satu sama lain. Dan sekarang waktu yang tepat mengatakan semuanya pada Tiara sekaligus ibu mertuanya


Dan pernyataan Tiara barusan sukses membuat Rivan menatap istrinya yang juga tengah menatapnya dan tersenyum.bibir Rivan langsung tersenyum bahagia mendengar keputusan yang telah diambil oleh sang istri.


" Baguslah dengan begitu kalian bisa memulai kehidupan rumah tangga kalian dengan baik" dapat bunda lihat wajah putranya yang sangat bahagia dengan keputusan Tiara. Dia yakin bahwa kehidupan pernikahan mereka akan berjalan dengan baik, melihat tatapan mata keduanya yang menyiratkan tatapan penuh cinta diantara mereka.