
Setelah pelajaran pertama selesai, Casandra kembali masuk kedalam kelas saat pelajaran kedua akan di mulai.
Greta tersenyum senang melihat Casandra kembali masuk.
"Sumpah ya, satu jam bersama Miss Tel bikin gue serasa di penjara." Greta tampak menghela napas panjang.
"Ck, kalau gue sih ogah." Casandra tersenyum.
Tak lama kelas mereka kedatangan guru, Casandra tampak mengikuti pelajaran dengan santai.
Setelah hampir seharian menghabiskan waktu disekolah, Casandra akhirnya sampai di rumahnya.
Seperti biasa, rumah besar yang dia tinggali seperti tidak berpenghuni.
"Non sudah pulang." Mbok Minah menyapa Casandra yang baru pulang.
"Iya mbok, masak apa?" tanyanya yang langsung berjalan kearah meja makan.
"Mbok lagi masak kesukaan non, mau makan sekarang?" tanya mbok Minah sambil memperlihatkan masakannya.
"Boleh, aku ganti baju dulu mbok." Casandra tersenyum dan segara berlalu.
Mbok Minah hanya mengangguk, dan membuang napas kasar.
"Semoga non Sandra selalu diberi kebahagiaan."
Kehidupan yang di lihat orang sempurna belum tentu apa yang mereka lihat sesempurna yang menjalani.
"Kapan Mama dan papa pulang mbok." Tanya Casandra ketika sudah sampai di meja makan.
"Mbok kurang tahu non, apa ibu dan bapak tidak menghubungi non." Tanya mbok Minah balik.
"Mereka mana ingat jika punya aku mbok." Suara Casandra seakan tertahan ketika mengatakannya.
Mbok Minah tersenyum. "Pasti ingat dong non, masa sama anak sendiri lupa." Kata mbok Minah menghibur.
"Kayak mbok ngak tau aja, Aku mati saja mungkin mereka tidak akan peduli."
Sesakit dan kecewa itukan Casandra kepada kedua orang tuanya, gadis yang terlihat angkuh itu memiliki sisi rapuh yang tidak terlihat.
Casandra seorang putri tunggal dari Casani Yohana, yaitu model yang sangat terkenal hingga go internasional.
Sedangkan papanya seorang pengusaha yang memiliki waktu singkat untuk berada di rumah, lebih banyak menghabiskan waktu di luar kota ataupun di luar negeri.
Casandra sudah terbiasa dengan keadaannya sejak usianya remaja, gadis itu sering ditinggal sendiri dan hanya di temani mbok Mirna.
Andaikan Casandra bisa memilih, dirinya akan memilih terlahir dari keluarga sederhana tapi memiliki kasih sayang dan kebersamaan setiap saat. Tapi Casandra sadar jika takdirnya adalah menjadi gadis yang hidup mandiri sejak dini.
"Habiskan non, habis itu istirahat." Mbok Mirna tidak tega melihat anak majikanya. Mbok Mirna mengasuh Casandra sejak kecil, dan Casandra sudah mbok Mirna anggap seperti putrinya sendiri.
"Nanti aku gemuk mbok." Casandra tertawa, membuat mbok Miran ikut tertawa.
Pagi di sekolah...
Para siswi sibuk untuk membenahi penampilannya saat melihat seseorang yang baru saja datang menuju gedung sekolah.
Gosip yang beredar hari ini sekolah mereka kedatangan guru baru.
"Duh, katanya guru baru itu tampan dan gagah."
"Pasti sangat menggoda, tapi masalahnya dia seorang duda."
Desas desus sudah mulai terdengar jika guru baru mereka adalah seorang duda.
"Gue sih ngak masalah mau duda apa perjaka, yang penting tampang ok, dompet juga Ok. bener gak sih...hahaha.."
Hampir semua siswi menggosipkan guru baru itu, hingga mereka melihat sosok pria tinggi tegap dengan tatapan tajam yang sangat mengintimidasi.
"Oh may good, pangeran datang."
Semua menatap kagum sosok pria dewasa dan memiliki tubuh yang sangat di idam-idamkan semua wanita itu. Mereka begitu antusias.
"Gret, apa ada artis datang?" Tanya Casandra yang melihat semua siswi berkerumun.
Casandra baru datang bersamaan dengan Greta
"Eh ada apaan sih, rame-rame gitu." Tanya Greta pada salah satu siswi yang mereka lewati.
"Sekolah kedatangan guru baru, dan ternyata sangat tampan dan Hot.."
Iyuuhhh
"Hot dog kali ah." Kata Greta sambil berlalu.
"Guru baru, katanya hot dog."
Keduanya tertawa, dan berlalu masuk kedalam kelas.
