Secret Mafia In Love

Secret Mafia In Love
MBA



...MBA By Lautan Biru...



Kanaya mencekram kedua tangannya diiringi dengan keringat dingin yang menyerang.


Pikirannya mulai berkecamuk saat terlintas bagaimana dirinya nanti harus bersikap. Apalagi saat bertemu dengan Alex pemilik bar yang bersedia membantunya untuk memberikan uang untuk biaya operasi sang adik.


"Bagaimana ini." Kanaya begitu takut melakukan hal yang menurutnya sangat berdosa, tapi mau bagaimana lagi jika adiknya sedang berjuang untuk menunggu pertolongannya.


Kanaya duduk dipinggiran ranjang dengan wajah pucat dan cemas, tapi keadaan membuatnya harus bisa melakukan hal yang bertolak belakang dengan hati dan logikanya.


Kanaya berdiri dan berjalan mendekati jendela yang tidak cukup besar. Dari sana dirinya bisa melihat kelap kelip lampu di kegelapan malam.


Helaian napas terdengar begitu saja dari bibirnya, seolah melepaskan beban berat yang sejak tadi bergelayut di pikiranya.


Saat tengah melamun Kanaya tidak menyadari jika ada seseorang yang membuka pintu kamar yang dia tempati. Kamar yang ditunjukkan Alex untuk dirinya melakukan hal untuk mendapatkan uang.


Seorang pria berjalan mendekati Kanaya yang tengah bersedakep dada sambil menatap pemandangan malam dari kaca jendela dikamar itu.


Pria itu memasukkan tangannya sebelah kiri ke saku celana, kemeja putih dilapisi jas yang tidak dikancingkan.


"Menungguku."


Suara bariton membuat Kanaya terkejut dan membalikkan tubuhnya, dan Kanaya melihat seorang pria tengah menatap dirinya dari atas sampai bawah membuat Kanaya sedikit risih dan jantungnya berdetak lebih cepat. Apalagi tatapan pria itu seperti ingin menelannya hidup-hidup.


Kanaya menelan ludah saat melihat pria itu berjalan mendekatinya sambil membuka jas yang dia pakai. Bisa Kanaya pastikan dirinya akan berakhir malam ini.


Kanaya memejamkan mata sejenak, untuk menyakinkan dirinya. "Ayo Kay, kamu pasti bisa. demi Fikri." Ucapnya dalam hati dan kembali membuka matanya.


"Akh..." Kanaya terkejut saat melihat wajah pria itu didepannya saat dirinya membuka mata. "A-anda mengagetkan saya." Ucap Kanaya terbata sambil menunduk ketakutan.


Pria itu menaikkan sebelah alisnya. "Memangnya wajahku seperti hantu." Ucapnya dengan suara berat.


Kanaya mendongak, menatap wajah pria didepanya. Kedua mata pria itu terlihat merah dengan senyum seperti meremehkan.


"Aku tidak tahu apa yang spesial pada dirimu, sehingga aku harus mengeluarkan uang banyak untuk memakai jasa mu." Ucap pria itu yang berbalik berjalan menuju ranjang.


Kanaya meremat ujung gaun yang dia pakai, gaun kekurangan bahan yang dia kenakan dengan rasa tidak nyaman.


Air matanya seketika jatuh, jika dirinya tidak memiliki beban yang terlalu berat maka Kanaya tidak akan melakukan hal yang menurutnya sangat tidak pantas seperti ini. Tapi semua dia lakukan untuk sang adik yang sedang terbaring di rumah sakit.


"Mendekat lah."


Kanaya mendongak dan mengusap air matanya, dirinya menatap pria yang sedang duduk di sisi ranjang dengan kedua tangan terlentang kebelakang sebagai tumpuan.


Kanaya berjalan pelan mendekati ranjang, jantungnya benar-benar berdebar kencang seiring kakinya melangkah perlahan untuk mendekat, tidak berani menatap wajah pria itu Kanaya hanya menunduk untuk meyakinkan langkah kakinya.


