
" Aahhkkk..." Elang berteriak entah yang ke berapa kalinya saat dia merasakan rindu ini semakin menyesakkan di dadanya.
Mendengar teriakan dari kamar putranya membuat Lila langsung menghampiri pria yang sedang kasmaran tersebut.
Brak!
Lila membuka pintu kamar putra dengan begitu kasar hingga membuat pria yang berada di dalamnya langsung melihat ke arah sumber suara.
Tidak kelainan tidak bukan itu adalah wanita yang paling berjasa dalam hidupnya. Daniella Wilton Grey.
Melihat wanita itu yang melakukannya Elang tidak bisa marah. Yang ada hanya bisa diam menikmati semua ini.
" Mom, kenapa Mommy masuk ke sini?" Tanya Elang pada ibunya.
Dia sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun karena dia begitu merindukan Elle.
" Kamu yang kenapa? berteriak di malam hari seperti ini. Tidak kah kamu tahu ini jam berapa?" Elang hanya bisa memutar bola matanya dengan malas.
Menanggapi ibunya ini hanya akan membuang waktu percuma karena beliau tidak akan bisa diam sebelum dia menang.
Jadi jalan ninja bagi Elang untuk selamat dari semuanya adalah diam dan mengalah.
" Oke fine, Elang minta maaf jadi bisakah tinggalkan Elang sekarang?" Sebelah alis Lila terangkat mendengar jawaban dari putranya.
Jika sudah seperti ini jiwa kepo-nya sebagai seorang ibu langsung keluar karena dia ingin mengetahui apa yang terjadi dengan putranya ini.
Dia juga heran, karena Elang yang sering pulang pergi ke London akhir-akhir ini.
" Ayo katakan pada Mommy siapa wanita itu? Mommy belum mengenalnya jadi biarkan kami berkenalan dan bertemu." Elang menggelengkan kepalanya karena dia tidak ingin ibunya itu mengenal Elle lebih dulu.
Dia akan langsung membawa keluarganya untuk pergi melamar sang kekasih hati.
" Tidak sekarang mom. Biarkan Elang menjalani semua ini dengan cara Elang sendiri. Jangan menganggu Elang dengan semua yang Mommy inginkan."
" Promise? berjanjilah pada Mommy untuk mengenalkannya. Jika tidak, Mommy akan marah." Elang menganggukkan kepalanya untuk meyakinkan sang ibu bahwa dia akan mengenalkan mereka semua pada sang pujaan hati.
Akhirnya Lila pun pergi meninggalkan putranya dan kembali ke dalam kamarnya. Dia membiarkan putranya dengan segala tingkah anehnya di usia yang sudah hampir menginjak 40 tahun.
" Kenapa lagi?" Tanya Brian saat melihat istrinya yang terlihat cemberut seperti itu.
Lila masuk ke dalam pelukan suaminya setelah Brian merentangkan kedua tangannya hingga membuat wanita yang sangat di cintanya itu langsung bergabung bersamanya di tempat tidur.
" Lila..." Panggil Brian pada sang istri.
Dia tahu bahwa saat ini ada yang tengah dipikirkan sang istri.
" Apa yang menjadi beban pikiranmu sayang? Apa ini karena Elang lagi?"
" Aku tidak tau Hubby. Hanya saja, aku takut jika gadis yang dipilihnya salah dan tidak bisa menerima dirinya yang sudah berumur seperti itu. 38 tahun, Elang sudah berumur 38 tahun dan dia belum pernah menjalin hubungan apapun dengan seorang wanita. Namun kini tiba-tiba saja dia mengatakan bahwa dia sudah memiliki wanita yang akan dikenalnya pada kita. Aku khawatir untuk itu Hubby." Brian mengecup puncak kepala istrinya dengan lembut berharap apa yang dilakukannya saat ini bisa mengurangi rasa khawatir yang dirasakan wanita itu.
" Kamu ibunya Lila, seharusnya kamu percaya pada apa yang putra mu katakan. Kita sebagai orang tuanya bisa mendukung apapun keputusan anak kita. Berdoalah bahwa pilihannya ini benar, dan kita berharap atas kebahagiaannya." Lila semakin merapatkan tubuhnya ke pulukan sang suami yang sangat menangkan baginya.
Bagi Lila, pelukan Brian adalah pelukan yang terbaik di dunia ini dan tidak ada yang baia menggantikannya.
" Sekarang sudah malam, ayo tidur dan jangan lupa berdoa untuk kebahagiaan Elang." Lila menganggukkan kepalanya dan ikut tidur bersama sang suami.
...🖤🖤🖤...