Tap...
Tap...
Tap..
Suara langkah kaki memasuki kelas yang tadinya sangat ramai kini menjadi sepi tak berpenghuni, bahkan mereka semua seperti menahan napas saat melihat guru yang masuk kedalam kelas mereka.
"Omo... Omo... pangeran tak bersayap."
Begitulah para siswi yang lebai menyebutnya.
Sedangkan Greta mencoba untuk membangunkan Casandra yang terlelap.
"Duh, mana si Hot dog keliatan galak banget lagi." Greta bergumam dengan rasa cemas memikirkan nasib sahabatnya.
"Selamat siang anak-anak..."
Huuuuu
Bukanya menjawab salam, mereka semua malah berseru.
"Baiklah, kita mulai saja sesi belajarnya. Karena kalian tidak ingin saya berbasa-basi bukan."
Huaaaaa...
Malah semakin riuh saja. "Kenalkan saya guru pengganti yang sedang cuti, nama saya Arsenio, kalian bisa memanggil-"
"Sayang, beib, honey, Hubby, my swety..??"
Huuuuu
Sorakan kembali riuh, tapi tak membuat Casandra bergeming.
"Ya ampun kebo benget ni anak." Greta geleng kepala.
"Pak ganteng, katakan saja kalau bapak masih single biar kami ini semakin bersemangat belajar." Ucap salah satu siswi yang terlihat begitu mencolok dari yang lain.
"Yes, I am single"
Huuuu
"Bapak yang tampan, apa gunanya KTP bagi bapak?" Tanya salah satu siswi yang lain.
Arsenio tampak berpikir, kemudian tersenyum. "Apakah kau ingin menggunakan KTP itu untuk menikah dengan saya?"
Gubrak...
Seketika kelas mereka kembali ricuh, dengan jawaban Arsenio yang membuat mereka merasa klepek-klepek.
"Baiklah buka halaman 20, kita ulangan hari ini."
What!!!
"Kenapa habis melambungkan dihempaskan begitu saja. Ngak asik." Mereka malah ngedumel dengan apa yang guru itu katakan.
"Waktu kalian 15 menit untuk mengerjakan lima soal."
Yaaahhh
"Sandra, Hot dog sedang kemari. Bangun Casandra!!" Greta sendiri menjadi geram lantaran Casandra tak kunjung membuka mata.
"Kenapa dia?" tanya Arsenio pada Greta.
"Bapak liatnya ngapain?" tanya Greta balik tanpa sadar. Dan sedetik kemudian Greta menutup mulutnya.
"Kau kerjakan dua soal di depan." Arsenio menatap Greta tajam.
"Eh, kok-"
"Sekarang, atau nilai kamu saya kasih D."
"J-jangan pak, bisa digorok saya." Greta pun akhirnya maju, meskipun dengan bibir komat-kamit menyesali ucapanya yang mengatakan 'Tampan'.
"Siapa namanya?" tanya Arsenio pada siswi di sebelahnya.
"Sandra, Casandra pak."
Arsenio mengangguk. Arsenio menatap siswi yang berkacamata itu.
"Bangunkan dia." Titah Arsenio pada siswi itu.
"T-tapi pak saya-" Siswi itu ketakutan.
"Lakukan saja."
Siswi itupun melakukan apa yang Arsen suruh, dan dengan sedikit tangan gemetar, siswi itu membangunkan Casandra dengan cara menggoyangkan tubuh Casandra sedikit kuat.
"Apaan sih..!!" Casandra menyentak kuat tangan siswi tadi yang mengusik tidurnya.
"Apa?" Arsenio melipat tangannya di dada menatap muridnya yang bangun dengan wajah marah.
"Mau tidur lagi, atau saya siram biar sadar." Ucap Arsenio dengan nada tegas.
Casandra mengepalkan kedua tangannya dengan tatapan tajam penuh kemarahan.
"Keluar..!" Arsenio meninggikan suaranya. "Saya tidak punya murid pemalas seperti kamu. Jika tidak ingin mengikuti pelajaran saya silakan keluar." Arsenio pergi begitu saja setelah mengatakannya.
Greta yang berdiri didepan menatap Casandra memelas, selama ini tidak ada yang berani memperlakukan Casandra seperti itu.
"Psikopat.." Umpat Casandra berlalu pergi dengan menabrak punggung Arsenio saat melewatinya.
Arsenio hanya geleng kepala melihat tingkah Casandra yang tidak berpendidikan.
"Kembali belajar, atau kalian juga ingin keluar."
Tidak ada yang bersuara, semua diam dan mengerjakan kembali soal latihan.
...💙💙💙...
Yuk mampir di karya temen aku💙