Melihat jalan wanitanya yang seperti siput, pria itu tidak sabaran dan memilih bangkit lalu menarik tangan Kanaya cepat.


"Akh, tuan..!" Kanaya memekik saat tubuhnya tiba-tiba jatuh di atas pangkuan pria asing yang sayangnya sangat tampan.


"Kau lambat seperti siput." Ucap pria itu diiringi tawa.


"Mau apa tuan." Ucap Kanaya yang terkejut melihat reaksi si pria yang sedang membuka kancing kemeja.


"Mau melepaskan baju, memangnya apa?" Tanyanya yang membuat Kanaya hanyalah bisa menunduk malu. Melihat wajah pria itu saja jantungnya sudah berdebar kencang, apalagi ini akan melihat sesuatu yang tersembunyi di balik kemeja dan jas yang dia kenakan.


"Aku sudah sekarang giliran mu." ucap pria itu yang membuat Kanaya melotot karena tiba-tiba pria itu menurunkan tali gaun yang dia pakai dari pundaknya.


"T-tuan."


.


.


Kanaya berjalan tidak nyaman di lorong rumah sakit, jam yang sudah menjelang pagi membuat lorong rumah sakit begitu sepi sehingga tidak membuat Kanaya merasa risih ataupun malu saat semua orang melihat cara jalanya.


"Em.. kenapa rasanya seperti ini setelahnya." Gumamnya sambil mengigit bibir bawahnya, Tangannya merambat di tembok untuk berpegangan agar dirinya sampai di ruang inap Fikri.


Untung saja tadi Kanaya langsung mendapatkan uang saat keluar kamar. Karena ternyata Alex menunggunya dan mentransfer uang yang Kanaya dapatkan setelah mendapatkan kesepakan.


"Good job Kay, kau bisa membuatnya lepas perjaka."


Ucapan Alex masih terngiang di kepala Kanaya. Jadi pria bernama Arfiano itu sama sekali tidak pernah melakukannya. Ada rasa aneh yang menjalar dalam hati Kanaya, tapi kembali lagi Kanaya tidak ingin memikirkan hal itu setelah dirinya mendapatkan uang. Karena dirinya sadar jika apa yang dia lakukan hanya semata-mata karena uang bukan yang lain.


Ceklek


Kanaya masuk keruangan adiknya, posisinya masih sama, Fikri terbaring di atas ranjang dengan selang infus yang menempel.


Bibir Kanaya tertarik keatas untuk tersenyum, meksipun hatinya merasakan perih yang luar biasa.


"Kamu pasti sembuh Fik, kakak akan berusaha sekeras mungkin untuk membuatmu sembuh." Ucapanya dengan air mata yang mengalir dan hati yang tercabik-cabik.


Sosok seorang ayah yang seharusnya mereka banggakan malah bersenang-senang diluar sana, bahkan sama sekali tidak memperdulikan keadaan mereka sekarang.


.


.


.


Kanaya berjalan mondar mandir didepan pintu ruang operasi, dengan rasa cemas dan takut. Satu jam lebih Fikri berada didalam ruang operasi bertaruh nyawa.


Dalam hatinya tak hentinya berdoa untuk meminta kesembuhan dan keselamatan sang adik, meskipun dirinya merasa tidak pantas untuk melakukanya. Karena Kanaya menyadari jika dirinya bukanlah seorang hambanya yang baik.


"Tuhan lancarkan pengobatan Fikri." Ucapnya yang terus memohon.


Dua jam lebih Kanaya menunggu dengan cemas dan takut, dan setelah itu dirinya melihat pintu ruang operasi terbuka.


Ceklek


Kanaya langsung menghampiri dokter yang keluar dengan perasaan khawatir.


"Dokter bagaimana?" Tanya Kanaya dengan penasaran.


"Operasinya berjalan lancar, tapi -"


"Tapi apa dok?" Jantung Kanaya berdebar kencang, menunggu apa yang akan dokter katakan.


