Secret Mafia In Love

Secret Mafia In Love
Pertemuan Keluarga



" Kak Sean...." Erina berteriak saat sudah sampai di rumah utama keluarga besar Mommy-nya.


Dia berlari dan berteriak saat memanggil nama kakak sepupunya itu. Walau Sean jauh lebih muda darinya, tapi Erina tetap saja memanggilnya kakak.


Mendengar suara saudari sepupunya membuat Sean langsung menutup kedua telinganya.


" Sean! kenapa tidak memeluk ku? kau tidak merindukanku?" Tanya Erina saade sudah sampai di depan kakak sepupunya.


" Tidak bisakah diam? suaramu itu sangat menyakiti gendang telingaku. Lihatlah, bahkan Opa buyut saja merasakan kepalanya berdenyut saat mendengar suaramu." Erina hanya bisa memainkan bibirnya seperti bebek saat mendengar apa yang dikatakan Sean padanya.


Dia melihat ke arah opa buyutnya yang terlihat sudah sangat tua.


" Opa buyut, kenapa lemas sekali? Apa Opa buyut sakit?" Tanya Erina yang menghampiri pria tua itu.


Pria yang memiliki garis wajah menyeramkan, tapi juga sangat menyayanginya.


" Opa buyut baik-baik saja. Pergi bermain dengan saudara mu. Mereka pasti merindukan mu." Ucap Alex dengan suara beratnya.


Tubuhnya benar-benar tidak sekuat dulu. Dia sudah tidak bisa melihat dengan jelas, bahkan kadang matanya sama sekali tidak bisa melihat siapa yang bicara dengannya. Jika mengenali semua itu dengan suaranya saja.


Cup...


" Erina sayang Opa Buyut. Lekas sembuh Opa." Ucapnya dengan begitu bahagia.


Erina kembali menemui saudaranya. Dia mencari keberadaan Celine sang putri malu.


" Sean, dimana putri malu? Apa dia tidak turun?" Tanya Erina.


Dia sangat penasaran dengan saudari sepupunya yang memiliki wajah cantik itu. Celine, anak dari Paman Ace yang dingin.


" Celine, dia pasti berada di ruang buku. Aku heran, dia cantik tapi kenapa menutupi kecantikannya dengan memakai kacamata. Bahkan giginya pun memakai behel. Dia itu cantik, tapi entah mengapa dia berdandan menjadi orang jelek seperti itu." Ucapnya tanpa filter.


Jika Erina mirip dengan Lila, Maka Sean sendiri mirip dengan Belle, ibunya.


" Celine? benarkah dia memakai kacamata tebal dan juga gigi behel? dia cantik tapi kenapa membuat wajahnya buruk? oh my God, jangan katakan bahwa Celine itu tidak gaul." Sean hanya bisa mengangkat kedua bahunya karena dia tidak mengerti apa maksud Celine berdandan buruk rupa seperti itu.


" Entahlah. Padahal Celine itu cantik, tapi kenapa dia terlihat seperti buruk rupa seperti itu."


" Eghem..." Sean dan Erina melihat ke arah sumber suara saat mendengar suara seseorang bertahan di belakang mereka.


Lihatlah, saat ini Daddy-nya Celine sudah datang dan memberi tatapan tajam pada mereka berdua.


" Ahh...Aku rasa Mommy ku sedang mencari ku saat ini." Ucap Erina yang berusaha untuk melarikan diri dari situasi yang menegangkan ini.


Begitu juga dengan Sean, dia jika berpura-pura seolah Daddy-nya menunggu untuk bermain kuda.


" Oh iya, aku lupa bahwa Daddy tengah menunggu ku saat ini untuk bermain kuda. Apa kamu mau ikut bermain kuda juga Erina?" Sean sengaja mengajak sadari sepupunya itu untuk pergi dari tempat ini karena menurutnya tempat ini sudah tidak baik-baik saja.


Erina langsung menyetujui ajakan sepupunya itu dan pergi meninggalkan tempat mereka dengan begitu cepat.


Melihat bagaimana kedua keponakannya itu yang langsung pergi meninggalkannya membuat Acher hanya bisa menghela nafasnya berat.


Dia benar-benar tidak menyangka jika mereka semua mengatakan bahwa Celine buruk rupa dengan penampilannya saat ini.


" Kak, maafkan Erina. Dia tidak bermaksud untuk menghina Celine. Hanya saja mungkin mereka tidak terbiasa dengan itu." Elle langsung minta maaf pada kakak tertuanya atas apa yang telah putrinya katakan.


Begitu juga dengan Belle, dia juga ingin minta maaf atas apa yang putranya katakan.


Sean memang benar-benar tidak memiliki saringan di bibirnya. Dia akan mengatakan apapun yang ingin dikatakannya selama menurutnya itu benar.


Dia selalu berpedoman pada kata-katanya bahwa tidak ada yang boleh berbohong karena Tuhan akan marah. Maka dia akan mengatakan apapun itu dengan kejujuran walau kejujuran itu sangat menyakitkan bagi orang lain.


" Entahlah. Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi pada mereka. Aku tidak pernah memaksa selain untuk memakai semuanya. Dia hanya trauma dengan masa tk-nya karena banyak orang yang tidak ingin berteman dengannya hanya karena wajah cantiknya. Demi Tuhan bahwa aku tidak pernah memaksanya untuk memakai kacamata, ngeselin sendiri yang memilih memakainya karena dia untuk menutupi wajah cantiknya. Bahkan tidak sanggup lagi untuk membujuknya agar tidak berpenampilan seperti itu." Ucap Acher.


Dia berusaha untuk menjelaskan apa yang terjadi pada putrinya. Celine benar-benar takut dengan wajah cantiknya karena dia selalu mendapatkan Bulian dari teman-teman sekolahnya karena wajah cantik yang dimilikinya.


" Tapi kan bukan salah Celine jika dia memiliki wajah yang cantik. Ibunya cantik dan Kaka juga tampan kalau masih lebih tampan suamiku lagi. Tapi setidaknya kakak tidak buruk." Ucap Belle.


Dia memuji kakak iparnya, tapi pada dasarnya dia tetap memuji dan mengutamakan ketampanan suaminya. Siapa lagi jika bukan Rigel.


Tapi tunggu, dimana pria itu? Apakah dia masih sibuk dengan mangga keramat?


" Dimana Rigel? Apa dia sudah datang?" Tanya Acher yang juga merindukan adik kembarnya itu.


" Rigel sedang di taman. Dia bersama dengan Paman Cloud dan juga Paman Brandon. Mereka tengah memanjat pohon mangga keramat bersama Reve dan juga Rava. Sementara Reyden yang menjaga anak-anak." Jawab Belle.


...🖤🖤🖤...