Dokter pria paruh baya itu membernarkan letak kaca matanya sebelum menjawab pertanyaan Kanaya. "Kondisi pasien masih Kritis, dan masih dalam pantauan intensif, untuk sementara pasien tidak bisa di jenguk. Berdoa saja semoga adik anda memiliki semangat untuk sembuh." Ucap dokter itu, sambil menatap Kanaya iba.


Kanaya kembali menjatuhkan air matanya. "Semoga adik anda bisa melewati masa kritisnya, kami akan berusaha semampu kami." Dokter itu menepuk pundak Kanaya sebelum pergi.


Kanaya mengusap kaca pintu yang memperlihatkan bagaimana Fikri terbaring lemah didalam sana. Melihatnya saja hatinya sudah seperti di sayat, Kanaya tidak menyangka adiknya akan mengalami kehidupan seperti ini.


"Maaf kan kakak Fik, semoga usaha kakak tidak akan sia-sia." Ucapannya dengan perasaan hancur.


.


.


Di resort Arfin baru saja sampai, setiap akhir pekan pria itu selalu datang untuk menghandle pekerjaan yang sudah dibebankan kepadanya, tapi karena masih ingin mengabdi diperusahaaan sahabatnya Arfin memilih untuk datang di akhir pekan selama 3 hari.


"Malam tuan muda." Herman memberi salam setelah putra pemilik resort terbesar di mana tempatnya bekerja.


"Kenapa? aku tidak suka melihat wajahmu yang seperti itu?" Ucap Arfin sambil menutup pintu mobil.


Baru turun mobil Arfin sudah di suguhkan wajah tidak mengenakan Herman, dan gelagat pria itu membuat Arfin jengah.


"Maaf tuan, saya tidak bermaksud seperti itu. Saya butuh bantuan tuan." Kata Herman tanpa ada rasa malu untuk meminta bantuan.


Arfin menaikkan alisnya sebelah, pria itu menatap Herman dengan seksama.


"Saya membutuhkan uang untuk pengobatan anak saya." Katanya sambil menatap Arfin tanpa malu.


"Uang? pinjam? bukankah gaji kamu besar di resort ini, bahkan lebih besar dari yang lain." Kata Arfin.


"Tapi saya sedang butuh untuk pengobatan anak saya tuan, saya mohon." Katanya lagi.


Arfin menatap Herman seksama, memindai wajah pria yang berusia 45 tahun yang sedang menatapnya. Wajah Herman biasa saja, datar tanpa ada yang bisa Arfin tebak.


"Ck, menyebalkan."


Arfin masuk kedalam kamar pribadinya di resort, kamar khusus untuk dirinya jika datang.


"Hah.." Menghempaskan tubuhnya di ranjang, Arfin memejamkan mata dengan pikiran melayang di mana kejadian malam kemarin di bar.


Samar-samar Arfin bisa mengingat pergumulan panas mereka, dimana dirinya melakukannya lebih dari satu kali. Tapi Arfin tidak bisa mengingat wajah wanita yang berada di bawah tubuhnya, yang bergerak erotis diatas tumbuhnya, alkohol yang membuatnya sampai tidak bisa mengenali wanita itu, dan Arfin sangat menyesalinya.


"Ahh..Anoo.. Engh.."


Suara yang terdengar merdu membuat tubuhnya meremang.


"Anoo, kenapa kau memanggilku seperti itu baby..Uhh tuhan ini enak sekali shh."


Arfin mengingat panggilan wanitanya yang terdengar berbeda dari yang lain, dan dirinya menyukai panggilan wanita itu.


"Umm, hanya ingin. Dan aku suka Anoo ahh jangan kuat-kuat."


Rintihan dan rancauan wanita itu semakin membuat Arfin menelan ludah. Hingga pusat tubuhnya tiba-tiba mengeras membuatnya membuka mata.


"Shitt..!" Arfin mengumpat dan langsung bangun dari tidurnya, pria itu mengusap rambutnya kasar dengan wajah frustasi.


"Come on, jangan membuatku frustasi." Katanya sambil melihat kebawah, bagian bawahnya sudah mengembung karena rudalnya di balik celana.


"Hah..Dasar wanita penggoda."


...🖤🖤🖤...